Langkah itu memicu kemarahan warga Beit Jala. Baik muslim maupun Kristen memutuskan bersatu menggelar aksi protes pembangunan tersebut.
Sejumlah tokoh agama memilih melibatkan diri dalam aksi demonstrasi tersebut. Ini karena tembok tersebut akan menjauhkan mereka dari Yerusalem, kota suci tiga agama.
"Tujuan pembangunan tembok itu adalah untuk menutup Beit Jala dari segala arah," ujar Tokoh Muslim setempat, Salah, dikutip Dream dari 972mag.com, Selasa, 25 Agustus 2015.
Salah merupakan warga desa Ni'ilin, dekat Ramallah. Dia memutuskan ikut dalam aksi protes tersebut.
"Mereka mengambil tanah, pohon-pohon, dan mata pencaharian, serta menghukum warga di sini tanpa alasan. Kami datang ke sini untuk mengirimkan pesan, bahwa kami bisa mengalahkan tembok ketika kami, warga Palestina, bersatu. Baik muslim maupun Kristen," kata dia.
Pernyataan yang sama disampaikan oleh Pendeta Paolo dari Gereja Katolik Beit Jala. Dia melibatkan diri dalam aksi penentangan tersebut.
"Kami di sini karena mereka membangun tembok yang akan memisahkan Beit Jala dari Yerusalem. Kami datang ke sini untuk mengatakan ini tanah kami, dan kami akan melawan pembangunan tembok agar bisa hidup secara damai. Seluruh gereja di Beit Jala menentang pembangunan tembok pemisah itu, dan kami kesini untuk memberitahu para tentara, keluar dari sini, ini bukan tanah kalian," ungkap Paolo.
sumber via dream

No comments
Post a Comment