Muslimedianews.com, Pati ~ Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbesar keempat sedunia
dengan 245 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang besar setelah China
(1,4 miliar jiwa), India (700 juta jiwa), dan Amerika (350 juta jiwa),
penduduk negara ini berpotensi menuai banyak perbedaan, utamanya dari
berbagai sektor baik etnis, budaya, bahasa dan agama.
Sebab jumlah penduduk yang besar sama artinya menimbulkan intrik
perbedaan yang tidak kalah kecil. Hal itu menjadi pokok perbincangan
Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI dalam Suluk Maleman bertajuk Bhinneka Tunggale Ilang; Meruwat Perbedaan Merawat Nusantara di Rumah Adab Indonesia Mulia, Jalan Diponegoro 94 Pati, Sabtu (21/03/15) malam.
Perbedaan, katanya, adalah sunnatullah. “Kita harus pandai-pandai menyikapi perbedaan. Jangan sampai berobsesi untuk menyeragamkan perbedaan. Sebab itu melanggar sunnatullah,” jelasnya kepada ratusan hadirin.
Putra tokoh NU KH Saifuddin Zuhri ini menekankan perbedaan sudah jelas tercantum dalam nash “su’uba waqabaila”, Tuhan menciptakan manusia bersuku dan berbangsa-bangsa.
Di ayat lain, Tuhan bisa saja menjadikan umat manusia, ummatan wahidah, makhluk homogen. Tetapi maksud mulia dari Allah ialah agar umat manusia fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Wakil Ketua MPR RI 2009-2014 itu menambahkan, perbedaan perlu diunduh
hikmahnya. “Agar satu sama lain mengisi, melengkapi, dan saling
menyempurnakan,” lanjutnya.
Untuk menyikapi perbedaan ditempuh dengan kearifan dan kebijaksaan.
Sebab perbedaan itu indah asal bisa mengambil sisi-sisi positif. “Salah
satu cara merajut perbedaan yang dilakukan para pendahulu ialah dengan
nilai-nilai agama,” imbuh lelaki 52 tahun ini.
Dalam memahami nilai-nilai agama perlu ilmu pengetahuan dan wawasan
luas. Dengan pengetahuan yang luas harapannya dalam memandang tidak
mudah menyalahkan.
Politisi PPP itu menyontohkan angka 4 ialah hasil penambahan 2+2.
Sehingga tak boleh menyalahkan orang yang bilang itu hasil dari 2 x 2,
10 - 6 maupun 100 - 96. Hal itu menurutnya sejalan dengan orang
menjalani syariat dan tasawuf.
Orang setaraf syariat, sebut dia, dalam beribadah berorientasi pada pahala dan takut kepada neraka. Sehingga posisinya abid, hamba dan ma’bud, Tuhan berbeda. Sedangkan pelaku tasawuf antara manusia, asyiq dan masyhuq, Tuhan, setara.
Kedua pelaku jalan menuju Tuhan itu mempunyai cara berbeda untuk
menuju sang Khaliq namun dengan cara berbeda. Sehingga keduanya perlu
disatukan agar mencapai kesempuraan.
Memanusiakan Manusia
Beragama, tegas Lukman, ialah untuk memanusiakan manusia. Karena
tujuannya sama meski dengan jalan agama yang berbeda-beda: Islam,
Kristen, Hindu dan Budha. Hal itu sejalan dengan Islam Rahmatan Lil Alamin.
Wali Songo, paparnya, dalam menebar Islam di Nusantara tidak dengan
pertumpahan darah tetapi dengan kearifan tanpa mengubah tradisi yang
berlangsung di Jawa.
Karenanya bangsa dengan penduduk besar juga berpotensi besar terpecah
belah. “Solusinya dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta
soliditas sebagai bangsa serta menghadapi beragam masalah dengan
kearifan,” ungkap Lukman Hakim.
Kepada Anis Sholeh Baasyin, penggagas Suluk Maleman memberikan
apresiasi sebab kegiatan merupakan upaya untuk mengedukasi generasi muda
sebagai modal untuk menghadapi globalisasi agar keutuhan bangsa
senantiasa terawat dengan baik.
Hadir juga dalam kesempatan itu Lily Wahid (Mantan Anggota DPR RI),
Agus Sunyoto (sejarawan), KH Abdul Ghofur Maimoen (tokoh agama) serta
Ilyas (akademisi). Juga dimeriahkan penampilan Sampak Gusuran pimpinan
Anis Sholeh Baasyin. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)
Friday, April 24, 2015
Home
Indonesian
Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia
Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia
-
Friday, April 24, 2015
Edit this post
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
Most Reading
-
Muslimedianews.com ~ Daftar Pustaka adalah tulisan yang tersusun di akhir sebuah karya ilmiah yang berisi nama penulis, judul tulisan, pe...
-
Muslimedianews.com ~ Menjadi orang tua bagi anak-anak sangat gampang. Ia boleh menunggu saja anak-anak keluar dari rahim istrinya atau m...
-
Muslimedianews.com ~ Footnote atau Catatan Kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab...
-
Muslimedianews.com ~ TRADISI 4 DAN 7 BULANAN KEHAMILAN Ngapati atau Ngupati adalah upacara selamatan ketika kehamilan menginjak pada us...
-
Muslimedianews.com ~ Kitab Fathul Izar adalah karya ulama Nusantara, KH. Abdullah Fauzi Pasuruan. Menerangkan tentang perihal nikah dan...
-
Muslimedianews.com ~ Dalam salah satu tulisannya yang membahas mengenai melihat gambar porno atau melihat gambar aurat wanita, DPP Hizbu...
-
Muslimedianews ~ KH. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits d...
-
Muslimedianews.com ~ Seorang polisi, seharusnya memiliki sikap yang bijak dan memiliki jiwa pengayom masyarakat, serta memahami sejarah ne...
-
Muslimedianews.com ~ Muharram merupakan bulan pertama dalam tahun Islam (Hijrah). Sebelum Hijrah Rasulallah dari Mekah ke Yathrib kiraan...

No comments
Post a Comment