العَامُ هُوَ اللَّفْظُ الْمُسْتَغغْرِقُ لِجَمِيْعِ مَا يَصْلُحُ لَهُ
بِحَسْبِ وَضْعٍ وَا حِدٍ دَفعَةً
“ ‘Am adalah lafadz yang menenjukkan pengertian
umum yang mencakup satuan-satuan (afrad) yang ada dalam lafadz itu tanpa pembatasan jumlah terntentu.”
Adapun pendapat dari ulama’ lain mengenai
definisi ‘am, salah satunya adalah
salah satunya adalah menurut Imam Al-Ghazali[2];
العَامُ هُوَ اللَّفْظُ الْوَاحِدُ الدَّالُ مِنْ جِهَةٍ وَاحِدَةٍ عَلَى
شَيْئَيْنِ فَصَاعِدًا
"
'Am adalah suati lafadz yang menunjukkan dari arah yang sama kepada dua hal
atau lebih."
Kemudian ada seorang tokoh yang mana ia juga
menyimpulkan dari beberapa pendapat mengenai definisi dari ‘am, yakni
Muhammad Adib Saleh. Beliau menyimpulkan bahwasanya[3] :
“lafal ‘am (umum) ialah lafal yang
diciptakan untuk pengertian umum sesuai dengan pengertian lafal itu sendiri
tanpa dibatasi dengan jumlah tertentu.”
Dari beberapa pendapat para tokoh diatas, maka
dapat dirumuskan bahwasanya lafadz ‘am[4]
;
1. Hanya terdiri dari satu pengertian tunggal
yang memiliki beberapa afrậd (satuan pengertian)
2. Tunggal di sini dapat digunakan dalam satuan
pengertian yang sama dalam penggunaannya.
3. Apabila hukum yang berlaku itu untuk satu lafadz,
maka hukum itu berlaku pula terhadap setiap afrậd yang tercakup dalam lafadz
tersebut.
Adapun beberapa ketentuan atau
syarat dalam penentuan lafadz ‘am, sehingga tidak semua lafadz bisa
dikatakan sebagai ‘am, diantaranya :
QS. At-Thur ayat 21
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ
ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ
امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak
cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka
dengan mereka , dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap
manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS, At-Thur:21)
QS.
Al-Baqarah ayat 29
....هُوَ
الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dialah
(Allah) yang menjadikan untukmu segala yang ada di bumi secara keseluruhan
(jami’an)....” (QS. Al-Baqarah:29)
2. Lafadz mufrad المفرد yang dima’rifahkan
dengan ditambah الجنسية ال (“al” yang menunjukkan jenis)[6],
misalnya dalam QS. Al-Ashr ayat 2;
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-Ashr:2)
3.
Lafadz jama’ (الجمع) yang dima’rifahkan
dengan الجنسية ال dan jama’yang dimakrifahkan dengan
idhafah[7].
Contoh (jama’ yang dima’rifahkan):
وَالْمُطَلَّقَاتُ
يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍۚ
“Wanita-wanita yang ditalak handaklah
menahan diri (menunggu) tiga kali quru'.” (QS. Al-Baqarah:228)
Contoh (jama’ yang dima’rifahkan dengan idhafah):
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً
تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ.... ۖ
“Ambillah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.” (QS. At-Taubah:103)
4. Isim Maushul (الأسماء الموصولة), yakni jika
dalam suatu ayat tersebut didahului atau terdapat isim maushulnya, seperti: الذي – التي - الذين – اللاّتي/اللاّئى
Contoh dalam QS. An-Nisa’ ayat 10
:
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا
إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
“Sesungguhnya
orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu
menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala (neraka).” (QS.An-Nisa’:10)
5.
Isim Syarat: الشرط أسماء (kata benda untuk mensyaratkan)[8],
Seperti: مَنْ (barang
siapa) dan مَا (apa-apa).
Contoh dalam
QS. An-Nisa’ ayat 92 :
....وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا
خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ
إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا.... ۚ
“... dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah
(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar
diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka
(keluarga terbunuh) bersedekah.” (QS. An-Nisa’:92)
6. Isim Nakirah ( النكرة اسم ) yang diawali oleh la nafii
atau dinafikan, seperti lafadz la junaaha ( (لا جناحdalam QS. Al-Mumtahanah ayat 10.
... وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ
إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ.... ۚ
“... dan tidak ada dosa (la junaaha) atas kamu mengawini
mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya...” (QS. Al-Mumtahanah:10)
Dalam pembagiannya ‘am dikelompokkan
pada tiga macam :
1. Lafadz ‘am yang maksudnya umum,
merupakan lafadz yang dari segi lafadz-nya dan artinya berarti
umum. Secara definitif;[10]
هُوَ
الْعَامُّ الَّذِى صَحُبَتْهُ قَرِيْنَةٌ تَنْفِى احْتِمَا لَهُ عَلَى
التَّخْصِيْصِ
“Lafadz ‘am yang
disertai qarinah yang menolak kemungkinan untuk ditakhsis.”
Misalnya
dalam QS. Ali ‘Imran ayat 185 :
كُلُّ نَفْسٍ
ذَائِقَةُ الْمَوْتِ....
“Setiap
diri akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran:185)
Lafadz
كُلُّ
نَفْسٍ
jika dari segi arti memiliki makna yang memang
tidak ada batasannya. Kemudian qarinah yang menyertai di sini adalah qarinah
haliyah atau keyakinan yang dirasakan bersama. Dan lafadz ‘am di
sini penunjukanya bersifat qath’i.
2. Lafadz ‘am yang maksudnya adalah khusush. Maksudnya di sini
adalah lafadz yang jika ditinjau dari sifat atau cirinya termasuk
dalam ‘am, namun dari segi makna memiliki arti yang khusush. Secara
definif;[11]
هُوَ
العَامُّ الَّذِى صَحُبَتْهُ قَرِيْنَةٌ تَنْفِى بَقَا ئَهُ عَلَى عُمُوْمِهِ
“yaitu lafadz ‘am yang disertai
qarinah yang meniadakan keumumannya.”
Misalnya dalam QS. Ali ‘Imran ayat
97.
وَلِلَّهِ
عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً
“Kewajiban manusia terhadap Allah adalah
menunaikan ibadah Haji ke Baitullah bagi orang yang berkuasa berjalan ke sana.”
(QS. Ali ‘Imran:97)
Contoh lain terdapat pada QS. At-taubah ayat 120
مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ
يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ
نَفْسِهِ….
“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah
dan orang-orang Arab Baduwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut
menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) mereka mencintai
diri mereka daripada mencintai diri Rasul.” (QS. At-taubah:120)
Lafadz النَّاسِ merupakan ‘am karena kata tunggal yang
diawali dengan alif- lam jinsiyyah. Namun, yang menjadi fokus dari ayat
ini adalah sebagian afrad-nya saja, yaitu orang mukallaf yang
mempunyai kesanggupan.
3. Lafadz ‘am yang dikhususkan. Maksudnya adalah
lafadz ‘am kemungkinan mendapat takhsis. Secara definitif[12]:
هُوَ العَامُّ الَّذِى لَمْ تُصَاحِبْهُ
قَرِيْنَةٌ تَنْفِى احْتِمَالُهُ عَلَى التَّخْصِيْصِ
وَلاَ قَرِيْنَةٌ تَنْفِى بَقَا ئَهُ عَلَى عُمُوْمِهِ
“Lafadz ‘am yang tidak disertai oleh qarinah
yang meniadakan kemungkinan untuk ditakhsish, juga tidak disertai qarinah yang
meniadakan lafadz itu tetap bersifat ‘am.”
Misalanya dalam hadits nabi, yang berbunyi :
مَنْ
دَلَّ عَلَى خَيْرٍ كَفَا عِلِيْهِ
“Orang yang memberi petunjuk untuk berbuat
baik sama dengan orang yang berbuat baik itu sendiri.”
Lafadz ( (منmerupakan isim istifham,
sehingga menunjukkan lafadz ‘am. Namun, tidak ada qarinah yang
menyebutkan apakah lafadz tersebut ‘am atau khusush. Sehingga
ada kemungkinan lafadz tersebut bersifat khas atau bisa jadi ‘am.
Contoh lain dalam QS. Al-Baqarah ayat 228
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ….
“Dan wanita-wanita yang ditalaq hendaklah
menahan diri (menunggu) tiga kali quru.” (QS. Al-Baqarah:228)
Al-muthallaqat bersifat ‘am, namun lafadz
tersebut masih terbebas dari penyebutan ‘am atau khas, karena
menurut Muhammad Adib Shaleh selama belum ada dalil yang men-takhsis-kannya
maka lafadz tersebut tetap bersifat ‘am.[13]
Penulis : M. Sochi Safi'ul AnamProfesi : Mahasiswa UIN MALANG
[1] Safiun Shidik, Ushul Fiqh, PT.
Intimedia Ciptanusantara:Tangerang, 2009, hal. 83.
[2] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, Kencana
Prenadamedia Group:Jakarta, 2014, hal. 55
[3] Satria Effendi & M. Zein, Ushul
Fiqh, Prenada Media:Jakarta, 2005, hal. 196
[4] Op,. Cit, Amir Syarifuddin, hal. 56
[5] Ibid,. Satria Effendi & M. Zein, hal.
196.
[6]
Abdul Wahid, KAIDAH-KAIDAH PEMAHAMAN DAN PENGAMBILAN HUKUM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH (Studi
Tentang Lafazh ‘Am, Khash, Lafazh Muthlak dan Muqayyad), Jurnal Pendidikan dan Pranata Islam, Syaikhuna Edisi 10
Nomor 2, 2015, hal. 62
[7] Loc,. Cit, Abdul Wahid, hal. 62
[8] Op,. Cit, Satria Effendi & M. Zein,
hal. 197.
[9] Op,. Cit, Safiun Shidik, hal. 85.
[10] Op,.Cit, Amir Syarifuddin, hal. 91.
[11] Op,.Cit, Amir Syarifuddin, hal. 92.
[12] Op,.Cit, Amir Syarifuddin, hal. 92.
[13] Op,. Cit, Satria Effendi & M. Zein,
hal. 200.
No comments
Post a Comment