Salah satunya pementasan teater struktural metaikologi mengambail tema, “Melihat Kita Tai Ini,” yang akan mengambil setting di Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) Tanggung Rejo Kaligawe Semarang yang akan digelar pada hari Minggu, 25 Oktober pukul tujuh malam sebagai bentuk peringatan Hari Sumpah Pemuda.
“Kotoran tinja memiliki makna sosiologis maupun filosofis, maka selayaknya kita tonton pementasan di kubangan tinja ini untuk mengetahui seberapa besar kepedulian dan tafsir kita tentang pementasan yang mengambil lokasi di kubangan tinja tersebut,” lanjutnya
Sementara, desain produksi pementasan dan budayawan Eko Tunas menambahkan, pada 1985 Sardono W Kusumo pernah menyajikan pertunjukan meta ekologi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Sekian truk lumpur digenangkan di Teater Arena TIM, lalu para pemain berkubang lumpur di situ, dengan tujuan mengejar efek artistik dari “manusia lumpur.” Begitupun seniman patung Dadang Kristanto tahun lalu juga melakukan pementasan dengan lumpur yang bersetting langsung di genangan lumpur lapindo Sidoarjo.
“Pada pementasan teater struktural metaikologi ini sangat berbeda karena pemain langsung bermain di arena pementasan, seperti yang dilakukan Dadang Kristanto. Namun sangat berbeda karena Dadang Kristanto memakai media lumpur, pada pementasan ini memakai kotoran tinja manusia,” tegasnya
Para pemain Teha Edy Djohar, Bayu Aji Anwari, Ahmad Fauzi, Lukni Maulana, Kelana Siwi Kristyaningtyas, Ambar Ambara, dan Aning Purwo telah siap memerankan manusia tinja dan akan diiringi musik musikus Semarang Tundung Kalivierra and Friend. (Ric Karya)

No comments
Post a Comment