Ketua Umum Forum Podok Pesantren (FPP) Kabupaten Cianjur Ust. Ade Ismail merasa perlu melakukan klarifikasi karena kehadiran Sekretaris FPP Ustadz Abdul Wahid Al Qudsi dalam Indonesia Khilafah Forum yang digelar Hizut Tahrir Indonesia (HTI) di sebuah rumah makan di Bandung minggu lalu, telah menimbulkan polemik di kalangan pesantren dan ulama di Cianjur.
Dikatakan Ade, pertama judul dalam pemberitaan situs online bdg.news “Ketua Forum Pondok Pesantren Kab.Cianjur: Hizbut Tahrir di Hati Saya, Akan Saya Bawa ke Syurga “ sangat perlu untuk diluruskan. Dia merasa tidak pernah hadir dalam acara itu, apalagi memberikan pernyataan.
“Kedua, kedudukan Ustadz Abdul Wahid di FPP Cianjur adalah sebagai Sekretaris, bukan Ketua Umum seperti diberitakan media itu. Dan kehadiranyapun bukan atas nama FPP, melakukan pribadi yang bersangkutan,” jelas Ade, melalui keterangan tertulis, Kamis.
Setelah diklarifikasi kepada Ust Abdul Wahid sebagaimana dituturkan Ade, bahwa kehadiran yang bersangkutan dalam forum tersebut hanya sebatas memenuhi undangan dan silaturahmi saja. “Tidak ada yang lainnya,” Tegas ustadz Ade.
Ade mengatakan FPP dilahirkan untuk mengakomodir semua kalangan, tidak terbatas kalangan tertentu saja. Seraya menegaskan seluruh pondok pesantren sepanjang terdaftar di Kementrian Agama, wajib dirangkul di bawah naungan FPP.
“Namun juga tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD Tahun 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” terang Ade.
Kendati demikian dia tidak memungkiri jika terdapat 10 (sepuluh) orang anggotanya ikut hadir dalam acara forum khilafah di Bandung.
“Saya berharap kejadian tersebut bisa segera dilesaikan dengan sebaik-baiknya tanpa harus mendiskreditkan siapapun, tentu dengan tujuan untuk kemaslahatan yang lebih besar,” pungkas Ade.
***padlias. / polanusa

No comments
Post a Comment