BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Monday, November 11, 2013

Partai Demokrasi Mengajak pada Neraka Jahanam ?

Rokhmat S Labib Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia
Muslimedianews.com ~ Kalau Prof. Dr. Quraish Shihab, yang ahli tafsir, dan NU, ormas keagamaan terbesar di negeri ini, saja tidak mempersoalkan pilihan politik kita berupa demokrasi, apa iya pendapat yang mengatakan “demokrasi adalah pintu Jahanam” itu benar?

Dengan judul “Partai yang Mengajak pada Demokrasi adalah Partai yang Mengajak pada Neraka Jahanam”, dilansir oleh situs Hizbut Tahrir Indonesia (http://hizbut-tahrir.or.id). Rokhmat S. Labib, Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia dan penulis buku tafsir Tafsir Al-Wa’ie mengatakan, “Partai-partai yang mengajak pada demokrasi adalah partai-partai yang mengajak pada pintu Jahannam! Haram mengambilnya, menerapkannya, dan mempropagandakannya! ... Demokrasi memberikan otoritas membuat hukum pada rakyat atau lembaga yang mewakilinya. Coba lihat semboyannya: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Lalu di mana Allah? Jangankan hukumnya diterapkan, bahkan namanya pun tidak disebut dalam demokrasi.”

Pilihan Politik
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung maupun melalui perwakilan. Demokrasi langsung adalah demokrasi yang setiap rakyat memberikan suara atau pendapat dalam menentukan suatu keputusan. Dalam sistem ini, setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih suatu kebijakan sehingga mereka memiliki pengaruh langsung terhadap keadaan politik yang terjadi. Ketika terdapat suatu permasalahan yang harus diselesaikan, seluruh rakyat berkumpul untuk membahasnya.

Namun di era modern sistem ini menjadi tidak praktis, karena umumnya populasi suatu negara cukup besar, dan mengumpulkan seluruh rakyat dalam satu forum merupakan hal yang sulit. Selain itu, sistem ini menuntut partisipasi yang tinggi dari rakyat, sedangkan rakyat modern cenderung tidak memiliki waktu untuk mempelajari semua permasalahan politik negara.

Maka, muncullah demokrasi perwakilan. Dalam demokrasi perwakilan, seluruh rakyat memilih perwakilan melalui pemilihan umum untuk menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan bagi mereka.

Indonesia adalah negara demokrasi. Itulah pilihan politik kita, bukan pilihan keagamaan.

Ya, demokrasi itu adalah persoalan politik. Dalam persoalan politik dalam sebuah negara yang bukan negara agama, negara Islam misalnya, segala keputusan politik harus melibatkan seluruh warga negara, termasuk warga negara yang non-muslim. Nah, melalui pengambilan keputusan yang demokratis itulah, kita, bangsa Indonesia, memilih demokrasi sebagai pilihan politik kita.

Pertimbangan Keagamaan
Dalam demokrasi kita, pengambilan keputusan sebisa mungkin dilakukan dengan cara mufakat. Kalau tidak bisa, baru dengan suara terbanyak. Nah, rakyat Indonesia, yang mayoritas adalah muslim, ternyata memilih demokrasi sebagai pilihan politiknya. Salahkah? Bagaimana Islam, atau setidaknya tokoh dan organisasi Islam, memandangnya?

Dalam situs uin-malang.ac.cid ditulis, di tengah masyarakat ada anggapan bahwa Islam jauh dari demokrasi. Karenanya, Islam sering dibenturkan dengan demokrasi. Padahal, sesungguhnya Islam bukan hanya mendukung demokrasi, tapi justru mensyaratkan demokrasi. ”Islam jelas bukan hanya mendukung, dia mensyaratkan. Kalau mendukung, ini seakan-akan datang dari luar yang didukung. Sebenarnya, demokrasi yang diajarkan Islam justru lebih dulu, lebih jelas daripada demokrasi yang berasal dari Barat (Yunani),” kata Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab kepada Republika.

“Islam bukan hanya mendukung, tapi bisa menjadikan prinsip ajaran dalam kehidupan bermasyarakat, apa yang kita kenal pilar dalam Islam dengan syura atau dipadankan dengan demokrasi.”

Prof. Dr. Quraish Shihab menyatakan, tidak benar kalau orang selalu bicara bahwa dalam  Islam tidak ada demokrasi. “Dalam Islam, yang dinamakan syura adalah pada mulanya berarti mengeluarkan madu dari sarangnya. Jadi, orang-orang demokrasi itu dipersamakan dengan lebah yang menghasilkan madu. Lebah punya keistimewaan, dia tidak makan kecuali yang baik. Dia tidak mengganggu. Kalaupun dia menyengat, sengatannya obat. Hasilnya selalu baik, bermanfaat. Itulah yang dicari.

Kemudian dari syura lahirlah mencari pendapat yang baik seperti baiknya madu. Di mana pun madu ditemukan, itu kita ambil. Baik dari yang mendengar pendapat maupun yang menyampaikan pendapat.”

Jadi substansi demokrasi, menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, adalah syura, yakni memilih yang terbaik. Itu dalam level pendapat individu. Siapa yang tak kenal Prof. Dr. Quraish Shihab, yang ahli tafsir itu.

Jika masih kurang, baiklah, saya tambah lagi dengan level ormas keagamaan. Dalam situs muhammad-usman.com ditulis, pemikiran demokrasi substantif dalam pandangan Nahdlatul Ulama, di antaranya, pertama, masyarakat mempunyai hak yang sama, kesetaraan.

Kedua, kebebasan berekpresi. Kebebasan ini dalam Islam dijadikan landasan untuk reinterpretasi, konsensus ulama, perbedaan pendapat, kemaslahatan umat, dan akuntabilitas publik. Ketiga, keadilan. Dalam Islam, perintah berbuat adil sangat banyak kita temukan dalam firman Allah. Keempat, toleransi. Sikap ini merupakan dasar dalam menghargai agama lain. Lakum dinukum waliyadin, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Kelima, musyawarah dalam pengambilan keputusan.

Jadi, kalau Prof. Dr. Quraish Shihab, yang ahli tafsir, dan NU, ormas keagamaan terbesar di negeri ini, saja tidak mempersoalkan pilihan politik kita berupa demokrasi, apa iya pendapat yang mengatakan bahwa demokrasi adalah pintu Jahanam itu benar? Itu yang pertama.

Yang kedua, karena tampaknya tulisan di atas, yang berjudul “Partai yang Mengajak pada Demokrasi adalah Partai yang Mengajak pada Neraka Jahanam”, ditujukan pada partai-partai tertentu, yang secara eksplisit memperjuangkan demokrasi, saya katakana: Maju terus dengan perjuangan itu. Rakyat, termasuk sebagian besar umat Islam Indonesia, insya Allah akan tetap mendukung. Amin.

ES/Majalah-Alkisah.com
Foto: Rokhmat S Labib (Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia)
« PREV
NEXT »

No comments