Peringatan Hari Sumpah Pemuda, sejatinya tidaklah hanya sekedar rutinitas, ceremonial dan simbolis belaka. Namun di balik itu, kita harus bisa mengambil hikmah, manfa’at, intisasi, dan makna yang terdalam dari peringatan Hari Sumpah Pemuda ini.
Dengan demikian, begitu antusiasnya dan semangatnya para pemuda zaman dulu, untuk membawa negara Indonesia ke gerbang kemerdekaan. Semangat dan antusias inilah yang kemudian kita patut untuk meneladani. Begitu gigih, solid dan rasa kebersamaan yang muncul dan yang ada di jiwa para pemuda, untuk melawan para penjajah agar Indonesia bisa merdeka.
Wajah Pemuda di Era Globalisasi
Di era globalisasi, tampaknya para pemuda kita sudah terlena dengan situasi dan kondisi yang sudah enak dan aman. Bahkan sebagaian pemuda, sudah lupa sejarah dengan para pemuda dulu, yang telah susah payah melawan para penjajah.
Sehingga kini, para pemuda sudah hilang kontrol, dimana mereka sudah merasa sangat asyik menikmati segalanya yang ada. Tak berpikir panjang terhadap akibat yang akan timbul di kemudian hari. Peristiwa tawuran, mengkonsumsi narkoba , pergaulan bebas sudah menjadi hal wajar di tengah-tengah masyarakat. Hal ini membuktikan, pemaknaan essensi hari sumpah pemuda masih bias. Bukankah seharusnya para pemuda lebih giat untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif ?.
Imam Syafii pernah mengatakan tidaklah dikatakan seoarang pemuda, orang yang mengatakan inilah bapak saya ( inilah harta bapak saya, inilah vila sewa bapak saya, inilah rumah mewah bapak saya, inilah jabatan bapak saya, inilah mobil mahal bapak saya ), akan tetapi seoarang pemuda adalah orang yang mengatakan inilah saya ( inilah prestasi saya, inilah kreatifitas saya, inilah hasil kerja keras saya).
Pemuda yang baik adalah pemuda yang bisa memanfaatkan hari mudanya untuk hal-hal yang baik (belajar,mencari ilmu,beribadah) sebelum datang masa tuanya.Pemuda yang baik adalah pemuda yang hatinya bertakholluk (menggantungkan hatinya) ke rumah Allah (masjid) untuk selalu beribadah dan berdzikir serta rajin membaca Al-Quran.
Tantangan Pemuda di Era Globalisasi
Tantangan pemuda di era globalisasi tidaklah seberat seperti pemuda di zaman dulu, yang harus mengangkat senjata di medan pertempuran. Akan tetapi, tantangan pemuda di era globalisasi adalah sebagai berikut :
- Narkoba.
- Pergaulan Bebas.
- Perjudian.
- Tawuran.
- Minum-minuman.
- Bergaya hidup mewah.
Pemuda ideal adalah pemuda yang mampu memanfaatkan waktu mudanya untuk meraih kebaikan dan tidak membuat stigma yang negatif yang akan timbul pada dirinya.
Di bidang ibadah :
1. Rajin sholat 5 waktu. Karena di sholatlah pemuda ini bisa tawajjuh kepada Allah dan bisa komunikasi. Dan sholat pula adalah pondasi agama, apabila sholatnya baik maka baiklah agamanya.
2. Rajin mengaji / menghadiri majelis – majelis ta’lim. Karena di dalam pertemuan majelis ini segala ilmu agama bisa di kupas tuntas, sehingga pemuda bisa tau persoalan-persoalan agama. Mana yang hak dan mana yang batil. Hal ini pula menjadi sumber pijakan pemuda untuk melangkah ke depan dan ini akan menjadi sebuah filter pemuda dalam setiap bergerak.
3. Berbakti kepada orang tua. Karena berbakti kepada orang tua adalah sebagai penebus dari beberapa dosa. Ridho Allah tergantung dengan ridhonya kedua orang tua dan murkanya Allah tergantung juga dengan murkanya orang tua. Jangan pernah pemuda mengangkat tangannya untuk memukul salah satu dari kedu orang tuanya, karena hal ini akan mengakibatkan pemuda nantinya akan di ikat tangannya pada hari kiamat dengan ikatan rantai dilehernya.Untuk kemudian pemuda juga jangan sekali-kali sampai memukul diantara kedua orang tuanya, jikalau hal ini terjadi, maka tangan pemuda tersebut akan di potong ketika mau melewati jembatan shirotol mustaqim sembari sambil di pukuli oleh beberapa malaikat.Jangan sekali-kali pemuda memanggil orang tua dengan nama aslinya, barangsiapa memanggil kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya maka neraka adalah tempatnya.
4. Rajin melestarikan budaya para leluhur ( ziarah ke orang tua / sesepuh ).
5. Rajin Silaturahmi baik antar sesama maupun para alim dan ulama.
Di Bidang Teknologi :
1. Rajin belajar, gemar membaca dan mau menulis. Karena belajar adalah jendela utama memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan membaca akan jadi tau hal yang belum tau. Dengan menulis akan melatih hati menjadi lembut.
2. Mampu memanfaatkan teknologi untuk hal – hal yang lebih positif. Tidak sekedar bermain facebook, tweeter, YM, WA untuk sekedar up date status. Namun lebih ke hal – hal yang edukatif yang bernilai mendidik.
3. Mampu membaca arus informasi untuk kemaslahatan umat. Dengan kata lain bisa membaca segala berita dan informasi dengan teliti dan mampu memahaminya dengan lengkap.
4. Mampu menggunakan teknologi dengan cermat dan tepat. Cermat dalam memahami kontekstualitas dari teknologi itu sendiri dan tepat untuk mendayagunakan teknologi kepada fungsi yang sesungguhnya.
Di Bidang Sosial :
1. Suka menolong antara sesama.
2. Peka terhadap kejadian sekitar.
3. Gemar memberikan kontribusi sesuai kemampuan diri.
4. Tidak mengenal dan menggunakan narkoba. Karena Narkoba adalah musuh yang nyata, musuh yang bisa menjerumuskan penggunanya ke lembah kenistaan selama – lamanya baik ketika masih hidup di dunia maupun kelak di alam akhirat. Narkoba yang merupakan jenis kejahatan yang luar biasa / ekstra ordinary crime ini adalah kejahatan lintas negara yang harus di musuhi bersama-sama.
Demikinalah uraian singkat dari Menakar Essensi Hari Sumpah Pemuda Ke-87 di Era Globalisasi, semoga ada faedahnya. Selamat dan Sukses Hari Sumpah Pemuda Ke – 87. Majulah Seluruh Pemuda Indonesia !!!
Penulis : Ust.Hadi Mulyanto, S.Pd.I., M.Pd.I
Dosen Pendidikan Agama di Kampus POLTEK HARBER Kota Tegal
No comments
Post a Comment