BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Friday, February 20, 2015

Beda Produk Liqa' dan Halaqah dengan Produk 'Pesantren'

Muslimedianews.com ~ Tulisan ini merupakan curhatan Ust. Ahmad Sarwat Lc, tentang Liqa' yang pernah dijalani olehnya. Istilah liqa' biasanya banyak digunakan oleh kader tarbiyah, sedagkan istilah halaqah digunakan oleh Hizbut Tahrir untuk menyebut pertemuan mingguan mereka yang berlangsung antara satu sampai dua jam.

Ada berapa pelajaran yang bisa diambil dari tulisan Ust. Ahmad Sarwat :
  • Bahwa ilmu syari'ah tidak bisa didapat hanya dengan ikut pengajian, majelis taklim, liqa' tarbiyah dan halaqah mingguan saja. Selain jamnya sedikit, pembinanya pun ada yang yang bukan ahli syari'ah, bahkan rata-rata tidak bisa bahasa Arab.
  • Meskipun sering kali ada murabbi salah tulis arab, tetapi hal itu bisa dimaklumi karena memang tidak mengerti ilmu nahwu dan sharaf. Berbeda halnya dengan Ust. Rahmat Abdullah meskipun hanya lulusan aliyah tetapi ilmu agamanya matang karena santri kesayangan ulama Betawi.
  • Bahwa ilmu yang dimiliki Ust. Rahmat Abdullah bukanlah karena hasil liqa' tarbiyah tetapi hasil berguru di perguruan Syafi'iyah. 
  • Hal ini sekaligus menjadi pelajaran penting bagi kalangan santri bahwa santri (produk pesantren) memiliki nilai plus daripada orang-orang yang mengaku sebagai aktifis dakwah diluar sana yang hanya mengaji satu sampai dua jam setiap minggu. 
 
Berikut tulisannya :
***
Sejak diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) dari akhir tahun 80-an, sebagai PHD (pakar halaqah dan daurah) sejak di kelas satu SMAN 3 Jakarta, saya sudah merasakan bahwa porsi ilmu syariah yang diajarkan di dalam liqo' tarbiyah sangat kurang.

Padahal murabbi saya bukan sembarang murabbi, beliau adalah Ustadz Rahmat Abdullah, yang pernah dibuatkan filmnya (Sang Murabbi). Oleh karena itu di semester tiga, saya keluar dari UGM dan pulang ke Jakarta mendaftarkan diri ke LIPIA.

Disanalah saya belajar bahasa Arab dari awal lagi dan tiap hari menghabiskan waktu untuk kuliah belajar ilmu-ilmu syariah. Total menghabiskan waktu tidak kurang tujuh tahun, belum ditambah tarabbush-nya.

Dari situ akhirnya saya berkesimpulan bahwa ilmu syariah tidak bisa didapat hanya dengan ikut pengajian, majelis taklim atau liqo' tarbiyah saja. Selain jamnya sangat sedikit, umumnya para murabbi yang ada bukan ahli syariah, bahkan rata-rata tidak bisa bahasa Arab. Kalau bahasa Arab saja tidak bisa, apalagi ilmu syariah?

Lha wong teman-teman saya yang pada jadi murobbi itu, kalau lagi mengisi liqo' dan menulis di whiteboard kalimat makna syahadatain dalam bahasa Arab, seringkali salah tulis. Maklumlah, mereka memang tidak pernah belajar ilmu nahwu dan sharaf. Maka kalau tulisan Arabnya keliru, mohon dimaklumi.

Hanya yang jadi masalah, tidak sedikit dari mereka bukan sekedar murabbi, tapi eyangnya murobbi. Sebab para mad'unya sudah jadi murobbi juga, dan cucu mad'unya itu juga sudah jadi murobbi lagi. Lalu salah tulis itu pun menurun ke cucu-cucu muridnya. Walhasil, buku fotocopian materi tabiyah itu mengalami kesalahan sejak dari sanad pertamanya. (hehe)

Tapi kalau Ustadz Rahmat yang jadi murabbinya, tentu tidak salah tulis. Beliau itu termasuk guru bahasa Arab saya, selepas saya lulus dari madrasah Ibtidaiyah sebelum masuk ke LIPIA. Tapi berapa biji sih murabbi yang seperti ustadz Rahmat Abdullah ini? Meski beliau tidak pernah kuliah ke Mesir atau Saudi, bahkan tidak lulus Madrasah Aliyah, tapi ilmu agama beliau lumayan matang.

Beliau adalah santri dan anak didik kesayangan ulama besar betawi, yaitu Kiyai Haji Abdullah Syafi'i, yang punya Asy-Syafi'iyah, ayahanda dari Kiyai Haji Abdurrasyid Abdullah Syafi'i. Ilmu yang beliau miliki terus terang bukan karena hasil ikut liqo' tarbiyah. Dan beliau duduk mengaji dan menjadi santri di perguruan Asy-syafi'iyah bertahun-tahun lamanya.

Maka saya sering katakan kepada adik-adik aktifis dakwah di zaman sekarang, bahwa tidak cukup kita hanya ikutan liqo tabiyah seminggu sekali dengan murobbi yang (afwan jiddan) buta huruf arab itu.

Semangat dan cinta Islam yang dipompakan itu kita hargai, tapi berkomitment pada Islam itu tidak boleh berhenti sebatas semangat saja, justru yang lebih penting adalah kafa'ah dalam ilmu-ilmu syariah itu sendiri.

Masalahnya, iIlmu syariah tidak bisa didapat hanya lewat liqo'-liqo' itu, apalagi murabbinya tidak punya kafaah syar'iyah. Dalam pandangan saya, ilmu syariah itu hanya bisa didapat lewat mulazamah dengan para ulama, seperti yang dilakukan oleh Ustadz Rahmat Abdullah itu kepada guru beliau, di antaranya Kiyai Abdullah Syafi'i.

Dan kalau mau lebih ideal, ya terbanglah ke Mesir, kuliah di Al-Azhar atau setidaknya mendaftarkan diri ke LIPIA di Jakarta. Karena disana bukan hanya ada satu ulama, tetapi ada lusinan bahkan ratusan ulama yang pakar di bidang ilmu syariah.

Khusus di LIPIA, kuliah disampaikan dalam bahasa Arab fushah, persis dengan bahasa yang dipakai oleh Nabi SAW, para shahabat, ulama dan juga umat Islam sedunia sepanjang 13 abad lamanya.

Kitab-kitab rujukannya juga bukan kitab sembarangan, rata-rata menggunakan kitab-kitab turats karya para ulama klasik. Sudah pasti gundul tanpa harakat.

Kitab yang paling utama tidak lain adalah kitab karya Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Kitab ini kita jadikan bantal tidur selama delapan semester kuliah di LIPIA dalam mata kuliah fiqih.

Karya Ash-Shan'ani dijadikan muqarrar untuk mata kuliah hadits. Dan Fathul Qadir dijadikan muqarrar dalam kuliah tafsir. Dan kitab super njelimet, Raudhatun-Nadzhir-nya Ibnu Qudamah jadi lalapan kuliah Ushul Fiqih.

Di lemari kitab saya saat ini, kitab-kitab itu masih ada dan berjejer dengan kitab-kitab berbahasa Arab lainnya, sehingga rak-rak itu sudah lumayan penuh.

Dan di paling pojok bawah, ada sebundel buku fotocopian, judulnya materi tarbiyah. Isinya panah-panah dalam bahasa Arab yang (hmm) banyak salah ejaannya. Hmm, materi tarbiyah jaman jadul rupanya masih tersimpan disini. Dengan berbekal materi inilah banyak pemuda Islam ditarbiyah. hmm . . .
***

Oleh : Ust. Ahmad Sarwat L.c
« PREV
NEXT »

3 comments

  1. Asw. Jd jk seorng muslim ingin mngkji Islam hrs lulusan LIPIA or Sastra Arab dahulu...dg kt lain harom jk mngkji smbil bljr bhs. Arab..dmknksh yg anda maksudkan...rasanya Alloh mh Ilmu mh mgtahu dan mh bijaksana lbh pantas menilai amal hambaNya drpd sesama makhluk yg mh zolim mh lemah mh trbatas...smg Alloh merahmati smua hamba yg brniat mgkji Islam krn ingin ridlo Alloh jauh dr kesombongn makhluk yg hy bs mnghujat dan mencari cela saudaranya yg ingin mgnl Alloh & Islam..Astagfirulloh...

    ReplyDelete
  2. Sabar dulu bu....
    Mungkin ini pembahasan to mahasiswa mahasiswi sekarang kali bu....

    ReplyDelete
  3. Sabar ibu..... mksdnya disini jgn materi liqo halaqah jadi rujukan utama dalam dakwah.....
    Penulis meminta kita mengambil rujukan yg tepat sehingga materi yg disampaikan juga tepat

    ReplyDelete