BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Wednesday, October 30, 2013

Hukum Membaca Tasbih pada Ayat Sajdah

سُبْحَانَ اللهِ ، وَاْلحَمْدُ للهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ
Muslimedianews.com ~
Pertanyaan :

Sudah menjadi kebiasaan kita saat melakukan khataman al-Quran, ketika sampai pada ayat-ayat Sajdah biasanya si pembaca membaca doa Subhanallah dan seterusnya. Adakah dalilnya? Ust Abdurrahman, Sby
Jawaban:
Ust. Muhammad Ma'ruf Khozin
(Anggota LBM NU, Narasumber Hujjah Aswaja TV9)
Anjuran membaca kalimat Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir (Subhanallah walhamdulillah wa lailaha illallah wallahu akbar) saat membaca ayat Sajdah di dalam al-Quran adalah dengan disamakan (diqiyaskan) pada fatwa ulama Syafiiyah yang menganjurkan membaca kalimat tersebut saat tidak memungkinkan salat Tahiyat al-Masjid. Imam an-Nawawi berkata:

قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا : مَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَلَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ صَلاَةِ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ ، إِمَّا لِحَدَثٍ ، أَوْ لِشُغْلٍ أَوْ نَحْوِهِ ، يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُوْلَ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ : سُبْحَانَ اللهِ ، وَاْلحَمْدُ للهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ ، فَقَدْ قَالَ بِهِ بَعْضُ السَّلَفِ ، وَهَذَا لاَ بَأْسَ بِهِ. (الأذكار - ج 1 / ص 32)
“Sebagian ulama kita (Imam al-Ghazali) berkata: Barangsiapa masuk masjid dan tidak memungkinkan baginya untuk salat Tahiyat al-Masjid, adakalanya karena hadas, sibuk atau yang lain, maka dianjurkan membaca kalimat Subhanallah walhamdulillah wa lailaha illallah wallahu akbar, 4 kali. Sungguh sebagian salaf telah berkata seperti itu, dan hal tersebut tidak apa-apa” (al-Adzkar 1/32) 
Demikian halnya saat membaca atau mendengar bacaan ayat Sajdah disunahkan untuk Sujud Sajdah, jika tidak memungkinkan maka membaca kalimat diatas. Berikut fatwa Syaikh Ali Syibramalisi:

فَإِنْ لَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ التَّطَهُّرِ أَوْ مِنْ فِعْلِهَا لِشُغْلِهِ قَالَ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ قِيَاسًا عَلَى مَا قَالَهُ بَعْضُهُمْ مِنْ سَنِّ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ لِحَدَثٍ أَوْ شُغْلٍ وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ مِثْلُ ذَلِكَ فِي سَجْدَةِ الشُّكْرِ أَيْضًا ع ش (حواشي الشرواني - ج 2 / ص 216)
“Jika seseorang tidak memungkinkan bersuci atau tidak bisa melakukan sujud Sajdah karena sibuk, maka bacalah Subhanallah walhamdulillah wa lailaha illallah wallahu akbar wa la haula wa la quwwata illa billah al-aliyyi al-adzim, 4 kali. Dengan diqiyaskan pada pendapat sebagian ulama tentang kesunahan membaca kalimat tersebut bagi orang yang tidak memungkinkan melakukan salat Tahiyat al-Masjid, karena hadas atau sibuk. Hal ini juga dianjurkan dalam masalah sujud Syukur” (Hawasyai asy-Syarwani 2/217)

Begitu fatwa Ibnu Hajar al-Haitami yang dikutip oleh Syaikh al-Azhar, Sulaiman al-Jamal:

( تَنْبِيهٌ ) قَدْ سُئِلَ الْعَلَّامَةُ حَجّ عَنْ قَوْلِ الشَّخْصِ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَك رَبَّنَا وَإِلَيْك الْمَصِيرُ عِنْدَ تَرْكِ السُّجُودِ لِآيَةِ السَّجْدَةِ لِحَدَثٍ أَوْ عَجْزٍ عَنْ السُّجُودِ كَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ عِنْدَنَا هَلْ يَقُومُ الْإِتْيَانُ بِهَا مَقَامَ السُّجُودِ كَمَا قَالُوا بِذَلِكَ فِي دَاخِلِ الْمَسْجِدِ بِغَيْرِ وُضُوءٍ إنَّهُ يَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ رَكْعَتَيْنِ كَمَا نَقَلَهُ الشَّيْخُ زَكَرِيَّا فِي شَرْحِ الرَّوْضِ عَنْ الْإِحْيَاءِ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ إنَّ ذَلِكَ لَا أَصْلَ لَهُ فَلَا يَقُومُ مَقَامَ السَّجْدَةِ بَلْ يُكْرَهُ لَهُ ذَلِكَ إنْ قَصَدَ الْقِرَاءَةَ فَإِنْ لَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ التَّطْهِيرِ أَوْ مِنْ فِعْلِهَا لِشُغْلٍ قَالَ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ قِيَاسًا عَلَى مَا قَالَهُ بَعْضُهُمْ مِنْ سَنِّ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ لِحَدَثٍ أَوْ شُغْلٍ وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ مِثْلُ ذَلِكَ فِي سَجْدَةِ الشُّكْرِ أَيْضًا ا هـ ع ش عَلَى م ر . (حاشية الجمل - ج 4 / ص 242)
“Sungguh Ibnu Hajar telah ditanya tentang ucapan seseorang “Sami’na wa atha’na ghufranaka Rabbana wa ilaika al-mashir”, ketika meninggalkan sujud Sajdah karena hadas atau tak mampu sujud sebagaimana berlaku diantara kami. Apakah membaca kalimat tersebut sudah menduduki sebagai ganti sujud, sebagaimana ulama katakan di dalam masjid membaca Tasbih, Tahmid dan Tahlil, sebab akan menyamai keutamaan 2 rakaat sebagaimana dikutip oleh Syaikh Zakariya dalam Syarah ar-Raudl dari kitab Ihya’? Ibnu Hajar menjawab: Hal itu (membaca Sami’na wa atha’na) tidak ada dasarnya. Maka tidak bisa menggantikan sujud Sajdah. Bahkan makruh baginya membaca ayat tersebut jika tujuannya adalah membaca al-Quran (karena hadas)”. Jika seseorang tidak memungkinkan bersuci atau tidak bisa melakukan sujud Sajdah karena sibuk, maka bacalah Subhanallah walhamdulillah wa lailaha illallah wallahu akbar wa la haula wa la quwwata illa billah al-aliyyi al-adzim, 4 kali. Dengan diqiyaskan pada pendapat sebagian ulama tentang kesunahan membaca kalimat tersebut bagi orang yang tidak memungkinkan melakukan salat Tahiyat al-Masjid, karena hadas atau sibuk. Hal ini juga dianjurkan dalam masalah sujud Syukur” (Hasyiyah al-Jamal 4/242)

Wallahu A'lam
« PREV
NEXT »

No comments