Adalah Christ Daniel Soselisa (17), pemuda asal Ambon yang ikut mengabarkan ke negara lain bahwa toleransi di Indonesia sangat tinggi. Dia berusaha meyakinkan teman-temannya saat ikut pertukaran pelajar ke Arkansas, Amerika Serikat.
Meski seorang nasrani, Christ mengaku bahwa islam di Indonesia sangat cinta damai. Sehingga tak ada alasan bagi siapa pun untuk melakukan stereotyping antara Islam dengan terorisme.
"Pas saya jelaskan itu mereka gak percaya. Karena mereka dikontrol oleh media-media Amerika Serikat yang begitu kuat. Memiliki pengaruh kuat. Tetapi hari demi hari saya tunjukkan dengan sikap saya sendiri, teladan saya sendiri. Saya bukan muslim tapi saya Kristen namun saya di negara yang mayoritasnya muslim dan saya senang. Saya senang tinggal di negara muslim yang begitu toleran dan respek terhadap perbedaan. Dan mereka percaya itu," tutur Christ sambil tersenyum.
Mata Christ kemudian tampak sedikit berkaca-kaca menahan haru ketika ingat bahwa kota asalnya di Ambon, Maluku juga pernah mengalami konflik. Tetapi akhirnya dapat bersatu dan salah satu simbol persatuannya adalah sekolah yang dia duduki.
"Jadi kalau pernah tahu, dulu ada konflik cukup besar di Ambon antara 2 agama besar. Sekolah saya ini didirikan untuk rekonsiliasi 2 agama ini. Dan dalam bentuk asrama. Awalnya berat, saya enggak terbiasa dengan orang-orangnya dan keyakinannya. Tapi dari situ saya belajar bahwa perbedaan ternyata itu indah banget. Dan sejak itu kami mencoba selalu optimis," ungkap Christ.
Buah dari kegigihannya menceritakan toleransi di Indonesia, Christ pun terpilih untuk menghadiri acara Civilizations Exchange and Cooperation Foundation’s Better Understanding for Better World Conference di Baltimore, Maryland. Di ajang itu dia berhadapan dengan siswa-siswa berbakat lain dari berbagai negara.
Christ mengaku sedikit tegang pada awalnya. Tetapi perasaan itu tak berlangsung lama ketika dia sudah mulai berinteraksi dengan peserta lainnya dan saling bertukar pengalaman.
sumber detik

No comments
Post a Comment