BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Sunday, March 01, 2015

Buku Islam Terbaru: Dear Felix Siauw - Sekedar Koreksi, Biar Enggak Sesat Persepsi

Jakarta, Muslimedianews.com ~ Kini telah terbit sebuah buku Islami terbaru yang berjudul “Dear Felix Siauw – Sekedar Koreksi, Biar Enggak Sesat Persepsi“.

Sesuai dengan namanya, buku yang ditulis oleh Wakil Sekjend PBNU, Sulthan Fatoni ini mengandung pembahasan dan koreksi terhadap “fatwa-fatwa” atau pandangan-pandangan keagamaan yang dinilai cukup nyeleneh yang dilontarkan oleh salah satu Ustadz Gaul yang bernama Felix Siauw.

Bak seorang mujtahid, Ustadz Gaul Felix Siauw memang acapkali mengeluarkan “fatwa-fatwa” kontroversial yang menggelitik umat Islam. Muallaf yang bergelar Ustadz ini tidak ragu-ragu berfatwa layaknya mufti agung meski sebenarnya tingkat keilmuannya masih jauh dari apa yang disebut sebagai ulama. Tidak sedikit, para pengikutnya umat Facebookiyah wal Twitteriyah “mengamini” fatwa-fatwa yang diobral oleh Ustadz yang tergabung dalam kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ini.

Berikut adalah diantara “fatwa-fatwal” kontroversial yang pernah dilontarkan oleh Ustadz Gaul Felix Siauw:
  • Fatwa Felix Siauw tentang Copyrights (Hak Cipta): “Halal hukumnya memanfaatkan barang-barang bajakan seperti CD, DVD, buku ataupun media lainnya, karena hak cipta hanyalah milik Allah (All rights reserved only by Allah), dan semua ilmu berasal dari-Nya dan Allah telah mewajibkan kita mencari dan menuntut ilmu”.
  • Fatwa Felix Siauw tentang Penentuan Awal Dzulhijjah: “Mengenai penetapan Ied ‘Adha ini berbeda dengan Penentuan Awal Ramadhan yang memang penetapannya berbeda-beda tergantung madzhab yang digunakan. Dalil Penentuan Awal Dzulhijjah ini berbeda karena kewenangan menentukannya khusus diberikan pada penguasa Makkah yang mengurusi Haji”.
  • Fatwa Felix Siauw tentang Nasionalisme: “Membela nasionalisme, nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya | membela Islam, jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya”.
  • Fatwa Felix Siauw tentang Foto Selfie: “Selfie itu kebanyakan berujung pada sifat takabur, atau roya, sedikitnya ujub. Buat cewek apalagi cowok, lebih baik hindari yang namanya foto selfie, nggak ada manfaatnya malah banyak mudaratnya”. Pada kesempatan lain, Felix Siauw “menyamakan” wanita yang berselfie sudah tidak suci: “Tidak tahu malu wanita yang memposting selfie mereka, dan dengan begitu, apakah mereka suci?”. Fatwa twit lainnya: “Jika kita mengambil sebuah selfie, menyaring dan memilih pose terbaik kita, dan kemudian kita terpesona dan terkesan oleh diri kita sendiri. Itu sangat mengkhawatirkan, akan menimbulkan gila hormat yang disebut PRIDE”.
  • Dan masih banyak lagi.

Untuk itulah, kehadiran buku Islam “Dear Felix Siauw – Sekedar Koreksi, Biar Enggak Sesat Persepsi” ini menjadi angin segar bagi umat Islam yang ingin mengetahui Islam yang sesungguhnya sehingga tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi tentang Islam yang banyak berseliweran di dunia maya.

Dr. KH. Marsudi Syuhud, Sekjend PBNU yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Darul Uchuwah Kedoya Jakarta Barat sangat mendukung dan mengapresiasi atas penerbitan buku karya Sulthan Fatoni ini, dan berkata:

”Buku ini berisi tentang keislaman dalam konteks keindonesiaan. Positif untuk dibaca agar masyarakat tahu bahwa di bumi NUsantara sudah sejak lama terjadi proses pengintegrasian antara fikih dengan kondisi sosial masyarakat, dan berlanjut dalam hukum Islam dengan hukum nasional melalui sarana kebudayaan. Inilah babak lanjutan dialog intensif yang sebelumnya terjadi antara Islam dan kebudayaan Turki, Persia, India, Tiongkok, dan lainnya”.

Dengan gaya renyah, M. Sulthan Fatoni mengoreksi pendapat kontroversial “Ustadz Gaul” Felix Siauw yang begitu mudah menjatuhkan hukum. Ustadz Gaul yang selalu berwawasan global dengan khilafahnya ini disuguhi dengan fakta fikih yang mengindonesia. Beberapa isu yang sempat jadi perdebatan publik ditanggapi dengan paparan yang enggak kalah gaul.

Penasaran kan? Ayo miliki segera bukunya, dapatkan di toko-toko buku terdekat di wilayah anda.


Sumber: Ngaji Yuk!


« PREV
NEXT »

8 comments

  1. Naluya Lefirene6 March 2015 at 06:31

    sejak kapan ada Islam Indonesia, Islam Arab, Islam Turki, Islam India, Islam Persia, Islam Tiongkok, dan penggolongan Islam negara X lainnya? apakah Rasulullah SAW pernah menyebut dan membagi Islam menjadi seperti di atas? apakah anda bangga Islam terpecah-pecah seperti ini? apakah anda bangga saudara seiman kita tidak peduli kepada kita karena bukan satu negeri? apakah anda bangga menggunakan dalil yg tidak dikroscek dahulu keshahihannya yg sebenarnya merupakan propaganda barat untuk memecah belah Islam?

    ReplyDelete
  2. Pasti komen yang seperti di atas ini bakal dibilang "fundamental", "radikal" de el el
    hehehe

    udah... kalo islam mah islam aja atuh ^^ dan seharusnya umat muslim itu saling bersatu. Ya tak? ^^

    ReplyDelete
  3. "Buku ini berisi tentang keislaman dalam konteks keindonesiaan... dst. "
    Ada kata 'konteks'nya. Kalau saya memahami itu konteks serupa dengan nuansa. Demikian juga dengan bahasa Islam yang memang juga berkonteks kearaban. Saking indah dan luwesnya Islam, maka Islam dapat masuk ke konteks lain dan mewarnainya dengan warna Islam :)

    ReplyDelete
  4. Yang bikin istilah Islam Indonesia punya Nabi sendiri mungkin.

    ReplyDelete
  5. Di mana ada istilah "Islam Indonesia" di artikel ini ya? Saya kok ga nemu? Yang saya temukan adalah "keislaman dalam konteks keindonesiaan". (Hasil Ctrl+F lho itu.) Pahami dulu arti kata "konteks", baru angkat bicara.

    ReplyDelete
  6. Islam dan "kebudayaan" Turki, Persia, dst... bacanya pelan-pelan....

    ReplyDelete
  7. Naluya Lefirene2 May 2015 at 20:59

    saya mengerti di artikel tersebut memang tidak ada Islam Indonesia tapi yg saya maksud dengan Islam Indonesia adalah Islam yg konteksnya Indonesia, Arab, Turki, Persia, dll, yaitu Islam yg "kenapa" harus dibagi2 dengan kebudayaan suatu bangsa.
    maka saya masih mempertanyakan:
    kenapa ada "keislaman dalam konteks keindonesiaan"? apakah Rasulullah SAW pernah mengajarkan "keislaman dalam konteks keindonesiaan" atau "keislaman dalam konteks ke"negeri X"an yg lain? apakah karena Wali Songo menggunakan cara yg dapat diterima masyarakat di nusantara e.g wayang lalu muncul "keislaman dalam konteks keindonesiaan"? apakah yg ditangkap dari apa yg dilakukan oleh Wali Songo adalah Islam yg menyesuaikan budaya setempat?

    ReplyDelete
  8. Karena saya belum membaca buku yang dimaksud dalam artikel ini, saya asumsikan yang dimaksud adalah penyebaran agama Islam melalui budaya yang dipahami oleh masyarakat setempat (Indonesia, Turki, Persia, dll). Jadi bukan Islamnya yang menyesuaikan dengan budaya setempat, tapi cara penyampaiannya, supaya mudah diterima.

    "apakah yg ditangkap dari apa yg dilakukan oleh Wali Songo adalah Islam yg menyesuaikan budaya setempat?" Siapa yang menangkap maknanya seperti itu? Anda? Saya sih tidak.

    ReplyDelete