BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Monday, November 04, 2013

KH Said Aqil Siraj : Era Globalisasi Ini Penuh Tantangan

Muslimedianews.com ~ Dalam sebuah kegiatan pelatihan dai-da'iyah NU, yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat LDNU (2012) dan didokumentasikan dalam bentuk video, ada hal menarik yang disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj dalam pembukaan kegiataan tersebut. Berikut diantara cuplikannya yang berhasil di tulis ulang oleh MMN :

(KH Said Aqil Siraj ) : .... Memasuki era globalisasi ini, era yang penuh dengan tantangan, era yang terbuka, tidak mungkin tertutup. Era sekarang inilah, tidak mungkin akan kembali tertutup, terus semakin terbuka, semakin terbuka, semakin tidak ada rahasia.

...era ini adalah era hedonis. Era dimana orang ingin hidup "wah". HP masih  bagus, ingin ganti. Mobil masih bagus, karena ada mobil baru lagi, ingin ganti. Rumah masih bagus, masih ingin ganti. Inilah era hedonis, dan semua ibukota di dunia hampir sama bangunannya ; Jakarta sama dengan Jeddah, Jeddah sama dengan Hongkong. Hampir sama.

Era ini juga era yang maunya pragmatis, harus dengan ilmu semua, harus dengan data. Padahal di al-Qur'an juga sudah ada
Keterangan : kasus Nabi Ibrahim yang meminta kepada Allah agar diperlihatkan bagaimana  menghidupkan sesuatu yang mati, untuk meminta bukti (data).

رب أرني كيف تحي الموتى قال أولم تؤمن قال بلى ولكن ليطمئن قلبي
"Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman: 'Apakah kamu belum percaya'.Ibrahim menjawab: 'Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya ". (Al-Baqarah: 260)
Era sekarang inilah yang juga seperti itu (kisah Nabi Ibrahim). Maunya fakta, mana buktinya. Tidak bisa hanya sekedar dongeng dan cerita saja.

..., Era ini juga era pemerintah, tokoh masyarakat pun tidak berwibawa (kurang berwibawa). Khususnya pemerintah, kenapa?. Karena sekarang pemerintah ditentukan oleh pasar (pasar), bukan pasar ditentukan oleh penguasa. ...

Era ini juga era abu-abu. Tidak jelas mana yang baik dan mana yang buruk (samar). Makanya, kita NU harus jelas. ... Eras sekarang ini kelihatannya luar biasa, ilmu pengetahuan, kemajuan dan sebagainya. Tapi kehilangan sesuatu yang lebih dari itu, yaitu kehilangan akhlak, moral, budaya, karakter, jati diri, agama. Kita dapat ilmu tapi kehilangan agama.

Era ini kelihatannya mempersempit jarak, sehingga hubungan gampang, hubungan lebih mudah, tapi ternyata konfliknya pun lebih mudah, mudah sekali konflik. Bahkan didalam negeri kita sendiri, timbul nasionalisme lokal, batak, dayak, melayu, madura, sunda...

Era ini juga era kehilangan integritas. Oleh karena itu, ulama sekarang bukan hanya pintarnya yang dicari, tapi juga penerimaan masyarakat. Masyarakat meneri apa tidak dengan kyai itu?!. Istilah Gus Dur (seperti) "Kyai Kampung", punya integritas, dekat dengan masyarakat, akhlaknya baik.

Alhamdulillah, kita harus bangga dengan prinsip kita "al Muhafadhah ala Qadimis Shalih wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah". Warisan leluhur kita hormati dan kita jaga. Warisan lokal kita jaga, tradisi kita jaga. Tapi kita terbuka untuk hal-hal yang baru "wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah".

Kitab Fathul Mu'in kita terima, kitab Syaikh Wahbah Az-Zuhaili yang baru, kita kaji. Bukunya ulama dulu kita baca, bukunya Nur Kholis Majid, bukunya pak Qurai Syihab juga kita baca. Itu artinya "wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah". Pemahaman agama pun harus begitu, yang lama kita pelihara, yang baru kita terima.
 
Fashlun fil Hiwalati, pasal ini Syaikh Mushannif Syaikh Zainuddin al-Malibari, yang lahir di Malabar, provisi India Barat, akan menjelaskan kepada kita tentang Line of Credit... Fashlun Fid Dlomani Bank Garansi,  dan sebagainya... Itu artinya kita "al Muhafadhah ala Qadimis Shalih wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah".


Penulis : Ibnu Manshur
Sumber : Youtube (Semesta Bersujud)
« PREV
NEXT »

No comments