Muslimedianews.com ~ Sebagai awam, hamba melihat perseteruan, adu gagasan antara Habib Syekh dengan Gus Nuril di Yutub
begitu prihatin. Kepritahinan saya adalah ketika video dan pernyataan
beliau berdua di manfaatkan oleh pihak yang tak bertanggungjawab di
media sosial. Yang kepentingannya tak lain adalah untuk mengadu domba
antara umat Muslim. Terutama warga Nahdliyyin.
Banyak website
atau media portal yang saya temu untuk memperkeruh suasana ini.
Kebanyakan redaktur yang memberitakan dan redaksi penulisannya dengan
nada sarkasme. Ngumpat-ngumpat, melaknat-laknat, kafir mengafirkan.
Sialnya, kebanyakan media tersebut menggunakan label “islami”. Coba saja
pembaca googling dengan nama beliau berdua.
***
Sewaktu
di pesantren dulu, tepatnya di kota Kudus, saya adalah penggemar Habib
Syekh, yang kemudian muncul dengan istilah Syekher mania. Waktu itu
belum semarak sekarang. Para jama’ahnya dengan membawa bendera—laiknya
orang mau pergi konser. Terkadang saya rasan-rasan di dalam hati kecil
saya terkait fenomena ini. Dulu masih sederhana, dari kampung ke
kampung. Walaupun jarak pengajiannya jauh, saya tempuh dengan jalan kaki
bersama-sama santri yang lain. Saya sangat gemar pergi ke pengajian
Habib Syekh karena bacaan Maulid Simthuddurornya. Di samping kecintaan
saya dengan para habaib. Ketika pergi ke acara maulid, pasti yang dicari
adalah barokahnya para habaib. Karena bisa berkumpul dengan kaum salih.
Dan itu menjadi tombo ati bagi saya dan teman-teman yang lain.
Kecintaan
saya pada bacaan Maulid Simthudduror tak lain karena di sana membacakan
sosok baginda agung, Nabi Muhammad Saw. Yang penuh kasih sayang dan
menjadi rahmat seluruh alam. Sehingga ketika suasana Maulid itu tampak
teduh, nyaman, tenang dan khusyuk. Terkadang aroma minyak misik dan
wewangian menyengat tajam di hidung saya. Sampai kemudian saya jatuh
hati pada kitab karangan Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi
tersebut. Bisa dibilang saya agak sedikit hafal dengan bacaan ini
dibanding dengan bacaan maulid yang lain, seperti Maulid Dziba’,
Al-Barjanji, dan Maulid Adl-Dliya Ullami’.
Apalagi ketika Mahallul Qiyam. Semua jama’ah berdiri—seakan-akan menyambut kehadiran yang mulia. Yaa Nabi Salam ‘Alaika pun dibaca sembari diiringi tabuhan rebana yang semakin menambah khidmat suasana.
Kembali
dengan video yang ada di Yutub. Saya kemudian teringat dengan
pernyataan guru saya, KH. M Arifin Fanani, sewaktu di pesantren dulu.
Waktu itu sedang ngaji kitab Fathul Qarib kalau tidak salah, beliau
mengatakan; “sohabat yo musuhe sohabat, kiai yo musuhe kiai, santri yo
musuhe santri, politisi yo musuhe politisi, lan sak teruse”.
Pernyataan
tersebut waktu itu ketika beliau menjelaskan terkait perseteruan antara
Sayyidina Ali dengan Sayyidah Aisyah dalam perang Jamal. “sedoyo ulama’
lan sesepuh kito mboten pareng ngaran-ngarani dateng apa yang terjadi
pada waktu itu. Diam lebih baik”. Begitu kurang lebih pernyataan beliau
yang saya ingat. Karena peristiwa tersebut merupakan fitnah bagi umat
Islam.
Sebagaimana
apa yang terjadi saat ini. Ketika melihat perseteruan antara Gus Nuril
dengan Habib Syekh. Sebagai awam yang juga muridnya Habib Syekh, karena
saya dulu sering mengikuti pengajian beliau, bahkan pernah diberi uang
sama beliau sewaktu mau pengajian. Tidak tahu aku taruh dimana sekarang
uang kenang-kenangan itu. Dan saya juga semadzhab dengan Gus Nuril,
sama-sama meneruskan gagasan dan perjuangan dari almarhum Gus Dur, yang
mengayomi umat—tanpa melihat status agama, suku, ras, dan keyakinan
seseorang. Alahkah baiknya, harapan besar saya, beliau berdua bisa
bertemu, silaturrahim, dan bisa tabayun bersama.
Mengingat
kita saat ini dikerumuni oleh dunia virtual. Siapapun bisa mengakses
dengan cepat, dan fatalnya, kebanyakan orang tidak melakukan kroscek
terkait berita yang di dapatnya. Sedikit tahu; langsung share. Tanpa
adanya konfirmasi. Apalagi, perlu diketahui juga, saat ini banyak website
yang kelihatannya berlabel “islam”, tetapi menebar kebencian.
Menggunakan bahasa yang tidak mengikuti kode etik jurnalis, asal ceplos
dan terpenting; rattingnya naik.
Orang-orang
seperti ini yang membahayakan dan perlu diketahui bersama. Bukan
berarti media yang menggunakan nama Arab itu kemudian Islami. Mereka
acapkali menebar Islam Marah, bukan Islam Ramah. Walaupun dia
menyuarakan anti kapitalisme, anti neoliberalisme, tapi perlu diingat
juga, mereka juga butuh uang, butuh menaikkan ratting medianya. Agar
bisa dapat iklan dari google dan banyak sponsor.
Saya
sendiri juga pernah teribat di media, walaupun jadi kontributor yang
masih level tingkat teri. Namun setidaknya, saya tahu ideologi media
seperti apa. Bad news is good news. Berita besar karena dibesarkan. Di Jogja ini, saya banyak bergumul dengan rekan-rekan yang juga terlibat aktif di media.
Banyak cerita ngalor ngidul
terkait fenomena maraknya oknum-oknum yang ingin membuat kerusuhan di
tengah-tengah umat dengan membentur dan mengadu domba umat. Pihak yang
tidak suka dengan sholawatan dan tahlilan (tidak usah menyebut
ideologinya karena sudah jelas), pasti sangat suka dengan adanya
perseteruan antara Habib Syekh dengan Gus Nuril di Yutub.
Mereka
akan memainkan isu ini dengan gencar. Karena ini video, jadi bagaimana
sosok mereka berdua bisa dijual. Dan sudah bisa ditebak, akan kemana
alur permainan mereka. Yah, seperti perseteruan KPK versus Polri
kemarin, akan ada banyak pihak yang tertawa gembira dan memanfaatkan
konflik itu dengan senang. Dia bisa bermuka dua. Dia tidak berpijak pada
kebenaran, tetapi kekuasaan. Seperti perseteruan antara Habib Syekh
dengan Gsu Nuril, orang-orang ini adalah dia yang akan berpijak pada
kepentingan dan adu domba, bukan kemaslahatan.
Fatalnya,
orang-orang seperti itu kian menjamur di tengah kita dan gerakannya
semakin massif. Tetapi, saya kemudian teringat dengan wejangan dari Mas
Imam Aziz, ketua PBNU pusat, yang pernyataan ini beliau peroleh dari
almarhum Gus Dur, “Mas, sing tenang wae, sing bakal menang kui wong
Islam awak dewe..”
Wallahhu a’lam bimanihtada.
Wallahhu a’lam bimanihtada.
Oleh Muhammad Autad An Nasher
via Kompasiana
Ane setuju 100 % dengan tulisan di atas, ane yang awam ini menyarankan kepada semua ulama yang terkait NU mestinya setahun sekali duduk bersama membahas jalan dakwah yang ditempuh masing-masing pendakwah, cara berpikir masing-masing pendakwah dan cara menarik simpati masyarakat pendengar dakwah mereka....kalau sudah duduk manis dan saling bicara semua pasti mudah karena masing-masing punya landasan berpikir yang ane yakin sesuai dengan ajaran Rasululullah. Kita jangan sampai diadu domba para bajiangan tengik yang meatasnamakan islam....ane pecinta habaib juga pecinta para Gus, dulu ane menolak cara berpikir Gus dur....tapi sekarang ane mulai memahami dan menurut ane tidak ada masalah sama cara berpikir gus dur dan gus nuril.....jadi menurut ane, sekali lagi jangan sampai kejadian ini dimanfaatkan orang-orang yg tidak bertanggung jawab
ReplyDeleteini muhammad autad alumni Mus-yq angkatan berapa ya ?
ReplyDelete