OPINION
Opinion
Showing posts with label Tarikh. Show all posts
Showing posts with label Tarikh. Show all posts
Tuesday, May 21, 2019
-
Tuesday, May 21, 2019
Edit this post
Sunday, May 19, 2019
-
Sunday, May 19, 2019
Edit this post
Founder Komunitas Pegon Banyuwangi.
Friday, April 26, 2019
-
Friday, April 26, 2019
Edit this post
Oleh : Arif Wibowo
-
Friday, April 26, 2019
Edit this post
Ust. Ma'ruf Khozin
-
Friday, April 26, 2019
Edit this post
-
Friday, April 26, 2019
Edit this post
Ust. Ma'ruf Khazin
Thursday, April 25, 2019
-
Thursday, April 25, 2019
Edit this post
Pertama, tidak ada kitabnya Ibnu batutah yang bernama Kanzul Hum. Kitabnya Ibnu Batutah yang terkenal adalah Rihlah Ibn Batutah Tuhfatun-Nudzor fii Ghara'ibil Amshor wa Aja'ibil Asfar, atau The Travels of Ibn Battutah.
Oleh : Ziyyulhaq
Wednesday, April 24, 2019
-
Wednesday, April 24, 2019
Edit this post
-
Wednesday, April 24, 2019
Edit this post
Judul Asli "Salah Kaprah "Khilafah adalah Solusi"
Oleh : Prof. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), Ph.D.
-
Wednesday, April 24, 2019
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Kencong ini kota kecamatan. Lazimnya berstatus Majelis Wakil Cabang dalam struktur NU. Tapi Kencong sudah menjadi Cabang NU. Awalnya hanya Ranting (Kring), lalu menjadi Centraal Kring (semacam MWC), kemudian naik level jadi Cabang. Diresmikan menjadi Cabang oleh KH. Ahmad Dahlan Achyad, Kebondalem, Surabaya, salah seorang Rais Syuriah era Hofdbestuur NU generasi lama, pada 1938.
KH. Zaini Dahlan adalah penebar bibit NU di Kencong. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Kaji Zen, Kiai Zen, juga Kiai Dahlan. Kiai Zen berasal dari Maskumambang, Gresik. Pekerjaannya sebagai tengkulak tembakau. Sambil keliling mencari tembakau kualitas unggul, beliau ngajak ngobrol bersama masyarakat soal agama. Sesekali promosi NU. Kemudian beliau merintis pengajian keliling. Jamaah semakin membludak. Tak heran jika di awal 1930-an, NU cepat berkembang di Kawedanan Kencong ini.
Selain NU, di Kencong ada juga Muhammadiyah, PSII, PBI, dan seterusnya. Kontestasi juga berlangsung ketat. Masing-masing organisasi, selain punya basis kaderisasi kepemudaan juga memiliki lembaga pendidikan. Bentuknya madrasah, ada juga yang mendirikan semacam sekolah dasar. Jadilah Kencong di periode 1930an menjadi bukan sekadar kota industri, melainkan kota pergerakan. Komplit.
Kiai Zen, yang lincah dan punya jiwa solider tinggi ini, kemudian punya kawan militan. Pak Thohir namanya. Selain menguasai fiqh dasar, Pak Thohir juga punya kemampuan yang baik dalam hukum Belanda. Tak heran jika pada saat Pabrik Gula Goenoengsari Kencongmemutuskan kontrak sewa tanah secara sepihak, masyarakat meminta Pak Thohir memperjuangkan nasib mereka.
Pak Thohir bahkan membawa kasus ini ke gubernuran. Dia berhadapan dengan Charles Van Der Plas, gubernur Jawa Timur yang punya kemampuan bahasa Jawa dan Arab yang baik, serta memiliki pengetahuan yang lumayan soal hukum Islam. Maklum, nama terakhir ini kader didikan Snouck Hurgronje. Debat berlangsung alot. Singkat kata, kasus ini dimenangkan oleh para petani.
Kiai Zen ini punya semangat berorganisasi yang baik. Dia terlibat dalam perjuangan fisik bersenjata, lantas menjadi wakil NU di DPRD Jember tahun 1950-an. Salah seorang anaknya, Ghufron Dwipayana, atau yang kondang dengan sebutan G. Dwipayana, punya kemampuan artistik dengan menjadi produser film Pengkhianatan G-30-S/PKI dan memprakarsai produksi serial Si Unyil dan Aku Cinta Indonesia (ACI).
Di bawah kepengurusan Kiai Zen yang didampingi oleh para ulama seperti KH. Djauhari Zawawi, KH. Syarif, KH. Syafawi Ahmad Basyir dan KH. Kholiq, NU menjadi organisasi sosial keagamaan-politik yang progresif di era 1950-an di wilayah Jember Selatan.
Dalam catatan KH. Abdul Chayyi (w. 1994), salah seorang aktivis NU Kencong, ada 3 alasan pendirian NU Kencong. Pertama, faktor organisasi. Yaitu tumbuhnya minat mengorganisir diri dari kaum ahlussunah wal jamaah. Kedua, kesamaan dan semangat berkompetisi dalam ranah fastabiqul khairat. Ketiga, perjuangan rakyat. Sebab, pada era 1930-an, rakyat butuh didampingi para aktivis politik yang bisa memperjuangan kepentingan mereka. Jadi, pendirian NU merupakan bagian dari perjuangan kerakyatan.
Wallahu A'lam Bisshawab
Penulis : Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)
(Terimakasih kepada Mas Y. Setiyo Hadi, pegiat Sejarah Jember atas beberapa informasi dan pinjaman bukunya).
Wednesday, September 19, 2018
-
Wednesday, September 19, 2018
Edit this post
Hatiku mengeluh, karena hati manusia sedang merana… Kantuk tak kunjung tiba, sulitnya tidur membuatku pusing…. Wahai siapakah yang bisa menyampaikan pesanku kepada Sayidina Husain. Yang disembelih, dibantai, padahal tak berdosa. Bajunya seakan-akan direndam basah dan hingga memerah. Senjata, pedang pun meratap, dan tombak menjerit Dan kuda yang kemarin meringkik, kini meratap duka. Bumi pun Goncang karena keluarga suci Muhammad. Demi mereka, gunung-gunung yang kokoh niscaya meleleh. Benda-benda langit rontok, bintang-bintang gemetar. Wahai tenda, pakaian tercabik robek, demikian juga hatiku! Manusia bershalawat untuk yang diutus dari kalangan Bani Hasyim Di sisi lain, dia juga memerangi anak keturunan Nabi.Duhai alangkah anehnya! Jika aku dianggap berdosa karena kecintaan kepada Muhammad dan keluarganya. Maka aku tidak akan pernah bertaubat dari dosaku itu.
Monday, September 03, 2018
-
Monday, September 03, 2018
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Dalam sejarah, pernah terjadi peristiwa gerakan ganti khalifah tahun 656 M, zaman Khulafaur Rasyidin yaitu pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Gerakan tersebut menghasilkan noda hitam dalam sejarah awal Islam. Akibat gerakan ganti khalifah (pemimpin) tersebut maka terjadi beberapa hal, diantaranya :
- Khalifah amirul mukminin Utsman bin Affan tewas dibantai massal tanpa perlawanan oleh para demonstran.
- Kudeta. Para demonstran berhasil merebut kekuasaan pemerintahan, menguasai Masjid Nabawi, menguasai mimbar Nabi dan khatbah berisi caci maki, laknat serta vonis kafir murtad bagi almarhum Utsman bin Affan.
- Memaksa membuat pemimpin sendiri, sesuai keinginan para demonstran.
- Umat Islam terpecah belah menjadi banyak kelompok paham dan golongan, meletus perang saudara bertubi-tubi, merembet ke mana-mana tanpa henti.
- Umat Islam terpecah belah menjadi banyak pemerintahan, masing-masing mengklaim sebagai pihak yang sah, legal dan resmi tampil menjadi penguasa pemerintahan.
Para pihak yang mengklaim tidak puas terhadap kinerja pemerintahan khalifah Utsman bin Affan yakni para demonstran, secara masif dan terorganisir menguasai kota pusat pemerintahan Islam, Madinah al-Munawarah, Masjid Nabawi. Masjid Nabawi berhasil dikuasai sepenuhnya oleh para demonstran sejak khalifah amirul mukminin Utsman bin Affan dilengserkan dari mimbar Nabi. Khalifah Utsman dipukul jatuh dari mimbar saat khatbah Jumat.
Sejak saat ini, khalifah Utsman tidak pernah lagi bisa ke masjid Nabi untuk memimpin ritual harian umat Muslim dan tak bisa lagi memberikan intsruksi komando mengontrol jalannya pemerintahan.
Di setiap lorong kota Madinah, di ruang publik, para demonstran terus menerus melakukan orasi, meneriakkan anti Utsman dan menanamkan pengaruh krisis kepercayaan atas diri khalifah kepada publik dan mendorong massa untuk turut mendukung dan bergerak mengikuti protes para demonstran.
Di lain sisi, pada saat yang sama, Khalifah amirul mukminin Utsman bin Affan pun terus menerus memantau keadaan.
Hingga pada puncaknya, keadaan sudah semakin genting, khalifah pun memanggil tokoh atau pemuka demonstran, Al-Asytar an-Nakha'i namanya, di rumah khalifah Utsman bin Affan.
Al-Asytar an-Nakha'i menghadap Khalifah amirul mukminin Utsman, yang dialognya termaktub dalam kitab sejarah otoritatif, Tarikh Ibnu Katsir, sebagai berikut:
Khalifah Utsman: “Apa yang diinginkan oleh para demonstran itu?”
Al-Asytar an-Nakha'i: “Ada tiga hal yang harus antum pilih.”
Khalifah Utsman: “Silakan sebutkan dengan jelas.”
Al-Asytar: “Mereka memberikan pilihan pada antum: Pertama, antum menyerahkan kekuasaan kepada mereka lantas antum katakan pada mereka silakan pilih siapapun yang kalian inginkan jadi khalifah.
Kedua, antum bunuh dirimu sendiri. Dan ketiga, bila antum enggan bunuh diri, maka mereka yang akan membunuhmu.”
Khalifah Utsman: “Apakah ana harus memilih salah satu dari yang tiga itu?”
Al-Asytar: “Ya!”
Khalifah Utsman: “Adapun keinginan mereka agar ana lengser menyerahkan kepemimpinan ini, maka ana tegas tidak akan melepaskan "pakaian" yang telah dipakaikan oleh Allah pada ana ini.
Adapun jika mereka ingin membunuhku, demi Allah! jika kalian membunuhku maka kalian tidak akan berkasih sayang lagi, tidak akan terhubung tersambung lagi dan kalian semua tidak akan memerangi musuh secara bersama-sama lagi selama-lamanya.”
Usai dialog ini, Al-Asytar balik ke Masjid Nabawi menemui para teman seperjuangan jihadnya, di antaranya adalah Muhammad bin Abu Bakar ash-Shidiq, al-Ghafiqi bin al-Harb dan lain-lain, melaporkan hasil dialognya dengan Khalifah Utsman.
Jawaban dari Khalifah Utsman tersebut sangat mengecewakan para demonstran, utamanya, mereka yang menginginkan Khalifah Utsman menyerahkan jabatannya kepada mereka secara sukarela dan tidak perlu sampai membunuh Khalifah Utsman.
Akhirmya para demonstran memutuskan untuk menyerbu rumah Khalifah Utsman di malam hari untuk menghabisinya secara massal, sembunyi-sembunyi dan terencana. Realitanya, khalifah amirul mukminin Utsman bin Affan tewas dibunuh oleh kaum Muslim sendiri, para sahabat Nabi, tewas dikeroyok di rumahnya sendiri, tanpa perlawanan.
Sumber: Tarikh al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir.
Penulis : Ziyyulhaq, dengan penyesuaian kalimat.
Penulis : Ziyyulhaq, dengan penyesuaian kalimat.
Friday, August 24, 2018
-
Friday, August 24, 2018
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Pada tahun 1288 H/1871 Masehi, ulama Aceh, Syekh Ibrahim ibn Husein Buengcala mewartakan sebuah ramalan :
“Maka insya Allah ta’ala pada tahun Hijriah 1365 (1945 Masehi) lahir satu kerajaan yang adil-bijaksana dinamakan kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah yang sah.. ”
Ramalan dari Syekh Ibrahim ibn Husein di atas diucap 57 tahun sebelum Sumpah Pemuda, 74 tahun sebelum Indonesia merdeka. Artinya, jauh hari, sang ulama kasyaf ini telah mewartakan bahwa pada tahun 1945 akan tegak negara al-jumhuriyah al-Indonesiyah. Al-Jumhuriyah kalau dipadankan dengan bahasa kekinian sinonim dengan “Republik”. Dan, dalam ramalan itu, Syekh Ibrahim ibn Husein mengabarkan bahwa Republik Indonesia akan mencapai titik menjadi kerajaan yang adil-bijaksana.
Lebih lanjut, Syekh Ibrahim ibn Husein juga menjelaskan bahwa Republik Indonesia adalah pemeriksaan yang sah.
Sejarah pun membuktikan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945, al-jumhuriyah al-Indonesiyah itu memproklamirkan kemerdekaan. Soekarno dan Hatta, atas nama Bangsa Indonesia menjadi penanda teks kemerdekaan itu.
Mari kita simak lebih lanjut. Lima tahun sebelum ramalan kemerdekaan oleh Syekh Ibrahim ibn Husein itu, tepatnya pada tanggal 14 Juli 1866 (12 Rabiul Awal 1283 H), empat ulama Aceh berkumpul, yakni : Syekh Sayyid Abu Bakar Al-Aydrus Tengku di Bukit, Syekh Abbas bin Muhammad Kutakarang, Syekh Muhammad Marhaban Taballah Lambhuek, dan Syekh Muhammad Amir Turki Kurdiq.
Keempat ulama Aceh mengeluarkan semacam manifesto politik tentang al-jumhuriyah al-Indonesiyah. Dalam manifesto itu juga disebut tentang lima landasan bernegara. Ada satu paragraf menarik yang layak saya kutip :
“Pegang olehmu agama Islam yang suci lagi benar, selamat dunia-akhirat, dan taat setialah pada janin syarak (konstitusi-pen) kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah dan jangan sekali-kali bughat, yakni durhaka melawan kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah yang sah, dan jangan sekali-kali dalam kerajaan mendirikan lagi kerajaan, dalam negeri mendirikan lagi negeri”
Keempat ulama ini juga mewartakan akan berdirinya sebuah kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah, Republik Indonesia. Dan, mereka, empat ulama itu, memberi semacam “wanti-wanti” kepada umat Islam untuk setia dan tunduk pada konstitusi Kerajaan al-jumhuriyah al-Indonesiyah, tidak melakukan bughat atau pemberontakan maupun mendirikan negara dalam negara.
Dari Aceh, berpuluh tahun sebelum kemerdekaan, para ulama telah meramal dan sekaligus melakukan ijtihad politik kebangsaan. Al-Jumhuriyah al-Indonesiyah, termasuk Pancasila di dalamnya, adalah konsekuensi logis berbangsa dan bernegara.
Tujuan akhirnya adalah mewujudkan al-jumhuriyah al-Indonesiyah yang adil dan bijaksana, adil sekaligus mengayomi.
Ulama-ulama Aceh telah memberi ramalan dan panduan tentang al-jumhuriyah al-Indonesiyah, tugas kita mewujudkan ramalan itu. Al-Jumhuriyah al-Indonesiyah yang mengayomi semua agama, etnis, dan keyakinan.
Penulis : Haris el-Mahdi
via Islami.co
Penulis : Haris el-Mahdi
via Islami.co
Monday, August 13, 2018
-
Monday, August 13, 2018
Edit this post
Tabik, Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
Most Reading
-
Muslimedianews.com ~ Menjadi orang tua bagi anak-anak sangat gampang. Ia boleh menunggu saja anak-anak keluar dari rahim istrinya atau m...
-
Muslimedianews.com ~ Dalam salah satu tulisannya yang membahas mengenai melihat gambar porno atau melihat gambar aurat wanita, DPP Hizbu...
-
Muslimedianews ~ KH. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits d...
-
Muslimedianews.com ~ Seorang polisi, seharusnya memiliki sikap yang bijak dan memiliki jiwa pengayom masyarakat, serta memahami sejarah ne...
-
Muslimedianews.com ~ TRADISI 4 DAN 7 BULANAN KEHAMILAN Ngapati atau Ngupati adalah upacara selamatan ketika kehamilan menginjak pada us...
-
Muslimedianews.com ~ Muharram merupakan bulan pertama dalam tahun Islam (Hijrah). Sebelum Hijrah Rasulallah dari Mekah ke Yathrib kiraan...
-
Muslimedianews.com ~ Footnote atau Catatan Kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab...
-
Muslimedianews.com ~ Daftar Pustaka adalah tulisan yang tersusun di akhir sebuah karya ilmiah yang berisi nama penulis, judul tulisan, pe...
-
Muslimedianews.com ~ Kitab Fathul Izar adalah karya ulama Nusantara, KH. Abdullah Fauzi Pasuruan. Menerangkan tentang perihal nikah dan...












