BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

OPINION

Opinion
Showing posts with label Imajiner. Show all posts
Showing posts with label Imajiner. Show all posts

Thursday, May 02, 2019

Bimbingan Anak Ketika Ditanya Dimana Allah? -Seri 1-

Muslimedianews.com ~ Mengenalkan tentang Dzat Penguasa semesta alam harus dimulai sejak keci. Anak-anak harus mendapatkan pendidikan agama sejak dini dan benar, termasuk mengenai Ma'rifatullah (Mengenal Allah). 

Keliru mengenalkan pengetahuan sejak dini akan berakibat fatal bagi anak, apalagi terkait dengan masalah agama, khususnya tentang aqidah. Oleh karena itu, dibutuhkan sosok yang betul-betul berilmu tentang mengenal Allah untuk memperkenalkan kepada anak. Selayaknya itu berasal dari orang tua itu sendiri. 

Biasanya banyak pertanyaan yang lontarkan anak dalam upaya mengenal Allah. Misalnya, tentang siapa itu Allah, dimana Allah, bagaimana Allah dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar terlontar dari anak sebab masih dalam taraf upaya untuk mengenal tuhannya. Disini peran orang tua atau guru menjadi sangat penting didalam memberikan jawaban yang benar dan tepat. 

Untuk mempermudah dalam menjawab anak bila suatu saat melontarkan pertanyaan seperti itu, berikut dialog imajiner antara seorang Ayah dan Anak bernama Aisyah/

Anak : "Yah... Allah itu dimana?"

Ayah : "Aisyah Anakku... Allah itu Maha Pecipta segala sesuatu. Dia tidak butuh terhadap ciptaan-Nya. Tidak butuh makan, tidak butuh bumi, tidak butuh langit, tidak butuh waktu, tidak butuh tempat dan lainnya. Jadi, Allah Ada tanpa (butuh) Tempat, tapi Allah Maha Tahu. ".

Anak : "Tapi Yah... kata Pak ustadz disana, di Al-Qur'an itu ada ayat الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى yang artinya "Dzat Yang Maha Penyayang (Allah) bersemayam diatas 'Arsy". Kan berarti Allah ada diatas 'Arsy Ya... ?!"

Ayah : "Anakku... itu maksudnya Allah menguasai 'Arsy, kemuliaan Allah itu tinggi sekali di luar jangkauan manusia, bukan berarti lokasi Allah secara fisik. Kalau diartikan secara fisik, berarti nanti ada bentuk fisik bagi Allah. Kan mustahil, iya kan...!?".

Anak : "Iya ya.., Arsy itu apa  Ayah.?"

Ayah : "Arsy itu  أعظم مخلوق خلقه makhluk terbesar yang diciptakan oleh Allah. Jadi 'Arsy itu diciptakan oleh Allah. Mustahil Allah butuh pada ciptaan-Nya. Jika Allah butuh pada ciptaan-Nya berarti akan bertentangan dengan salah satu dari sifat wajib bagi Allah. Masih ingat nggak.., sifat apa ...?".

Anak : "Ingat Ayah, sifat Qiyamuhu bi-Nafsihi (berdiri sendiri) kan..?! Satu pertanyaan lagi Ayah, kalau ada orang mengatakan Allah dimana-mana itu apa benar?".

Ayah : "Aisyah sayang.. Ayah tanya dulu, pertanyaan Dimana itu menunjukkan apa?".

Anak :"Menunjukkan tempat.".

Ayah : "Nah... itu tahu. Jadi, kalau pertanyaan yang dimaksud itu dimana-dimana tempatnya (secara fisik) maka Allah tidak dimana-mana, kan tadi sudah Ayah jelaskan bahwa Allah tidak butuh pada tempat".

Anak : "Oiya... jadi maksudnya gimana, Yah..?

Ayah : "Kalau ayah bilang, Aisyah selalu di hati ayah. Apakah berati Aisyah ada didalam Hati (yang berupa daging dan darah) didalam tubuh ayah?".

Anak : "Ya nggak mungkin lah Ayah..... Itu kan berarti ayah selalu mengingat Aisyah dalam hatinya ayah. Betul kan Yah..!?".

Ayah : "100 buat Aisyah...".

Ibnu L' Rabassa

Tuesday, July 03, 2018

Ada Orang Bilang Jangan Taqlid, Cek Ilmu Agamanya

Muslimedianews.com ~ Jangan Taqlid: beneran nih? :)

Ba'da sholat zuhur berjamaah di masjid jami', Ujang merasa kehausan. Kakinya lantas melangkah ke warung Mpok Ruqayah. Ujang memesan es kelapa muda.

Pada saat yang bersamaan, seorang anak muda yang berjenggot tipis dan memakai celana cungkring (sekitar 10-15 senti di atas mata kaki) duduk disamping Ujang. Sambil tersenyum pada Ujang, anak muda yang bernama Jundi ini bertanya kepada Ujang, "Tadi malam akhi Ujang ikutan ratiban di kediaman Haji Yunus yah?"

"Iyah alhamdulillah saya ikutan bareng-bareng baca Ratib al-Haddad bersama Wak Haji", jawab Ujang sebelum menyeruput es kelapa muda.

"Apa akhi Ujang tahu apa dalilnya ikut ratiban semacam itu?" Jundi bertanya sambil tersenyum.

"wah itu sih urusan Wak Haji...kata beliau ratiban ini kumpulan doa yang tentu saja ada dalilnya. Lha dalilnya itu apa dan bagaimana yah...tolong aja kang Jundi tanya langsung sama Wak haji Yunus". Ujang nyerocos sambil tangannya mencomot pisang goreng di depannya.

"Itu namanya taqlid alias fanatisme buta. Agama melarang kita untuk taqlid semacam itu. Bukankah Pak Yunus itu manusia biasa yang bisa salah dan khilaf. Kok akhi Ujang mau saja ikut-ikutan sama beliau. Itu namanya menyembah Pak Yunus. Haram itu hukumnya!" suara Jundi mulai meninggi.

"wah...udara udah panas begini, kang Jundi kok malah bikin saya jadi gerah nih." Ujang mengipas-ngipaskan pecinya ke arah tubuhnya.

"bukan begitu akhi...saya sekedar mengingatkan saja. Rasulullah SAW telah bersabda, 'Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu: Kitabullah dan Sunnahku'. Jadi segala persoalan harus berdasarkan kepada Qur'an dan Sunnah. Nggak boleh hanya kata kiyai anu atau ulama sana atau cuma kata Pak Yunus."

"bentar kang...." Ujang merubah posisi kakinya sambil kemudian mengangkat sedikit kain sarungnya. Ujang terus meneruskan, "Hadis yang tadi kang Ujang baca itu shahih atau dha'if?"

"Hadis-nya shahih ya akhi Ujang" jawab Jundi sambil memegang jenggotnya.

"O, ya? Akang tahu dari mana kalau itu hadisnya shahih?"

"Dari Syekh al-Albany. Beliau ini ulama besar...dalam kitab Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, beliau bilang hadis ini shahih." Jundi lantas membuka catatannya. "Ya betul akhi...ini disebutkan dalam buku Syekh al-Albany juz 4, halaman 330"

Sambil membetulkan peci hitam yg sudah lusuh, Ujang bertanya lagi: 

"sudah akang periksa argumennya al-Albany sampai beliau bilang hadis ini shahih? Misalnya dicek ulang gitu semua argumen beliau"

"Belum. Tapi Syekh al-Albany menyebutkan sumber-sumber rujukannya kok"

"Terus darimana akang bisa yakin kalau yang dilakukan Syekh al-Albany dalam mengatakan Hadis ini shahih itu benar?"

"Lho al-Albany kan ahli hadis, dia punya kualifikasi untuk itu,

masak dia bohong?" suara Jundi mulai meninggi. Dalam hatinya dia bilang, "ini orang kok ngeyel banget sih. Susah banget menerima sebuah kebenaran!"

"Ehmm...akang sudah taqlid dong sama Syekh al-Albany. Yang akang lakukan sama saja dengan kawan-kawan saya tadi malam yang mengikuti Wak Haji Yunus utk ratiban bareng tanpa mengkaji terlebih dahulu dalil dan argumen wak Haji Yunus. Kami melakukannya karena "percaya"

bahwa wak Haji Yunus itu ahli dalam bidangnya"

Sambil nyengir meniru gaya film james Bond yang ditontonnya saat layar tancep, Ujang meneruskan:
"Sama saja dengan saya kalau sakit pergi ke dokter. Apa yang dikatakan dokter saya percaya. Disuruh minum obat A atau B saya ikuti. Soalnya saya "percaya" akan otoritas dokter tsb. Saya nggak mau bilang begini, 'Maaf dokter, saya butuh waktu untuk menguji apakah obat yg anda kasih itu benar atau tidak, saya harus cek dulu argumentasi anda utk mengatakan penyakit saya ini A dan bukan penyakit B"

Muka Jundi langsung memerah. Dia tidak menyangka Ujang yang sarung dan pecinya sudah lusuh dan wajahnya ndeso banget itu dengan telak menohok argumentasi Jundi.

Mpok Ruqayah, yang dari tadi cuma mendengarkan sambil menggoreng pisang, tiba-tiba ikutan nimbrung.

"Perasaan ane hadis yang tadi bang Jundi bacakan ada versi lainnya deh. Dulu Wak haji Yunus udah pernah menjelaskan saat ane ikutan pengajian di rumahnya"

"Enggak ada Mpok...hadisnya ya cuma ini. kalau ada versi lain, ya itu dha'if" jawab Jundi sambil membolak-balik buku catatannya.

"ah urusan dha'if apa kagak itu sih urusan orang sekolahan...bukan urusan ane...urusan ane sih dagang aja" Mpok Ruqayah tertawa sambil membetulkan posisi sendal jepitnya.

"Iya nih akang masih doyan aja sembarangan mendha'ifkan hadis"

"Soalnya kata murabbi saya begitu akhi"

"Tuh kan...ente taqlid lagi" Ujang kembali nyengir.

"Bukan...ini bukan taqlid. Ini namanya tsiqah pada qiyadah"

"ya sama aja dong...intinya kan tunduk dan patuh serta percaya pada pemimpin dan panutan kita. Saya taqlid sama Wak haji Yunus. Akang Jundi tsiqah sama murabbi. Intinya kan sama aja. Artinya sama-sama baik. Karena Wak Haji Yunus orang baik, dan Murabbi akang juga orang baik. Begitu kang..."

Di saat itu datanglah Haji Yunus sambil mengucapkan salam. Ujang dan Mpok Ruqayah lantas menceritakan dialog dengan Jundi tersebut. Jundi yang duduknya menjadi gelisah, ditepuk-tepuk bahunya oleh Haji Yunus. "Bagus...bagus...inilah pemuda harapan kita. Selalu bersemangat dalam menjalankan Din Allah ini"

"Nak Jundi kuliah dimana? tanya Haji Yunus dengan lembut.

"Di Universitas Prabu Siliwangi, jurusan akunting. Saya lagi buat skripsi Pak Yunus"

"Oh bagus...bagus...apa saat menulis skripsi itu Nak Jundi mencantumkan footnote yang isinya pendapat para pakar dan juga mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pembimbing skripsi?"

"Tentu saja Pak. Dunia akademik memang seperti itu"

"Mungkin Nak Jundi belum tahu, ttulah tradisi ilmiah dalam Islam yang diadopsi oleh dunia intelektual modern saat ini. Tradisi merefer dan merujuk itu bisa dilacak dalam khazanah Islam." Haji Yunus menjelaskan sambil memberi kode kepada Mpok Ruqayah utk membuatkan kopi.

"Wah jangan-jangan akang Jundi ini taqlid juga sama pembimbing dan para pakar yg dicantumkan dalam footnote skripsinya nih" Ujang nyeletuk sambil megang perutnya yang buncit.

Jundi tersenyum masam.

Haji Yunus melotot pada Ujang, tanda beliau kurang suka dengan Ujang yang menggoda Jundi. Lalu beliau menoleh kembali pada Jundi:

"Tadi hadis yang dibacakan oleh Nak Jundi itu bagaimana bunyinya dan bagaimana terjemahnya?" tanya Haji Yunus.

"Maaf Pak Yunus...saya hanya mencatat dari kumpulan materi pengajian. Kebetulan hadisnya ini sudah diterjemahkan."

Ujang nyeletuk lagi:

"itu namanya akang bukan kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah...tapi kembali ke terjemahan al-Qur'an dan terjemahan Sunnah. Lha yang nerjemahin itu siapa? Kok akang percaya saja sama terjemahannya. Itu namanya akang taqlid sama terjemahan tersebut. Terjemahan Qur'an dan Hadis kan banyak macamnya. Cari aja di-google. Otong yang kawan saya aja bisa. Betul kan Wak Haji?"
Muka Jundi memerah kembali.

"Iya betul", kata Haji Yunus, "tapi kamu jangan biasakan memojokkan saudara sendiri seperti itu. Kita semua kan sama-sama belajar." tegur Haji Yunus.

"Maaf Wak Haji..." Ujang menundukkan pandangan matanya, sebagai tanda ia menerima teguran Haji Yunus. Lantas mata ujang melirik ke lantai. Tiba-tiba ia berseru panik.

"Lho Mpok Ruqayah...kok sendal saya hilang. Tadi kan masih di sini." Ujang celingukan mencari sendal jepitnya.

"wah jangan-jangan sendal jepit saya hilang akibat adanya konspirasi Yahudi dan CIA untuk mencuri harta ummat Islam nih...." Ujang nyerocos sambil garuk-garuk kepala.

Mpok Ruqayah langsung nyengir...."masak Yahudi sama CIA ngurusin sendal jepit kamu yang jelek itu...Ujang...ujang...ada-ada aja sih!"

Haji Yunus pura-pura tidak mendengar dan memilih untuk menikmati kopinya. Jundi masih tersenyum kecut sambil melirik catatan pengajian yang berjudul, "ghazwul fikri antara yahudi-barat versus ummat Islam"
Prof. Nadirsyah Hosen (Gus Nadir)

Saturday, April 29, 2017

Aku Malu Jadi Warga NU Sekarang

Muslimedianews.com ~

"Aku malu jadi warga NU sekarang".

"Kenapa memangnya?"


"NU sekarang tidak kayak NU zaman Mbah Hasyim dulu, sekarang NU disusupi Syiah, liberal, komunis bahkan sangat dekat dengan non muslim. Kalau Zamannya Mbah Hasyim kan masih murni, lurus, tidak disusupi macam-macam".

"Emang kamu pernah hidup dan merasakan NU di masa Mbah Hasyim?"

"Nggak juga sih".

"Makanya jangan sok tahu dan termakan fitnah dan isu tidak benar".

"Kamu tahu kan Jepang itu penjajah yang menyembah matahari?"

"Kalau itu tahu lah, kan banyak di tulis di buku sejarah".

"Kamu tahu nggak, NU nya Mbah Hasyim itu malah menginstruksikan santri-santri untuk latihan militer dengan Jepang. Bahkan Mbah Hasyim jadi Ketua Shumubu atau menteri agamanya Jepang. Padahal kan Jepang kafir, penjajah lagi. Dan ternyata NU nya Mbah Hasyim bisa kok bersikap kooperatif dengan Jepang".

"Masa Sih?"

"Iya, Dan kamu tahu nggak kalau Mbah Wahab Hasbullah itu pernah dicap Kiai Komunis loh karena bersikap kooperatif dengan Bung Karno dalam Nasakom nya (berbeda dengan Masyumi yang memilih keluar)".

"Masa sih?"

"Iya, itulah siyasah, strategi dakwah, lihatlah dampaknya, dengan kooperatif kepada Jepang akhirnya bangsa Indonesia dapat bertempur dengan baik dan akhirnya merdeka. Dengan kooperatif kepada Bung Karno yang dekat komunis akhirnya umat Islam terselamatkan dari bahaya komunis bahkan atas saran NU, akhirnya Bung Karno tidak jadi Membubarkan HMI".

"Gitu ya?"

"Jadi NU Mbah Hasyim dan NU sekarang itu tetap sama, membela Islam dan Indonesia, bukan salah satunya, Islam saja atau Indonesia saja, Karena kalau membela salah satunya akan bisa memunculkan perang antar anak bangsa yang akhirnya ibadah jadi tidak nyaman dan selalui dihantui ketakutan".

"Oo gitu ya? Kalau begitu aku tidak malu lagi jadi NU, aku akan Bangga jadi NU".

"Makanya jangan percaya isu, fitnah atau hoax yang menjelekkan NU, belum apa-apa sudah nuduh macem-macem pada NU sekarang, kita nggak tahu yang sebenarnya, kita hanya tahu dari berita, medsos yang belum tentu benarnya, sebaiknya kita Husnudzon saja kepada penggede NU".

Wednesday, February 03, 2016

Humor Kiai dan Pastur

Muslimedianews ~ Sehabis pulang dari sebuah konferensi dan dialog lintas iman, pastor dan kiai duduk sebaris dalam pesawat. Mereka adalah teman lama dan terbiasa saling bercanda. 

Laiknya teman lama, mereka akan berbicara apa saja. Selama perbincangan itu, datanglah seorang pramugari. Ia menawarkan sampanye untuk para penumpang, tak terkecali pastur dan kiai itu. 

"Hallo, Tuan-tuan, ada yang mau sampanye?" tanya pramugari itu.

Mereka pun mendongakkan kepala. Pastur mulai berbicara, "Iya, terima kasih, Nona. Tolong dua gelas ya...." 

Pramugari itu lalu datang ke tempat duduk pastur dan menuang sampanye, dua gelas. Pastur meminumnya dengan perlahan dan tampak nikmat sekali. Tak lama, ia menoleh ke pak Kiai.

"Ayo Pak Kyai, kita rayakan pertemuan ini dengan minum sampanye. Aku sudah minta dua gelas loh untuk kita," ajaknya. 

Kiai tersenyum."Saya teh hangat saja," jawabnya, singkat. 

Tak lama, Kiai pun meminta pramugari menyiapkan teh dan tak perlu lama ia menunggu, teh yang ia pesan datang. Kiai pun menyesapnya perlahan-lahan.  

"Waaah... Pak Kiai jangan sungkan-sungkan gitulah. Kayak kita baru bertemu saja. Hahaha.  Jarang-jarang kan kita minum sampanye bareng-bareng," paparnya. 

Kiai melihat Pastur. Ia tersenyum, lalu menjawab, "Maaf, Kawan, agama saya melarang minum alkohol," jawabnya sembari tersenyum.

Sang Pastur terdiam sambil meminum sampanye miliknya. 

“Waaah sayang sekali Pak Kiai, barang enak begini loh," tukasnya. 

Pak Kiai hanya menghela nafas. Sampai di Bandara, mereka berjalan ke tempat penjemputan. Dari kejauhan datang 4 gadis cantik dan muda, sambil memanggil nama Pak Kiai tersebut

"Abah..Abah.. selamat datang...!"

Gadis-gadis itu memanggil-manggil dan sesampainya bertemu kiai, salah satu di antara mereka yang paling cantik datang dan mencium tangan kiai tersebut. 

"Putrinya cantik-cantrik ya... kuliah semua?'

"Oooo.. yang ini istri saya," ujar kiai menunjuk yang paling cantik di antara mereka. "Sedangkan yang lain adalah adik dan sepupu saya. Saya kenalkan pastur saya," tambahnya.

Lalu mereka mengenalkannya. Pastur pun diam saja, sampai kemudian kiai tertawa. 

"Lho... Pastur tidak ada istri yang jemput?" tanya Kiai itu. 

Sontak, semua wajah melihat ke arah pastur itu. Pastur terdiam sejenak, lalu ia mendekat ke arah telah kiai dan berkata lirih,"Hmmm...saya tidak punya istri, agama saya  melarang saya menikah."

Kiai itu pun menahan tawa dan melihat wajah teman seperjalanannya itu. Tak lama, ia pun mendekatkan mukanya ke telinga temannya itu serupa dengan yang pastur lakukan terhadapnya.

 "Waah...sayang sekali, padahal kayak gini enak dan Pastur tidak suka," bisiknya. 

Lalu meledaklah tawa di antara keduanya dan membuat gadis-gadis yang menjemput itu keheranan.



 
Oleh: Dedik Priyanto, alumni Pondok Pesantren Attanwir Talun, Sumberrejo Bojonegoro. Aktif di The Wahid Institute.  

Friday, January 29, 2016

Sebuah Puisi Teruntuk Gerombolan Gagal Lurus (GGL)

PUISI UNTUK GEROMBOLAN GAGAL LURUS*

Kebencian adalah kemarung dalam hatimu,
duri-duri dalam pikiranmu, 
onak berbisa di sekujur tubuhmu.

O betapa kasihan engkau
yang menjadikan ilmu sebagai kendaraan ambisimu 
yang pejal dan tidak tahu malu.

Status-statusmu jauh dari bestari
Nilai-nilai ilmumu menguap ditelan kehampaan,
digantikan oleh Dajjal dan Iblis yangg menari-nari

Iblis pernah bilang: "Ana khayrun minhu."
Sungguh benih-benih Iblis bertunas subur dalam dirimu
ketika kau sudah merasa lebih mulia 
dibandingkan siapa pun selainmu.

Sedang seorang sufi
tidak pernah merasa lebih mulia
bahkan terhadap Fir'aun sekalipun.

Kesombongan menjelma badai gila dalam dirimu
dengan tidak kau sadari bahwa hal itu
tak lain adalah kebodohan yang paling nista.

Saat kau sebut dirimu sebagai garis lurus,
Syaikh Junaid al-Baghdadi dengan tangkas menukas:
"Ya betul, kau lurus ke neraka!"

::


*) Gerombolan Gagal Lurus = NU Garis Lurus.

Oleh: Kuswaidi Syafiie, 28 Januari 2016.

Monday, January 04, 2016

Kisah Jomblo dan Sunnah Rasul

Solo, Muslimedianews ~ Joko dan Kamto adalah dua santri yang sudah bersahabat lama sejak keduanya nyantri di Solo. Setiap hari mereka biasa runtang-runtung bersama. Namun, setelah Joko menikah, ia semakin jarang pergi keluar. Setiap ditanya Kamto, ada saja alasan dari Joko untuk menolak ajakan keluar.

“Jok, ayo wedangan di HIK samping pondok,” ajak Kamto melalui pesan singkatnya kepada Joko.

“Wah, kamu kaya ndak tahu aja, Kang. Ini kan malam Jumat. Waktunya sunah rasul,” jawab Joko via HP jadulnya.

“Yo wes...” jawab Kamto.

Esoknya, Kamto tak menyerah untuk mengajak sahabatnya itu cangkrukan. Lagi-lagi Joko tak mau.

“Kalau kemarin, malam Jumat, aku maklum. Lha, sekarang malam Sabtu, je...” kata Kamto.

“Lha, kalau malam Jum’at itu kan sunah, Kang. Tapi lainnya itu ‘wajib’. Makanya kamu cepetan nikah. Hehe,” jawab Joko.

Kamto tidak membalasnya, hanya bisa mbatin. 



Sumber: Ajie Najmuddin/ Redaksi NU Online.

Sunday, December 27, 2015

Ketika Gus Dur Jalan-Jalan di Ciganjur Malam Ini

 
Jakarta, Muslimedianews ~ Orang-orang datang ke tempat itu dengan rupa macam-macam. Ada yang memakai baju koko, berkopyah hitam dan sarung, tubuhnya penuh tato, memakai salib dan lain-lain. Mereka datang untuk menghadiri Haul Gus Dur yang keenam di kediamannya, Ciganjur, Jakarta Selatan. Tak jauh dari pusat acara haul yang bakal dihadiri Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan tersebut, 600 meter kira-kira, seorang lelaki berkacamata tebal berusia 75 tahun sedang berjalan sendirian. 

Lelaki itu berjalan dengan biasa saja, tidak terburu-buru dan tidak juga lambat. Tapi, jalanan sempit Ciganjur malam ini membuatnya menepi—klakson berbunyi saling bersahutan seolah semua manusia ini tuli belaka—dan berhenti di sebuah warung kopi. Warung itu cukup ramai sebenarnya, tapi ada sebuah tempat kosong dan lelaki itu duduk di sana. 

“Kopi, Pak?” Tanya pemilik warung itu sembari memperlihatkan dengan seksama lelaki yang berada di depannya. Ia merasa kenal dengan lelaki ini, tapi tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. 

“Tidak. Berikan jahe hangat saja,” jawabnya singkat. 

Orang-orang yang berada di warung tersebut saling pandang dan berbisik-bisik. Suasana mulai gaduh, tiap orang seperti berbicara sendiri-sendiri dan berusaha meyakinkan apa yang ia lihat barusan. Sedangkan lelaki itu hanya diam saja. Akhirnya, salah seorang di antara mereka memberanikan diri bertanya. ”Maaf, Pak. Sampean Gus Dur, bukan?

Lelaki itu menoleh, ia melihat wajah orang-orang yang berada di  depannya itu. Sepersekian detik setelahnya, lelaki itu tertawa dan hal itu membuat mereka kebingungan. 

“Sekali lagi, kami minta maaf, Pak. Apa benar sampean Gus Dur,” tukas yang lain, dengan nada panik.  
Lelaki itu menganggukkan kepala. 

“Gus Dur?” Tanya yang lain, memastikan. 

Lelaki itu tersenyum. Lalu menjawab,“Kira-kira begitu orang-orang memangilku.”

Suasana mulai tegang dan kebingungan. Beberapa berpikir, orang ini bisa jadi merupakan pembohong atau sekadar mirip saja dengan Gus Dur, sebagian lagi merasa perlu melaporkan ke petugas keamanan. Toh, Gus Dur telah wafat enam tahun yang lalu, bahkan sedang ada peringatan hari kematiannya, tak jauh dari tempat mereka saat ini. Salah satu dari mereka mengambil ponsel dan berusaha memotretnya.

“Sudah. Tidak usah bingung. Duduk saja di sini. Saya hanya ingin jalan-jalan saja,” ujarnya. 

Hal itu membuat orang-orang itu lega. Mereka pun duduk kembali dan kembali menikmati kudapan yang ada di warung, serta mulai bercakap-cakap dengan pria bernama Gus Dur itu. Mereka pun sering dibuat tertawa akibat guyonan yang sering dilontarkan oleh lelaki itu. Suasana sudah sangat cair. 

“Gus,” kata salah seorang di antara mereka,”saya ini capek loh lihat berita di tipi tiap hari.”

Kini, semua orang mulai menatapnya orang itu. Termasuk juga lelaki itu. 

“Tiap hari yang saya lihat itu ya kekacauan.”

Lelaki itu terdiam sejenak. Ia mendongakkan kepala di atas, matanya terpejam lalu menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Hal ini ia lakukan tiga kali.  

“Maksud sampean?” Tanya lelaki itu. 
“Begini, Gus. Kami ini orang kecil. Tiap hari disuguhin politik nggak jelas. Korupsi di mana-mana. 

“Betul, Gus,” timpal yang lain. 

“Ada pembunuhan juga, Gus. Salim Kancil itu orang seperti kami, wong cilik. Ia dibunuh gara-gara bela tanah yang diambil orang kaya. Kami loh sedih. Sudah nggak punya apa-apa, tanah diambil orang lagi.  Belum lagi orang islam ngamuk terus sama orang lain, agama lain. Daerah mana itu, Jang?” Tanya yang lain sembari menoleh ke teman di sampingnya. 

“Tolikara, Pak Dhe,” jawab orang bernama Jajang.  

“Singkil di Aceh juga, Pak Dhe. Bogor juga, GKI Yasmin masih nggak boleh ibadah loh di tempatnya,” seloroh yang lain.  

“Iya itulah pokoke. Wong agamo kok ngunu,” tambahnya. 

Lelaki itu tampak terdiam. Ia melihat dengan seksama wajah-wajah orang yang berada di sekitarnya itu. 

“Kalian percaya padaku, kan?”
Mereka mengangukkan kepala. Lelaki itu lalu melanjutkan perkataannya.

“Jika sampean semua yakin padaku, maka lakukanlah apa yang juga saya lakukan ketika masih hidup dulu. Selalu berbaik baiklah kepada sesama, apa pun suku dan agamanya. Dampingi orang-orang yang lemah di sekitar kalian. Jangan boleh ada yang menyakiti mereka, apalagi melarangnya beribadah.”

Mereka semua terdiam. “Tapi, panjenengan sudah tidak ada, Gus. Kami merasa sendirian,” tukas yang lain. Orang itu meneteskan air mata. 
Lalu lelaki itu berdiri, memeluk orang tersebut dan menepuk pundaknya. 
”Jangan pernah takut. Semuanya akan baik-baik saja, asalkan sampean tetap mengamalkan ajaran agama dengan baik, selalu menolong orang yang kesusahan dan percaya bahwa islam itu agama keadilan. Saya akan selalu berada di hati sampean semua.”

Lelaki itu pun lalu meminta ijin untuk pergi ke acara haul. 

“Kalian tetap saja di sini, terus ngopi kalian. Saya akan bicara kepada orang-orang yang ada di acara itu, juga tentang keluhan-keluhan sampean semua,” ujarnya. 

Lelaki itu pun berjalan lagi. Jalanan kian ramai. Orang-orang itu warung itu pun turut mengantarnya keluar dan melihat sosoknya berjalan menuju keramaian hingga sosok itu tak terlihat lagi di antara kerumunan orang-orang. 



Oleh: Dedik Priyanto, jurnalis dan editor. Alumni PP. Attanwir, Bojonegoro. 

Disclaimer: cerita ini adalah cerita imajiner, terkait isi, kesamaan cerita, waktu dan lain sebagainya, mutlak tanggung jawab penulis. 

Thursday, August 13, 2015

Kisah 'Muadzin Gila' Bikin Heboh Warga Kampung

Muslimedianews.com ~ Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh, karena pada saat jam 09.00 (9 pagi) terdengar adzan berkumandang dari sebuah mushalla setempat melalui pengeras suara yang memecah keheningan.

Warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya. Mbah mansur, suaranya sudah dikenal dikampung itu, umurnya sudah mencapai kepala tujuh.

Warga dipenuhi pertanyaan, mengapa Mbah mansur adzan pada jam 9 pagi..??

Ketika warga sampai di pintu mushalla, Mbah mansur baru selesai adzan dan mematikan sound system.

“Mbah tahu gak, jam berapa sekarang..??” kata Pak RT.

“Adzan apa jam segini, Mbah..??”

“Jangan-jangan Mbah sudah ikut aliran sesat,” sambar Roso dengan nada prihatin.

"Sekarang banyak betul aliran macam-macam".

“Ah, dasar Mbah mansur sudah gila".

“Kalau nggak gila, mana mungkin adzan jam segini..??”

“Kalian ini ......,” jawab Mbah mansur tenang. “Tadi, waktu saya adzan subuh, tidak seorang pun yang datang ke musholla. Sekarang saya adzan jam 9 pagi, kalian malah berbondong-bondong ke mushalla. Satu kampung lagi...!!! Kalo gitu... SIAPA YANG GILA....???”

Warga pun pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang kemudian menjauh perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Mbah mansur.

***
Mari introspeksi diri. Dipanggil dan diingatkan yang baik-baik kadag-kadang kita tidak mau mendengarkan. Tetapi begitu ada kesempatan mem-bodoh-bodohkan dan memarahi orang, kita menyempatkan diri.



Astagfirullah Al'adziim

Tuesday, June 23, 2015

Dialog Imajiner Antara Tahlil dan Tahrir

Muslimedianews.com ~ Dialog antara Hizbut Tahrir (Liberal) dengan Hizbut Tahlil (Ahlussunnah Wal-Jama’ah).

Tahrir: “Akhi mengapa antum tidak mau ikut Hizbut Tahrir yang memperjuangkan tegaknya syari’ah dan khilafah?”

Tahlil: “Siapa pendiri Hizbut Tahrir?”

Tahrir: “Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani, seorang mujtahid muthlaq.”

Tahlil: “Kalau menurut saya sih, Taqiyuddin al-Nabhani bukan mujtahid muthlaq dalam artian seperti Imam al-Syafi’i dan selevel beliau rahimahullah.”

Tahrir: “Terus mujtahid muthlaq dalam artian bagaimana?.”

Tahlil: “Muthlaq dalam artian kebebasan dan liberal.”

Tahrir: “Kok bisa begitu?”

Tahlil: “Ya di antara cici khas liberal kan membolehkan hukum yang dilarang syari’at.”

Tahrir: “Mana buktinya beliau membolehkan hukum yang dilarang syari’at?”

Tahlil: “Beliau membolehkan meraba dan menggerayangi tubuh wanita asal tidak syahwat. Juga membolehkan menjabat tangan wanita asal tidak syahwat.”

Tahrir: “Di mana itu?”

Tahlil: “Dalam kitab al-Nizham al-Ijtima’i fil al-Islam, yang dikutip oleh salah seorang pengagumnya, yang berinisial RAW, dalam buku liberalnya. Taqiyuddin al-Nabhani berkata:

أَنَّ لَمْسَهُنَّ (النِّسَاءِ) بِغَيْرِ شَهْوَةٍ لَيْسَ حَرَامًا
“Sesungguhnya menyentuh (meraba atau menggerayangi) tubuh kaum wanita, dengan tanpa syahwat, adalah tidak haram.”


Tahrir: “Kok liberal sekali ya, pendiri Hizbut Tahrir. Tapi RAW kok tidak merasa kalau itu ajaran liberal. Malah dia berteriak liberal pada orang lain yang memerangi liberal?”

Tahlil: “Ya begitulah para ustadz pengikut Hizbut Tahrir. Semoga Allah memberikan hidayah dan membuka hati mereka untuk keluar dari Hizbut Tahrir yang menyebarkan ajaran liberal dan kembali ke Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Amin.”



Oleh : Ust. Muhammad Idrus Ramli

Wednesday, May 20, 2015

Akhi.. Baca Al-Qur'an Pakai Langgam Apa?

Muslimedianews.com ~ Ramai dunia media sosial menanggapi tilawah langgam jawa yang beberapa waktu lalu dilantunkan di istana ternyata juga menjadi pembicaraan para remaja Islam.

Seorang seorang remaja bernama Eko turut mengecam pembacaan al_Qur'an dengan langgam budaya tersebut. Ia menganggapnya sebagai pelecahan terhadap al-Qur'an.

"Tilawal al-Qur'an langgam jawa itu konyol, pelecehan terhadap kesucian Al_Qur'an", ujar Eko.

Ahmad yang kebetulan berada disamping Eko ikut menyahut. "Mengapa bisa begitu akhi?", tanya Ahmad.

Eko : "Langgam diluar arab itu harom, dosa, bisa murtad, kafir, liberal"
Ahmad : "Alasannya akhi...?"

Eko : "Pokoknya begitu! terasa asing ditelinga"


Ahmad : "Yang benar bagaimana akhi?"
Eko : "Pakai langgam Arab!"

Ahmad : "Contoh langgam Arab?"
Eko : "%$%^%$$#^%^%" (diam nggak bisa jawab)

Ahmad pun lalu menjelaskan bahwa sejarah cara melantunkan Al-Quran asalnya dari Iran. Banyak orang Arab yang banyak belajar ke Parsi, Iran. Mekipun ada banyak cara membaca tetapi yang biasa dikenal ada 7, ada yang menyebut 10, 14 dan sebagainya.

Ahmad : "Akhi baca Qur'an baca langgam (irama) apa?"
Eko : "^^%&^%$#$$%"(diam lagi, karena tidak mengerti langgam).

Eko mulai salah tingkah karena dia mengaji al-Qur'an tanpa mengetahui langgam yang digunakan. Eko mulai berkeringat, raut wajahnya mulai nampak malu.

Ahmad : "Qira'ah Arba'a 'Asyarah, qira'ah 'Asyarah, qira'ah Sab'ah, mana yang biasa akhi pakai?"
Eko : "^^%$$$$%" (tambah tidak mengerti)

Ahmad : "Akhi ngaji Al-Qur'an sama siapa? Diajari langgam apa?"
Eko : "%%%$#$#@#%$%"

Ahmad : "Akhi, nun mati bertemu dengan ra' dibaca apa?"
Eko : "^^%$%%$" (pucat)

Ahmad : "Macam-macam mad ada berapa?"
Eko : "^%^%%^%" (tambah pucat).

Ahmad hendak melanjutkan pertanyaannya, tetapi Eko yang nampak tidak tenang akhirnya pamit pergi.

Eko : "Ana sakit perut, pamit dulu. Assalamu'alaikum"
Ahmad : "Wa'alaykumussalam".

Imajiner : Ibnu L' Rabassa

Thursday, May 14, 2015

'Terima Kasih Wahabi, Aku Tidak Lagi Tahlilan'

Muslimedianews.com ~ "Setelah menyimak, mengkaji dan merenungi pendapat-pendapat pengikut anda mengenai Tahlilan yang dianggap bid'ah sesat maka saya tidak mau lagi Tahlilan", ujar seorang santri bernama Ahmad kepada seorang ustadz Wahhabi bernama Abu .

"Akhirnya antum sadar", tanggap Ust Abu.

"Terima kasih ustad Abu", ucap Ahmad.


"Daripada Tahlilan, lebih baik membaca al-Qur'an dan dzikir", saran ust. Abu kepada Ahmad.

"Na'am, mulai sekarang saya tidak mau lagi tahlilan. Sebagai gantinya maka saya lebih baik membaca ayat-ayat Quran, dzikir dan shalawat", ucap Ahmad dengan penuh semangat.

Sementara Ust. Abu terlihat senang karena Ahmad telah meninggalkan tradisi Tahlilan, tetapi beberapa saat kemudian muka Ust. Abu berubah kecut setelah Ahmad melanjutkan perkataannya.

Ahmad berkata lagi:

"Saya akan baca al-Qur'an, mulai surah Al Fatihah, kemudian beberapa surah/ayat ayat pilihan : al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 5 الم ذلك الكتاب ..., al-Baqarah ayat 163 والهكم إله واحد ..., al-Baqarah ayat 255 الله لاإله إلا هو الحي القيوم ..., al-Baqarah dari ayat 284 sampai ayat 286 لله مافي السموات ..., al-Ahzab ayat 33 إنما يريد الله ..., al-Ahzab ayat 56 إن الله وملائكته يصلون على النبي ..., dan diselingi bacaan antara shalawat, istighfar, tahlil da tasbih, dan lain-lai, surah al-Baqarah ayat 286 pada bacaan :واعف عنا واغفر لنا وارحمنا, al-Hud ayat 73: ارحمنا ياأرحم الراحمين, dilanjutkan dengan shalawat Nabi, keluarga Nabi dan sahabat Nabi; istighfar, membanyak baca kalimat Thayyibah لاإله إلاالله, Tasbih dan do'a kepada Allah".


red. Ibnu Manshur, via fb Von Edison Alouici

Thursday, April 30, 2015

Cara Sufi Atasi Lokalisasi Prostitusi di Jakarta

Muslimedianews.com ~ Lokalisasi prostitusi di Jakarta?

"Dulu ada Kramat Tunggak, lalu ditutup jadi Islamic Center... Kemudian bertebaran pusat-pusat prostitusi di Jakarta, dari pinggir jalan, kos-kosan, apartemen, losmen, diskotik, panti pijat, hingga hotel esek-esek per-jam.... Mau dilokalisasi atau tidak, prostitusi tetap subur bak jamur di musim hujan...

Manusia-manusia Jakarta memang butuh prostitusi... Ada bisnis, ada pula hasrat melampiaskan syahwat seksual di luar ikatan perkawinan... Ada faktor ekonomi, trauma keluarga broken-home, dan ada pula faktor kota metropolitan yg menawarkan kultur bebas seperti itu, tanpa kontrol moral lagi... semua nafsi-nafis, lu-lu, gue-gue ..."


"Lalu apa solusinya dong untuk lepas dari bisnis ma'siyat itu??", tanya seorang santri.

"Perlukah khilafah kata HTI?", tanya santri lainnya.

"Syariat Islam diberlakukan gaya kelompok wahabi? Negara diislamkan?"

"Pendekatan masalah prostitusi harus pakai pendekatan sufi...Baca kitab al-Hikam... "Ma'shiyatun awratsat dzullan wahtiqaran khairun min tha'atin awratsat izzan wastikbaran.. Itu cara membaca fenomena prostitusi".

"Maksudnya kiai?"

"Dalam sejarah nabi-nabi, prostitusi juga ada... Bukan menghapus prostitusi, karena itu seperti virus... susah dibasmi.. Yg penting adalah memberi antidot-nya, yaitu mengajak pelaku prostitusi untuk tobat... dengan memberi contoh cerita seorang perempuan PSK yg diampuni dosanya setelah menyelamatkan seekor anjing yg kehausan."

Sementara yg doyan "jajan" akan dilatih tirakat dan mujahadah, untuk berlatih mengekang nafsu.. Ketiga, bangunan keluarga juga harus dijaga...Anak-anak harus mendapat benteng moral yg kukuh, dan itu dimulai dari lingkungan keluarga yg harmonis mawaddah wa rahmah".

"Apakah itu efektif kiai?"

"Itulah tantangan dakwah...mau kerja keras turun ke masyarakat, masuk ke sarang ma'siyat, mengingatkan orang, mengajak, merangkul, lalu memanusiakan mereka menuju sesuatu yg halalan thayyiban... ini pendekatan yg menuntut kesabaran tinggi dan butuh tenaga ekstra...namanya juga misi nabi...
Atau mau pakai cara palu godam, sekali pukul, habisi sekalian mereka, dengan gaya ISIS? lantas agamawannya duduk enak-enak berleha-leha, seolah urusan beres semua....??

Tunggu saatnya pelaku bisnis ma'siyat akan menyerang balik, dan agama pun kemudian diinjak-injak seakan jadi barang rongsokan....

Iblis itu makhluk halus.. dia gak sakit dipukul pakai palu godam atau pakai nuklir sekalipun... Iblis hanya akan tunduk kalau para agamawan merangkul murid-murid Iblis ke jalan yg benar dengan kasih dan sayang..dengan pendekatan zullan wahtiqaran...bukan arogansi dan keangkuhan religiusitas..."

Oleh : Ahmad Baso, 28 April 2015

Wednesday, April 29, 2015

Mengubah ASI (Air Susu Ibu) dengan ASU

Muslimedianews.com ~ Sekalipun sudah 3 tahun tinggal di perumahan 'Salafi', Ning Sringatun tidak mau mengubah namanya menjadi nama Islami seperti Ayesha ('Aisyah), Hamidah, Selma (Salmah), Istiqomah, Faizah, Nafidah, dll. Ning Sringatun bahkan bersikukuh bahwa nama Sringatun adalah pen-Jawa-an kata Arab: Syari'atun.

Yang bikin tetangga-tetangga jengkel, Ning Sringatun tidak mau merubah cara mengajinya yang ndeso dan tidak Islami, di mana lafadz 'Ayn diucapkan Ngain sehingga kata 'Alamiin menjadi Ngalamiin, Na'im menjadi Nangim, 'Aliim menjadi Ngaliim, 'Ulama menjadi Ngulama, dll. Meski sudah diancam bahwa bacaan Al-Qur'annya tertolak karena tidak sesuai lafadz Qur'an sehingga di akhirat kelak akan masuk neraka, tetap saja Ning Sringatun kesulitan mengubah lidahnya dan tetap saja mengaji dengan lafadz ndeso.


Yang membuat para tetangga marah, Ning Sringatun menolak tegas untuk mengubah panggilan ibu dari kelima orang anaknya menjadi panggilan umi. Berkali-kali tetangga mengingatkan agar Ning Sringatun menyuruh anak-anaknya untuk memanggilnya dengan sebutan Umi dan bukan Ibu, karena sebutan Umi lebih Islami.

Marah dan jengkel dengan tetangga yang keras kepala, waktu pengajian Ahad pagi ustadz Dul Wahhab di hadapan jama'ah menanyai keengganan Ning Sringatun menyuruh anak-anaknya untuk memanggilnya dengan sebutan Umi. "Sampeyan tidak punya alasan untuk mengubah sebutan Ibu menjadi Umi yang lebih Islami. Kenapa sampeyan masih ngeyel?"

"Anak saya lima orang, ustadz," sahut Ning Sringatun kalem,"Mereka semua saya teteki dengan ASI, termasuk anak bungsu yang berusia 10 bulan. Mereka semua saya beri asupan gizi dengan minum ASI - Air Susu Ibu."

"Apa hubungan meneteki anak dengan ASI dan sebutan Umi?" tukas ustadz Dul Wahhab jengkel, mengira Ning Sringatun mencari-cari alasan.

"Anu ustadz, anu," sahut Ning Sringatun menahan geli,"Kalau anak-anak saya harus memanggil saya dengan sebutan Umi, maka saya tidak lagi meneteki mereka dengan ASI,...tapi meneteki dengan ASU. Sungguh saya tidak ridho memberi makan anak dengan hewan najis."

Oleh : Agus Sunyoto
MENGUBAH ASI (AIR SUSU IBU) DENGAN ASU

Imajiner

Thursday, April 23, 2015

SKAK Logika Tahlil Boleh dan Tahlilan Tidak Boleh

Muslmedianews.com ~ IKUT LOGIKA TAHLIL BOLEH TAHLILAN TIDAK BOLEH

Kamis pagi bakda Subuh, pada Kultum (Kuliah Tujuh Menit) di Mushola al-Manaar, Sufi Gendeng yang ikut mendengar ceramah ustadz Dul Wahhab membikin gempar jama'ah. Pasalnya, saat ustadz Dul Wahhab menyatakan bahwa Tahlilan dan Yasinan adalah perbuatan bid'ah dengan penjelasan bahwa TAHLIL itu diperbolehkan karena maksudnya membaca ikrar Tauhid meng-Esa-kan Allah. Tapi kegiatan TAHLILAN itu tidak boleh karena tidak ada contoh dari Rasulullah Saw. Begitu juga membaca YASIN itu boleh karena itu ayat Al-Qur'an. Tapi YASINAN itu tidak boleh karena tidak ada contoh dari Rasulullah Saw. Baik TAHLILAN maupun YASINAN tidak boleh. 



Mendengar uraian ustadz Dul Wahhab, Sufi Gendeng tiba-tiba berdiri dan berseru lantang,"Berarti TAHLIL boleh TAHLIL-AN tidak boleh. Baca YASIN boleh tapi YASIN-AN tidak boleh, begitukah logikanya ustadz?"

"Ya seperti itu logikanya," sahut ustadz Dul Wahhab menegaskan,"TAHLIL boleh TAHLIL-AN tidak boleh. Baca YASIN boleh tapi YASIN-AN tidak boleh!"


"Saya setuju logika sampeyan ustadz," sergah Sufi Gendeng melepas sarung sambil berkata lantang,"SARUNG boleh SARUNG-an tidak boleh!"


Ustadz Dul Wahhab tersentak kaget. Jama'ah juga terkejut.


"Sekarang saya masih pakai KATOK (celana pendek)," kata Sufi Gendeng melepas celana dalam sambil berkata,"KATOK boleh tapi KATOK-AN tidak boleh!"



Oleh : Agus Sunyotohttps://www.facebook.com/photo.php?fbid=684433641679324&set=a.115057525283608.16660.100003380826863&type=1

Wednesday, April 22, 2015

Kenapa Tidak Tahlilan dan Maulidan Disebut Wahabi ?

Muslimedianews.com ~ Suatu ketika Titto, pengikut Wahhabi gerah dengan orang-orang yang menyebutnya pengikut Wahhabi. Titto tidak senang dengan sebutan Wahabi meskipun ia memang pengikut Wahabi.

Titto : "Kenapa setiap muslim yang beribadah dan beraqidah seperti Rasulullah selalu digelari Wahabi?"
Ahmad : "Tidak semua, hanya segelintir aja. Mayoritas umat Islam didunia ini bukan Wahabi. Mereka juga giat beribadah tetapi bukan Wahabi."

Titto diam, karena tahu kalau mayoritas umat Islam bukan Wahabi, tetapi Ahlussunnah wal Jama'ah Asy'ariyah dan Maturidiyah.


Titto : "Kenapa ane disebut Wahabi hanya karena ane tidak yasinan, yahlilan, maulidan, shalawatan, istighotsahan, tidak bakar menyan, tabarruk, dan lain-lain".
Ahmad : "Orang yang tidak melakuka semua itu belum tentu Wahhabi, tetapi terindikasi sebagai Wahhabi. Apalagi kalau membid'ah dan mensesatkan semuanya. Anta tidak membid'ahkan, mensesatkan dan mensyirikkan amaliyah tersebut kan?"

Titto : "Semua itu amaliyah bid'ah sesat syirik dan mengantarkan kepada neraka, kekal selama-lamanya, lebih buruk dari berzina".
Ahmad : "Kalau gitu anta memang Wahhabi"

Titto : (Diam, karena terbongkar sebagai Wahabi)
Ahmad : "Tidak Yasinan dll tidak apa-apa, tapi jangan mengganggu umat Islam yang mengamalkan amaliyah diatas, semuanya itu ada dasarnya dalam Islam. Kalau ingin tahu dasarnya, bisa kita bedah satu persatu. Yang penting mengerti dulu ilmu tentang sumber hukum Islam. Satu hal lagi, aqidah Wahhabi berbeda dengan Rasulullah, sebagian bahkan mujassimah (menjisim-kan Allah)".

Titto masih diam tetapi terlihat geram, karena merasa ditantang membedah amaliyah yang dibid'ahkan oleh dirinya, tetapi tidak kurang memiliki pengetahui tentang kaidah-kaidah hukum didalam Islam.


DIALOG IMAJINER

Link Terkait :



Friday, March 06, 2015

Apakah KH. Hasyim Asy'ari Melarang Tahlilan ? Dialog Imajiner

Muslimedianews.com ~ Ahmad (seorang santri) berjalan kaki hendak pulang ke rumah. Ia usai mengikuti kegiatan tahlilan yang digelar oleh tetangga untuk anggota keluarga mereka yang meninggal dunia. Di perjalanan pulang, Ahmad berpapasan dengan Mishbahul Khoir, panggilannya Misbah, seorang yang dulunya mahasiswa yang terpengaruh wahabi karena kesombongannya.

Misbah : "Datang tahlilan Bro?"
Ahmad : "Iya, ada tetangga baru meninggal 2 hari yang lalu".

Misbah : "Orang meninggal itu dido'akan, bukan di Tahlilin"
Ahmad : "didalam kegiatan Tahlilan juga berdo'a".

Misbah : "tapi ada ritual menghadiahkan pahalanya Bro!"
Ahmad : "Menghadiahkan pahala menurut ulama boleh dan sampai!"

Misbah : "Pendirimu NU KH Hasyim Asy'hari lo nda melakukan ritual tahlilan. lah, ente2 ngapain melakukan praktek tahlilan."
Ahmad : "Kata siapa dan tau darimana?".

Misbah : "^%^$#^^#^$#%$# ^%$#@". (nggak bisa jawab)
Ahmad : "Katakan saja saudaraku, tau darimana ?"

Setelah didesak, akhirnya Misbah dengan malu-malu mengatakan bahwa informasi itu ia dapat dari bacaan di Internet. Dengan menarik nafas, Ahmad lalu memberkan penjelasan.

Ahmad : "Bila menemukan orang-orang yang mengatakan atau menemukan tulisan yang menyatakan Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari melarang tahlilan atau menolak tahlilan, itu dusta saudaraku..! Jangan membenarkan kedustaan dan jangan bela kedustaan.. Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari tidak pernah melarang tahlilan. Beliau menerangkannya didalam kitabnya, Risalah Ahlisunnah wal Jamaah hal. 8 :

فَإِذَا عَرَفْتَ مَا ذُكِرَ تَعْلَمُ أَنَّ مَا قِيْلَ أَنَّهُ بِدْعَةٌ كَاتِّخَاذِ السَّبْحَةِ وَالتَّلَفُّظِ بِالنِّيَةِ وَالتَّهْلِيْلِ عِنْدَ التَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيِّتِ مَعَ عَدَمِ الْمَانِعِ عَنْهُ وَزِيَارَةِ الْقُبُوْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَيْسَ بِبِدْعَةٍ وَإِنَّ مَا أُحْدِثَ مِنْ أَخْذِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاَسْوَاقِ اللَّيْلِيَّةِ وَاللَّعْبِ بِالْكُوْرَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ شَرِّ الْبِدَعِ
Artinya adalah Jika anda mengetahui apa yang telah disebutkan (tentang 5 macam Bid’ah), maka anda akan mengetahui tentang tuduhan “Ini adalah bid’ah”, seperti menggunakan tasbih, mengucapkan niat, tahlil ketika sedekah untuk mayit dengan menghindari hal-hal yang dilarang, ziarah kubur dan sebagainya, bukanlah bid’ah. Sedangkan memungut uang dari orang-orang di pasar malam dan permainan kerasukan adalah bid’ah yang paling buruk”

Misbah : "^%$%$$#@#$#^%$". (merasa salah dan malu)

Ahmad : "Itu yang beliau jelaskan didalam kitabnya. Pada zaman Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, masyarakat sudah terbiasa tahlilan. Justru ketika muncul aliran (kelompok) yang menolak praktek itu, maka Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari  dan para ulama lainnya bereaksi menentang mereka. Panjang kalau cerita sejarah. Gampangnya lihat keluarga Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari sampai sekarang masih ada. Mereka lebih tahu kehidupan kakek mereka, dan mereka tahlilan. Karena itu memang tradisi umat Islam, tradisi Nahdlatul Ulama".


Dialog Imajiner oleh Ibnu L' Rabassa

Saturday, February 21, 2015

Menggelari Wahabi Berarti Membantu Syi'ah ? Dialog Imajiner

Muslimedianews.com ~ Ahmad (santri) lagi duduk santai disebuah kursi paling kanan dalam sebuah acara seminar keislaman. Disamping Ahmad ternyata ada Abu Umar (pengikut Wahabi) yang tidak mau disebut Wahabi. Ntah ada angin apa, tiba-tiba Abu Umar memulai perbincangan dengan Ahmad.

Abu Umar : "Masih menggelari Salafi dengan sebutan Wahabi Bro?"
Ahmad : "Kita tidak menggelari Salafi dengan Wahabi. Salafi yang asli bukan Wahabi"

Abu Umar : "Kok kalian menyebut kami Wahabi?"
Ahmad : "Kalian memang Wahabi, bukan Salafi".

Abu Umar : "Kami Salafi, pengikut Salafush Shaleh".
Ahmad : "Itu hanya klaim palsu kalian. Siapa salaf yang kalian ikuti?"

Abu Umar : "Syaikh Nashiruddin al-Albani, Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Shalih al-Fauzan, Syaikh Rabi' al-Madkhali, Syaikh Abdurrahman bin Jibrin, dan masih banyak lagi".
Ahmad : "Mereka itu bukan ulama salaf. Mereka ulama kemaren sore. Ulama salaf itu seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Sufyan al-Tsauri, Imam Ma'ruf Al-Kurkhi, Imam Hasan al-Bashri, dan masih banyak lagi. Mereka hidup pada tiga kurun pertama Islam".

Abu Umar : "Sebutan Wahabi itu berasal dari musuh Islam".
Ahmad : "Musuh Islam yang mana?"

Abu Umar : "berasal Kafir dan Syi'ah"
Ahmad : "Saudaraku Abu Umar..! Anda salah besar. Sebutan Wahabi itu pertama kali dimunculkan oleh Syaikh Sulamain bin Abdul Wahab al-Hanbali. Beliau adalah kakak kandung dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau menulis kitab berjudul al-Shawaiq al-Ilahiyyah fi Raddi alal Wahhabiyah dalam rangka membantah dan meluruskan ajaran menyimpang adiknya itu".

Abu Umar hanya bisa diam mendengarkan penjelasan Ahmad dan menyadari kesalahannya mengenai asal muasal sebutan Wahabi. Ahmad pun melanjutkan penjelasannya.


Ahmad : "Jadi, sebutan wahhabi bukan berasal dari orang diluar Islam dan bukan berasal dari Syi'ah. Tetapi berasal dari orang Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, dari kalangan ulama Hanbali, dari keluarganya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sendiri. Lalu ulama Ahlussunnah wal Jama'ah lainnya mengikuti dan menggunakan sebutan itu".

Abu Umar : "Kami tidak mau disebut Wahabi"
Ahmad : "Tetapi ulama Wahabi mengakui sebutan itu. Misalnya ulama Wahabi Dr. Muhammad Khalil Al-Harras menulis buku berjudul "al-Harakah al-Wahhabiyyah", artinya Gerakan Wahabi. Wahhabi di Qatar, Ahmad bin Hajar Al Buthami Al bin Ali menulis sebuah buku berjudul "as Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab ‘Aqidatuh as Salafiyyah Wa Da’watuh al Islamiyyah" dengan bangga memakai dan menuliskan nama Wahhabi didalam kitabnya".

Abu Umar: "Menyebut kami sebagai Wahabi berarti membantu Syi'ah mengadu domba kaum Muslimin dan memusuhi Ahlussunnah wal Jama'ah"
Ahmad : "Wahabi dan Syi'ah sama-sama pengadu domba. Kami menyebut Wahabi karena kalian memang wahabi, dan kami menyebut Syi'ah karena mereka memang Syi'ah. Bukan memusuhi Ahlussunnah wal Jama'ah karena kami Ahlussunnah wal Jama'ah menentang Wahabi dan Syi'ah. Sedangkan kalian bukan Ahlussunnah wal Jama'ah".

Abu Umar : "Jangan lagi sebut Wahabi !"
Ahmad : "Katakan itu kepada ulama Wahabi, sebab mereka bangga dengan sebutan Wahabi, lalu kenapa kalian malu dan enggan disebut Wahabi?!! "


Dialog Imajiner oleh Ibnu L' Rabassa

Link Terkait :
Cover kitab yang pertama kali menggunakan istilah Wahabi dan membantah Wahabi. Dikarang oleh Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab al-Najdi al-Hanbali


Thursday, February 19, 2015

Melafadhkan Niat Menjelang Shalat, Dialog Imajiner

Muslimedianews.com ~ Dalam sebuah pertemuan, Ahmad (santri) terlibat obrolan dengan seorang bernama Rendy. Rendy memulai obrolan tentang melafadhkan niat, lalu dijelaskan dan diluruskan oleh Ahmad.

Rendy : "Bro, ada kerancuan tersebar di masyarakat?"
Ahmad : "Kerancuan apa?"

Rendy : "Katanya shalat harus melafadhkan niat Bro".
Ahmad : "Itu bukan keharusan saudaraku. Kalau melafadhkan niat itu termasuk keharusan berarti masuk kedalam rukun shalat atau fardlu shalat. Rukun shalat yang diajarkan kepada masyarakat dari dulu-dulu tidak terdapat "melafadhkan niat". Sebab melafadhkan niat itu termasuk hal yang dianjurkan sebelum atau menjelang shalat, bukan termasuk rukun/fardlu shalat.

Konsekuensi dari suatu keharusan itu bila tidak dikerjakan maka shalatnya tidak sah. Tetapi bila termasuk kesunnahan, meskipun tidak dikerjakan maka shalat tetap sah".

Ahmad lalu balik bertanya.

Ahmad : "Rukun shalat ada berapa saudaraku?"
Rendy : "$##$#%$$$#$&^$".

Rendy bingung tidak tahu jumlah rukun shalat, mau jawab pun bingung.

Rendy : "Mengeraskan melafadhkan niat itu mengganggu ma'mun lain"
Ahmad : "Kalau yang dimaksud mengeraskan itu berteriak (raf'ush shaut), memang bisa saja menggangu ma'mun lain, tetapi bila sekedar menjaharkan saja, tidak pernah ada makmum yang merasa terganggu. Saya pun tidak merasa terganggu sama sekali".

Rendy : "Ada pula yang mengulang takbiratul Ihram dengan alasan niatnya takut tertolak".
Ahmad : "Itu biasanya karena mereka was-was. Bila ada orang yang memiliki penyakit was-was, justru ulama menganjurkan untuk melafadhkan niat, salah satunya untuk menghindari was-was".

Rendy : "Mayoritas ulama menentang adanya melafadhkan niat"
Ahmad : "Mayoritas ulama yang mana saudaraku?"
Rendy : "%$$^^%$#$#%^^^%$$##" (bingung lagi)

Ahmad akhirnya menjelaskan panjang lebar.

Ahmad : "Mayoritas ulama justru menganjurkan melafadhkan niat. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili didalam kitabnya al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu menyebutkan,

لكن يسن عند الجمهور غير المالكية التلفظ بها لمساعدة القلب على استحضارها، ليكون النطق عوناً على التذكر، والأولى عند المالكية: ترك التلفظ بها
"Tetapi disunnahkan melafadhkan niat menurut jumhur atau mayoritas ulama, kecuali ulama Malikiyah. Melafadhkan niat itu bertujuan untuk membantu menghadirkan niat didalam hati, agar ucapan (lisan) membantu mengingat (memantapkan hati). Tetapi yang utama menurut ulama Malikiyah : meninggalkan melafadhkan niat"

Jadi, dalam hal melafadhkan niat ini, mayoritas ulama (Hanafi, Syafi'i, Hanbali, dan lain-lain) itu justru menganjurkan (mensunnahkan). Kecuali ulama Malikiyah tidak melafadhkan niat. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa ada pula ulama Malikiyah yang menganjurkan (mensunnahkan) melafadhkan niat bila memiliki penyakit was-was.

Simak baik-baik ya saudaraku.! Imam Ad-Dardir al-Maliki didalam kitabnya al-Syarh al-Kabiir mengatakan

(ولفظه) أي تلفظ المصلي بما يفيد النية كأن يقول نويت صلاة فرض الظهر مثلا (واسع) أي جائز بمعنى خلاف الأولى. والأولى أن لا يتلفظ لأن النية محلها القلب ولا مدخل للسان فيها
"Melafadhkan niat, yaitu orang yang shalat (mushalli) mengucapkan niat, seperti (misalnya) mengucapkan Nawaitu Shalata Fardlidh Dhuhri (Aku niat shalat Fardlu Dhuhur) atau semacamnya, itu wasi' maksudnya jaiz (boleh), dengan pengertian menyelisihi yang aula (khilaful aula). Sedangkan yang aula (lebih utama) adalah tidak melafadhkannya karena niat tempatnya didalam hati dan bukan bagian dari amaliyah lisan".

Keterangan dalam kitab al-Syarh al-Kabiir ini diperjelas lagi oleh ulama Maliki lainnya yaitu Imam Ad-Dusuqi dalam kitabnya yang dikenal dengan Hasyiyah al-Dasuqi ala al-Syarhi al-Kabiir, sebagai berikut

(قوله: بمعنى خلاف الأولى) لكن يستثنى منه الموسوس فإنه يستحب له التلفظ بما يفيد النية ليذهب عنه اللبس
Redaksi ucapan: "Dengan pengertian menyelisihi yang utama (khilaful aula)", tetapi pengecualian bagi orang yang was-was maka disunnahkan baginya melafadhkan niat untuk menghilangkan kebingungan darinya".

Paham ya... !"

Rendy : "Ooo.. ternyata mayoritas ulama mensunnahkan, dan ulama Maliki pun mengatakan boleh, bahkan mensunnahkan juga bagi orang yang was-was. Kok kamu tahu sedetail itu Bro!

Ahmad : "Aku hanya ikut kyai saudara... (ikut ngaji)"

Dialog Imajiner oleh Ibnu L' Rabassa,

tulisan orang yang tidak mengerti shalat