Muslimedianews.com, Jakarta ~ Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Organisasi Kemasyarakatan berbasis massa Islam terbesar di Indonesia, menyayangkan terbitnya keputusan pelarangan penggunaan kata “Allah” untuk penyebutan nama Tuhan oleh non-Muslim. KH. Said Aqil Siraj, Ketua Umum PBNU mengatakan bahwa ahlul kitab, ahlul kitab Yahudi dan Kristen menyebut nama Tuhan dengan kata "Allah". Diberitakan oleh Republika, Senin (21/10/2013)
Menurut KH Said Aqil Siradj, yang membedakan Islam dengan Kristen dan Yahudi adalah adanya kemusrikan dan akhlak tak mulia. Kristen dianggap musyrik karena menyekutukan Allah, yaitu memiliki ruhul qudus (roh kudus) dan Yesus sebagai Tuhan selain Allah, sementara Yahudi hanya memiliki Allah sebagai Tuhan, namun akhlaknya tidak mulia.
“Didalam al-Qu'ran disebutkan ghoiril magdhubi alaihim, bukan jalan mereka yang dimurkai, yaitu Yahudi, dan waladhollin, bukan pula jalan mereka yang sesat, yaitu Kristen (Nasrani). Jadi Yahudi itu tauhidnya benar tapi akhlaknya tak mulia sehingga dimurkai, sementara Kristen itu tauhidnya salah sehingga disebut sesat,” jelas Kiai yang akrab disapa Kang Said tersebut.
Kiai Said juga mengatakan bahwa penyebutan nama Tuhan yang berbeda bisa diterapkan untuk Hindu dan Budha, yang di kitab sucinya secara jelas disebutkan berbeda.
“Didalam al-Qu'ran disebutkan ghoiril magdhubi alaihim, bukan jalan mereka yang dimurkai, yaitu Yahudi, dan waladhollin, bukan pula jalan mereka yang sesat, yaitu Kristen (Nasrani). Jadi Yahudi itu tauhidnya benar tapi akhlaknya tak mulia sehingga dimurkai, sementara Kristen itu tauhidnya salah sehingga disebut sesat,” jelas Kiai yang akrab disapa Kang Said tersebut.
Kiai Said juga mengatakan bahwa penyebutan nama Tuhan yang berbeda bisa diterapkan untuk Hindu dan Budha, yang di kitab sucinya secara jelas disebutkan berbeda.
Meskipun tidak setuju dan menyayangkan dengan keputusan pemerintah Malaysia, tetapi Kiai Said memakluminya dan mengembalikan hal itu kepada pemerintah negeri Jiran tersebut. Sebab itu hak pemerintah mereka.
“Kami hanya menyayangkan saja,” tegas Kiai lulusan University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam tersebut. (*)
“Kami hanya menyayangkan saja,” tegas Kiai lulusan University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam tersebut. (*)
Redaktur : Ibnu Manshur
Sumber : Republika

No comments
Post a Comment