Muslimedianews.com ~ Tepat sebelum Dzuhur di hari Arafah, jamaah haji asal Mesir dikagetkan oleh kedatangan Syekh al-Azhar Muhammad Sayyid Tantawi. Beliau dengan pakaian ihram masuk ke sebuah kemah yang terbesar bagi jamaah haji Mesir di Jabal Arafat. Beliau datang sendiri tanpa satupun pengawal yang menjaganya. Hal itu membuat para jamaah kaget dan langsung menyambut kedatangan beliau dengan gembira.
Hal yang paling mengherankan adalah bahwa Syekh Muhammad Sayyid Tantawi termasuk jamaah haji paket biasa, seperti masyarakat Mesir pada umumnya. Di Mesir sistem giliran haji ditentukan dengan undian oleh Kementrian Dalam Negeri, dan pada tahun itu beliau mendapatkan kemuliaan dari Allah untuk melaksanakan rukun Islam kelima itu.
Syekh Muhammad Sayyid Tantawi dengan sikap tawadu’-nya pergi sendiri untuk membayar biaya haji. Beliau terkesan ketika bertemu dengan Jendral Shalah Hasyim, Direktur Penyelenggara Haji yang menyerahkan ‘hadiah’ undian haji kepada beliau. Ternyata, beliau adalah orang yang pertama mendapatan undian haji pada tahun itu.
Beliau menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk menunaikan ibadah haji, mulai dari pakaian ihram, P3K, sampai perlengkapan kebersihan. Beliau merasa sangat terkesan dengan pakaian ihram, dan lebih terkesan lagi dengan ‘hadiah’ undian haji yang beliau terima itu. Melihat itu orang-orang Mesir dibuat heran dan berkata, “Masya Allah, seorang Syekh al-Azhar naik haji dengan paket biasa!”
Ketika sampai di Saudi Arabia, pihak pemerintah di sana mengetahui bahwa Syekh al-Azhar Muhammad Sayyid Tantawi sedang melaksanakan ibadah haji. Raja Abdullah bin Abdul Aziz memberikan penghormatan kepada beliau untuk mengikuti manasik haji melalui jalur istimewa. Dengan kesederhanaannya, beliau mendengarkan penghormatan tersebut, tetapi dengan adab beliau yang tinggi, beliau meminta maaf tidak karena bisa menerimanya. Beliau ingin melaksanakan ibadah haji bersama masyarakat Mesir pada umumnya. Pemerintah Saudi Arabia bisa memahami keinginan Syekh Muhammad Sayyid Tantawi, namun mereka ingin menjaga perjalanan beliau demi memuliakannya.
Puluhan orang Mesir shalat di belakang Syekh Muhammad Sayyid Tantawi. Beliau menjamak qashar shalat Dzuhur dan Ashar. Kabar tentang beliau terdengar sampai ke jamaah selain orang Mesir. Mereka masuk ke dalam tenda jamaah Mesir untuk melaksanakan shalat bersamai beliau.
Di antara para jamaah, banyak dari mereka yang tidak mengerti bahasa Arab kecuali kalimat shalat saja. Setelah shalat, mereka berdiri di sekitar beliau seraya memanjatkan doa kepada Allah. Semuanya mengamini doa beliau, bahkan orang-orang yang tidak bisa berbahasa Arab sekalipun. Mereka meneteskan air mata karena wibawa, kesederhanaan dan ketakwaan beliau.
Setelah selesai doa, jamaah mengelilingi beliau untuk meminta fatwa tentang manasik haji. Beliau menjawabnya dengan sabar dan pengertian. Waktu yang cukup lama terasa singkat karena berlalu dengan indah bersama beliau. Beliau kembali ke kemahnya setelah selesai menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Inilah sosok dan akhlak seorang Syekh al-Azhar.
Hal yang paling mengherankan adalah bahwa Syekh Muhammad Sayyid Tantawi termasuk jamaah haji paket biasa, seperti masyarakat Mesir pada umumnya. Di Mesir sistem giliran haji ditentukan dengan undian oleh Kementrian Dalam Negeri, dan pada tahun itu beliau mendapatkan kemuliaan dari Allah untuk melaksanakan rukun Islam kelima itu.
Syekh Muhammad Sayyid Tantawi dengan sikap tawadu’-nya pergi sendiri untuk membayar biaya haji. Beliau terkesan ketika bertemu dengan Jendral Shalah Hasyim, Direktur Penyelenggara Haji yang menyerahkan ‘hadiah’ undian haji kepada beliau. Ternyata, beliau adalah orang yang pertama mendapatan undian haji pada tahun itu.
Beliau menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk menunaikan ibadah haji, mulai dari pakaian ihram, P3K, sampai perlengkapan kebersihan. Beliau merasa sangat terkesan dengan pakaian ihram, dan lebih terkesan lagi dengan ‘hadiah’ undian haji yang beliau terima itu. Melihat itu orang-orang Mesir dibuat heran dan berkata, “Masya Allah, seorang Syekh al-Azhar naik haji dengan paket biasa!”
Ketika sampai di Saudi Arabia, pihak pemerintah di sana mengetahui bahwa Syekh al-Azhar Muhammad Sayyid Tantawi sedang melaksanakan ibadah haji. Raja Abdullah bin Abdul Aziz memberikan penghormatan kepada beliau untuk mengikuti manasik haji melalui jalur istimewa. Dengan kesederhanaannya, beliau mendengarkan penghormatan tersebut, tetapi dengan adab beliau yang tinggi, beliau meminta maaf tidak karena bisa menerimanya. Beliau ingin melaksanakan ibadah haji bersama masyarakat Mesir pada umumnya. Pemerintah Saudi Arabia bisa memahami keinginan Syekh Muhammad Sayyid Tantawi, namun mereka ingin menjaga perjalanan beliau demi memuliakannya.
Puluhan orang Mesir shalat di belakang Syekh Muhammad Sayyid Tantawi. Beliau menjamak qashar shalat Dzuhur dan Ashar. Kabar tentang beliau terdengar sampai ke jamaah selain orang Mesir. Mereka masuk ke dalam tenda jamaah Mesir untuk melaksanakan shalat bersamai beliau.
Di antara para jamaah, banyak dari mereka yang tidak mengerti bahasa Arab kecuali kalimat shalat saja. Setelah shalat, mereka berdiri di sekitar beliau seraya memanjatkan doa kepada Allah. Semuanya mengamini doa beliau, bahkan orang-orang yang tidak bisa berbahasa Arab sekalipun. Mereka meneteskan air mata karena wibawa, kesederhanaan dan ketakwaan beliau.
Setelah selesai doa, jamaah mengelilingi beliau untuk meminta fatwa tentang manasik haji. Beliau menjawabnya dengan sabar dan pengertian. Waktu yang cukup lama terasa singkat karena berlalu dengan indah bersama beliau. Beliau kembali ke kemahnya setelah selesai menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Inilah sosok dan akhlak seorang Syekh al-Azhar.
Syaikh Thanthawiy
Syaikh Muhammad Sayyid Thanthawy lahir di Suhaj, Mesir, 28 Oktober 1928 dan wafat di Riyadh, Arab Saudi, 10 Maret 2010 pada usia 81 tahun. Beliau adalah Imam Besar Masjid Al-Azhar yang menduduki jabatan tertinggi Grand Syaikh Al-Azhar di atas Mufti di Daarul Ifta, sekaligus juga merupakan jabatan tertinggi di Institusi Al-Azhar yang berpusat di Kairo, Mesir.
Syaikh Muhammad Sayyid Thanthawy lahir di Suhaj, Mesir, 28 Oktober 1928 dan wafat di Riyadh, Arab Saudi, 10 Maret 2010 pada usia 81 tahun. Beliau adalah Imam Besar Masjid Al-Azhar yang menduduki jabatan tertinggi Grand Syaikh Al-Azhar di atas Mufti di Daarul Ifta, sekaligus juga merupakan jabatan tertinggi di Institusi Al-Azhar yang berpusat di Kairo, Mesir.
Sumber : من المواقف الخالدة لعلماء الأزهر الشريف via Suara Al Azhar

No comments
Post a Comment