BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Monday, May 12, 2014

Ternyata '40 Hari' Bukan Budaya Hindu - Buddha

Muslimedianews.com ~ Selama ini segelintir umat Islam selalu saja mengindentikkan angka 7 hari dan 40 hari kematian dengan ajaran Hindu maupun Budha di Indonesia, meskipun telah banyak data-data sejarah / fakta didalam kitab-kitab ulama bahwa kebiasaan tersebut telah berlangsung sejak lama dan tidak hanya di Indonesia. Bahkan sampai sekarang pun, di Maroko misalnya, yang tidak pernah ada jejak Hindu, melaksanakan kegiatan seperti kebiasaan umat Islam di Indonesia.

Angka 40 hari kematian, ternyata angka yang istimewa karena ternyata sejak masa manusia pertama yaitu Nabi Adam dan Sayyidah Hawa' sudah ada. Didalam kitab Simtu al-Nujum, dikatakan bahwa Sayyidah Hawa (Siti Hawa) berada di tempat makam Nabi Adam selama 40 hari tanpa makan dan minum. 

وَأَمَّا حَوَّاءُ: فَعَنْ وَهْبٍ: أَنَّهَا لَمْ تَعْرِفْ بِمَوْتِ آدَمَ حَتَّى سَمِعَتْ بُكَاءَ الْوُحُوْشِ وَالطَّيْرِ، فَقَامَتْ فَزِعَةً وَصَاحَتْ صَيْحَةً شَدِيْدَةً، فَأَقْبَلَ إِلَيْهَا جِبْرِيْلُ وَصَبَّرَهَا؛ فَلَمْ تَصْبِرْ دُوْنَ أَنْ لَطَمَتْ وَجْهَهَا وَدَقَّتْ صَدْرَهَا، فَوَرَثَ ذَلِكَ بَنَاتُهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. ثُمَّ إِنَّهَا لَزِمَتْ قَبْرَ آدَمَ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً لَا تُطْعِمُ الزَّادَ وَلَا الرَّقَادَ، فَأَخْبَرَهَا جِبْرِيْلُ بِاقْتِرَابِ أَجَلِهَا. فَشَهَقَتْ شَهْقَةً عَظِيْمَةً وَمَرِضَتْ مَرْضاً شَدِيْداً، وَهَبَطَ مَلَكُ الْمَوْتِ فَسَقَاهَا شَرَابَ الْمَوْتِ، فَفَارَقَتِ الدُّنْيَا. (سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي للعصامي - ج 1 / ص 28)
“Sedangkan Hawa’, diriwayatkan dari Wahab (bin Munabbi) bahwa Hawa’ tidak mengetahui wafatnya Nabi Adam, hingga ia mendengat tangisan hewan dan burung. Lalu ia berdiri dan menjerit. Jibril mendatanginya dan memintanya bersabar, namun ia tidak bersabar, tanpa memukul wajahnya dan memukul dada. Maka hal itu diwarisi oleh para wanita hingga hari kiamat. Kemudian Hawa’ berada di makam Adam selama 40 hari, tanpa makan dan minum. Jibril memberi kabar kepadanya akan dekatnya ajal Hawa’. Ia histeris, lalu sakit parah. Malaikat maut turun dan memberinya minuman kematian, lalu ia berpisah dengan dunia” (al-Ishami, Simtu an-Nujum al-Awali, 1/27)

Ulama Shafadiyah (Turki) juga pernah mengatakan terkait kebiasaan 40 hari kematian dimana mereka melakukan khataman al-Qur'an, bacaaan dzikir dan shadaqah selama 40 hari.

وَمَشَى أَمَامَهُ الْمَشَايِخُ وَالْعُلَمَاءُ وَالْأُمَرَاءُ وَجَمِيْعُ اْلأَحْزَابِ وَالْأَوْرَادِ وَأَوْلَادُ الْمَكَاتِبِ وَأَمَامَ نَعْشِهِ مَجَامِرُ الْعَنْبَرِ وَالْعُوْدِ سِتْراً عَلَى رِيْحَتِهِ وَنَتْنِهِ حَتَّى وَصَلُوْا بِهِ إِلَى مَدْفَنِهِ وَعَمِلُوْا عِنْدَهُ لَيَالٍ وَخَتْمَاتٍ وَقِرَاآتٍ وَصَدَقَاتٍ عِدَّةَ لَيَالٍ وَأَيَّامٍ نَحْوَ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً (سلك الدرر في أعيان القرن الثاني عشر للمرادي - (ج 1 / ص 496) وعجائب الآثار للجبرتي - (ج 1 / ص 242)
“Mereka yang berjalan di depan janazah Umar adz-Dzahir adalah para ulama, umara’, semua anggota hizib dan wirid, dan anak-anak sekolah. Dei depan kerandanya dibakar kayu garu untuk menutupi baunya, hingga sampai di pemakaman. Selama beberapa malam mereka melakukan khataman, bacaan dan sedekah, sekitar 40 hari” (al-Muradi, Silku ad-Durar 1/496, dan al-Jabrati, Ajaib al-Atar, 1/242)

Ini merupakan data / fakta sejarah bahwa kebiasaan 40 hari juga ada di negara-negara lain.

Oleh : Ustadz Muhammad Ma'ruf Khozin(tanpa prolog)
« PREV
NEXT »

29 comments

  1. Otak atik mathuk, seperti biasa. Untuk membela fanatisme ajaran kalian. Kalo kami hanya cinta dan fanatik pada ajaran Rosulullah, para shahabat, tabiut tabi'in yang ndak pernah gitu-gituan. Klo mereka tahu itu baik, berpahala, tentunya sudah mereka lakukan. Kalian sok tahu dan sok pinter dibanding mereka yang dijamin ahli surga.

    Kok cuma yg 40 ? Alasan 7 hari nya g nemu ya ? Juga yang 100 dan 1000 hari. Kasian deh harus googling lagi.

    ReplyDelete
  2. Muhammad Saifuddin12 May 2014 at 09:36

    hanya 1 kalimat yg bisa saya sampaikan:
    "Lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada melihat kesalahan diri sendiri"

    ReplyDelete
  3. di sudan pun demikian, ada acara 7 dan 40 hari setelah kematian. mereka berkumpul mendoakan si mayit.
    aku bekerja di arab saudi, kebetulan aku punya teman orang sudan. aku tanykan lasg padanya perihal di atas.

    ReplyDelete
  4. Setuju dgn Abu Amatullah

    ReplyDelete
  5. Sudah lah tidak perlu mencela ajaran lain"insya Alloh 7 hari 40harian sampe 100 harian dg membaca tahlil lebih banyak manfaatnya drpada mudhorotnya kan??jalankan saja apa yg sudah di ajarkan oleh ajaran kita masing2 :)

    ReplyDelete
  6. G stuju ma abu jahal, eit salah abu amatullah..

    ReplyDelete
  7. Edy Surya Putra12 May 2014 at 15:09

    Trus hubungannya Siti Hawa nungguin 40 hari apa terus Ulama Turki juga siapa gak jelas tulisan kau ini...!

    ReplyDelete
  8. ngakunya sih fanatik pada ajaran Rosulullah, para shahabat, tabiut tabi'in yang ndak pernah gitu-gituan, tapi kok banyak mengkafirkan sesaudaranya sesama muslim ya yang g sepaham dengan mereka ya...? Setahu saya para sahabat, tabi'ut, tabi'in tidak pernah saling mengkafirkan hanya karena berbeda paham, malah saling menghargai. Kita ngadain acara 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari yang dibaca kan ayat2 al-Qur'an dan doanya minta sama ALLAH. Justru kata salah seorang ulama orang yang melakukan tradisi 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari mereka semua semua meninggal dalam keadaan khusnul khotimah tuh...

    ReplyDelete
  9. Kang..Kanjeng Sunan Kalijaga nate sanjang di depan para romo wali yg lain.,ktk Beliau ditanya terkait dg sidtem dakwah yg Beliau gunakan yakni akulturasi budaya Islam dan religion yg sudah ada di tanah Jawi seblumnya. Seingatku dalam babat para romo wali yg pernah sy dengarkan..Romo Wali Sunan Ampel pernah mengingatkan Kanjeng Sunan Putra Adipati Wilatikta terkait dg prosesi dakwah yg Beliau gunakan. Kanjeng Sunan menjawab bahwa cara yg Beliau gunakanmemang tdak sesuai dg syareat Kanjeng Rasul, namun Beliau mengilhamkan bahwa pada suatu ktk akan ada santri santrinya kelak yang akan meluruskan syareat sebenarnya drpd Kanjeng Rasul. Wallohu a'lam..@santri merah dan santri putih..antara Drajat dan Bonang

    ReplyDelete
  10. Akalku menjunjung tinggi tahlilan..
    sbg tradisi..tapi tidak utk syar'iatnya
    krn org mati terputus amalnya kecuali tiga..buat apa susah2 bikin tahlilan tapi anak almarhum gag ikut ngedoain..malah sibuk nata hidangan tahlil di belakang layar..terlaknatlah ia..doanya tertolak ..dan doanya wong sak kampung mek gor smp pintu langit..krena pembuka pintunya sibuk nek nyiapke panganan tahlil

    ReplyDelete
  11. Assalamualaikum... saudaraku Abu..
    Semestinya anda jgn keburu atao gampang buruk sangka begitu. Mari kita saling menghormati samua tata cara kita masing2. Jgn berupaya menyulut permusuhan sehingga tanpa trasa diluar sana byk kaum misionaris kristen yg bersorak tepuk tgn melihat pertunjukan murahan spt ini. Wassalaaam..

    ReplyDelete
  12. Kemudian Hawa’ berada di makam Adam selama 40 hari, tanpa makan dan minum

    Kalau alasan 40 harian ini dari kisah Adam-Hawa berarti cara ibadahnya harus sama dengan Siti Hawa, berada di makam tanpa makan dan minum.

    ReplyDelete
  13. Suatu kelompok mengklaim kafir itu jika memang sudah berkriteria, mungkin karena akidahnya sudah menyeleweng, ibadahnya dibuat-buat tanpa ada syar'i islam yang jelas dan tanpa ada dasar yang jelas, semua itu bertujuanagar integritas islam tetap terjaga dan tegak. Contohnya orang Syiah.. mereka dalam berakidah sudah menyeleweng dengan mengagungkan para imam-imam mereka dan bahkan menganggap mereka memilik zat-zat Allah.
    Lalu kita jika memandang biasa akan hal tersebut, akidah Islam akan terseleweng dan ajaran Islam pasti akan musnah. Tapi bukan berarti orang yang langsung saja mengklaim kafir itu adalah benar, harus banyak kajian tidak langsung klaim. Disini saya tidak akan berani mengklaim bahwa orang yang melakukan ritual(40 hari) tersebut keluar dari Islam, mungkin dengan adanya ritual tersebut doa para tetangga, saudara-saudara dapat terkabulkan oleh Allah sebagaimana doa kita ketika kita mendoakan korban saat shalat jenazah/ sholat ghaib. Yang jelas harus ada dasar untuk melakukan sesuatu, itulah gunanya ilmu agar dapat dilakukan dan mendapatkan pahala disisi-Nya.

    Lalu, Siapa yang tahu khusnul khotimah itu?
    Lantas orang yang meninggal tertabrak truk, tertelindas sampai hancur apakah kita bilang dia orang yang meninggal dengan su'ul khotimah?
    Toh para syuhada juga banyak yang kepalanya terpenggal, badan terbelah-belah, dibakar hidup-hidup, dll. dan mereka sudah dijaminkan jannah bila memang niat mereka dalam berperang atau menegakkan agama Islam juga benar.
    Begitupun sebaliknya, orangg yang matinya mulus, bahkan tertidur pulas dan tidak bangun-bangun ataupun orang yang sakit terbaring dirumah sakit mereka juga belum tentu mendapatkan khusnul khotimah, hanya Allahlah yang menganggap mereka mendapatkann itu atau tidak.

    Wallahu a'lam bishawab..

    ReplyDelete
  14. Waow..iya ya saya baru tau kalau 40 hari itu bukan budaya hindu ataupun budha.
    Tapi
    siapa bilang itu juga budaya islam itu sendiri? Siapa yang bilang dan
    atas dasar apa bisa ngomong seperti itu? Ingatlah generasi terbaik itu
    generasi yang dibimbing langsung oleh Rasulullah Saw. yaitu para
    sahabat, berlanjut kepada tabi'in, tabi'ut tabi'in.. kemudian hingga
    sekarang generasi akhir zaman. Apakah dari mereka semua melakukannya?
    Saya rasa TIDAK. Lalu bagaimana dengan orang yang melakukannya? siapa
    bilang orang yang melakukannya langsung dicap kafir? Siapa yang berani
    mengklaim seperti itu? Saya rasa tidak, mungkin mereka masih belum tahu
    kondisinya walaupun juga ada yang sudah faqih namun tetap melakukannya.
    Itupun tidak ada juga yang bilang mereka kafir. Bergantung pada
    akidahnya, selama akidah kita tetap sama tidak ada masalah, barangkali
    yang menganggap itu boleh mungkin didasari pada mendoakan kepada orang
    yang telah mati sebagaimana kita berdoa pada saat sholat jenazah/ ghaib.
    Namun adakah ketentuan harus melakukan ritual(40 hari) tersebut? itu
    yang harus diperhatikan, beberapa orang menghindari kegiatan tersebut
    karena ditakutkan akan menyeleweng dari akidah yang sudah tegak, karena
    penopang landasan Islam merupakan akidah yang termasuk didalamnya. Lalu
    bagaimana respon kita?

    Sebaiknya kita wara' menjaga dari segala
    perbuatan yang meragukan lebih baik tidak dilakukan. Lalu yang telah
    melakukannya? jangan ragu juga asalkan pada niat yang benar dan tidak
    sampai merubah akidah dan menganggap itu sebagai keharusan dan tidak
    harus mutlak pada angka 40 tersebut. mungkin dengan doa bersama dapat
    meringankan beban yang telah meninggal toh kita juga tidak tahu.
    Wallahua'lam bishawab..
    Mohon maaf apabila ada kesalahan dan mohon dilengkapkan bila ada kekurangan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  15. diatas contoh warga NU yang rasis :3
    sesama muslim malah diejek dengan seorang kafir bodoh berjuluk Abu Jahal

    ReplyDelete
  16. Siapa yang mengkafirkan ? Jangan suudzon bro. Wah sensitif banget y.. Kritik dikit, dituduh mengkafirkan. Ane ndak mengkafirkan. Hanya saja itu tidak ada tuntunannya. Alias bukan ajaran Islam. Bukan masalah bacaan Qurannya, dzikirnya, doanya...... Tapi penentuan hari dan jumlahnya itu lho yang membuat ajaran baru.

    Kalo ibadah sholat, kalau kalian nentukan sholat dg 5 rokaat, waktunya harus jam 7 atau jam 20, walaupun di dalamnya dibaca Al Quran, dzikir, tahlil dsb tapi karena penentuan itu maka sekhuyuk apapun, demi Allah amalan kalian ditolak. Ane kira kalian sepakat hal ini.

    Sama halnya sholat, penentuan waktu-waktu dan bilangan ibadah itu harus sesuai yang diajarkan oleh kanjeng Nabi.

    Darimana ulama kalian tahu klo yg ngelakukan itu khusnul khotimah ? Apa ada malaikat atau wahyu dari langit yang memberitahu ? Apa ada yang udah mati trus bangun lantas cerita klo dia khusnul khotimah ? Yang sudah pasti khusnul khotimah itu ya Nabi dan para shahabat. Yang ndak ngelakuin yg aneh-aneh itu. Ikutilah mereka yang sudah pasti.

    ReplyDelete
  17. Cakra Selluler Ppob14 May 2014 at 22:10

    kok dalil-dalil yg dipake dari kitab-kitab gituan, harusnya dalil itu dari ayat AlQuran, atau hadits yg shoheh, gitu dong

    ReplyDelete
  18. Erwan Yulianto15 May 2014 at 19:41

    Ass. Kalau anda Wahabbi silahkan tidak percaya tidak apa2. Dan sampeyan warga ASWAJA sama seperti saya tidak ada maknanya kita meladeni mereka. Kita belajar ilmu bukan untuk berdebat mencari benar. Buat apa jidat kita hitam atau celana kita cingkrang (untuk tidak disebut sombong) tetapi masih merasa mulia dari saudara kita sesama muslim.

    ReplyDelete
  19. Erwan Yulianto15 May 2014 at 19:46

    Mungkin orang sekarang merasa ilmunya hebat. Baru belajar buku terjemahan sudah menghujat atau katanya memurnikan agama Islam. Lho kenapa ulama - ulama dulu kok tidak mempermasalahkan. Dan bahkan melakukannya juga.
    Apa anda lebih hebat dari Kyai Hasyim Ashyari, apa mujahadah anda lebih hebat dari Kyai Kholil.
    Mafaatan kata - kata saya kalau kurang berkenan. Semoga Allah selalu menjaga hati kita jauh dari permusuhan, dan merasa mulia.

    ReplyDelete
  20. Jadi ingat pernyataan GusMus..

    "Wong tambah pinter, rumongso tambah bodho. kok ono wong kok keminter,
    yo kwi wong paling bodho"

    UDAH MERASA LEBIH PINTAR DARI WALISONGO? KALO G SUKA TAHLIL, YO WES. Y
    INI BUDAYA INDONESIA (KHSUSNYA JAWA). KALO ANDA MASIH 'ARAB MINDED' Y
    SILAHKAN PERGI DARI INDONESIA. TAPI MASIH TERPAKSA DI INDONESIA, YA
    ITUNG2 NGELATIH KESABARAN AJA DEH. DI LINGKUNGAN ANDA MASIH ADA "AHLI
    BIDAH"
    GITU AJA KOK REPOT

    AWOKOKOAW

    ReplyDelete
  21. Dallnya engga mutu,,,,Bukan dari Qur,an dan hadis

    ReplyDelete
  22. Andra Fachreza Arman17 May 2014 at 19:20

    kok rujukan malah ke kitab??? katanya aswaja ahli sunnah wal jamaah..? bukannya selalu mengambil rujukan pada quran dan hadist?? lah ini malah ke kitab simtu al nujum???

    ReplyDelete
  23. Kalau itu baik, kenapa mereka tak mendahului melakukan....... hehe ... mesti itu yg digunakan untuk menyanggah sebuah amaliyah, huh.. terlalu 

    ReplyDelete
  24. Mereka itu siapa sih ?? 

    ReplyDelete
  25. aris widiantoo18 May 2014 at 00:01

    subhanallah..
    Ingat bro derajat ilmu itu berbeda-beda...
    imam malik, imam hanafi, imam syafi'i dan imam hambali aja beda paham padahal meraka ilmunya tinggi-tinggi..

    apalagi kita?????
    baru tau aja udak sok hebat dan pintar..
    ilmu kita belum mencapai pada taraf hakikat seperti guru-guru zaman dahulu...


    belajar lebih banyak makanya.. ;)

    ReplyDelete
  26. Emang dah kalo AHLI Bid'Ah, hantam terus... bikin ibadah se enak e...

    ReplyDelete
  27. amalan tersebut bukan dari tradisi hindu budha, ya tentu mencontoh para sahabat dan tabiut tabi'in.
    saya jadi pengen tau bagaimana anda tahu kalau para sahabat, tabiut tabi'in tidak melakukan amalan tersebut?

    http://www.muslimedianews.com/2014/05/ternyata-dulu-tahlilan-7-hari-populer.html

    ReplyDelete
  28. " para sahabat, berlanjut kepada tabi'in, tabi'ut tabi'in.. kemudian hingga
    sekarang generasi akhir zaman. Apakah dari mereka semua melakukannya?
    Saya RASA TIDAK."
    dalilnya mana kalau para sahabat tidak melakukan tahlilan?
    kalau berdasarkan PERASAAN anda para sahabat tidak melakukan tahlilan
    saya lebih percaya dalil dari ulama diatas kalau begitu karena saya tak tahu kredibilitas anda dalam ilmu agama

    ReplyDelete
  29. arif ahmad ridwan26 August 2014 at 00:23

    dasar kalian para wahabi ngajinya ngaji buku

    ReplyDelete