Acara bertajuk diskusi sastra kumcer sikas tersebut menjadi momentum peluncuran buku yang dihadiri dari berbagai kalangan cerpenis, guru, mahasiswa, penyair, maupun seniman. Farida D. Emmy menyampaikan bahwa seorang guru juga punya tuntutan untuk menulis meski melalui cerita pendek.
“Membangun karakter anak didik bisa melalui media cerita. Begitupun pekerjaan menulis hasilnya tidak bisa dirasakan dengan cepat, tapi melalui proses yang berkelanjutan,” kata Farida
“Cerpen Sikas adalah buah karya dari rasa penasarannya pada dunia sastra, karena saya lulusan Sarjana Bahasa Inggris. Namun ada nilai dan makna yang hendak ia sampaikan pada setiap judul yang tertulis,”paparnya
Acara diskusi sastra tersebut diselenggarakan oleh RIC Karya Kota Semarang dan Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Cabang Semarang, dengan menghadirkan Cerpenis Eko Tunas, pembacaan puisi oleh Atik Sadewo dari Ungaran dan dimoderatori oleh Waluyo Suryadi.
Cerpenis Eko Tunas mengatakan kumpulan cerpen karya Farida D. Emmy bercerita tentang pengalaman dan lingkungan yang dekat dengan dirinya, sekaligus sebagai bahan riset menjiwai bagi pengalaman estetika. Tentang murid-muridnya, kolega gurunya, sampai bercerita tentang penjaga sekolah yang kental dengan suasana pegunungan di daerhan Banyumas – Purwokerto.
“Bahkan ia tidak sekadar bercerita, tapi sarat dengan nilai keindahan yang sesunggunya, seperti yang dikatakan oleh Jean Paul Sartre: beauty is truth, truth is beauty: keindahan adalah kebenaran, kebenaran adalah keindahan,” tuturnya
“Tersirat dalam 17 cerpennya, mengenai kegelisahannya sebagai pendidik. Bahwa guru bukan sekadar pengajar, yang sekadar memenuhi tugas kurikulum. Bahwa guru terutama adalah seorang pendidik, yang memberikan pendidikan budi-pekerti, sebagai jiwa dari ilmu yang diajarkan,” lanjutnya. (Lukni Maulana)

No comments
Post a Comment