“Siapa namanya?” tanya Hadlratusy Syaikh.
“Ahmad Dahlan”
“Bagaimana ciri-cirinya?”
Santri Basyir menggambarkannya.
“Oh! Itu Kang Darwis!” Hadlratusy Syaikh berseru gembira.
“Tidak apa-apa”, kata Hadlratusy Syaikh.
“Yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia,” tambahnya
Santri Basyir patuh. Maka ketika kemudian Kyai Ahmad Dahlan medirikan Muhammadiyah, Kyai Basyir adalah salah seorang tangan kanan utamanya.
Apakah Kyai Basyir “tak pernah NU”? Belum tentu. Puteranya, Azhar bin Basyir, beliau titipkan kepada Kyai Abdul Qodir Munawwir (Kakak ipar Kyai Ali Ma’shum) di Krapyak, Yogyakarta, untuk memperoleh pendidikan Al Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya. Pengajian-pengajian Kyai Ali Ma’shum pun tak ditinggalkannya. Demikianlah yang dikisahkan Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang, Kyai Yahya Cholil dalam websitenya teronggosong.com.
Belakangan, santri didikan ‘Krapyak’ ini pun terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah menggantikan AR Fahruddin , pada tahun 1990-1995. Namanya populer dengan KH. Ahmad Azhar Basyir, MA.
Mantan Menteri Agama Republik Indonesia H. Munawir Sadzali terkenal mengucapkan, bahwa di Muhammadiyah ada orang NU bernama Ahmad Azhar Basyir, seorang santri lulusan pesantren nahdhiyin sekaligus putra dari murid KH. Hasyim Asy’ari.
sumber via pustaka madrasah

No comments
Post a Comment