Muslimedianews.com, Jakarta ~ Kelompok yang tidak suka terhadap Islam mengharapkan Islam mempunyai wajah yang radikal dan ekstrem, karena dengan begitu mereka mempunyai alasan untuk membenci Islam. Kelompok radikal bukan membela Islam. Justru, keberadaan mereka membuat Islam jelek, menjadi sorotan dunia internasional, dan sangat besar akibat negatifnya.
"Nanti dianggap agama Islam ini agama perusak, bukan pembangun. Ini yang diharapkan oleh musuh Islam, agar islam itu keras terus penampilannya. Kita jangan terpancing," papar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta pada Sabtu (26/10/2013).
Karena, lanjut Kang Said, perilaku ekstrem itu akan dicatat dalam sejarah dunia yang akan dibaca oleh generasi selanjutnya, "Tercatat semua, ada Al-Qaeda (al-Qiyadah), ada teroris, tercatat dalam sejarah, nanti dibaca oleh generasi yang akan datang. Nah, Nahdlatul Ulama (NU) tetap ingin mempertahankan tasamuh, santun, toleran, tercatat dalam sejarah nanti," tegasnya.
Kiai asal Cirebon itu pun memberikan contoh NU yang sejak awal memiliki toleransi terhadap perbedaan. Hal itu kemudian dicatat dalam sejarah dunia sehingga sampai saat ini NU tetap dikenal toleran.
"Hari kemarin itu PBNU kedatangan tamu dari Serbia, Islam, Katolik, Yahudi, Ortodox, artinya apa? Dari sana mereka udah mendengar di Indonesia itu NU yang menghormati perbedaan," jelasnya.
Karena itu, Kang Said mengharapkan agar umat Islam mampu menunjukkan wajah Islam yang santun dan toleran, dengan begitu tidak ada lagi alasan mereka untuk membenci Islam. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)
"Nanti dianggap agama Islam ini agama perusak, bukan pembangun. Ini yang diharapkan oleh musuh Islam, agar islam itu keras terus penampilannya. Kita jangan terpancing," papar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta pada Sabtu (26/10/2013).
Karena, lanjut Kang Said, perilaku ekstrem itu akan dicatat dalam sejarah dunia yang akan dibaca oleh generasi selanjutnya, "Tercatat semua, ada Al-Qaeda (al-Qiyadah), ada teroris, tercatat dalam sejarah, nanti dibaca oleh generasi yang akan datang. Nah, Nahdlatul Ulama (NU) tetap ingin mempertahankan tasamuh, santun, toleran, tercatat dalam sejarah nanti," tegasnya.
Kiai asal Cirebon itu pun memberikan contoh NU yang sejak awal memiliki toleransi terhadap perbedaan. Hal itu kemudian dicatat dalam sejarah dunia sehingga sampai saat ini NU tetap dikenal toleran.
"Hari kemarin itu PBNU kedatangan tamu dari Serbia, Islam, Katolik, Yahudi, Ortodox, artinya apa? Dari sana mereka udah mendengar di Indonesia itu NU yang menghormati perbedaan," jelasnya.
Karena itu, Kang Said mengharapkan agar umat Islam mampu menunjukkan wajah Islam yang santun dan toleran, dengan begitu tidak ada lagi alasan mereka untuk membenci Islam. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)
Sumber : nu.or.id
No comments
Post a Comment