BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

OPINION

Opinion
Showing posts with label Tarikh. Show all posts
Showing posts with label Tarikh. Show all posts

Tuesday, May 21, 2019

Ketika Faksi Masyumi Islamis Merasa Besar dan Kuat

Muslimedianews.com ~ Saat ini 2019, ada beberapa gelintir umat Islam yang merasa besar, merasa kuat dan merasa mewakili umat Islam. Ternyata dalam sejarah juga pernah terjadi. Di bawah ini saya copykan apa adanya dari buku Fragmen Sejarah NU.

Masyumi, sebuah partai Islam yang besar pada tahun 1950-an, walaupun partai Islam itu dianggap solid, tetapi di dalamnya terdapat dua faksi yang saling bertentangan, yaitu faksi Islamis yang dipimpin oleh Muhammad Natsir dan Faksi Nasionalis yang dipimpin oleh Soekiman dan Jusuf Wibisono.

Kelompok lslamis itu menunjukkan sikap yang sangat bermusuhan dengan NU dan Bung Karno, sementara kelompok Masjumi nasionalis lebih dekat dan bisa menghargai NU dan Bung Karno. Karena itu, NU tetap kerasan beraliansi dengan Masyumi. Tetapi ketika kelompok Natsir dominan, NU terpaksa keluar dari aliansi itu tahun 1952.

Besarnya pengaruh kelompok Natsir yang berpikir terlalu agamis, tetapi tidak disertai strategi politik yang realistis dan matang itulah yang menurut Jusuf wibisono membuat Masyumi tergelincir ke dalam pemberontakan PRRI, yang menganggap kekuatannya terlalu besar, sehingga merasa bisa menandingi Soekarno yang didukung oleh partai besar seperti PNI, NU, PKI dan tentara. Lagi pula, pemberontakan itu sendiri menurut Jusuf Wibisono bertentangan dengan konstitusi dan Demokrasi Parlementer yang diperjuangkan sendiri oleh Masyumi.

Tetapi akibat pemberontakan itu dialami juga oleh kelompok Masyumi nasionalis seperti Soekiman dan Jusuf Wibisono. Kalau selama ini, Masyumi berusaha keras untuk distigma sebagai Dl-Tll, tetapi setelah pimpinan Masyumi terlibat Langsung dalam pemberontakan PRRI, maka pimpinan Masyumi nasionalis merasa tidak memiliki hak moral untuk membersihkan Masyumi dari stigma yang dilakukan kelompok militer dan PKI saat itu.

Tidak hanya berhenti di situ. Kelompok Masyumi nasionalis yang moderat pun mengalami kesulitan dalam menjalankan politik karena terus ditekan oleh kalangan Angkatan Darat dan terus diserang oleh PKI. Bahkan hampir semuanya dimasukkan penjara, dengan tuduhan bermacam-macam, ada yang dituduh langsung terlibat PRRI, dan dituduh melakukan provokasi terhadap gerakan politik lainnya. Yang jelas, setelah peristiwa PRRI itu, Masyumi dinyatakan sebagai partai terlarang pada tahun 1960. Dengan dilarangnya Masyumi ini, NU juga sedih karena kehilangan partner dalam perjuangan politik, seperti yang dilakukan saat sidang Konstituante, pemilihan gubernur BI dan sebagainya.

FAKSI MASYUMI ISLAMIS: MERASA BESAR DAN KUAT
Oleh: Dr. Ainur Rofiq Al-Amin

Sunday, May 19, 2019

Diawal Berdiri, NU Dikabarkan Bubar dan Menghalakan Riba

Muslimedianews.com ~ Hoax atau berita palsu bukanlah hal baru. Sejak sebelum Indonesia merdeka, bahkan jauh sebelum itu, hoax sudah ada. Hoax pun menimpa siapa saja, tak terkecuali kepada Nahdlatul Ulama (NU) dan para pemimpinnya. Jadi, jika sekarang Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siraj terkena hoax, bukanlah hal yang aneh. Karena sejak masa Hadratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari merintis NU, hoax telah menyerang.

Salah satu hoax yang tersebar di tahun-tahun pertama NU berdiri adalah tentang fatwa Kiai Hasyim. Di mana dalam kabar bohong tersebut, pendiri Pesantren Tebuireng itu, disebut-sebut menghalalkan keberadaan bank.

Tentu saja hoax tersebut dibantah oleh kalangan Nahdlatul Ulama. Seperti halnya dalam berita yang dimuat dalam Swara Nahdlatoel Oelama edisi Safar 1347 H Tahun Kedua (1928). Meski tidak secara spesifik, dalam berita yang menjelaskan tentang kunjungan pengurus NU di Kediri untuk menghadiri tabligh akbar Maulid Nabi itu, ada tokoh NU bernama Abdullah (KH. Ridwan Abdullah?) yang memberikan bantahan.

“Kemudian saudara Abdullah menerangkan bab sebabnya muncul sebagian berita yang menyebutkan Kiai Hasyim menghalalkan bank,” demikian tulis majalah yang berbahasa Jawa dengan aksara pegon tersebut.

Sebenarnya, menurut Abdullah, ulama yang menghalalkan keberadaan bank itu adalah Haji Fakih Hasyim. Ia adalah seorang ulama keturunan Padang yang tinggal di Kawasan Ampel, Surabaya. Hal ini diduga menjadi pemicu hoax tersebut.

Lebih lanjut Abdullah juga menyebut nama Ahmad Zakariya yang turut menghalalkan keberadaan bank. Ia adalah seorang mubaligh asal Surabaya. Dalam tulisannya di surat kabar Suluh Rakyat Indonesia Nomor 24 halaman 198, ia memaparkan argumentasi tentang halalnya bank. Menurutnya, bank memiliki manfaat lebih besar ketimbang mafsadatnya.

Terlepas dari bantahan Abdullah, Kiai Hasyim jelas-jelas tidak memperbolehkan praktik perbankan. Hal ini sebagaimana terungkap pada keputusan bahtsul masail Muktamar ke-2 NU pada Oktober 1927 yang menyatakan bahwa praktik perbankan (bunga) itu haram. Dalam keputusan tersebut, memang tidak secara eksplisit membahas tentang bank. Tapi, tentang hukum mengambil manfaat dari barang yang digadaikan.

Akan tetapi, jika merujuk hasil Muktamar XII NU di Malang pada Maret 1937, hukum bank dikembalikan pada keputusan tentang gadai pada Muktamar Ke-II NU. Dari sini dapat diambil kesimpulan, Kiai Hasyim sebagai pucuk pimpinan NU mengharamkan keberadaan bank yang kala itu mempraktikkan bunga dan rente.

Serangan hoax terhadap Kiai Hasyim tak berhenti sampai di situ. Ada pula tuduhan kejam yang menyebut bahwa pemegang Sanad Bukhori ke-21 itu, telah melakukan perbuatan tercela. Bahkan, dikabarkan juga Nahdlatul Ulama yang dipimpinnya telah bubar. Tuduhan tersebut, muncul dari surat kabar Bintang Islam. Yaitu, surat kabar yang dipimpin oleh Fakhrudin dari Yogyakarta.

Hoax demikian muncul, besar kemungkinan, didorong oleh rasa iri dengki pada Kiai Hasyim yang mampu mengembangkan NU demikian pesat di tahun-tahun awal berdirinya. Terhitung sejak pertama kali berdiri pada 31 Januari 1926 sampai Muktamar pertamanya pada Oktober 1926, sudah dihadiri oleh 93 orang kiai dari pelbagai daerah. Setahun kemudian meningkat menjadi 146 kiai dan 242 kalangan profesional. Bahkan pada Muktamar Ketiga, September 1928, pesertanya semakin membludak. Ada 260 kiai dari 35 Cabang NU di Jawa dan Madura.

Bandingkan dengan Muhammadiyah yang berdiri lima belas tahun lebih awal. Empat tahun pertamanya hanya memiliki 210 anggota saja yang kebanyakan berasal dari Kauman, Yogyakarta. Bahkan, hingga 1923, tiga tahun setelah mendapat besluit pendiri Muhammadiyah dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, baru bisa merintis 14 Cabang. 8 Cabang di Jawa Barat, 2 di Yogyakarta, 2 di Jawa Timur, dan masing-masing satu di Jakarta dan Jawa Barat.

Jadi, tidak heran bukan, jika hoax menyerang sosok Hadratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari?

*Ayung Notonegoro,
Founder Komunitas Pegon Banyuwangi.

Friday, April 26, 2019

Sejarah Aksara Arab Pegon di Indonesia

Muslimedianews.com ~ DNA budaya yang paling utama adalah bahasa, oleh karena itu salah satu kerugian utama kolonialisme kata Syed Naquib adalah hilangnya hubungan pedagogi antara Al Qur'an dengan bahasa setempat. Dan sepertinya benteng terakhir pertahanan kebudayaan ini ada pesantren-pesantren salafiyah yang umumnya berpayung di Nahdhatul Ulama. Padahal dulu, huruf arab Jawi/pegon pernah menjadi satu-satunya huruf yang dipakai di bidang politik, pendidikan dan perdagangan di kepulauan Nusantara ini.

Muslim Tanpa Arab Pegon
Proses perpindahan massal keagamaan di Indonesia dari Hindu Buddha kepada Islam mengakibatkan Islamisasi pada bahasa lokal di nusantara, khususnya bahasa Melayu. “Bahasa Melayu telah mengalami suatu perubahan besar, selain sebagian besar perbendaharaan katanya diperkaya dengan sejumlah kata-kata dari bahasa Arab dan Persia, ia menjadi bahasa pengantar utama untuk menyampaikan Islam ke seluruh Kepulauan Melayu (Al Attas, 2011 : 216). Kata-kata serapan dari bahasa Arab yang digunakan dalam bahasa Melayu berkisar 15 – 20 persen. Tidak terhenti pada Islamisasi bahasa, pada tahun 1600, huruf Arab Jawi/ Pegon merupakan satu-satunya huruf yang digunakan untuk menulis dalam bahasa Melayu (Johns, 2009 : 49 - 51). Bahasa Melayu yang sudah di Islamisasi dan huruf Arab pegon, menjadi bahasa dagang, diplomasi, dakwah dan administrasi kenegaraan di hampir semua kerajaan / kesultanan yang ada di nusantara.Satu-satunya wilayah yang belum memakai huruf arab pegon adalah wilayah Jawa / kesultanan Mataram.

Jawa, di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo, melakukan Islamisasi besar-besaran. Tahun Jawa diselaraskan dengan tahun Hijriah. Sultan Agung juga mengawali tahap pemantapan Keislaman melalui pendidikan Islam massal kepada masyarakat. Di setiap kampung diadakan tempat untuk belajar membaca Al Qur’an, tata cara beribadah dan tentang ajaran dasar Islam seperti rukun iman dan rukun Islam. Saat itu, apabila ada anak berusia 7 tahun belum bisa membaca al Qur’an,ia akan malu bergaul dengan teman-temannya. Para guru agama ini diberi gelar Kyahi Anom oleh pihak kraton. Di tingkat kadipaten didirikan pesantren yang dipimpin oleh Kyahi Sepuh. Saat itu juga dilakukan penerjemahan kitab-kitab besar berbahasa Arab dalam kajian yang bersistem bandongan (halaqah). Kitab-kitab itu meliputi kitab Fiqih, Tafsir, Hadits, Ilmu Kalam dan Tasawuf. Juga Nahwu, Sharaf dan Falaq. Sistem kalender juga disesuaikan dengan sistem Islam( Yunus, 1996 : 223-225).

Sayangnya, rintisan yang dilakukan oleh Sultan Agung ini tidak dilanjutkan oleh pewarisnya, yakni Amangkurat I yang lebih memilih dekat dengan VOC dan berhadapan dengan kaum santri di bawah pimpinan Trunojoyo. Ketergantungan militer pada VOC menyebabkan, penerusnya, yakni Amangkurat II tidak mempunyai pilihan kecuali memberikan sebagian pesisir kepada VOC. Hal ini membuat komunikasi dengan pusat-pusat Studi Islam di Asia Selatan dan Timur Tengah menjadi sulit (Woodward, 2008 : hal. 16-17), Islamisasi budaya dan bahasa di Kasultanan Mataram pun terhenti. Sehingga Mataram menjadi satu-satunya wilayah di kepulauan Nusantara yang belum pernah menjadikan huruf arab pegon sebagai huruf resmi dalam pemerintahan dan perdagangan, meskipun tetap ada kelompok masyarakat yang menggunakannya, yakni pesantren.

Arab Pegon Hilang
Kalau kita menyempatkan diri mengunjungi pesantren-pesantren salafiyah yang biasanya berpayung di bawah Nahdhatul Ulama (NU), yang masih setia melakukan pengkajian kitab dengan sistem terjemah antar baris dengan menggunakan huruf Arab Pegon. Kita akan temukan bahwa penerjemahannya bukan sekedar penerjeman kata per kata, akan tetapi juga disesuaikan dengantata bahasa Arabnya. Sehingga kesalahan dalam pemaknaan dapat diminimalisir. Sebab menerjemahkan bukan sekedar mengartikan, tapi seperti kata A.H. Johns, translation adalah proses mengungkapkan makna suatu ajaran, buku atau puisi ke dalam bahasa lain (Johns, 2009 : 49). Kesamaan huruf tentu lebih memudahkan proses asimilasi, adapsi dan adopsi konsep-konsep Islam ke dalam bahasa lokal.

Oleh karena itu, kekhawatiran Al attas bahwa Romanisasi huruf akan berakhibat pada kebingungan dan kesalahan dalam memahami Islam bukan tidak beralasan. Sebab Romanisasi bahasa yang semula berhuruf Arab menjadi latin, secara berangsur-angsur terjadi pemisahan hubungan leksikal dan konseptual antara umat Islam dengan Sumber Islam. (Al attas, 2011 : 156-157). Proses latinisasi ini akan menceraikan hubungan pedagogi antara kitab Suci Al Qur’an dengan bahasa setempat. Sehingga terjadilah proses deislamisasi, dimana terjadi penyerapan konsep-konsep asing ke dalam fikiran umat Islam, yang kemudian menetap dan mempengaruhi pemikiran serta penalaran mereka (Al-attas, 2011 : 57).

Dampaknya dapat kita lihat skarang, dimana umat Islam tidak lagi bisa membedakan antara“munafiq” dan “hipokrit.” Munafiq tidak sekedar beda antara hati dengan perbuatan seperti arti hipokrit, sebab munafik mempunyai arti baku, yakni lahirnya beriman padahal hatinya memusuhi Islam. Konsep masyarakat majemuk yang berasal dari kata jamak, berarti keanekragaman kini tergantikan dengan istilah pluralisme yang masih menimbulkan kontroversi dalam pemaknaannya. Bahkan kalau kita lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga, yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka, penulisan beberapa istilah baku agama Islam sudah meninggalkan kedisplinan dalam transliterasinya. Sebagai contoh, Al Qur’an ditulis Kuran (hal. 616), ibadah sholat ditulis Salat (hal. 983). Hal ini merupakan kesalahan fatal, sebab sebagai agama wahyu, Islam sangat disiplin menjaga kemurnian istilah kunci agamanya, baik dalam pelafalan maupun pemaknaannya.

Masih banyak contoh-contoh lain tentang kerancuan pemahaman umat akan Islam akibat proses de Islamisasi bahasa ini. Bahkan beberapa pihak mensinyalir proses radikalisasi umat Islam juga terkait dengan kesalahan penerjemahan teks Al Qur’an. Sehingga basis-basis pesantren salafiyah yang masih setia dengan penerjemahan berbasis huruf arab pegon terbentengi dari paham ini. Jadi, bisakah kita menyederhanakan permasalahan dengan menyebut bahwa “perilaku”lebih fasih dari “bahasa”. Sedangkan perilaku sendiri adalah buah dari pemahaman, dan pemahaman sangat dipengaruhi oleh bahasa sebagai medium pemaknaannya. Dalam kata lain, bahasa, pemahaman dan perilaku adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, apalagi dalam agama Islam, agama wahyu yang sangat disiplin dalam menjaga kemurnian konsep-konsep baku keagamaannya. Wallahu a’lam bishshawab.


Oleh : Arif Wibowo

Keterangan :
Tulisan ini dimuat di rubrik gagasan Solopos, Jumat Kliwon 18 Oktober 2013, merupakan tanggapan atas Artikel “Islam Huruf Latin dan Perilaku” oleh Muhammad Fauzi Sukri, Rubrik Gagasan Solopos, 13 September 2013. Saya edit ulang supaya tidak terlalu panjang.

Daftar Pustaka
Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta : Gema Insani Press, 2005).

A.H. Johns, Penerjemahan Bahasa Arab ke dalam Bahasa Melayu, Sebuah Renungan, dalam Henri Chambert-Loir et.al, Sadur, Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia, (Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2009).

Denys Lombard, Nusa Jawa : Silang Budaya, Buku I, Batas-Batas Pembaratan (cet. IV), (Jakarta : Gramedia,2008)

Mahmud Yunus, Prof, Dr. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Hidakarya Agung,1996)

Syed Naquib Al Attas, Islam danSekularisme (cet II), (Bandung : Institut Pemikiran Islam dan PembangunanInsan / PIMPIN, 2011).

Mark Woodward, Islam Jawa, Kesalehan Normatif vs Kebatinan, (Yogyakarta : LKIS, 2008)

Tiga Makam Manusia Terbaik

Muslimedianews.com ~ 3 Makam Manusia Terbaik

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺃﻧﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖ: «ﺭﺃﻳﺖ ﻛﺄﻥ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﻤﺎﺭ ﺳﻘﻄﻦ ﻓﻲ ﺣﺠﺮﺗﻲ، ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ: ﺇﻥ ﺻﺪﻗﺖ ﺭﺅﻳﺎﻙ ﺩﻓﻦ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻚ ﺧﻴﺮ ﺃﻫﻞ اﻷﺭﺽ ﺛﻼﺛﺔ. ﻓﻠﻤﺎ ﻣﺎﺕ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ: ﺧﻴﺮ ﺃﻗﻤﺎﺭﻙ ﻳﺎ ﻋﺎﺋﺸﺔ. ﻭﺩﻓﻦ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻬﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ، ﻭﻋﻤﺮ».
Aisyah berkata: "Saya bermimpi seolah ada 3 rembulan jatuh di dalam kamar saya. Ayah saya berkata bahwa jika mimpimu benar maka akan ada 3 orang terbaik yang akan dimakamkan di kamarmu". Ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam wafat, Abu Bakar berkata: "Ini adalah rembulan terbaikmu, Aisyah". Lalu dimakamkan Abu Bakar dan Umar di kamar tersebut"

ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﺭﺟﺎﻝ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ.

HR Thabrani dalam Al-Kabir dan para perawinya adalah perawi hadis sahih

Tempat Pemakaman Nabi shalallahu alaihi wasallam

ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ: ﻋﻦ ﺃﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ: " ﻣﺎ ﻗﺒﺾ ﻧﺒﻰ ﺇﻻ ﺩﻓﻦ ﺣﻴﺚ ﻗﺒﺾ ". ﺟﻪ (ﻓﺘﺢ اﻟﺒﺎﺭﻱ 529/1)
Hadis Ibnu Abbas dari Abu Bakar secara Marfu': Tidaklah wafat seorang Nabi kecuali ia dimakamkan ditempat beliau wafat (HR Ibnu Majah. Menurut Al Hafidz Ibnu Hajar hadis ini memiliki riwayat pendukung dalam kitab Dalail An-Nubuwah Al-Baihaqi, Fathul Bari 1/529)

Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam wafat di kamar Sayidah Aisyah.

Pemakaman Sayidina Abu Bakar

عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَ عُرْوَةَ وَالْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ يَقُولانِ: أَوْصَى أَبُو بَكْرٍ عَائِشَةَ أَنْ يُدْفَنَ إِلَى جَنْبِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، فَلَمَّا تُوُفِّيَ حُفِرَ لَهُ، وَجُعِلَ رَأْسُهُ عِنْدَ كَتِفَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Dari Umar bin Abdullah bahwa ia mendengar Urwah dan Qasim bin Muhammad, keduanya berkata bahwa Abu Bakar berwasiat kepada Aisyah agar dimakamkan di sebelah Nabi shalallahu alaihi wasallam. Ketika Abu Bakar wafat maka digali makam untuknya. Dan posisi kepala Abu Bakar di dekat kedua pundak Nabi shalallahu alaihi wasallam" (HR Thabari 3/422)

Pemakaman Sayidina Umar

عن عمر بن الخطاب أنه أمر ابنه عبد الله وهو في فراش موته بعدما طُعِن :
Umar bin Khattab memerintah putranya, Abdullah, di pembaringan tempat ia wafat setelah ditusuk:

انْطَلِقْ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَقُلْ : يَقْرَأُ عَلَيْكِ عُمَرُ السَّلَامَ ، وَلَا تَقُلْ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ ؛ فَإِنِّي لَسْتُ الْيَوْمَ لِلْمُؤْمِنِينَ أَمِيرًا ، وَقُلْ يَسْتَأْذِنُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَنْ يُدْفَنَ مَعَ صَاحِبَيْهِ ، فَسَلَّمَ وَاسْتَأْذَنَ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهَا فَوَجَدَهَا قَاعِدَةً تَبْكِي، فَقَالَ : يَقْرَأُ عَلَيْكِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ السَّلَامَ ، وَيَسْتَأْذِنُ أَنْ يُدْفَنَ مَعَ صَاحِبَيْهِ ، فَقَالَتْ : كُنْتُ أُرِيدُهُ لِنَفْسِي ، وَلَأُوثِرَنَّ بِهِ الْيَوْمَ عَلَى نَفْسِي .
"Pergilah kepada Aisyah, ibunda umat Islam. Sampaikan salam dari Umar, jangan katakan dari pemimpinnya umat Islam, sebab hari ini aku bukan pemimpin umat Islam, untuk dimakamkan bersama kedua sahabatku. Abdullah bin Umar kemudian mengucapkan salam dan minta izin, ternyata Aisyah sedang menangis. Abdullah menyampaikan salam dari Umar bin Khattab agar dimakamkan di dekat kedua sahabatnya. Aisyah berkata: "Aku ingin itu adalah tempat aku dikubur. Tapi kali ini aku akan mengalah" (HR Bukhari)

Mengapa Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar Memilih Tempat Di Dekat Nabi?

ﻓﺼﻞ: ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ اﻟﺪﻓﻦ ﻓﻲ اﻟﻤﻘﺒﺮﺓ اﻟﺘﻲ ﻳﻜﺜﺮ ﻓﻴﻬﺎ اﻟﺼﺎﻟﺤﻮﻥ ﻭاﻟﺸﻬﺪاء؛ ﻟﺘﻨﺎﻟﻪ ﺑﺮﻛﺘﻬﻢ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻓﻲ اﻟﺒﻘﺎﻉ اﻟﺸﺮﻳﻔﺔ.
Fasal: "Dianjurkan untuk mengubur di pemakaman yang banyak orang-orang saleh dan syuhada, agar dapat berkah mereka. Demikian halnya tempat-tempat yang mulia" (Syekh Ibnu Qudamah, Al-Mughni 2/380)

Ust. Ma'ruf Khozin

Sambutan Sebelum Pemakaman Jenazah di Masa Salaf

Muslimedianews.com ~ Jenazah yang akan diberangkatkan ke pemakaman, sudah lazim di lingkungan kita ada sambutan dari tokoh yang mewakili keluarga. Rupanya hal semacam ini sudah dilakukan sejak masa ulama salaf:

ﻗﺎﻝ ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﻣﺎﺕ اﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﺑﻦ ﺷﻌﺒﺔ، ﻗﺎﻡ ﻓﺤﻤﺪ اﻟﻠﻪ ﻭﺃﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻗﺎﻝ: ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﺗﻘﺎء اﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ، ﻭاﻟﻮﻗﺎﺭ، ﻭاﻟﺴﻜﻴﻨﺔ، ﺣﺘﻰ ﻳﺄﺗﻴﻜﻢ ﺃﻣﻴﺮ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻳﺄﺗﻴﻜﻢ اﻵﻥ. ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: اﺳﺘﻌﻔﻮا ﻷﻣﻴﺮﻛﻢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺐ اﻟﻌﻔﻮ
Jarir bin Abdullah berkata saat wafatnya Mughirah bin Syu'bah (Gubernur Kufah dimasa Bani Umayyah, 50 H), setelah ia memuji kepada Allah: "Tetaplah kalian bertakwa kepada Allah, yang maha esa tidak ada sekutu bagi Allah. Tetap semangat dan tenang, hingga datang pemimpin baru. Mintalah ampunan kepada Allah untuk Mughirah, karena ia (dahulu) senang memaafkan"

ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ، ﻓﺈﻧﻲ ﺃﺗﻴﺖ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﻠﺖ: ﺃﺑﺎﻳﻌﻚ ﻋﻠﻰ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﺸﺮﻁ ﻋﻠﻲ: «ﻭاﻟﻨﺼﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﺴﻠﻢ» ﻓﺒﺎﻳﻌﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻫﺬا، ﻭﺭﺏ ﻫﺬا اﻟﻤﺴﺠﺪ ﺇﻧﻲ ﻟﻨﺎﺻﺢ ﻟﻜﻢ، ﺛﻢ اﺳﺘﻐﻔﺮ ﻭﻧﺰﻝ
Jarir berkata: "Sungguh aku mendatangi Nabi shalla Allahu alaihi wasallam dan saya berbaiat atas Islam. Maka Nabi memberi syarat kepada saya untuk menasehati sesama Muslim. Saya terima baiat itu. Demi Allah pemilik masjid ini, sungguh aku memberi nasehat kepada kalian". Kemudian ia beristighfar lalu turun (Sahih Bukhari sebelum Bab Ilmu)

Ust. Ma'ruf Khozin

Umar bin Abdul 'Aziz Menghentikan Cari Maki Terhadap Ali bin Abi Thalib Didalam Khutbah

Muslimedianews.com ~ Sejatinya khutbah Jum'at berisi pesan-pesan yang menambah ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT, bukan berisi hal-hal yang buruk, seperti mencaci-maki, menghina dan memfitnah pihak-pihak tertentu. 

Dalam sejarah Islam, caci maki didalam khutbah pernah terjadi yang dilakukan oleh Bani Umayyah. Caci maki diarahkan kepada Ali bin Abi Thalib yang dahulunya pernah berseteru dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan, pemimpin pertama Dinasti Umayyah. 

Caci maki itu baru berhenti dimasa Khalifah Umar bin Abdul 'Aziz, sebagaimana keterangan Imam As-Suyuthi berikut ini :

ﻛﺎﻥ ﺑﻨﻮ ﺃﻣﻴﺔ ﻳﺴﺒﻮﻥ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻃﺎﻟﺐ ﻓﻲ اﻟﺨﻄﺒﺔ ﻓﻠﻤﺎ ﻭﻟﻲ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﺃﺑﻄﻠﻪ، ﻭﻛﺘﺐ ﺇﻟﻰ ﻧﻮاﺑﻪ ﺑﺈﺑﻄﺎﻟﻪ، ﻭﻗﺮﺃ ﻣﻜﺎﻧﻪ: {ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﻳﺄﻣﺮ ﺑﺎﻟﻌﺪﻝ ﻭاﻹﺣﺴﺎﻥ} اﻵﻳﺔ، [ اﻟﻨﺤﻞ: 90]
Bani Umayyah mencaci maki (Sayidina) Ali bin Abi Thalib saat khutbah. Ketika Umar bin Abdul Aziz memimpin menghapus hal itu dan mengirim surat kepada semua pejabat agar menghapusnya dan mengganti dengan membaca ayat yang artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (An-Naĥl: 90)

ﻓﺎﺳﺘﻤﺮﺕ ﻗﺮاءﺗﻬﺎ ﻓﻲ اﻟﺨﻄﺒﺔ ﺇﻟﻰ اﻵﻥ.
Membaca ayat ini tetap berlangsung hingga saat ini. (Al-Hafidz As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa' 1/182)

Ust. Ma'ruf Khazin

Thursday, April 25, 2019

Hoax Sejarah Tentang Walisongo Agen/Utusan Khilafah Utsmani

Muslimedianews.com ~ Walisongo Agen/utusan khilafah Ottoman Adalah Sejarah Hoax.
Banyak tulisan bertebaran mendiskripsikan bahwa Walisongo adalah utusan Kekhalifahan Ottoman, dibentuk oleh Sultan Mehmed I.
Diskripsi tersebut diklaim berdasarkan tulisan Ibnu Batutah di kitabnya yang bernama Kanzul Hum yang tersimpan di museum istanbul Turki. Diantara tulisan-tulisan yang bertebaran yang memberitakan "sejarah palsu" tersebut bisa ditemukan atau ditelusuri di google dengan mengetikkan kata kunci : "Walisongo adalah utusan ottoman atau ketik kanzul hum", "walisongo utusan khilafah", "walisongo utusan utsmani", "walisongo utusan ottoman", dan lainnya. 
Diantaranya diposting didalam situs 101dunia.com, Arrahmah.com, Kompasiana (Agus Trisa), dan lain sebagainya. Diantaranya isi dalam situs-situs tersebu adalah:
"Dalam kitab Kanzul Hum yang ditulis oleh Ibnu Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa*".
Jika dikaji, maka terdapat beberapa yang tidak sesuai.

Pertama, tidak ada kitabnya Ibnu batutah yang bernama Kanzul Hum. Kitabnya Ibnu Batutah yang terkenal adalah Rihlah Ibn Batutah Tuhfatun-Nudzor fii Ghara'ibil Amshor wa Aja'ibil Asfar, atau The Travels of Ibn Battutah. 
Kedua, didalam kitab Tuhfatun Nudzor inipun, Ibnu Batutah tidak menyebutkan satu patah katapun tentang walisongo, baik nama personilnya ataupun nama pengutusnya yakni Sultan Mehmed I dari kesultanan Ottoman.
Ketiga, Ibnu Batutah wafat tahun 1367 atau 1376 M. Sedangkan tulisan-tulisan diatas tersebut menulis walisongo diberitakan oleh ibnu batutah dibentuk oleh Sultan Mehmed I pada tahun 1404 atau 1407 M. Maka, bagaimana bisa Ibnu Batutah yang sudah meninggal dunia tahun 1367 atau 1376 M menuliskan peristiwa pada tahun 1404 atau 1407 M!
Keeempat, semua tulisan yang mengklaim bahwa Walisongo adalah utusan Ottoman tersebut tidak ada satupun yang menampilkan wujudnya lembar kitab Kanzul Hum, yang katanya kitabnya Ibnu Batutah, yang tersimpan di museum Istanbul Turki tersebut.
Sehingga yang terjadi sebenarnya adalah nama besar ibnu batutah tampaknya dicatut oleh pihak tertentu untuk membenarkan faham yang dianutnya dengan cara yang seolah-olah ilmiah.


Ponorogo
Bumi Waskitajawi
Oleh : Ziyyulhaq

Wednesday, April 24, 2019

Orang Nusantara Masuk Islam Sejak Masa Khalifah Umar

Muslimedianews.com ~ Saat sedang membuka Tarikh Thabari di bab yang menjelaskan efek Perang Jamal di Madinah saya menemukan keterangan begini:

“Di antara kejadian di masjid itu adalah: Muhammad bin Thalhah—ia ahli ibadah—kebetulan hendak salat di dekat tempat Utsman bin Hunaif berdiri. Sebagian orang Zuthth dan Sayabijah khawatir Muhammad bin Thalhah datang untuk maksud lain..dst”

Zuthth adalah “gipsi”-nya India. Maka perhatian saya tertuju kepada kata “Sayabijah”. Biasanya, kata-kata aneh begini menyimpan misteri (sama seperti saya pernah membaca ttg kelompok pedagang dari Suku Bahro’ bertamu ke Nabi saw, barangkali lain waktu saja Bahro’ ini saya ulas). Apalagi kata Sayabijah ini belum pernah saya temui di kitab tarikh sebelumnya.

***
Dalam Lisanul Arab, Ibn Manzhur berkata bahwa kata Sayabijah juga terkadang disebut dengan Sababijah (السبابجة). Kedua kata ini adalah bentuk plural dari kata Sabiji (سبيجي) dan kata Sabaj (السابج). Menurut penjelasan Ibn Manzhur, beberapa penyair Arab kuno sudah mengenal orang Sababija ini. Bahkan penyair Ibn Mufarragh dari Kabilah Himyar dalam syairnya menyebut Sababija sebagai jagoan. Ibn Duraid menyebut bahwa Sababija ini berasal dari Hind dan bekerja sebagai buruh kapal. Lebih lanjut, Al-Baladzuri menjelaskan bahwa Sababijah dulu tinggal di pesisir Arab dan Persia sejak sebelum Islam.

Pertanyaannya: dari manakah sebenarnya Kaum Sababijah ini?

Ketika membaca ulasan Ibn Manzhur bahwa bentuk tunggal dari Sababijah adalah Sabaj, saya langsung menduga bahwa Sababijah ini adalah orang yang dua abad berikutnya dikenal oleh orang Arab sebagai Zabaj. Zabaj sendiri adalah sebutan orang Arab untuk Jawa atau setidaknya pesisir timur Sumatra. Jadi Sabaj adalah satu dialek yang mendahului penyebutan Zabaj.

Dugaan saya ternyata terbukti. Sejarawan ttg Asia Tenggara terkemuka, Gabriel Ferrand, menulis dalam Encyclopaedia of Islam volume empat bahwa Sababija/Sabaj adalah nama awal bagi Zabaj (baca: Zabag dan Sabag). Jadi Sababija ini adalah orang Nusantara yang sudah bermigrasi ke Timur Dekat (Arab dan sekitarnya).

Zabaj sendiri menurut Prof. Gerini dalam Research of Ptolemy’s Geography berasal dari bahasa Sanskrit untuk pulau Jawa: Chavakha > Javaka > Jabaj > Zabaj. Huruf K dalam Javaka berubah menjadi huruf J dalam Zabaj karena sama seperti kata ”jati” yg dalam bahasa Sanskrit disebut shaka dan menjadi saj dalam Bahasa Arab.

Fakta bahwa Zabaj ini adalah Nusantara bisa kita lihat, misalnya, dalam Masalik wal Mamalik (Jalur dan Kerajaan) karya Ibn Khurdadzbih ketika menjelaskan kepulauan yang terletak setelah Serandib (Ceylon) yg menengahi India dan Cina:

“Di sini ada daerah Zabaj yang dikuasai oleh Maharaja (المهراج). Di kerajaan ini juga ada pulau yang disebut Burthail yang sepanjang malam selalu terdengar suara gendang. Para pelaut menduga ada Dajjal di situ.”

Gerini berpendapat bahwa Pulau Burthail yang ramai dengan suara berisik di dekat Zabaj adalah daerah Riau. Riau, ujar Gerini, berasal dari kata riuh yang berarti ramai atau berisik. Deskripsi Riau ini sangat sesuai dengan keterangan Ibn Khurdadzbih ttg Burthail. Idrisi menambahkan bahwa Zabaj (Ranaj) ini dekat dengan sebuah gunung. Gunung ini dalam buku lain disebut terletak di Salahat dan dekat dengan Pulau Jabah. Kata Salahat ini diidentifikasi oleh para ahli sebagai selat, mungkin Selat Sumatera dan gunung itu barangkali Gunung Krakatau.

Tentang Sababija, Baladzuri menjelaskan begini dalam Futuhul Buldan (Pembebasan Daerah-daerah):

“Kaum Sababijah, Zuthth, dan Andagar ini dulu termasuk tawanan dan pasukan Persia. Orang Persia menganggap mereka berasal dari Sind. Ketika mereka mendengar Kaum Oswari masuk Islam, Sababija dan Zuthth mengikuti jejak Oswari dan mendatangi Abu Musa. Oleh Abu Musa mereka ditempatkan di Basrah.”

Kejadian ini kira-kira terjadi di zaman Sayyidina Umar RA. Di Basrah mereka bekerja sebagai penjaga gerbang (jalawiza) dan sipir penjara. Sekitar tahun 50 Hijriyah, masih menurut Baladzuri, oleh Khalifah Muawiyah beberapa orang Zuthth dan Sababijah ini kemudian dipindah ke Antakya, Turki.

***

Maka Sababijah dalam kitab-kitab tarikh yang disebut telah masuk Islam sejak zaman Umar dan menjadi penjaga Baitul Mal di masa Khalifah Ali ini adalah orang Nusantara. Ferrand mengatakan bahwa fakta ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat penduduk Nusantara adalah buruh kapal yang tangguh di masa itu. Bahkan beberapa di antaranya sudah mengkoloni Madagaskar sebagaimana ditulis oleh Qazwini.

Sababijah yang juga difungsikan sebagai pengusir bajak laut di masa itu mengingatkan saya pada sumber China yang menyebut adanya Kun-lun Slave atau Devil Slave, sebagaimana termaktub dalam anotasi Prof. Hirth di bukunya, Chau Ju-Kua: His Work on The Chinese and Arab Trade. Kun-lun adalah sebutan orang China untuk wilayah kepulauan Melayu. Kun-lun Slave ini dideskripsikan sebagai budak kulit hitam yang “jika berenang mereka membuka mata.” Mirip dengan Sababijah di Basrah, Kun-lun Slave atau budak dari kepulauan Melayu di China selain ditugaskan di laut juga ditugaskan sebagai penjaga gerbang. Sejarawan menyebut budak Kun-lun ini berasal dari Borneo. Ini semakin mengingatkan kita tentang orang Kalimantan yang ada di Madagaskar.

Baladzuri sendiri menjelaskan bahwa tempat tinggal Sababijah saat itu di Thuf yang di masa kini dikenal sebagai Bahrain dan Oman. Memang kedua daerah ini di zaman dulu terkenal dengan intensitas perdagangannya yang tinggi. Abul Faraj Ibn Jakfar dalam bukunya menyebutkan bahwa Sababija sudah ditemui di Iran sejak sebelum Islam. “Setelah Anusyirwan bin Qabadz (Raja Kekaisaran Persia) memakmurkan tiga kota besar,” tulis Ibn Jakfar. “Ia menempatkan orang Sababija untuk menjaganya.”

Maka bisa disimpulkan bahwa sebagian orang Nusantara telah masuk Islam sejak zaman khulafa’ rasyidun di tangan Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari. Wallahu a’lam.

Penulis : Kholili Kholil

Berkas file :




Pembantaian dimasa Khilafah dan Salah Kaprah "Khilafah Solusi"

Muslimdianews.com ~ Dalam sejarah khilafah, sesama muslim juga berperang (puncaknya adalah Tragedi Karbala, dimana cucu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- menjadi korbannya). Jangan sampai sekarang terjadi lagi.

Pada masa Khilafah jaman 'old' terdapat sejumlah perang saudara sesama umat Islam. Daftarnya bisa sangat panjang. Korbannya juga mereka yang mengucapkan 'dua kalimat syahadat'. Umumnya perang saudara terjadi karena perebutan kekuasaan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jadi, sebelum banyak orang tergiur dengan propaganda eks HTI yang teriak-teriak bahwa “Khilafah adalah satu-satunya solusi umat” atau “Tanpa khilafah, syari'at Islam tidak akan tegak secara kaaffah”, atau jualan lainnya “Islam rahmatan lil Alamin tidak terwujud di masa Nabi Muhammad dan hanya terwujud di masa Khilafah”, mari simak data sejarah di bawah ini:

1. Fitnah dalam konteks pembahasan kita ini maksudnya adalah ujian berupa perang saudara. Fitnah pertama kali yaitu pada saat pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, saat membaca al-Qur’an di rumahnya. Madinah dikuasai pemberontak beberapa hari sehingga jenazah Khalifah Utsman dikubur berjauhan dari makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

2. Terjadi pula perang saudara antara Sayyidina Ali dengan Siti Aisyah (perang Jamal). Saat perang Jamal di Bashrah, tidak kurang dari 18.000 sahabat gugur Perang antara istri Nabi dan menantu Nabi ini baru berakhir setelah kaki-kaki unta itu ditebas dengan pedang kemudian Siti Aisyah dipulangkan ke Madinah.

3. Selanjutnya Imam Ali berperang dengan Mu’awiyah (perang shiffin). Kitab Tarikh al-Khulafa Imam Suyuthi bercerita bagaimana dengan cerdik pasukan Mu’awiyah yang hampir kalah mengangkat Mushaf al-Qur’an di ujung pedang mereka dan meminta perundingan. Ali bin Abi Thalib paham bahwa ini hanya taktik belaka dan meminta pasukannya terus menggempur Mu’awiyah. Namun atas nama mencintai mushaf al-Qur’an pasukan Ali menjadi ragu melanjutkan pertempuran. Taktik kotor Mu’awiyah berhasil. Terjadilah gencatan senjata dan perundingan yang berakhir tragis untuk pasukan Khalifah Ali, sang menantu Nabi.

4. Periode fitnah pertama di atas berakhir dengan perdamaian antara Sayyidina Hasan dan Mu’awiyah. Kisah periode ini sudah saya ceritakan dalam berbagai tulisan saya.

5. Fitnah kedua berlangsung pada periode pembantaian Sayyidina Husain di Karbala dan berlanjut dengan perlawanan Abdullah bin Zubair. Imam al-Thabari dalam kitab Tarikhnya menceritakan dengan detil berpuluh-puluh halaman apa yang terjadi di Karbala, dan mencatat siapa saja keluarga Sayyidina Husein yang terbunuh lengkap dengan menyebutkan siapa pembunuh maisng-masing, pada 10 Muharram di Karbala. Kepala cucu Nabi dipenggal. Keturunan sayyidina Husein dihabisi, hanya tinggal sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali -radhiallahu ta'ala anhu- yang selamat dan meneruskan generasi ahlulbait.

6. Disampaikan pula oleh Imam Thabari bahwa Abdullah bin Zubair, penguasa Mekkah saat itu, dibunuh oleh pasukan al-Hajjaj dengan cara kepalanya dipenggal dan tubuhnya disalib. Dan pasukan al-Hajjaj lantas berteriak mengumandangkan takbir.

7. Periode peperangan antara al-Walid II dan Yazid III dikenal dalam sejarah islam sebagai fitnah ketiga, yang berakhir dengan naiknya Marwan II sebagai Khalifah terakhir Umayyah.

8. Kepala al-Walid II dipenggal oleh pasukan Yazid, yang kemudian mengambil alih posisi Khalifah. Setelah dipenggal, atas perintah Yazid, kepala al-Walid II ditusuk diujung tombak dan diedarkan ke jalan raya dan pasar di Damaskus, bahkan sengaja dibawa ke bekas rumah ayahnya. Tindakan ini memicu kegeraman keluarga al-Walid II. Dinasti Umayyah terpecah belah akibat pertikaian internal mereka sendiri yang dipicu oleh kelakuan buruk al-Walid II.

9. Yang paling mengkhawatirkan untuk Marwan II adalah pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok Abbasiyah. Kelompok ini dipimpin oleh Abul Abbas bin Abdullah as-Saffah. Pemberontakan dimulai dari Khurasan. Dipimpin oleh Abu Muslim, jenderal pengikut setia Abul Abbas. Penduduk Khurasan mulai membaiat Abul Abbas sebagai Khalifah. Kubu Abbasiyah ini mengambil legitimasi dari jalur keluarga Nabi Muhammad, yaitu keturunan Abbas, paman beliau -shallallahu alaihi wasallam-. Keluarga Nabi yang pada masa Dinasti Umayyah tersingkirkan menemukan momentum untuk masuk ke kekuasaan.

10. Dalam pertempuran di dearah Zab, pasukan Marwan II bertemu dengan pasukan gabungan dari Abbasiyah, Syi’ah dan penduduk Persia, yang dipimpin oleh Abdullah bin ‘Ali (paman dari Abul Abbas). Marwan II berhasil dikalahkan. Marwan sempat melarikan diri ke Syira dan kemudian kabarnya ke Mesir. Pasukan Abbasiyah dibawah kontrol Shaleh, saudara Abdullah bin Ali, kemudian berhasil menemukan Marwan II dan membunuhnya.

11. Transisi kekuasaan dari Dinasti Umayyah ke Dinasti Abbasiyah terjadi lewat pertumpahan darah. Salah satu bentuk kekejaman Abul Abbas (Khalifah pertana Abbasiyah) adalah dengan mengundang jamuan makan kepada keluarga Bani Umayyah yang tersisa. Abul Abbas membunuh Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik dengan tangannya sendiri, dengan cara menariknya keluar dari meja makan. Ini juga dilakukan terhadap 90 orang Bani Umayyah lainnya: dijamu makan, lantas dibantai habis. Bahkan tubuh mereka yang masih menggelepar ditutup dengan permadani, dan as-Saffah dan keluarganya melanjutkan makan malam di atas permadani. Begitu Ibn al-Atsir dalam al-Kamil fit Tarikh menceritakan kekejian ini.

12. Pada masa Abbasiyah pula telah terjadi perang saudara. Periode pertempuran antara kedua putra Harun ar-Rasyid di masa Dinasti Abbasiyah, antara al-Amin dan al-Ma’mun, disebut-sebut sebagai fitnah keempat. Peperangan ini berlangsung pada tahun 811 – 813 Masehi.

13. Perang saudara juga terjadi pada periode berikutnya yaitu selama setahun antara al-Mu’tazz dengan pamannya, Khalifah al-Musta’in, membawa al-Mu’tazz ke tahta kekuasaan. Musta’in yang dipaksa mengundurkan diri, tidak lama kemudian kepalanya pun dipenggal. Khalifah ketiga belas Abbasiyah Al-Mu’tazz naik berkuasa dengan lumuran darah.

Daftar ini masih panjang. Khilafah yang diklaim sebagai satu-satunya solusi umat ternyata membawa perang saudara sesama umat Islam seperti tercatat dalam literatur klasik semisal Tarikh Thabari dan Tarikh Khulafa Imam Suyuthi.

Tapi bukankah sejarah demokrasi juga berdarah-darah? Benar, tapi mereka tidak membunuh atas nama al-Qur’an dan Hadits. Ekspektasi kita adalah kalau khilafah diklaim sebagai inti ajaran Islam maka hasilnya harus lebih baik dari sejarah demokrasi yang berdarah-darah itu. Ternyata justru sama saja.

Nah, perbedaannya, sistem demokrasi terus memperbaiki diri. Kekuasaan dibatasi, rule of law ditegakkan dan hak asasi warga negara diberi jaminan.

Pendukung khilafah jaman 'now' akan sulit memperbaiki sistem khilafah yg telah melahirkan perang saudara itu. Kenapa? Karena khilafah sudah terlanjur dianggap sempurna dan bagian dari ajaran Islam. Gimana mau dikotak-katik.

Maka berhentilah menganggap khilafah sebagai bagian dari inti ajaran Islam. Khilafah bukan satu-satunya solusi untuk masalah umat. Khilafah hanya ijtihad masa lalu yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang dan telah digantikan oleh negara-bangsa (nation-state), yang juga merupakan hasil ijtihad Ulama'. Hargailah ijtihad Ulama' kita dimasa kemerdekaan, NKRI dan Pancasila adalah produk ijtihadnya.

Tabik.
Judul Asli "Salah Kaprah "Khilafah adalah Solusi"
Oleh : Prof. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), Ph.D.

KH. Zaini Dahlan: Pendiri dan Penggerak NU Cabang Kencong

Muslimedianews.com ~ Kencong ini kota kecamatan. Lazimnya berstatus Majelis Wakil Cabang dalam struktur NU. Tapi Kencong sudah menjadi Cabang NU. Awalnya hanya Ranting (Kring), lalu menjadi Centraal Kring (semacam MWC), kemudian naik level jadi Cabang. Diresmikan menjadi Cabang oleh KH. Ahmad Dahlan Achyad, Kebondalem, Surabaya, salah seorang Rais Syuriah era Hofdbestuur NU generasi lama, pada 1938.

KH. Zaini Dahlan adalah penebar bibit NU di Kencong. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Kaji Zen, Kiai Zen, juga Kiai Dahlan. Kiai Zen berasal dari Maskumambang, Gresik. Pekerjaannya sebagai tengkulak tembakau. Sambil keliling mencari tembakau kualitas unggul, beliau ngajak ngobrol bersama masyarakat soal agama. Sesekali promosi NU. Kemudian beliau merintis pengajian keliling. Jamaah semakin membludak. Tak heran jika di awal 1930-an, NU cepat berkembang di Kawedanan Kencong ini.

Selain NU, di Kencong ada juga Muhammadiyah, PSII, PBI, dan seterusnya. Kontestasi juga berlangsung ketat. Masing-masing organisasi, selain punya basis kaderisasi kepemudaan juga memiliki lembaga pendidikan. Bentuknya madrasah, ada juga yang mendirikan semacam sekolah dasar. Jadilah Kencong di periode 1930an menjadi bukan sekadar kota industri, melainkan kota pergerakan. Komplit.

Kiai Zen, yang lincah dan punya jiwa solider tinggi ini, kemudian punya kawan militan. Pak Thohir namanya. Selain menguasai fiqh dasar, Pak Thohir juga punya kemampuan yang baik dalam hukum Belanda. Tak heran jika pada saat Pabrik Gula Goenoengsari Kencongmemutuskan kontrak sewa tanah secara sepihak, masyarakat meminta Pak Thohir memperjuangkan nasib mereka.

Pak Thohir bahkan membawa kasus ini ke gubernuran. Dia berhadapan dengan Charles Van Der Plas, gubernur Jawa Timur yang punya kemampuan bahasa Jawa dan Arab yang baik, serta memiliki pengetahuan yang lumayan soal hukum Islam. Maklum, nama terakhir ini kader didikan Snouck Hurgronje. Debat berlangsung alot. Singkat kata, kasus ini dimenangkan oleh para petani.

Kiai Zen ini punya semangat berorganisasi yang baik. Dia terlibat dalam perjuangan fisik bersenjata, lantas menjadi wakil NU di DPRD Jember tahun 1950-an. Salah seorang anaknya, Ghufron Dwipayana, atau yang kondang dengan sebutan G. Dwipayana, punya kemampuan artistik dengan menjadi produser film Pengkhianatan G-30-S/PKI dan memprakarsai produksi serial Si Unyil dan Aku Cinta Indonesia (ACI).

Di bawah kepengurusan Kiai Zen yang didampingi oleh para ulama seperti KH. Djauhari Zawawi, KH. Syarif, KH. Syafawi Ahmad Basyir dan KH. Kholiq, NU menjadi organisasi sosial keagamaan-politik yang progresif di era 1950-an di wilayah Jember Selatan.



Dalam catatan KH. Abdul Chayyi (w. 1994), salah seorang aktivis NU Kencong, ada 3 alasan pendirian NU Kencong. Pertama, faktor organisasi. Yaitu tumbuhnya minat mengorganisir diri dari kaum ahlussunah wal jamaah. Kedua, kesamaan dan semangat berkompetisi dalam ranah fastabiqul khairat. Ketiga, perjuangan rakyat. Sebab, pada era 1930-an, rakyat butuh didampingi para aktivis politik yang bisa memperjuangan kepentingan mereka. Jadi, pendirian NU merupakan bagian dari perjuangan kerakyatan.

Wallahu A'lam Bisshawab

Penulis : Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)
(Terimakasih kepada Mas Y. Setiyo Hadi, pegiat Sejarah Jember atas beberapa informasi dan pinjaman bukunya).


Wednesday, September 19, 2018

Menyingkap Tabir Muharam; Duka Rasul dan Ulama Dunia

Muslimedianews.com ~ Dalam rangka menyambut datangnya tahun baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriyah, ratusan warga komplek Permata Nusa Indah, Situ Sari, Kec. Cileungsi, Kab. Bogor Jawa Barat melakukan Gema Muharaman Sabtu (16/9) malam.

Acara yang cukup semarak itu dirangkai dengan kegiatan Yasinan bersama, membaca Ratib Al Haddad, shalawatan pada Nabi Muhammad Saw, penampilan santri dan Jamaah pengajian Ummahat serta Tausiyah oleh Wakil Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama PC. Pergunu Depok, H Abdul Hadi Hasan

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid DKM Al Muhajirin, Ustadz Khoirul dalam sambutannya menjelaskan hebatnya tali persaudaraan antar warga di Kompleks Permata Nusa Indah.

“ Kami baru memulai pembangunan Masjid Al Muhajirin sejak 4 bulan lalu, Alhamdulillah berkah giroh dan kuatnya tali persaudaraan warga disini, kami bisa laksanakan pengajian, yasinan dan ratiban.” Ucap Kang Khoirul.

Sementara Ustadz Abdullah turut menyambut dan menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah Swt dan terima kasih pada Jamaah dan warga. “ Berkat kerjasama kita semua, kita dapat melaksanakan syiar Muharam dan menyantuni anak-anak yatim, Alhamdulillah.” tegas Kang Abdullah yang dipercaya sebagai ketua panitia.

Dalam acara yang bertema, “Dengan Semangat Hijrah Kita Tingkatkan Ukhuwah Islamiyyah Menghadirkan Pendidikan Islam Bagi Generasi Muda” pihak panitia mengundang Muharrik dakwah blusukan dari Pergunu Depok.

H Abdul Hadi Hasan mengatakan bahwa Muharam adalah Bulan tarbiyah, bulan sakral dan bulan yang diagungkan oleh Allah SWT. “ Muharam menjadi Sakral dan membumi di Nusantara karena memiliki landasan ayat-ayat Al Quran, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Surat At Taubah Ayat 36.” Tegas Kang Hadi yang juga aktif sebagai Muharrik Masjid.

Menurutnya Allah SWT memerintahkan muslimin menghormati, memuliakan bulan tersebut dan dalam sejarah Islam Nusantara bulan itu biasa dikenal dengan Suro. “ Suroan, dinisbatkan pada kata Asyuro artinya kesepuluh, dimana pada 10 Suro salah satu Cucu Rasul yang bernama Sayidina Husein meraih kesyahidan.” Papar Kang Hadi

Dia melanjutkan, Muharam dikenal sebagai bulan duka Rasul yang membumi, Ulama sejak dahulu mengejawantahkan Hikmah Muharam dengan berbagai acara, diantara ada Lebaran anak yatim, ada pembuatan bubur merah dan putih, ada pembacaan epos Sayidina Husein, pencucian senjata dan peralatan pusaka di keraton-keraton, dan Peringatan Tabot seperti di Bengkulu. Semua itu hal baik dan memiliki landasan filosofis, jangan heran Muslimin Nusantara sejak dahulu begitu menghormati Muharam dan menghidupkan syiarnya.

Akar Sejarah Muharam ini jarang sekali disingkap dan diungkap, padahal tertulis rapih dalam lembaran kitab para alim ulama Dunia dan Nusantara. Yang mengherankan, ada sebagian kelompk yang menolak peringatan Muharaman, padahal jika diteliti, ada para Ulama yang ketika memasuki Muharam, mereka akan membahas kronologis tragedi kemanusiaan terbunuhnya Pemimpin Pemuda Ahli Surga, Sayidina Al Husein. “ Makanya aneh jika ada yang berteriak peringatan Haul dan Muharaman itu bid’ah.” Tegas Kang Hadi.

Kang Hadi menuturkan, para Alim Ulama mengekpresikan duka Muharam dengan berbagai kegiatan dan cara, seperti Al Imam Syafi’i dalam kitab diwannya Menulis tentang Sayidina Husein sebagai berikut

Hatiku mengeluh, karena hati manusia sedang merana…
Kantuk tak kunjung tiba, sulitnya tidur membuatku pusing….
Wahai siapakah yang bisa menyampaikan pesanku kepada Sayidina Husain.
Yang disembelih, dibantai, padahal tak berdosa.
Bajunya seakan-akan direndam basah dan hingga memerah.
Senjata, pedang pun meratap, dan tombak menjerit
Dan kuda yang kemarin meringkik, kini meratap duka.
Bumi pun Goncang karena keluarga suci Muhammad.
Demi mereka, gunung-gunung yang kokoh niscaya meleleh.
Benda-benda langit rontok, bintang-bintang gemetar.
Wahai tenda, pakaian tercabik robek, demikian juga hatiku!
Manusia bershalawat untuk yang diutus dari kalangan Bani Hasyim
Di sisi lain, dia juga memerangi anak keturunan Nabi.Duhai alangkah anehnya!
Jika aku dianggap berdosa karena kecintaan kepada Muhammad dan keluarganya.
Maka aku tidak akan pernah bertaubat dari dosaku itu.

( Kitab Diiwan al-Imam assyafii ra, at-Thab’ah Muasassah Al a’lami, Beirut- Lebanon, halaman: 27)

Syair indah Imam Syafi’i menjelaskan bahwa Islam eksis diatas perjuangan Rasul, Keluarganya dan Para sahabat. Mereka berjuang hingga tetes darah penghabisan, “ Ini pelajaran penting agar kita selalu semangat memperjuangkan agama, kepentingan bangsa dan mencipta kedamaian di Negeri Indonesia, kita akan berani berjuang ketika tahu sejarah Suka Duka Rasul dan Keluarganya.” Papar Kang Hadi.

Sejarah kelam, Muharam nan penuh duka seakan dilupakan karena sebagian orang secara sistematis meneriakan, “ Jauhi bidah dan acara yang mengarah pada kesesatan! Itu Syiah!”. Tapi Habib Luthfi bin Yahya pernah menjelaskan, Cintai Rasul dan Keluarganya juga para Sahabat.

Habib Luthfi dalam ceramahnya pernah menyatakan, para pecinta keluarga Rasul akan dituduh Syiah dan Ulama NU dituduh Syiah karena melaksanakan maulidan dan tahlilan. Ini metode musuh dalam melemahkan Ahlisunnah wal jamaah Annahdliyah.

“Tugas kita berat, Sampaikanlah hakikat sejarah dan hidupkan bulan mulia Muharam ini dengan berbagai acara, ingat Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu beranjak dari hati yang bersih.” Lugas Kang Hadi.

Dia melanjutkan, Kita pasti mengenal Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Al Jufri Dubai, mereka ulama panutan muslimin dunia. “ Coba Chek di YouTube terkait ceramah mereka yang membahas keutamaan dan pengorbanan Sayidina Husein di Bulan Muharam.” Ucap Kang Hadi.

Zaman berubah, beragam cara menghormati Muharam dilakukan umat. Tentu semua peringatan dan aktifitas doa serta menyantuni yatim ada berkat arahan para Alim Ulama. “ Inilah Islam Nusantara, Islam yang membumi dengan seluruh akhlak dan kearifan lokalnya.” Tegas Kang Hadi

Acara ditutup dengan bertawasul dan mengucapkan salam pada Rasul saw, Keluarganya dan Para Sahabatnya, juga bermunajat, memohon kepada Allah SWT agar seluruh hadirin dan bangsa dapat meraih hikmah dari berbagai sepak terjang perjuangan dan hijrah Nabawiyah yang diikuti oleh Dzuriyatnya dan para Sahabatnya.


via ltnnujabar

Monday, September 03, 2018

Sejarah Kelam Gerakan Ganti Khalifah Berujung Tewasnya Khalifah dan Terpecahnya Umat Islam

Muslimedianews.com ~ Dalam sejarah, pernah terjadi peristiwa gerakan ganti khalifah tahun 656 M, zaman Khulafaur Rasyidin yaitu pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Gerakan tersebut menghasilkan noda hitam dalam sejarah awal Islam. Akibat gerakan ganti khalifah (pemimpin) tersebut maka terjadi beberapa hal, diantaranya :
- Khalifah amirul mukminin Utsman bin Affan tewas dibantai massal tanpa perlawanan oleh para demonstran.

- Kudeta. Para demonstran berhasil merebut kekuasaan pemerintahan, menguasai Masjid Nabawi, menguasai mimbar Nabi dan khatbah berisi caci maki, laknat serta vonis kafir murtad bagi almarhum Utsman bin Affan.

- Memaksa membuat pemimpin sendiri, sesuai keinginan para demonstran.

- Umat Islam terpecah belah menjadi banyak kelompok paham dan golongan, meletus perang saudara bertubi-tubi, merembet ke mana-mana tanpa henti.

- Umat Islam terpecah belah menjadi banyak pemerintahan, masing-masing mengklaim sebagai pihak yang sah, legal dan resmi tampil menjadi penguasa pemerintahan.

Para pihak yang mengklaim tidak puas terhadap kinerja pemerintahan khalifah Utsman bin Affan yakni para demonstran, secara masif dan terorganisir menguasai kota pusat pemerintahan Islam, Madinah al-Munawarah, Masjid Nabawi. Masjid Nabawi berhasil dikuasai sepenuhnya oleh para demonstran sejak khalifah amirul mukminin Utsman bin Affan dilengserkan dari mimbar Nabi. Khalifah Utsman dipukul jatuh dari mimbar saat khatbah Jumat.

Sejak saat ini, khalifah Utsman tidak pernah lagi bisa ke masjid Nabi untuk memimpin ritual harian umat Muslim dan tak bisa lagi memberikan intsruksi komando mengontrol jalannya pemerintahan.

Di setiap lorong kota Madinah, di ruang publik, para demonstran terus menerus melakukan orasi, meneriakkan anti Utsman dan menanamkan pengaruh krisis kepercayaan atas diri khalifah kepada publik dan mendorong massa untuk turut mendukung dan bergerak mengikuti protes para demonstran.

Di lain sisi, pada saat yang sama, Khalifah amirul mukminin Utsman bin Affan pun terus menerus memantau keadaan.

Hingga pada puncaknya, keadaan sudah semakin genting, khalifah pun memanggil tokoh atau pemuka demonstran, Al-Asytar an-Nakha'i namanya, di rumah khalifah Utsman bin Affan.

Al-Asytar an-Nakha'i menghadap Khalifah amirul mukminin Utsman, yang dialognya termaktub dalam kitab sejarah otoritatif, Tarikh Ibnu Katsir, sebagai berikut:

Khalifah Utsman: “Apa yang diinginkan oleh para demonstran itu?”

Al-Asytar an-Nakha'i: “Ada tiga hal yang harus antum pilih.”

Khalifah Utsman: “Silakan sebutkan dengan jelas.”

Al-Asytar: “Mereka memberikan pilihan pada antum: Pertama, antum menyerahkan kekuasaan kepada mereka lantas antum katakan pada mereka silakan pilih siapapun yang kalian inginkan jadi khalifah.

Kedua, antum bunuh dirimu sendiri. Dan ketiga, bila antum enggan bunuh diri, maka mereka yang akan membunuhmu.”

Khalifah Utsman: “Apakah ana harus memilih salah satu dari yang tiga itu?”

Al-Asytar: “Ya!”

Khalifah Utsman: “Adapun keinginan mereka agar ana lengser menyerahkan kepemimpinan ini, maka ana tegas tidak akan melepaskan "pakaian" yang telah dipakaikan oleh Allah pada ana ini.

Adapun jika mereka ingin membunuhku, demi Allah! jika kalian membunuhku maka kalian tidak akan berkasih sayang lagi, tidak akan terhubung tersambung lagi dan kalian semua tidak akan memerangi musuh secara bersama-sama lagi selama-lamanya.”

Usai dialog ini, Al-Asytar balik ke Masjid Nabawi menemui para teman seperjuangan jihadnya, di antaranya adalah Muhammad bin Abu Bakar ash-Shidiq, al-Ghafiqi bin al-Harb dan lain-lain, melaporkan hasil dialognya dengan Khalifah Utsman.

Jawaban dari Khalifah Utsman tersebut sangat mengecewakan para demonstran, utamanya, mereka yang menginginkan Khalifah Utsman menyerahkan jabatannya kepada mereka secara sukarela dan tidak perlu sampai membunuh Khalifah Utsman.

Akhirmya para demonstran memutuskan untuk menyerbu rumah Khalifah Utsman di malam hari untuk menghabisinya secara massal, sembunyi-sembunyi dan terencana. Realitanya, khalifah amirul mukminin Utsman bin Affan tewas dibunuh oleh kaum Muslim sendiri, para sahabat Nabi, tewas dikeroyok di rumahnya sendiri, tanpa perlawanan.

Sumber: Tarikh al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir.
Penulis : Ziyyulhaq, dengan penyesuaian kalimat.

Friday, August 24, 2018

Ramalan Ulama Aceh Tentang Indonesia Tahun 1288 H

Muslimedianews.com ~ Pada tahun 1288 H/1871 Masehi, ulama Aceh, Syekh Ibrahim ibn Husein Buengcala mewartakan sebuah ramalan :

“Maka insya Allah ta’ala pada tahun Hijriah 1365 (1945 Masehi) lahir satu kerajaan yang adil-bijaksana dinamakan kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah yang sah.. ”

Ramalan dari Syekh Ibrahim ibn Husein di atas diucap 57 tahun sebelum Sumpah Pemuda, 74 tahun sebelum Indonesia merdeka. Artinya, jauh hari, sang ulama kasyaf ini telah mewartakan bahwa pada tahun 1945 akan tegak negara al-jumhuriyah al-Indonesiyah. Al-Jumhuriyah kalau dipadankan dengan bahasa kekinian sinonim dengan “Republik”. Dan, dalam ramalan itu, Syekh Ibrahim ibn Husein mengabarkan bahwa Republik Indonesia akan mencapai titik menjadi kerajaan yang adil-bijaksana.

Lebih lanjut, Syekh Ibrahim ibn Husein juga menjelaskan bahwa Republik Indonesia adalah pemeriksaan yang sah.

Sejarah pun membuktikan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945, al-jumhuriyah al-Indonesiyah itu memproklamirkan kemerdekaan. Soekarno dan Hatta, atas nama Bangsa Indonesia menjadi penanda teks kemerdekaan itu.

Mari kita simak lebih lanjut. Lima tahun sebelum ramalan kemerdekaan oleh Syekh Ibrahim ibn Husein itu, tepatnya pada tanggal 14 Juli 1866 (12 Rabiul Awal 1283 H), empat ulama Aceh  berkumpul, yakni : Syekh Sayyid Abu Bakar Al-Aydrus Tengku di Bukit, Syekh Abbas bin Muhammad Kutakarang, Syekh Muhammad Marhaban Taballah Lambhuek, dan Syekh Muhammad Amir Turki Kurdiq.

Keempat ulama Aceh mengeluarkan semacam manifesto politik tentang al-jumhuriyah al-Indonesiyah. Dalam manifesto itu juga disebut tentang lima landasan bernegara. Ada satu paragraf menarik yang layak saya kutip :

“Pegang olehmu agama Islam yang suci lagi benar, selamat dunia-akhirat, dan taat setialah pada janin syarak (konstitusi-pen) kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah dan jangan sekali-kali bughat, yakni durhaka melawan kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah yang sah, dan jangan sekali-kali dalam kerajaan mendirikan lagi kerajaan, dalam negeri mendirikan lagi negeri”

Keempat ulama ini juga mewartakan akan berdirinya sebuah kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah, Republik Indonesia. Dan, mereka, empat ulama itu, memberi semacam “wanti-wanti” kepada umat Islam untuk setia dan tunduk pada konstitusi Kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah, tidak melakukan bughat atau pemberontakan maupun mendirikan negara dalam negara.

Dari Aceh, berpuluh tahun sebelum kemerdekaan, para ulama telah meramal dan sekaligus melakukan ijtihad politik kebangsaan. Al-Jumhuriyah al-Indonesiyah, termasuk Pancasila di dalamnya, adalah konsekuensi logis berbangsa dan bernegara.

Tujuan akhirnya adalah mewujudkan al-jumhuriyah al-Indonesiyah yang adil dan bijaksana, adil sekaligus mengayomi.

Ulama-ulama Aceh telah memberi ramalan dan panduan tentang al-jumhuriyah al-Indonesiyah, tugas kita mewujudkan ramalan itu. Al-Jumhuriyah al-Indonesiyah yang mengayomi semua agama, etnis, dan keyakinan.

Penulis : Haris el-Mahdi
via Islami.co 

Monday, August 13, 2018

Dialog Para Imam Mazhab Soal Hadits

Muslimedianews.com - Dalam kitab Tarikh al-Tasyri’ al-Islami karya Syekh Muhammad Khudhari Bek diceritakan dialog antara Imam Abu Hanifah dan Imam al-Auza’i:

‎قال سفيان بن عيينة: اجتمع أبو حنيفة والأوزاعي في دار الحنّاطين بمكة، فقال الأوزاعي: ما لكم لا ترفعون عند الركوع والرفع منه؟ فقال: لأجل أنه لم يصح عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، فقال: الأوزاعي: كيف لم يصح وقد حدثني الزهري، عن سالم، عن أبيه، ابن عمر أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يرفع يديه إذا افتتح الصلاة، وعند الركوع، وعند الرفع منه. فقال أبو حنيفة: حدثنا حماد، عن إبراهيم، عن علقمة والأسود، عن عبد الله بن مسعود: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان لا يرفع يديه إلا عند الافتتاح ثم لا يعود. فقال الأوزاعي: أحدثك عن الزهري، عن سالم، عن أبيه، وتقول: حدثني حماد عن إبراهيم؟! فقال أبو حنيفة: كان حماد أفقه من الزهري، وكان إبراهيم أفقه من سالم، وعلقمة ليس بدون ابن عمر أي في الفقه، وإن كان لابن عمر صحبة، وله فضل صحبته، وللأسود فضل كثير، وعبد الله عبد الله فسكت الآوزاعي

Sufyan bin Uyainah menceritakan bahwa pada suatu kesempatan Imam Al-Auza’i dan imam Abu Hanifah bertemu di Mekkah. Terjadilah dialog diantara ulama besar fiqih negeri Syam dan ulama besar fiqih negeri Kufah tersebut.

Auza’i bertanya: “Kenapa kalian tidak mengangkat tangan kalian ketika melakukan ruku’ dan bangun dari ruku’?”

Abu Hanifah menjawab, “Ya, karena tidak ada Hadits yang shahih dari Rasulullah SAW atas masalah itu.”

“Bagaimana tidak shahih, sedangkan (Ibnu Syihab) Az-Zuhri telah menceritakan kepadaku, dari Salim (bin Abdullah bin Umar) dari bapaknya (Abdullah bin Umar) dari Rasulullah SAW bahwa beliau mengangkat kedua tangannya saat memulai shalat, saat ruku’, dan saat bangun dari ruku’?” bantah Auza’i.

Abu Hanifah pun merespon, “Telah menceritakan kepada kami Hammad (bin Abi Sulaiman) dari Ibrahim (bin Yazid) dari Alqamah (bin Qais) dan Al-Aswad (bin Yazid) dari (Abdullah) Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangannya kecuali saat memulai shalat dan tidak melakukannya lagi setelah itu.”

Auza’i mencoba membantah argumentasi Abu Hanifah. “Aku menceritakan kepada anda Hadits dari Az-Zuhri dari Salim dari bapaknya. Sementara Anda menceritakan Hadits dari Hammad dari Ibrahim?”

[Kalau sebelumnya kedua imam besar ini sama-sama membacakan sanad Hadits, sampai di sini Auza’i mulai mengajukan penilaian terhadap kualitas Rawi]

Abu Hanifah menjawab: “Hammad lebih faqih daripada Az-Zuhri, Ibrahim lebih faqih dari Salim, dan Alqamah tidak lebih rendah dari Ibnu Umar. Kalaupun Ibnu Umar seorang sahabat atau unggul karena menjadi sahabat Nabi, toh Al-Aswad memiliki keutamaan yang besar. Sedangkan Abdullah (bin Mas’ud) sudah jelas, siapa Abdullah itu,” jawab Abu Hanifah.

Mendengar argumentasi Abu Hanifah tersebut, Al-Auza’i pun diam.

Ini artinya masing-masing imam telah menjelaskan argumentasinya, dan mereka kemudian diam dan saling menghormati perbedaan pendapat diantara mereka yang disebabkan perbedaan dalam menerima dan menilai kekuatan sanad suatu Hadits.

Imam Syafi’i juga senang berdialog. Bahkan beliau tuliskan dialog itu baik dalam kitab al-Umm dan lebih-lebih lagi dalam kitab al-Risalah.

Pada masa beliau terdapat pertentangan mengenai boleh tidaknya menerima Hadits Ahad, yaitu riwayat yang diterima dan disampaikan dari satu orang perawi. Imam Malik di Madinah lebih menerima amal ahli Madinah ketimbang Hadits Ahad dengan alasan penduduk Madinah lebih paham Hadits dan jumlahnya lebih banyak ketimbang riwayat satu orang. Imam Abu Hanifah dalam beberapa kasus malah mengeyampingkan Hadits Ahad jikalau bertentangan dengan qiyas yang beliau gunakan. Maka tampillah Imam Syafi’i membela status dan kedudukan Hadits Ahad. Upaya beliau inilah yang membuat para ulama menggelari Imam Syafi’i sebagai Nashirus Sunnah (Pembela Sunnah Nabi).

Imam Syafi’i dalam juz dua kitab al-Risalah menuliskan bab khusus tentang Khabar Ahad. Bab ini dimulai dengan dialog sebagai berikut:

‎فقال لي قائل: احْدُدْ لي أقلَّ ما تقوم به الحجة على أهل العلم، حتى يَثْبَتَ عليهم خبرُ الخاصَّة. ‎فقلت: خبرُ الواحد عن الواحد حتى يُنْتَهَى به إلى [ص: ٣٧٠] النبي أو مَنْ انتهى به إليه دونه. ‎ولا تقوم الحجة بخبر الخاصة حتى يَجْمَعَ أُموراً: ‎- منها أن يكون مَنْ حدَّثَ به ثِقَةً في دينه، معروفاً بالصِّدق في حديثه، عاقِلاَ لِمَا يُحَدِّثُ به، عالمِاً بما يُحيل مَعَانِيَ الحديث مِنَ اللفظ، وأن يكون ممن يُؤَدِّي الحديث بحروفه كما سَمِعَ، لا يحدث به على المعنى، لأنه إذا حدَّث على المعنى وهو غيرُ [ص: ٣٧١] عالمٍ بما يُحِيلُ به معناه: لم يَدْرِ لَعَلَّهُ يُحِيل الحَلاَلَ إلى الحرام، وإذا أدَّاه بحروفه فلم يَبْقَ وجهٌ يُخاف فيه إحالتُهُ الحديثَ، حافظاً إن حدَّث به مِنْ حِفْظِه، حافظاً لكتابه إن حدَّث مِنْ كتابه. إذا شَرِكَ أهلَ الحفظ في حديث وافَقَ حديثَهم، بَرِيًّا مِنْ أنْ يكونَ مُدَلِّساً، يُحَدِّثُ عَن من لقي ما لم يسمعْ منه، ويحدِّثَ عن النبي ما يحدث الثقات خلافَه عن النبي. ‎ويكونُ هكذا مَنْ فوقَه ممَّن حدَّثه، حتى يُنْتَهَى بالحديث مَوْصُولاً إلى النبي أو إلى مَنْ انْتُهِيَ به إليه دونه، لأنَّ كلَّ [ص: ٣٧٢] واحد منهم مثْبِتٌ لمن حدَّثه، ومثبت على من حدَّث عنه، فلا يُسْتَغْنَى في كل واحد منهم عمَّا وصفْتُ.

Seseorang berkata kepadaku, “definisikan untukku teks yg paling sedikit hujjahnya tapi ia memiliki kekuatan mengikat bagi para ulama?”

Imam Syafi’i menjawab: “itu adalah Khabar (Hadits) ahad dari satu orang perawi ke satu perawi lainnya baik yang jalurnya sampai kembali ke Nabi atau terhenti pada selain beliau.”

“Kehujjahan khabar ahad tidak terjadi melainkan memenuhi persyaratan seperti perawinya tsiqah dalam agamanya, terkenal jujur dalam ucapannya, paham dengan apa yang dia riwayatkan, mengerti dengan perbedaan redaksi atau lafaz. Dia jg bisa mengulangi teks Hadits huruf demi huruf seperti yang dia dengar, karena kalau disampaikan secara makna maka boleh jadi nanti dia tidak akan paham mana yang halal dan haram.”

“Dia harus punya hapalan yang bagus baik menyampaikannya dari memori atau catatannya. Dan jika diambil dari catatanya maka itu harus cocok dengan hapalan Hadits yang disampaikan pihak lain. Dia tidak boleh mudallis yang meriwayatkan dari orang yang dia temui tapi sebetulnya dia tidak mendengar Hadits darinya atau meriwayatkan dari Nabi yang kontradiksi dengan apa yang disampaikan orang yang tsiqah. Juga, semua perawi di atasnya bersambung sampai ke Rasul atau berhenti pada orang lain. Soalnya masing-masing perawi akan saling menetapkan satu sama lain. Tidak ada yang melewati persyaratan yang aku sampaikan ini [barulah Hadits Ahad itu diterima sebagai hujjah].”

Dari dua kutipan dialog di atas, para Imam Mazhab sangat memahami Hadits Nabi. Jangan mengira mereka mengeluarkan pendapat tanpa dalil al-Qur’an dan Hadits sehingga anak jaman sekarang berani-beraninya mengecam para Imam Mazhab dan lantas mengajak kembali kepada al-Qur’an dan Hadits seolah-olah para Imam Mazhab itu telah meninggalkan al-Qur’an dan Hadits.

Ibaratnya para Imam Mazhab itu adalah para petani yang sudah bersusah payah menanam padi, dan para ulama sesudahnya telah mengolahnya menjadi beras, dan kemudian para kiai kita sudah menanak nasi. Kemudian para ustadz mengolah nasi tersebut dan kita tinggal menikmati nasi yang terhidang sesuai pilihan kita baik nasi goreng, nasi uduk, sampai nasi kabuli. Eh, pas baru mau makan, ada yang teriak: “jangan tinggalkan beras, ayo kembalilah kepada beras!”

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School