1. Dimulai dari dalil. Berbicara tentang dalil, tidak semata-mata merujuk kepada apa yang tertulis. Kalaupun tertulis, dalil itu mesti diklarifikasi kembali bagaimana sifatnya; qath'iyyud dalalah atau dzonniyyuddalalah. Setelah jelas sifatnya, mesti dipahami juga kualitas dari dalil itu; wajib, mandub, mubah, makruh atau halal.
3. Nasionalisme mempunyai dua makna; yang pertama sebagai paham yang diperkenalkan Ernest Renan dan yang kedua, sebagai istilah mencintai tanah air.
4. Dalam konteks mencintai tanah air, hadits riwayat Atturmudzi dan Ahmad menjelaskan bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah seorang nasionalis (cinta tanah air):
والله انك لخير ارض الله ÙˆØ§ØØ¨ ارض الى الله ولوﻻ اخرجت منك ما خرجت
Demi Allah, sungguh engkau (kota Makkah) betul-betul bumi Allah yang paling baik dan tanah yang paling dicintai Allah, sekiranya aku tidak dipaksa keluar oleh kaumku, tidaklah aku keluar darimu (Makkah).
Jika dikatakan bahwa kecintaan Nabi kepada Makkah dasarnya adalah keridloan Allah, kenapa pula Nabi Muhammad tidak menetap di Makkah setelah Fathu Makkah?
5. Atas dasar kecintaan kepada Tanah Air itu pula, Nabi Muhammad berdoa:
اللهم ØØ¨Ø¨ الينا المدينة ÙƒØØ¨Ù†Ø§ مكة او اشد منه
Ya Allah, tanamkan di hati kami kecintaan kepada Madinah seperti kecintaan kepada Makkah, atau kuatkan kecintaan itu (kepada Madinah). (Riwayat al-Bukhary)
Oleh Ust. Abdi Kurnia Djohan
Disarikan dari kultum zuhur di Masjid Kampus UI Depok, 11 Agustus 2015

No comments
Post a Comment