Momentum yang sangat baik ini, membuat PW IPNU DKI Jakarta mengajukan wacana agar sejarah perjuangan para ulama dan santri bisa dimasukan dalam mata pelajaran sejarah.
Ada beberapa alasan, diantaranya sebagai berikut:
Pertama sejarah mencatat, dalam masa peperangan menegakkan kemerdekaan, ada sebanyak 20 Batalyon dari 64 Batalyon yang dipimpin oleh para kiai pesantren. Inilah peran besar kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan RI yang termotivasi dari fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 (NU Online, 15/10)
Ketiga, kontribusi santri dalam membentuk dan mempertahankan bangsa ini tidak bisa dilupakan begitu saja, peranan santri terhadap bangsa ini sangat lah besar. Meskipun pada akhirnya, setelah kemerdekaan peranan santri terus terlupakan. Apalagi pada masa orde baru, santri sangat dipinggirkan, tidak mendapat perhatian oleh pemerintah dianggap kaum yang marjinal, sangat dipinggirkan oleh pemerintahan orde baru.
Keempat, setelah masa orde baru berakhir, memasuki masa reformasi Peranan para santri masih terus berlanjut dengan mempromosikan moderasi islam di tengah budaya dan etnik yang masif menciptakan perdamaian di negara ini.
Oleh karena besarnya peranan santri dan ulama terhadap bangsa ini, Pengurus PW. IPNU DKI Jakarta mengusulkan kepada KEMENDIKBUD agar sejarah perjuangan dan peranan ulama serta santri dimasukan kedalam kurikulum pendidikan pada mata pelajaran sejarah.
Muhammad Said mengatakan, sejarah perjuangan santri dan ulama banyak yang dikaburkan oleh sejarahwan, bahkan tidak masuk dalam buku pelajaran sejarah SD, SMP dan SMA. Seharusnya sejarah perjuangan santri bisa masuk kedalam pelajaran sejarah, agar para pelajar SMP dan SMA bisa mengambil hikmah dari sejarah tersebut.
“Besar harapan kami, dari PW IPNU DKI Jakarta agar sejarah perjuangan santri dan peristiwa resolusi jihad NU bisa dimasukan kedalam mata pelajaran sejarah” ucap Muhammad Said selaku ketua PW IPNU DKI Jakarta.
Dengan memasukan sejarah dibalik Hari Santri Nasional kedalam kurikulum, maka pelajar-pelajar indonesia bisa menjadi pelajar yang mempunyai jiwa kepahlawanan yang tinggi dan kecintaan yang sangat dalam terhadap negara ini sebagaimana para santri, dan menjadi aset negara yang bisa mewujudkan cita-cita negara” ujar Adam, ketua Dept. Kaderisasi. (kowi/hafiz)

No comments
Post a Comment