Muslimedianews.com ~
Saya kan sebagai operator telepon, pada waktu ada telepon dari perusahaan lain (misalkan Pak Dadang) mau bicara dengan orang dalam perusahaan kami (misalkan Pak Eka). Waktu saya sambungkan ke Pak Eka, ternyata Pak Eka tidak mau menerima telepon dari Pak Dadang. "Bilang saja aku sedang sibuk atau keluar kantor," kata Pak Eka. Padahal Pak Eka tidak sibuk atau tidak keluar kantor. Mungkin ada alasan tertentu sehingga Pak Eka tidak mau bicara dengan Pak Dadang. Yang saya tanyakan: Apakah saya harus menjawab telepon dari Pak Dadang, bahwa Pak Eka lagi keluar kantor? Itu kan sama saja dengan saya membohongi Pak Dadang! Atau saya bilang sejujurnya, kalau Pak Eka itu ada di kantor tapi tidak mau menerima telepon dari Pak Dadang. Itu kan juga sama saja saya membohongi Pak Eka karena tidak menyampaikan amanat.
2. Pada waktu saya menimbang barang masuk dari luar, saya disuruh mengurangi oleh atasan saya berat barang tersebut. Sebaliknya, kalau ada barang keluar atau menjual barang saya disuruh atasan untuk menambah berat barang tersebut. Yang saya tanyakan: apakah saya juga berdosa telah menuruti perintah atasan saya tersebut?
Kedua masalah inilah yang membuat saya bingung, atau sebaiknya saya keluar saja dari perusahaan ini yang bertentangan dengan kejujuran. Tolong saya diberi jalan keluarnya, ustadz! Demikian pertanyaan saya dan atas jawaban ustadz, saya sampaikan terima kasih.Jawaban:
Wassalamu̢۪alaikum Wr. Wb.
Mukti Aji
KH. Abdurrahman Navis Lc, MHI
(Direktur Aswaja Center Jawa Timur)
1. Tugas anda sebagai oprator telepon adalah menerima orang yang telepon (pak Dadang) dan menyampaikannya kepada yang dituju (pak Eka). Jika anda tidak menyampaikannya berarti anda tidak melaksanakan amanah, padahal amanah harus disampaikannya. Hal ini sesuai firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya," ( QS. An-Nisa'. 58)
Sedangkan perintah pak Eka agar dibilang sibuk atau keluar kantor itu perkataan bohong sedangkan bohong itu maksiat dan anda sebenarnya tidak boleh taat kepada orang yang mengajak maksiat kepada Allah SWT. Sesuai sabda Rasulullah SAW: "Tidak boleh taat kepada satu makhlukpun yang menyuruh maksiat kepada Sang Kholiq". ( HR. Muslim)
Jadi, jika anda terima telpon seharusnya disampaikan kepada yang dituju dan diinformasikan sesuai apa adanya yang anda ketahui. Jika dituju tidak mau menerima dan anda menjawab kepada penelpon dengan tidak jujur, maka berarti anda sudah berbuat dosa dan membantu orang yang berbuat dosa. Padahal kita tidak boleh mebantu orang lain berbuat dosa dan permusuhan.
2. Anda sudah berbuat dua kesalahan. Pertama, taat perintah orang yang menyryuh berbuat maksiat. Dan yang kedua mengurangi timbangan. Padahal Allah SWT sangat murka kepada orang yang suka mengurangi timbangan yang jika menimbang punya orang minta dilebihkan tetapi kalau nimbang miliknya dikurangi. Bahkan umat terdahulu banyak yang kena adzab Allah karena suka mengurang timbangan. "Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi." ( QS. Al-Muthaffifin.1-3)
Pak Mukti Aji. Memang sangat sulit mencari orang yang jujur dalam berdagang, makanya Rasulullah memberi penghargaan kepada pedagang yang jujur dengan masuk sorga lebih awal. Jika anda masih ada pekerjaan lain yang lebih bersih dan jujur sebaiknya anda pindah ke tempat lain. Tapi kalau belum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sedangkan jika keluar akan menimbulkan madlarrat yang lebih besar karena tanggungan keluarga yang tidak terpenuhi, maka sementara dapat bertahan di tempat kerjanya dengan berusaha meminimalisir mungkin kecurangan dan kebohongan walaupun tidaka sepenuhnya taat pada pimpinannya yang menyuruh curang dan bohong. Semoga Allah memberi jalan keluar dari permasalahan anda dan diberikan rizqi yang halal dan berkah.
Amiin yaa mujibassailiin
Foto : KH Abdurrahman Navis, Lc. MHI

No comments
Post a Comment