Ibnu L' Rabassa
OPINION
Opinion
Showing posts with label Imajiner. Show all posts
Showing posts with label Imajiner. Show all posts
Thursday, May 02, 2019
-
Thursday, May 02, 2019
Edit this post
Ibnu L' Rabassa
Tuesday, July 03, 2018
-
Tuesday, July 03, 2018
Edit this post
Prof. Nadirsyah Hosen (Gus Nadir)
Saturday, April 29, 2017
-
Saturday, April 29, 2017
Edit this post
Muslimedianews.com ~
"Aku malu jadi warga NU sekarang".
"Kenapa memangnya?"
"NU sekarang tidak kayak NU zaman Mbah Hasyim dulu, sekarang NU disusupi Syiah, liberal, komunis bahkan sangat dekat dengan non muslim. Kalau Zamannya Mbah Hasyim kan masih murni, lurus, tidak disusupi macam-macam".
"Emang kamu pernah hidup dan merasakan NU di masa Mbah Hasyim?"
"Nggak juga sih".
"Makanya jangan sok tahu dan termakan fitnah dan isu tidak benar".
"Kamu tahu kan Jepang itu penjajah yang menyembah matahari?"
"Kalau itu tahu lah, kan banyak di tulis di buku sejarah".
"Kamu tahu nggak, NU nya Mbah Hasyim itu malah menginstruksikan santri-santri untuk latihan militer dengan Jepang. Bahkan Mbah Hasyim jadi Ketua Shumubu atau menteri agamanya Jepang. Padahal kan Jepang kafir, penjajah lagi. Dan ternyata NU nya Mbah Hasyim bisa kok bersikap kooperatif dengan Jepang".
"Masa Sih?"
"Iya, Dan kamu tahu nggak kalau Mbah Wahab Hasbullah itu pernah dicap Kiai Komunis loh karena bersikap kooperatif dengan Bung Karno dalam Nasakom nya (berbeda dengan Masyumi yang memilih keluar)".
"Masa sih?"
"Iya, itulah siyasah, strategi dakwah, lihatlah dampaknya, dengan kooperatif kepada Jepang akhirnya bangsa Indonesia dapat bertempur dengan baik dan akhirnya merdeka. Dengan kooperatif kepada Bung Karno yang dekat komunis akhirnya umat Islam terselamatkan dari bahaya komunis bahkan atas saran NU, akhirnya Bung Karno tidak jadi Membubarkan HMI".
"Gitu ya?"
"Jadi NU Mbah Hasyim dan NU sekarang itu tetap sama, membela Islam dan Indonesia, bukan salah satunya, Islam saja atau Indonesia saja, Karena kalau membela salah satunya akan bisa memunculkan perang antar anak bangsa yang akhirnya ibadah jadi tidak nyaman dan selalui dihantui ketakutan".
"Oo gitu ya? Kalau begitu aku tidak malu lagi jadi NU, aku akan Bangga jadi NU".
"Makanya jangan percaya isu, fitnah atau hoax yang menjelekkan NU, belum apa-apa sudah nuduh macem-macem pada NU sekarang, kita nggak tahu yang sebenarnya, kita hanya tahu dari berita, medsos yang belum tentu benarnya, sebaiknya kita Husnudzon saja kepada penggede NU".
"Kenapa memangnya?"
"NU sekarang tidak kayak NU zaman Mbah Hasyim dulu, sekarang NU disusupi Syiah, liberal, komunis bahkan sangat dekat dengan non muslim. Kalau Zamannya Mbah Hasyim kan masih murni, lurus, tidak disusupi macam-macam".
"Emang kamu pernah hidup dan merasakan NU di masa Mbah Hasyim?"
"Nggak juga sih".
"Makanya jangan sok tahu dan termakan fitnah dan isu tidak benar".
"Kamu tahu kan Jepang itu penjajah yang menyembah matahari?"
"Kalau itu tahu lah, kan banyak di tulis di buku sejarah".
"Kamu tahu nggak, NU nya Mbah Hasyim itu malah menginstruksikan santri-santri untuk latihan militer dengan Jepang. Bahkan Mbah Hasyim jadi Ketua Shumubu atau menteri agamanya Jepang. Padahal kan Jepang kafir, penjajah lagi. Dan ternyata NU nya Mbah Hasyim bisa kok bersikap kooperatif dengan Jepang".
"Masa Sih?"
"Iya, Dan kamu tahu nggak kalau Mbah Wahab Hasbullah itu pernah dicap Kiai Komunis loh karena bersikap kooperatif dengan Bung Karno dalam Nasakom nya (berbeda dengan Masyumi yang memilih keluar)".
"Masa sih?"
"Iya, itulah siyasah, strategi dakwah, lihatlah dampaknya, dengan kooperatif kepada Jepang akhirnya bangsa Indonesia dapat bertempur dengan baik dan akhirnya merdeka. Dengan kooperatif kepada Bung Karno yang dekat komunis akhirnya umat Islam terselamatkan dari bahaya komunis bahkan atas saran NU, akhirnya Bung Karno tidak jadi Membubarkan HMI".
"Gitu ya?"
"Jadi NU Mbah Hasyim dan NU sekarang itu tetap sama, membela Islam dan Indonesia, bukan salah satunya, Islam saja atau Indonesia saja, Karena kalau membela salah satunya akan bisa memunculkan perang antar anak bangsa yang akhirnya ibadah jadi tidak nyaman dan selalui dihantui ketakutan".
"Oo gitu ya? Kalau begitu aku tidak malu lagi jadi NU, aku akan Bangga jadi NU".
"Makanya jangan percaya isu, fitnah atau hoax yang menjelekkan NU, belum apa-apa sudah nuduh macem-macem pada NU sekarang, kita nggak tahu yang sebenarnya, kita hanya tahu dari berita, medsos yang belum tentu benarnya, sebaiknya kita Husnudzon saja kepada penggede NU".
Wednesday, February 03, 2016
-
Wednesday, February 03, 2016
Edit this post
Oleh: Dedik Priyanto, alumni Pondok Pesantren Attanwir Talun, Sumberrejo Bojonegoro. Aktif di The Wahid Institute.
Friday, January 29, 2016
-
Friday, January 29, 2016
Edit this post
Oleh: Kuswaidi Syafiie, 28 Januari 2016.
Monday, January 04, 2016
-
Monday, January 04, 2016
Edit this post
Sumber: Ajie Najmuddin/ Redaksi NU Online.
Sunday, December 27, 2015
-
Sunday, December 27, 2015
Edit this post
Thursday, August 13, 2015
-
Thursday, August 13, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh, karena pada saat jam 09.00 (9 pagi) terdengar adzan berkumandang dari sebuah mushalla setempat melalui pengeras suara yang memecah keheningan.
Warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya. Mbah mansur, suaranya sudah dikenal dikampung itu, umurnya sudah mencapai kepala tujuh.
Warga dipenuhi pertanyaan, mengapa Mbah mansur adzan pada jam 9 pagi..??
Ketika warga sampai di pintu mushalla, Mbah mansur baru selesai adzan dan mematikan sound system.
“Mbah tahu gak, jam berapa sekarang..??” kata Pak RT.
“Adzan apa jam segini, Mbah..??”
“Jangan-jangan Mbah sudah ikut aliran sesat,” sambar Roso dengan nada prihatin.
"Sekarang banyak betul aliran macam-macam".
“Ah, dasar Mbah mansur sudah gila".
“Kalau nggak gila, mana mungkin adzan jam segini..??”
“Kalian ini ......,” jawab Mbah mansur tenang. “Tadi, waktu saya adzan subuh, tidak seorang pun yang datang ke musholla. Sekarang saya adzan jam 9 pagi, kalian malah berbondong-bondong ke mushalla. Satu kampung lagi...!!! Kalo gitu... SIAPA YANG GILA....???”
Warga pun pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang kemudian menjauh perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Mbah mansur.
***
Mari introspeksi diri. Dipanggil dan diingatkan yang baik-baik kadag-kadang kita tidak mau mendengarkan. Tetapi begitu ada kesempatan mem-bodoh-bodohkan dan memarahi orang, kita menyempatkan diri.
Astagfirullah Al'adziim
Warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya. Mbah mansur, suaranya sudah dikenal dikampung itu, umurnya sudah mencapai kepala tujuh.
Warga dipenuhi pertanyaan, mengapa Mbah mansur adzan pada jam 9 pagi..??
“Mbah tahu gak, jam berapa sekarang..??” kata Pak RT.
“Adzan apa jam segini, Mbah..??”
“Jangan-jangan Mbah sudah ikut aliran sesat,” sambar Roso dengan nada prihatin.
"Sekarang banyak betul aliran macam-macam".
“Ah, dasar Mbah mansur sudah gila".
“Kalau nggak gila, mana mungkin adzan jam segini..??”
“Kalian ini ......,” jawab Mbah mansur tenang. “Tadi, waktu saya adzan subuh, tidak seorang pun yang datang ke musholla. Sekarang saya adzan jam 9 pagi, kalian malah berbondong-bondong ke mushalla. Satu kampung lagi...!!! Kalo gitu... SIAPA YANG GILA....???”
Warga pun pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang kemudian menjauh perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Mbah mansur.
***
Mari introspeksi diri. Dipanggil dan diingatkan yang baik-baik kadag-kadang kita tidak mau mendengarkan. Tetapi begitu ada kesempatan mem-bodoh-bodohkan dan memarahi orang, kita menyempatkan diri.
Astagfirullah Al'adziim
Tuesday, June 23, 2015
-
Tuesday, June 23, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Dialog antara Hizbut Tahrir (Liberal) dengan Hizbut Tahlil (Ahlussunnah Wal-Jama’ah).
Tahrir: “Akhi mengapa antum tidak mau ikut Hizbut Tahrir yang memperjuangkan tegaknya syari’ah dan khilafah?”
Tahlil: “Siapa pendiri Hizbut Tahrir?”
Tahrir: “Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani, seorang mujtahid muthlaq.”
Tahlil: “Kalau menurut saya sih, Taqiyuddin al-Nabhani bukan mujtahid muthlaq dalam artian seperti Imam al-Syafi’i dan selevel beliau rahimahullah.”
Tahrir: “Terus mujtahid muthlaq dalam artian bagaimana?.”
Tahlil: “Muthlaq dalam artian kebebasan dan liberal.”
Tahrir: “Kok bisa begitu?”
Tahlil: “Ya di antara cici khas liberal kan membolehkan hukum yang dilarang syari’at.”
Tahrir: “Mana buktinya beliau membolehkan hukum yang dilarang syari’at?”
Tahlil: “Beliau membolehkan meraba dan menggerayangi tubuh wanita asal tidak syahwat. Juga membolehkan menjabat tangan wanita asal tidak syahwat.”
Tahrir: “Di mana itu?”
Tahlil: “Dalam kitab al-Nizham al-Ijtima’i fil al-Islam, yang dikutip oleh salah seorang pengagumnya, yang berinisial RAW, dalam buku liberalnya. Taqiyuddin al-Nabhani berkata:
أَنَّ لَمْسَهُنَّ (النِّسَاءِ) بِغَيْرِ شَهْوَةٍ لَيْسَ حَرَامًا
“Sesungguhnya menyentuh (meraba atau menggerayangi) tubuh kaum wanita, dengan tanpa syahwat, adalah tidak haram.”
Tahrir: “Kok liberal sekali ya, pendiri Hizbut Tahrir. Tapi RAW kok tidak merasa kalau itu ajaran liberal. Malah dia berteriak liberal pada orang lain yang memerangi liberal?”
Tahlil: “Ya begitulah para ustadz pengikut Hizbut Tahrir. Semoga Allah memberikan hidayah dan membuka hati mereka untuk keluar dari Hizbut Tahrir yang menyebarkan ajaran liberal dan kembali ke Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Amin.”
Tahrir: “Akhi mengapa antum tidak mau ikut Hizbut Tahrir yang memperjuangkan tegaknya syari’ah dan khilafah?”
Tahlil: “Siapa pendiri Hizbut Tahrir?”
Tahrir: “Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani, seorang mujtahid muthlaq.”
Tahlil: “Kalau menurut saya sih, Taqiyuddin al-Nabhani bukan mujtahid muthlaq dalam artian seperti Imam al-Syafi’i dan selevel beliau rahimahullah.”
Tahrir: “Terus mujtahid muthlaq dalam artian bagaimana?.”
Tahlil: “Muthlaq dalam artian kebebasan dan liberal.”
Tahrir: “Kok bisa begitu?”
Tahlil: “Ya di antara cici khas liberal kan membolehkan hukum yang dilarang syari’at.”
Tahrir: “Mana buktinya beliau membolehkan hukum yang dilarang syari’at?”
Tahlil: “Beliau membolehkan meraba dan menggerayangi tubuh wanita asal tidak syahwat. Juga membolehkan menjabat tangan wanita asal tidak syahwat.”
Tahrir: “Di mana itu?”
Tahlil: “Dalam kitab al-Nizham al-Ijtima’i fil al-Islam, yang dikutip oleh salah seorang pengagumnya, yang berinisial RAW, dalam buku liberalnya. Taqiyuddin al-Nabhani berkata:
أَنَّ لَمْسَهُنَّ (النِّسَاءِ) بِغَيْرِ شَهْوَةٍ لَيْسَ حَرَامًا
“Sesungguhnya menyentuh (meraba atau menggerayangi) tubuh kaum wanita, dengan tanpa syahwat, adalah tidak haram.”
Tahrir: “Kok liberal sekali ya, pendiri Hizbut Tahrir. Tapi RAW kok tidak merasa kalau itu ajaran liberal. Malah dia berteriak liberal pada orang lain yang memerangi liberal?”
Tahlil: “Ya begitulah para ustadz pengikut Hizbut Tahrir. Semoga Allah memberikan hidayah dan membuka hati mereka untuk keluar dari Hizbut Tahrir yang menyebarkan ajaran liberal dan kembali ke Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Amin.”
Oleh : Ust. Muhammad Idrus Ramli
Wednesday, May 20, 2015
-
Wednesday, May 20, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Ramai dunia media sosial menanggapi tilawah langgam jawa yang beberapa waktu lalu dilantunkan di istana ternyata juga menjadi pembicaraan para remaja Islam.
Seorang seorang remaja bernama Eko turut mengecam pembacaan al_Qur'an dengan langgam budaya tersebut. Ia menganggapnya sebagai pelecahan terhadap al-Qur'an.
"Tilawal al-Qur'an langgam jawa itu konyol, pelecehan terhadap kesucian Al_Qur'an", ujar Eko.
Ahmad yang kebetulan berada disamping Eko ikut menyahut. "Mengapa bisa begitu akhi?", tanya Ahmad.
Eko : "Langgam diluar arab itu harom, dosa, bisa murtad, kafir, liberal"
Ahmad : "Alasannya akhi...?"
Eko : "Pokoknya begitu! terasa asing ditelinga"
Ahmad : "Yang benar bagaimana akhi?"
Eko : "Pakai langgam Arab!"
Ahmad : "Contoh langgam Arab?"
Eko : "%$%^%$$#^%^%" (diam nggak bisa jawab)
Ahmad pun lalu menjelaskan bahwa sejarah cara melantunkan Al-Quran asalnya dari Iran. Banyak orang Arab yang banyak belajar ke Parsi, Iran. Mekipun ada banyak cara membaca tetapi yang biasa dikenal ada 7, ada yang menyebut 10, 14 dan sebagainya.
Ahmad : "Akhi baca Qur'an baca langgam (irama) apa?"
Eko : "^^%&^%$#$$%"(diam lagi, karena tidak mengerti langgam).
Eko mulai salah tingkah karena dia mengaji al-Qur'an tanpa mengetahui langgam yang digunakan. Eko mulai berkeringat, raut wajahnya mulai nampak malu.
Ahmad : "Qira'ah Arba'a 'Asyarah, qira'ah 'Asyarah, qira'ah Sab'ah, mana yang biasa akhi pakai?"
Eko : "^^%$$$$%" (tambah tidak mengerti)
Ahmad : "Akhi ngaji Al-Qur'an sama siapa? Diajari langgam apa?"
Eko : "%%%$#$#@#%$%"
Ahmad : "Akhi, nun mati bertemu dengan ra' dibaca apa?"
Eko : "^^%$%%$" (pucat)
Ahmad : "Macam-macam mad ada berapa?"
Eko : "^%^%%^%" (tambah pucat).
Ahmad hendak melanjutkan pertanyaannya, tetapi Eko yang nampak tidak tenang akhirnya pamit pergi.
Eko : "Ana sakit perut, pamit dulu. Assalamu'alaikum"
Ahmad : "Wa'alaykumussalam".
Seorang seorang remaja bernama Eko turut mengecam pembacaan al_Qur'an dengan langgam budaya tersebut. Ia menganggapnya sebagai pelecahan terhadap al-Qur'an.
"Tilawal al-Qur'an langgam jawa itu konyol, pelecehan terhadap kesucian Al_Qur'an", ujar Eko.
Ahmad yang kebetulan berada disamping Eko ikut menyahut. "Mengapa bisa begitu akhi?", tanya Ahmad.
Eko : "Langgam diluar arab itu harom, dosa, bisa murtad, kafir, liberal"
Ahmad : "Alasannya akhi...?"
Eko : "Pokoknya begitu! terasa asing ditelinga"
Eko : "Pakai langgam Arab!"
Ahmad : "Contoh langgam Arab?"
Eko : "%$%^%$$#^%^%" (diam nggak bisa jawab)
Ahmad pun lalu menjelaskan bahwa sejarah cara melantunkan Al-Quran asalnya dari Iran. Banyak orang Arab yang banyak belajar ke Parsi, Iran. Mekipun ada banyak cara membaca tetapi yang biasa dikenal ada 7, ada yang menyebut 10, 14 dan sebagainya.
Ahmad : "Akhi baca Qur'an baca langgam (irama) apa?"
Eko : "^^%&^%$#$$%"(diam lagi, karena tidak mengerti langgam).
Eko mulai salah tingkah karena dia mengaji al-Qur'an tanpa mengetahui langgam yang digunakan. Eko mulai berkeringat, raut wajahnya mulai nampak malu.
Ahmad : "Qira'ah Arba'a 'Asyarah, qira'ah 'Asyarah, qira'ah Sab'ah, mana yang biasa akhi pakai?"
Eko : "^^%$$$$%" (tambah tidak mengerti)
Ahmad : "Akhi ngaji Al-Qur'an sama siapa? Diajari langgam apa?"
Eko : "%%%$#$#@#%$%"
Ahmad : "Akhi, nun mati bertemu dengan ra' dibaca apa?"
Eko : "^^%$%%$" (pucat)
Ahmad : "Macam-macam mad ada berapa?"
Eko : "^%^%%^%" (tambah pucat).
Ahmad hendak melanjutkan pertanyaannya, tetapi Eko yang nampak tidak tenang akhirnya pamit pergi.
Eko : "Ana sakit perut, pamit dulu. Assalamu'alaikum"
Ahmad : "Wa'alaykumussalam".
Imajiner : Ibnu L' Rabassa
Thursday, May 14, 2015
-
Thursday, May 14, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ "Setelah menyimak, mengkaji dan merenungi pendapat-pendapat pengikut anda mengenai Tahlilan yang dianggap bid'ah sesat maka saya tidak mau lagi Tahlilan", ujar seorang santri bernama Ahmad kepada seorang ustadz Wahhabi bernama Abu .
"Akhirnya antum sadar", tanggap Ust Abu.
"Terima kasih ustad Abu", ucap Ahmad.
"Daripada Tahlilan, lebih baik membaca al-Qur'an dan dzikir", saran ust. Abu kepada Ahmad.
"Na'am, mulai sekarang saya tidak mau lagi tahlilan. Sebagai gantinya maka saya lebih baik membaca ayat-ayat Quran, dzikir dan shalawat", ucap Ahmad dengan penuh semangat.
Sementara Ust. Abu terlihat senang karena Ahmad telah meninggalkan tradisi Tahlilan, tetapi beberapa saat kemudian muka Ust. Abu berubah kecut setelah Ahmad melanjutkan perkataannya.
Ahmad berkata lagi:
"Saya akan baca al-Qur'an, mulai surah Al Fatihah, kemudian beberapa surah/ayat ayat pilihan : al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 5 الم ذلك الكتاب ..., al-Baqarah ayat 163 والهكم إله واحد ..., al-Baqarah ayat 255 الله لاإله إلا هو الحي القيوم ..., al-Baqarah dari ayat 284 sampai ayat 286 لله مافي السموات ..., al-Ahzab ayat 33 إنما يريد الله ..., al-Ahzab ayat 56 إن الله وملائكته يصلون على النبي ..., dan diselingi bacaan antara shalawat, istighfar, tahlil da tasbih, dan lain-lai, surah al-Baqarah ayat 286 pada bacaan :واعف عنا واغفر لنا وارحمنا, al-Hud ayat 73: ارحمنا ياأرحم الراحمين, dilanjutkan dengan shalawat Nabi, keluarga Nabi dan sahabat Nabi; istighfar, membanyak baca kalimat Thayyibah لاإله إلاالله, Tasbih dan do'a kepada Allah".
"Akhirnya antum sadar", tanggap Ust Abu.
"Terima kasih ustad Abu", ucap Ahmad.
"Na'am, mulai sekarang saya tidak mau lagi tahlilan. Sebagai gantinya maka saya lebih baik membaca ayat-ayat Quran, dzikir dan shalawat", ucap Ahmad dengan penuh semangat.
Sementara Ust. Abu terlihat senang karena Ahmad telah meninggalkan tradisi Tahlilan, tetapi beberapa saat kemudian muka Ust. Abu berubah kecut setelah Ahmad melanjutkan perkataannya.
Ahmad berkata lagi:
"Saya akan baca al-Qur'an, mulai surah Al Fatihah, kemudian beberapa surah/ayat ayat pilihan : al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 5 الم ذلك الكتاب ..., al-Baqarah ayat 163 والهكم إله واحد ..., al-Baqarah ayat 255 الله لاإله إلا هو الحي القيوم ..., al-Baqarah dari ayat 284 sampai ayat 286 لله مافي السموات ..., al-Ahzab ayat 33 إنما يريد الله ..., al-Ahzab ayat 56 إن الله وملائكته يصلون على النبي ..., dan diselingi bacaan antara shalawat, istighfar, tahlil da tasbih, dan lain-lai, surah al-Baqarah ayat 286 pada bacaan :واعف عنا واغفر لنا وارحمنا, al-Hud ayat 73: ارحمنا ياأرحم الراحمين, dilanjutkan dengan shalawat Nabi, keluarga Nabi dan sahabat Nabi; istighfar, membanyak baca kalimat Thayyibah لاإله إلاالله, Tasbih dan do'a kepada Allah".
red. Ibnu Manshur, via fb Von Edison Alouici
Thursday, April 30, 2015
-
Thursday, April 30, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Lokalisasi prostitusi di Jakarta?
"Dulu ada Kramat Tunggak, lalu ditutup jadi Islamic Center... Kemudian bertebaran pusat-pusat prostitusi di Jakarta, dari pinggir jalan, kos-kosan, apartemen, losmen, diskotik, panti pijat, hingga hotel esek-esek per-jam.... Mau dilokalisasi atau tidak, prostitusi tetap subur bak jamur di musim hujan...
Manusia-manusia Jakarta memang butuh prostitusi... Ada bisnis, ada pula hasrat melampiaskan syahwat seksual di luar ikatan perkawinan... Ada faktor ekonomi, trauma keluarga broken-home, dan ada pula faktor kota metropolitan yg menawarkan kultur bebas seperti itu, tanpa kontrol moral lagi... semua nafsi-nafis, lu-lu, gue-gue ..."
"Lalu apa solusinya dong untuk lepas dari bisnis ma'siyat itu??", tanya seorang santri.
"Perlukah khilafah kata HTI?", tanya santri lainnya.
"Syariat Islam diberlakukan gaya kelompok wahabi? Negara diislamkan?"
"Pendekatan masalah prostitusi harus pakai pendekatan sufi...Baca kitab al-Hikam... "Ma'shiyatun awratsat dzullan wahtiqaran khairun min tha'atin awratsat izzan wastikbaran.. Itu cara membaca fenomena prostitusi".
"Maksudnya kiai?"
"Dalam sejarah nabi-nabi, prostitusi juga ada... Bukan menghapus prostitusi, karena itu seperti virus... susah dibasmi.. Yg penting adalah memberi antidot-nya, yaitu mengajak pelaku prostitusi untuk tobat... dengan memberi contoh cerita seorang perempuan PSK yg diampuni dosanya setelah menyelamatkan seekor anjing yg kehausan."
Sementara yg doyan "jajan" akan dilatih tirakat dan mujahadah, untuk berlatih mengekang nafsu.. Ketiga, bangunan keluarga juga harus dijaga...Anak-anak harus mendapat benteng moral yg kukuh, dan itu dimulai dari lingkungan keluarga yg harmonis mawaddah wa rahmah".
"Apakah itu efektif kiai?"
"Itulah tantangan dakwah...mau kerja keras turun ke masyarakat, masuk ke sarang ma'siyat, mengingatkan orang, mengajak, merangkul, lalu memanusiakan mereka menuju sesuatu yg halalan thayyiban... ini pendekatan yg menuntut kesabaran tinggi dan butuh tenaga ekstra...namanya juga misi nabi...
Atau mau pakai cara palu godam, sekali pukul, habisi sekalian mereka, dengan gaya ISIS? lantas agamawannya duduk enak-enak berleha-leha, seolah urusan beres semua....??
Tunggu saatnya pelaku bisnis ma'siyat akan menyerang balik, dan agama pun kemudian diinjak-injak seakan jadi barang rongsokan....
Iblis itu makhluk halus.. dia gak sakit dipukul pakai palu godam atau pakai nuklir sekalipun... Iblis hanya akan tunduk kalau para agamawan merangkul murid-murid Iblis ke jalan yg benar dengan kasih dan sayang..dengan pendekatan zullan wahtiqaran...bukan arogansi dan keangkuhan religiusitas..."
"Dulu ada Kramat Tunggak, lalu ditutup jadi Islamic Center... Kemudian bertebaran pusat-pusat prostitusi di Jakarta, dari pinggir jalan, kos-kosan, apartemen, losmen, diskotik, panti pijat, hingga hotel esek-esek per-jam.... Mau dilokalisasi atau tidak, prostitusi tetap subur bak jamur di musim hujan...
Manusia-manusia Jakarta memang butuh prostitusi... Ada bisnis, ada pula hasrat melampiaskan syahwat seksual di luar ikatan perkawinan... Ada faktor ekonomi, trauma keluarga broken-home, dan ada pula faktor kota metropolitan yg menawarkan kultur bebas seperti itu, tanpa kontrol moral lagi... semua nafsi-nafis, lu-lu, gue-gue ..."
"Perlukah khilafah kata HTI?", tanya santri lainnya.
"Syariat Islam diberlakukan gaya kelompok wahabi? Negara diislamkan?"
"Pendekatan masalah prostitusi harus pakai pendekatan sufi...Baca kitab al-Hikam... "Ma'shiyatun awratsat dzullan wahtiqaran khairun min tha'atin awratsat izzan wastikbaran.. Itu cara membaca fenomena prostitusi".
"Maksudnya kiai?"
"Dalam sejarah nabi-nabi, prostitusi juga ada... Bukan menghapus prostitusi, karena itu seperti virus... susah dibasmi.. Yg penting adalah memberi antidot-nya, yaitu mengajak pelaku prostitusi untuk tobat... dengan memberi contoh cerita seorang perempuan PSK yg diampuni dosanya setelah menyelamatkan seekor anjing yg kehausan."
Sementara yg doyan "jajan" akan dilatih tirakat dan mujahadah, untuk berlatih mengekang nafsu.. Ketiga, bangunan keluarga juga harus dijaga...Anak-anak harus mendapat benteng moral yg kukuh, dan itu dimulai dari lingkungan keluarga yg harmonis mawaddah wa rahmah".
"Apakah itu efektif kiai?"
"Itulah tantangan dakwah...mau kerja keras turun ke masyarakat, masuk ke sarang ma'siyat, mengingatkan orang, mengajak, merangkul, lalu memanusiakan mereka menuju sesuatu yg halalan thayyiban... ini pendekatan yg menuntut kesabaran tinggi dan butuh tenaga ekstra...namanya juga misi nabi...
Atau mau pakai cara palu godam, sekali pukul, habisi sekalian mereka, dengan gaya ISIS? lantas agamawannya duduk enak-enak berleha-leha, seolah urusan beres semua....??
Tunggu saatnya pelaku bisnis ma'siyat akan menyerang balik, dan agama pun kemudian diinjak-injak seakan jadi barang rongsokan....
Iblis itu makhluk halus.. dia gak sakit dipukul pakai palu godam atau pakai nuklir sekalipun... Iblis hanya akan tunduk kalau para agamawan merangkul murid-murid Iblis ke jalan yg benar dengan kasih dan sayang..dengan pendekatan zullan wahtiqaran...bukan arogansi dan keangkuhan religiusitas..."
Oleh : Ahmad Baso, 28 April 2015
Wednesday, April 29, 2015
-
Wednesday, April 29, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Sekalipun sudah 3 tahun tinggal di perumahan 'Salafi', Ning Sringatun tidak mau mengubah namanya menjadi nama Islami seperti Ayesha ('Aisyah), Hamidah, Selma (Salmah), Istiqomah, Faizah, Nafidah, dll. Ning Sringatun bahkan bersikukuh bahwa nama Sringatun adalah pen-Jawa-an kata Arab: Syari'atun.
Yang bikin tetangga-tetangga jengkel, Ning Sringatun tidak mau merubah cara mengajinya yang ndeso dan tidak Islami, di mana lafadz 'Ayn diucapkan Ngain sehingga kata 'Alamiin menjadi Ngalamiin, Na'im menjadi Nangim, 'Aliim menjadi Ngaliim, 'Ulama menjadi Ngulama, dll. Meski sudah diancam bahwa bacaan Al-Qur'annya tertolak karena tidak sesuai lafadz Qur'an sehingga di akhirat kelak akan masuk neraka, tetap saja Ning Sringatun kesulitan mengubah lidahnya dan tetap saja mengaji dengan lafadz ndeso.
Yang membuat para tetangga marah, Ning Sringatun menolak tegas untuk mengubah panggilan ibu dari kelima orang anaknya menjadi panggilan umi. Berkali-kali tetangga mengingatkan agar Ning Sringatun menyuruh anak-anaknya untuk memanggilnya dengan sebutan Umi dan bukan Ibu, karena sebutan Umi lebih Islami.
Marah dan jengkel dengan tetangga yang keras kepala, waktu pengajian Ahad pagi ustadz Dul Wahhab di hadapan jama'ah menanyai keengganan Ning Sringatun menyuruh anak-anaknya untuk memanggilnya dengan sebutan Umi. "Sampeyan tidak punya alasan untuk mengubah sebutan Ibu menjadi Umi yang lebih Islami. Kenapa sampeyan masih ngeyel?"
"Anak saya lima orang, ustadz," sahut Ning Sringatun kalem,"Mereka semua saya teteki dengan ASI, termasuk anak bungsu yang berusia 10 bulan. Mereka semua saya beri asupan gizi dengan minum ASI - Air Susu Ibu."
"Apa hubungan meneteki anak dengan ASI dan sebutan Umi?" tukas ustadz Dul Wahhab jengkel, mengira Ning Sringatun mencari-cari alasan.
"Anu ustadz, anu," sahut Ning Sringatun menahan geli,"Kalau anak-anak saya harus memanggil saya dengan sebutan Umi, maka saya tidak lagi meneteki mereka dengan ASI,...tapi meneteki dengan ASU. Sungguh saya tidak ridho memberi makan anak dengan hewan najis."
Yang bikin tetangga-tetangga jengkel, Ning Sringatun tidak mau merubah cara mengajinya yang ndeso dan tidak Islami, di mana lafadz 'Ayn diucapkan Ngain sehingga kata 'Alamiin menjadi Ngalamiin, Na'im menjadi Nangim, 'Aliim menjadi Ngaliim, 'Ulama menjadi Ngulama, dll. Meski sudah diancam bahwa bacaan Al-Qur'annya tertolak karena tidak sesuai lafadz Qur'an sehingga di akhirat kelak akan masuk neraka, tetap saja Ning Sringatun kesulitan mengubah lidahnya dan tetap saja mengaji dengan lafadz ndeso.
Marah dan jengkel dengan tetangga yang keras kepala, waktu pengajian Ahad pagi ustadz Dul Wahhab di hadapan jama'ah menanyai keengganan Ning Sringatun menyuruh anak-anaknya untuk memanggilnya dengan sebutan Umi. "Sampeyan tidak punya alasan untuk mengubah sebutan Ibu menjadi Umi yang lebih Islami. Kenapa sampeyan masih ngeyel?"
"Anak saya lima orang, ustadz," sahut Ning Sringatun kalem,"Mereka semua saya teteki dengan ASI, termasuk anak bungsu yang berusia 10 bulan. Mereka semua saya beri asupan gizi dengan minum ASI - Air Susu Ibu."
"Apa hubungan meneteki anak dengan ASI dan sebutan Umi?" tukas ustadz Dul Wahhab jengkel, mengira Ning Sringatun mencari-cari alasan.
"Anu ustadz, anu," sahut Ning Sringatun menahan geli,"Kalau anak-anak saya harus memanggil saya dengan sebutan Umi, maka saya tidak lagi meneteki mereka dengan ASI,...tapi meneteki dengan ASU. Sungguh saya tidak ridho memberi makan anak dengan hewan najis."
Oleh : Agus Sunyoto
MENGUBAH ASI (AIR SUSU IBU) DENGAN ASU
Imajiner
Thursday, April 23, 2015
-
Thursday, April 23, 2015
Edit this post
Muslmedianews.com ~ IKUT LOGIKA TAHLIL BOLEH TAHLILAN TIDAK BOLEH
Kamis pagi bakda Subuh, pada Kultum (Kuliah Tujuh Menit) di Mushola al-Manaar, Sufi Gendeng yang ikut mendengar ceramah ustadz Dul Wahhab membikin gempar jama'ah. Pasalnya, saat ustadz Dul Wahhab menyatakan bahwa Tahlilan dan Yasinan adalah perbuatan bid'ah dengan penjelasan bahwa TAHLIL itu diperbolehkan karena maksudnya membaca ikrar Tauhid meng-Esa-kan Allah. Tapi kegiatan TAHLILAN itu tidak boleh karena tidak ada contoh dari Rasulullah Saw. Begitu juga membaca YASIN itu boleh karena itu ayat Al-Qur'an. Tapi YASINAN itu tidak boleh karena tidak ada contoh dari Rasulullah Saw. Baik TAHLILAN maupun YASINAN tidak boleh.
Mendengar uraian
ustadz Dul Wahhab, Sufi Gendeng tiba-tiba berdiri dan berseru
lantang,"Berarti TAHLIL boleh TAHLIL-AN tidak boleh. Baca YASIN boleh
tapi YASIN-AN tidak boleh, begitukah logikanya ustadz?"
"Ya seperti itu logikanya," sahut ustadz Dul Wahhab menegaskan,"TAHLIL boleh TAHLIL-AN tidak boleh. Baca YASIN boleh tapi YASIN-AN tidak boleh!"
"Saya setuju logika sampeyan ustadz," sergah Sufi Gendeng melepas sarung sambil berkata lantang,"SARUNG boleh SARUNG-an tidak boleh!"
Ustadz Dul Wahhab tersentak kaget. Jama'ah juga terkejut.
"Sekarang saya masih pakai KATOK (celana pendek)," kata Sufi Gendeng melepas celana dalam sambil berkata,"KATOK boleh tapi KATOK-AN tidak boleh!"
Kamis pagi bakda Subuh, pada Kultum (Kuliah Tujuh Menit) di Mushola al-Manaar, Sufi Gendeng yang ikut mendengar ceramah ustadz Dul Wahhab membikin gempar jama'ah. Pasalnya, saat ustadz Dul Wahhab menyatakan bahwa Tahlilan dan Yasinan adalah perbuatan bid'ah dengan penjelasan bahwa TAHLIL itu diperbolehkan karena maksudnya membaca ikrar Tauhid meng-Esa-kan Allah. Tapi kegiatan TAHLILAN itu tidak boleh karena tidak ada contoh dari Rasulullah Saw. Begitu juga membaca YASIN itu boleh karena itu ayat Al-Qur'an. Tapi YASINAN itu tidak boleh karena tidak ada contoh dari Rasulullah Saw. Baik TAHLILAN maupun YASINAN tidak boleh.
"Ya seperti itu logikanya," sahut ustadz Dul Wahhab menegaskan,"TAHLIL boleh TAHLIL-AN tidak boleh. Baca YASIN boleh tapi YASIN-AN tidak boleh!"
"Saya setuju logika sampeyan ustadz," sergah Sufi Gendeng melepas sarung sambil berkata lantang,"SARUNG boleh SARUNG-an tidak boleh!"
Ustadz Dul Wahhab tersentak kaget. Jama'ah juga terkejut.
"Sekarang saya masih pakai KATOK (celana pendek)," kata Sufi Gendeng melepas celana dalam sambil berkata,"KATOK boleh tapi KATOK-AN tidak boleh!"
Oleh : Agus Sunyotohttps://www.facebook.com/photo.php?fbid=684433641679324&set=a.115057525283608.16660.100003380826863&type=1
Wednesday, April 22, 2015
-
Wednesday, April 22, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Suatu ketika Titto, pengikut Wahhabi gerah dengan orang-orang yang menyebutnya pengikut Wahhabi. Titto tidak senang dengan sebutan Wahabi meskipun ia memang pengikut Wahabi.
Titto : "Kenapa setiap muslim yang beribadah dan beraqidah seperti Rasulullah selalu digelari Wahabi?"
Ahmad : "Tidak semua, hanya segelintir aja. Mayoritas umat Islam didunia ini bukan Wahabi. Mereka juga giat beribadah tetapi bukan Wahabi."
Titto diam, karena tahu kalau mayoritas umat Islam bukan Wahabi, tetapi Ahlussunnah wal Jama'ah Asy'ariyah dan Maturidiyah.
Titto : "Kenapa ane disebut Wahabi hanya karena ane tidak yasinan, yahlilan, maulidan, shalawatan, istighotsahan, tidak bakar menyan, tabarruk, dan lain-lain".
Ahmad : "Orang yang tidak melakuka semua itu belum tentu Wahhabi, tetapi terindikasi sebagai Wahhabi. Apalagi kalau membid'ah dan mensesatkan semuanya. Anta tidak membid'ahkan, mensesatkan dan mensyirikkan amaliyah tersebut kan?"
Titto : "Semua itu amaliyah bid'ah sesat syirik dan mengantarkan kepada neraka, kekal selama-lamanya, lebih buruk dari berzina".
Ahmad : "Kalau gitu anta memang Wahhabi"
Titto : (Diam, karena terbongkar sebagai Wahabi)
Ahmad : "Tidak Yasinan dll tidak apa-apa, tapi jangan mengganggu umat Islam yang mengamalkan amaliyah diatas, semuanya itu ada dasarnya dalam Islam. Kalau ingin tahu dasarnya, bisa kita bedah satu persatu. Yang penting mengerti dulu ilmu tentang sumber hukum Islam. Satu hal lagi, aqidah Wahhabi berbeda dengan Rasulullah, sebagian bahkan mujassimah (menjisim-kan Allah)".
Titto masih diam tetapi terlihat geram, karena merasa ditantang membedah amaliyah yang dibid'ahkan oleh dirinya, tetapi tidak kurang memiliki pengetahui tentang kaidah-kaidah hukum didalam Islam.
Link Terkait :
Titto : "Kenapa setiap muslim yang beribadah dan beraqidah seperti Rasulullah selalu digelari Wahabi?"
Ahmad : "Tidak semua, hanya segelintir aja. Mayoritas umat Islam didunia ini bukan Wahabi. Mereka juga giat beribadah tetapi bukan Wahabi."
Titto diam, karena tahu kalau mayoritas umat Islam bukan Wahabi, tetapi Ahlussunnah wal Jama'ah Asy'ariyah dan Maturidiyah.
Ahmad : "Orang yang tidak melakuka semua itu belum tentu Wahhabi, tetapi terindikasi sebagai Wahhabi. Apalagi kalau membid'ah dan mensesatkan semuanya. Anta tidak membid'ahkan, mensesatkan dan mensyirikkan amaliyah tersebut kan?"
Titto : "Semua itu amaliyah bid'ah sesat syirik dan mengantarkan kepada neraka, kekal selama-lamanya, lebih buruk dari berzina".
Ahmad : "Kalau gitu anta memang Wahhabi"
Titto : (Diam, karena terbongkar sebagai Wahabi)
Ahmad : "Tidak Yasinan dll tidak apa-apa, tapi jangan mengganggu umat Islam yang mengamalkan amaliyah diatas, semuanya itu ada dasarnya dalam Islam. Kalau ingin tahu dasarnya, bisa kita bedah satu persatu. Yang penting mengerti dulu ilmu tentang sumber hukum Islam. Satu hal lagi, aqidah Wahhabi berbeda dengan Rasulullah, sebagian bahkan mujassimah (menjisim-kan Allah)".
Titto masih diam tetapi terlihat geram, karena merasa ditantang membedah amaliyah yang dibid'ahkan oleh dirinya, tetapi tidak kurang memiliki pengetahui tentang kaidah-kaidah hukum didalam Islam.
DIALOG IMAJINER
Link Terkait :
- Kebohongan tentang Nisbat Wahhabi
- Benarkah Abdul Wahhab bin Abdirrhaman Rustum Pendiri Wahabi?
- Apa Beda Wahhabiyyah dan Wahbiyyah ?
- Apakah Anda Juga Bangga Disebut Wahabi?
- Mengapa Enggan Disebut Wahabi ?
- Apa Menggelari Wahabi Berarti Membantu Syi'ah ?
- Kitab Pertama Ulama Indonesia yang Mengkritik Wahabi
Friday, March 06, 2015
-
Friday, March 06, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Ahmad (seorang santri) berjalan kaki hendak pulang ke rumah. Ia usai mengikuti kegiatan tahlilan yang digelar oleh tetangga untuk anggota keluarga mereka yang meninggal dunia. Di perjalanan pulang, Ahmad berpapasan dengan Mishbahul Khoir, panggilannya Misbah, seorang yang dulunya mahasiswa yang terpengaruh wahabi karena kesombongannya.
Misbah : "Datang tahlilan Bro?"
Ahmad : "Iya, ada tetangga baru meninggal 2 hari yang lalu".
Misbah : "Orang meninggal itu dido'akan, bukan di Tahlilin"
Ahmad : "didalam kegiatan Tahlilan juga berdo'a".
Misbah : "tapi ada ritual menghadiahkan pahalanya Bro!"
Ahmad : "Menghadiahkan pahala menurut ulama boleh dan sampai!"
Misbah : "Pendirimu NU KH Hasyim Asy'hari lo nda melakukan ritual tahlilan. lah, ente2 ngapain melakukan praktek tahlilan."
Ahmad : "Kata siapa dan tau darimana?".
Misbah : "^%^$#^^#^$#%$# ^%$#@". (nggak bisa jawab)
Ahmad : "Katakan saja saudaraku, tau darimana ?"
Setelah didesak, akhirnya Misbah dengan malu-malu mengatakan bahwa informasi itu ia dapat dari bacaan di Internet. Dengan menarik nafas, Ahmad lalu memberkan penjelasan.
Ahmad : "Bila menemukan orang-orang yang mengatakan atau menemukan tulisan yang menyatakan Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari melarang tahlilan atau menolak tahlilan, itu dusta saudaraku..! Jangan membenarkan kedustaan dan jangan bela kedustaan.. Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari tidak pernah melarang tahlilan. Beliau menerangkannya didalam kitabnya, Risalah Ahlisunnah wal Jamaah hal. 8 :
فَإِذَا عَرَفْتَ مَا ذُكِرَ تَعْلَمُ أَنَّ مَا قِيْلَ أَنَّهُ بِدْعَةٌ كَاتِّخَاذِ السَّبْحَةِ وَالتَّلَفُّظِ بِالنِّيَةِ وَالتَّهْلِيْلِ عِنْدَ التَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيِّتِ مَعَ عَدَمِ الْمَانِعِ عَنْهُ وَزِيَارَةِ الْقُبُوْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَيْسَ بِبِدْعَةٍ وَإِنَّ مَا أُحْدِثَ مِنْ أَخْذِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاَسْوَاقِ اللَّيْلِيَّةِ وَاللَّعْبِ بِالْكُوْرَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ شَرِّ الْبِدَعِ
Artinya adalah Jika anda mengetahui apa yang telah disebutkan (tentang 5 macam Bid’ah), maka anda akan mengetahui tentang tuduhan “Ini adalah bid’ah”, seperti menggunakan tasbih, mengucapkan niat, tahlil ketika sedekah untuk mayit dengan menghindari hal-hal yang dilarang, ziarah kubur dan sebagainya, bukanlah bid’ah. Sedangkan memungut uang dari orang-orang di pasar malam dan permainan kerasukan adalah bid’ah yang paling buruk”
Misbah : "^%$%$$#@#$#^%$". (merasa salah dan malu)
Ahmad : "Itu yang beliau jelaskan didalam kitabnya. Pada zaman Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, masyarakat sudah terbiasa tahlilan. Justru ketika muncul aliran (kelompok) yang menolak praktek itu, maka Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan para ulama lainnya bereaksi menentang mereka. Panjang kalau cerita sejarah. Gampangnya lihat keluarga Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari sampai sekarang masih ada. Mereka lebih tahu kehidupan kakek mereka, dan mereka tahlilan. Karena itu memang tradisi umat Islam, tradisi Nahdlatul Ulama".
Misbah : "Datang tahlilan Bro?"
Ahmad : "Iya, ada tetangga baru meninggal 2 hari yang lalu".
Misbah : "Orang meninggal itu dido'akan, bukan di Tahlilin"
Ahmad : "didalam kegiatan Tahlilan juga berdo'a".
Misbah : "tapi ada ritual menghadiahkan pahalanya Bro!"
Ahmad : "Menghadiahkan pahala menurut ulama boleh dan sampai!"
Misbah : "Pendirimu NU KH Hasyim Asy'hari lo nda melakukan ritual tahlilan. lah, ente2 ngapain melakukan praktek tahlilan."
Ahmad : "Kata siapa dan tau darimana?".
Misbah : "^%^$#^^#^$#%$# ^%$#@". (nggak bisa jawab)
Ahmad : "Katakan saja saudaraku, tau darimana ?"
Setelah didesak, akhirnya Misbah dengan malu-malu mengatakan bahwa informasi itu ia dapat dari bacaan di Internet. Dengan menarik nafas, Ahmad lalu memberkan penjelasan.
Ahmad : "Bila menemukan orang-orang yang mengatakan atau menemukan tulisan yang menyatakan Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari melarang tahlilan atau menolak tahlilan, itu dusta saudaraku..! Jangan membenarkan kedustaan dan jangan bela kedustaan.. Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari tidak pernah melarang tahlilan. Beliau menerangkannya didalam kitabnya, Risalah Ahlisunnah wal Jamaah hal. 8 :
فَإِذَا عَرَفْتَ مَا ذُكِرَ تَعْلَمُ أَنَّ مَا قِيْلَ أَنَّهُ بِدْعَةٌ كَاتِّخَاذِ السَّبْحَةِ وَالتَّلَفُّظِ بِالنِّيَةِ وَالتَّهْلِيْلِ عِنْدَ التَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيِّتِ مَعَ عَدَمِ الْمَانِعِ عَنْهُ وَزِيَارَةِ الْقُبُوْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَيْسَ بِبِدْعَةٍ وَإِنَّ مَا أُحْدِثَ مِنْ أَخْذِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاَسْوَاقِ اللَّيْلِيَّةِ وَاللَّعْبِ بِالْكُوْرَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ شَرِّ الْبِدَعِ
Artinya adalah Jika anda mengetahui apa yang telah disebutkan (tentang 5 macam Bid’ah), maka anda akan mengetahui tentang tuduhan “Ini adalah bid’ah”, seperti menggunakan tasbih, mengucapkan niat, tahlil ketika sedekah untuk mayit dengan menghindari hal-hal yang dilarang, ziarah kubur dan sebagainya, bukanlah bid’ah. Sedangkan memungut uang dari orang-orang di pasar malam dan permainan kerasukan adalah bid’ah yang paling buruk”
Misbah : "^%$%$$#@#$#^%$". (merasa salah dan malu)
Ahmad : "Itu yang beliau jelaskan didalam kitabnya. Pada zaman Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, masyarakat sudah terbiasa tahlilan. Justru ketika muncul aliran (kelompok) yang menolak praktek itu, maka Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan para ulama lainnya bereaksi menentang mereka. Panjang kalau cerita sejarah. Gampangnya lihat keluarga Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari sampai sekarang masih ada. Mereka lebih tahu kehidupan kakek mereka, dan mereka tahlilan. Karena itu memang tradisi umat Islam, tradisi Nahdlatul Ulama".
Dialog Imajiner oleh Ibnu L' Rabassa
Saturday, February 21, 2015
-
Saturday, February 21, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Ahmad (santri) lagi duduk santai disebuah kursi paling kanan dalam sebuah acara seminar keislaman. Disamping Ahmad ternyata ada Abu Umar (pengikut Wahabi) yang tidak mau disebut Wahabi. Ntah ada angin apa, tiba-tiba Abu Umar memulai perbincangan dengan Ahmad.
Abu Umar : "Masih menggelari Salafi dengan sebutan Wahabi Bro?"
Ahmad : "Kita tidak menggelari Salafi dengan Wahabi. Salafi yang asli bukan Wahabi"
Abu Umar : "Kok kalian menyebut kami Wahabi?"
Ahmad : "Kalian memang Wahabi, bukan Salafi".
Abu Umar : "Kami Salafi, pengikut Salafush Shaleh".
Ahmad : "Itu hanya klaim palsu kalian. Siapa salaf yang kalian ikuti?"
Abu Umar : "Syaikh Nashiruddin al-Albani, Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Shalih al-Fauzan, Syaikh Rabi' al-Madkhali, Syaikh Abdurrahman bin Jibrin, dan masih banyak lagi".
Ahmad : "Mereka itu bukan ulama salaf. Mereka ulama kemaren sore. Ulama salaf itu seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Sufyan al-Tsauri, Imam Ma'ruf Al-Kurkhi, Imam Hasan al-Bashri, dan masih banyak lagi. Mereka hidup pada tiga kurun pertama Islam".
Abu Umar : "Sebutan Wahabi itu berasal dari musuh Islam".
Ahmad : "Musuh Islam yang mana?"
Abu Umar : "berasal Kafir dan Syi'ah"
Ahmad : "Saudaraku Abu Umar..! Anda salah besar. Sebutan Wahabi itu pertama kali dimunculkan oleh Syaikh Sulamain bin Abdul Wahab al-Hanbali. Beliau adalah kakak kandung dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau menulis kitab berjudul al-Shawaiq al-Ilahiyyah fi Raddi alal Wahhabiyah dalam rangka membantah dan meluruskan ajaran menyimpang adiknya itu".
Abu Umar hanya bisa diam mendengarkan penjelasan Ahmad dan menyadari kesalahannya mengenai asal muasal sebutan Wahabi. Ahmad pun melanjutkan penjelasannya.
Ahmad : "Jadi, sebutan wahhabi bukan berasal dari orang diluar Islam dan bukan berasal dari Syi'ah. Tetapi berasal dari orang Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, dari kalangan ulama Hanbali, dari keluarganya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sendiri. Lalu ulama Ahlussunnah wal Jama'ah lainnya mengikuti dan menggunakan sebutan itu".
Abu Umar : "Kami tidak mau disebut Wahabi"
Ahmad : "Tetapi ulama Wahabi mengakui sebutan itu. Misalnya ulama Wahabi Dr. Muhammad Khalil Al-Harras menulis buku berjudul "al-Harakah al-Wahhabiyyah", artinya Gerakan Wahabi. Wahhabi di Qatar, Ahmad bin Hajar Al Buthami Al bin Ali menulis sebuah buku berjudul "as Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab ‘Aqidatuh as Salafiyyah Wa Da’watuh al Islamiyyah" dengan bangga memakai dan menuliskan nama Wahhabi didalam kitabnya".
Abu Umar: "Menyebut kami sebagai Wahabi berarti membantu Syi'ah mengadu domba kaum Muslimin dan memusuhi Ahlussunnah wal Jama'ah"
Ahmad : "Wahabi dan Syi'ah sama-sama pengadu domba. Kami menyebut Wahabi karena kalian memang wahabi, dan kami menyebut Syi'ah karena mereka memang Syi'ah. Bukan memusuhi Ahlussunnah wal Jama'ah karena kami Ahlussunnah wal Jama'ah menentang Wahabi dan Syi'ah. Sedangkan kalian bukan Ahlussunnah wal Jama'ah".
Abu Umar : "Jangan lagi sebut Wahabi !"
Ahmad : "Katakan itu kepada ulama Wahabi, sebab mereka bangga dengan sebutan Wahabi, lalu kenapa kalian malu dan enggan disebut Wahabi?!! "
Link Terkait :
Abu Umar : "Masih menggelari Salafi dengan sebutan Wahabi Bro?"
Ahmad : "Kita tidak menggelari Salafi dengan Wahabi. Salafi yang asli bukan Wahabi"
Abu Umar : "Kok kalian menyebut kami Wahabi?"
Ahmad : "Kalian memang Wahabi, bukan Salafi".
Abu Umar : "Kami Salafi, pengikut Salafush Shaleh".
Ahmad : "Itu hanya klaim palsu kalian. Siapa salaf yang kalian ikuti?"
Abu Umar : "Syaikh Nashiruddin al-Albani, Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Shalih al-Fauzan, Syaikh Rabi' al-Madkhali, Syaikh Abdurrahman bin Jibrin, dan masih banyak lagi".
Ahmad : "Mereka itu bukan ulama salaf. Mereka ulama kemaren sore. Ulama salaf itu seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Sufyan al-Tsauri, Imam Ma'ruf Al-Kurkhi, Imam Hasan al-Bashri, dan masih banyak lagi. Mereka hidup pada tiga kurun pertama Islam".
Abu Umar : "Sebutan Wahabi itu berasal dari musuh Islam".
Ahmad : "Musuh Islam yang mana?"
Abu Umar : "berasal Kafir dan Syi'ah"
Ahmad : "Saudaraku Abu Umar..! Anda salah besar. Sebutan Wahabi itu pertama kali dimunculkan oleh Syaikh Sulamain bin Abdul Wahab al-Hanbali. Beliau adalah kakak kandung dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau menulis kitab berjudul al-Shawaiq al-Ilahiyyah fi Raddi alal Wahhabiyah dalam rangka membantah dan meluruskan ajaran menyimpang adiknya itu".
Abu Umar hanya bisa diam mendengarkan penjelasan Ahmad dan menyadari kesalahannya mengenai asal muasal sebutan Wahabi. Ahmad pun melanjutkan penjelasannya.
Ahmad : "Jadi, sebutan wahhabi bukan berasal dari orang diluar Islam dan bukan berasal dari Syi'ah. Tetapi berasal dari orang Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, dari kalangan ulama Hanbali, dari keluarganya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sendiri. Lalu ulama Ahlussunnah wal Jama'ah lainnya mengikuti dan menggunakan sebutan itu".
Abu Umar : "Kami tidak mau disebut Wahabi"
Ahmad : "Tetapi ulama Wahabi mengakui sebutan itu. Misalnya ulama Wahabi Dr. Muhammad Khalil Al-Harras menulis buku berjudul "al-Harakah al-Wahhabiyyah", artinya Gerakan Wahabi. Wahhabi di Qatar, Ahmad bin Hajar Al Buthami Al bin Ali menulis sebuah buku berjudul "as Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab ‘Aqidatuh as Salafiyyah Wa Da’watuh al Islamiyyah" dengan bangga memakai dan menuliskan nama Wahhabi didalam kitabnya".
Abu Umar: "Menyebut kami sebagai Wahabi berarti membantu Syi'ah mengadu domba kaum Muslimin dan memusuhi Ahlussunnah wal Jama'ah"
Ahmad : "Wahabi dan Syi'ah sama-sama pengadu domba. Kami menyebut Wahabi karena kalian memang wahabi, dan kami menyebut Syi'ah karena mereka memang Syi'ah. Bukan memusuhi Ahlussunnah wal Jama'ah karena kami Ahlussunnah wal Jama'ah menentang Wahabi dan Syi'ah. Sedangkan kalian bukan Ahlussunnah wal Jama'ah".
Abu Umar : "Jangan lagi sebut Wahabi !"
Ahmad : "Katakan itu kepada ulama Wahabi, sebab mereka bangga dengan sebutan Wahabi, lalu kenapa kalian malu dan enggan disebut Wahabi?!! "
Dialog Imajiner oleh Ibnu L' Rabassa
Link Terkait :
- Abdul Wahhab bin Rustum Pengikut Wahbiyyah bukan Pendirinya
- Antara Wahhabiyyah, Wahbiyyah, Ibnu Rustum dan Ulama Wahhabi
- Apakah Anda Juga Bangga Disebut Wahabi?
![]() |
| Cover kitab yang pertama kali menggunakan istilah Wahabi dan membantah Wahabi. Dikarang oleh Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab al-Najdi al-Hanbali |
Thursday, February 19, 2015
-
Thursday, February 19, 2015
Edit this post
Muslimedianews.com ~ Dalam sebuah pertemuan, Ahmad (santri) terlibat obrolan dengan seorang bernama Rendy. Rendy memulai obrolan tentang melafadhkan niat, lalu dijelaskan dan diluruskan oleh Ahmad.
Rendy : "Bro, ada kerancuan tersebar di masyarakat?"
Ahmad : "Kerancuan apa?"
Rendy : "Katanya shalat harus melafadhkan niat Bro".
Ahmad : "Itu bukan keharusan saudaraku. Kalau melafadhkan niat itu termasuk keharusan berarti masuk kedalam rukun shalat atau fardlu shalat. Rukun shalat yang diajarkan kepada masyarakat dari dulu-dulu tidak terdapat "melafadhkan niat". Sebab melafadhkan niat itu termasuk hal yang dianjurkan sebelum atau menjelang shalat, bukan termasuk rukun/fardlu shalat.
Konsekuensi dari suatu keharusan itu bila tidak dikerjakan maka shalatnya tidak sah. Tetapi bila termasuk kesunnahan, meskipun tidak dikerjakan maka shalat tetap sah".
Ahmad lalu balik bertanya.
Ahmad : "Rukun shalat ada berapa saudaraku?"
Rendy : "$##$#%$$$#$&^$".
Rendy bingung tidak tahu jumlah rukun shalat, mau jawab pun bingung.
Rendy : "Mengeraskan melafadhkan niat itu mengganggu ma'mun lain"
Ahmad : "Kalau yang dimaksud mengeraskan itu berteriak (raf'ush shaut), memang bisa saja menggangu ma'mun lain, tetapi bila sekedar menjaharkan saja, tidak pernah ada makmum yang merasa terganggu. Saya pun tidak merasa terganggu sama sekali".
Rendy : "Ada pula yang mengulang takbiratul Ihram dengan alasan niatnya takut tertolak".
Ahmad : "Itu biasanya karena mereka was-was. Bila ada orang yang memiliki penyakit was-was, justru ulama menganjurkan untuk melafadhkan niat, salah satunya untuk menghindari was-was".
Rendy : "Mayoritas ulama menentang adanya melafadhkan niat"
Ahmad : "Mayoritas ulama yang mana saudaraku?"
Rendy : "%$$^^%$#$#%^^^%$$##" (bingung lagi)
Ahmad akhirnya menjelaskan panjang lebar.
Ahmad : "Mayoritas ulama justru menganjurkan melafadhkan niat. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili didalam kitabnya al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu menyebutkan,
لكن يسن عند الجمهور غير المالكية التلفظ بها لمساعدة القلب على استحضارها، ليكون النطق عوناً على التذكر، والأولى عند المالكية: ترك التلفظ بها
"Tetapi disunnahkan melafadhkan niat menurut jumhur atau mayoritas ulama, kecuali ulama Malikiyah. Melafadhkan niat itu bertujuan untuk membantu menghadirkan niat didalam hati, agar ucapan (lisan) membantu mengingat (memantapkan hati). Tetapi yang utama menurut ulama Malikiyah : meninggalkan melafadhkan niat"
Jadi, dalam hal melafadhkan niat ini, mayoritas ulama (Hanafi, Syafi'i, Hanbali, dan lain-lain) itu justru menganjurkan (mensunnahkan). Kecuali ulama Malikiyah tidak melafadhkan niat. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa ada pula ulama Malikiyah yang menganjurkan (mensunnahkan) melafadhkan niat bila memiliki penyakit was-was.
Simak baik-baik ya saudaraku.! Imam Ad-Dardir al-Maliki didalam kitabnya al-Syarh al-Kabiir mengatakan
(ولفظه) أي تلفظ المصلي بما يفيد النية كأن يقول نويت صلاة فرض الظهر مثلا (واسع) أي جائز بمعنى خلاف الأولى. والأولى أن لا يتلفظ لأن النية محلها القلب ولا مدخل للسان فيها
"Melafadhkan niat, yaitu orang yang shalat (mushalli) mengucapkan niat, seperti (misalnya) mengucapkan Nawaitu Shalata Fardlidh Dhuhri (Aku niat shalat Fardlu Dhuhur) atau semacamnya, itu wasi' maksudnya jaiz (boleh), dengan pengertian menyelisihi yang aula (khilaful aula). Sedangkan yang aula (lebih utama) adalah tidak melafadhkannya karena niat tempatnya didalam hati dan bukan bagian dari amaliyah lisan".
Keterangan dalam kitab al-Syarh al-Kabiir ini diperjelas lagi oleh ulama Maliki lainnya yaitu Imam Ad-Dusuqi dalam kitabnya yang dikenal dengan Hasyiyah al-Dasuqi ala al-Syarhi al-Kabiir, sebagai berikut
(قوله: بمعنى خلاف الأولى) لكن يستثنى منه الموسوس فإنه يستحب له التلفظ بما يفيد النية ليذهب عنه اللبس
Redaksi ucapan: "Dengan pengertian menyelisihi yang utama (khilaful aula)", tetapi pengecualian bagi orang yang was-was maka disunnahkan baginya melafadhkan niat untuk menghilangkan kebingungan darinya".
Paham ya... !"
Rendy : "Ooo.. ternyata mayoritas ulama mensunnahkan, dan ulama Maliki pun mengatakan boleh, bahkan mensunnahkan juga bagi orang yang was-was. Kok kamu tahu sedetail itu Bro!
Ahmad : "Aku hanya ikut kyai saudara... (ikut ngaji)"
Rendy : "Bro, ada kerancuan tersebar di masyarakat?"
Ahmad : "Kerancuan apa?"
Rendy : "Katanya shalat harus melafadhkan niat Bro".
Ahmad : "Itu bukan keharusan saudaraku. Kalau melafadhkan niat itu termasuk keharusan berarti masuk kedalam rukun shalat atau fardlu shalat. Rukun shalat yang diajarkan kepada masyarakat dari dulu-dulu tidak terdapat "melafadhkan niat". Sebab melafadhkan niat itu termasuk hal yang dianjurkan sebelum atau menjelang shalat, bukan termasuk rukun/fardlu shalat.
Konsekuensi dari suatu keharusan itu bila tidak dikerjakan maka shalatnya tidak sah. Tetapi bila termasuk kesunnahan, meskipun tidak dikerjakan maka shalat tetap sah".
Ahmad lalu balik bertanya.
Ahmad : "Rukun shalat ada berapa saudaraku?"
Rendy : "$##$#%$$$#$&^$".
Rendy bingung tidak tahu jumlah rukun shalat, mau jawab pun bingung.
Rendy : "Mengeraskan melafadhkan niat itu mengganggu ma'mun lain"
Ahmad : "Kalau yang dimaksud mengeraskan itu berteriak (raf'ush shaut), memang bisa saja menggangu ma'mun lain, tetapi bila sekedar menjaharkan saja, tidak pernah ada makmum yang merasa terganggu. Saya pun tidak merasa terganggu sama sekali".
Rendy : "Ada pula yang mengulang takbiratul Ihram dengan alasan niatnya takut tertolak".
Ahmad : "Itu biasanya karena mereka was-was. Bila ada orang yang memiliki penyakit was-was, justru ulama menganjurkan untuk melafadhkan niat, salah satunya untuk menghindari was-was".
Rendy : "Mayoritas ulama menentang adanya melafadhkan niat"
Ahmad : "Mayoritas ulama yang mana saudaraku?"
Rendy : "%$$^^%$#$#%^^^%$$##" (bingung lagi)
Ahmad akhirnya menjelaskan panjang lebar.
Ahmad : "Mayoritas ulama justru menganjurkan melafadhkan niat. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili didalam kitabnya al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu menyebutkan,
لكن يسن عند الجمهور غير المالكية التلفظ بها لمساعدة القلب على استحضارها، ليكون النطق عوناً على التذكر، والأولى عند المالكية: ترك التلفظ بها
"Tetapi disunnahkan melafadhkan niat menurut jumhur atau mayoritas ulama, kecuali ulama Malikiyah. Melafadhkan niat itu bertujuan untuk membantu menghadirkan niat didalam hati, agar ucapan (lisan) membantu mengingat (memantapkan hati). Tetapi yang utama menurut ulama Malikiyah : meninggalkan melafadhkan niat"
Jadi, dalam hal melafadhkan niat ini, mayoritas ulama (Hanafi, Syafi'i, Hanbali, dan lain-lain) itu justru menganjurkan (mensunnahkan). Kecuali ulama Malikiyah tidak melafadhkan niat. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa ada pula ulama Malikiyah yang menganjurkan (mensunnahkan) melafadhkan niat bila memiliki penyakit was-was.
Simak baik-baik ya saudaraku.! Imam Ad-Dardir al-Maliki didalam kitabnya al-Syarh al-Kabiir mengatakan
(ولفظه) أي تلفظ المصلي بما يفيد النية كأن يقول نويت صلاة فرض الظهر مثلا (واسع) أي جائز بمعنى خلاف الأولى. والأولى أن لا يتلفظ لأن النية محلها القلب ولا مدخل للسان فيها
"Melafadhkan niat, yaitu orang yang shalat (mushalli) mengucapkan niat, seperti (misalnya) mengucapkan Nawaitu Shalata Fardlidh Dhuhri (Aku niat shalat Fardlu Dhuhur) atau semacamnya, itu wasi' maksudnya jaiz (boleh), dengan pengertian menyelisihi yang aula (khilaful aula). Sedangkan yang aula (lebih utama) adalah tidak melafadhkannya karena niat tempatnya didalam hati dan bukan bagian dari amaliyah lisan".
Keterangan dalam kitab al-Syarh al-Kabiir ini diperjelas lagi oleh ulama Maliki lainnya yaitu Imam Ad-Dusuqi dalam kitabnya yang dikenal dengan Hasyiyah al-Dasuqi ala al-Syarhi al-Kabiir, sebagai berikut
(قوله: بمعنى خلاف الأولى) لكن يستثنى منه الموسوس فإنه يستحب له التلفظ بما يفيد النية ليذهب عنه اللبس
Redaksi ucapan: "Dengan pengertian menyelisihi yang utama (khilaful aula)", tetapi pengecualian bagi orang yang was-was maka disunnahkan baginya melafadhkan niat untuk menghilangkan kebingungan darinya".
Paham ya... !"
Rendy : "Ooo.. ternyata mayoritas ulama mensunnahkan, dan ulama Maliki pun mengatakan boleh, bahkan mensunnahkan juga bagi orang yang was-was. Kok kamu tahu sedetail itu Bro!
Ahmad : "Aku hanya ikut kyai saudara... (ikut ngaji)"
Dialog Imajiner oleh Ibnu L' Rabassa,
| tulisan orang yang tidak mengerti shalat |
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
Most Reading
-
Muslimedianews.com ~ Daftar Pustaka adalah tulisan yang tersusun di akhir sebuah karya ilmiah yang berisi nama penulis, judul tulisan, pe...
-
Muslimedianews.com ~ Menjadi orang tua bagi anak-anak sangat gampang. Ia boleh menunggu saja anak-anak keluar dari rahim istrinya atau m...
-
Muslimedianews.com ~ Footnote atau Catatan Kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab...
-
Muslimedianews.com ~ TRADISI 4 DAN 7 BULANAN KEHAMILAN Ngapati atau Ngupati adalah upacara selamatan ketika kehamilan menginjak pada us...
-
Muslimedianews.com ~ Kitab Fathul Izar adalah karya ulama Nusantara, KH. Abdullah Fauzi Pasuruan. Menerangkan tentang perihal nikah dan...
-
Muslimedianews.com ~ Dalam salah satu tulisannya yang membahas mengenai melihat gambar porno atau melihat gambar aurat wanita, DPP Hizbu...
-
Muslimedianews ~ KH. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits d...
-
Muslimedianews.com ~ Seorang polisi, seharusnya memiliki sikap yang bijak dan memiliki jiwa pengayom masyarakat, serta memahami sejarah ne...
-
Muslimedianews.com ~ Muharram merupakan bulan pertama dalam tahun Islam (Hijrah). Sebelum Hijrah Rasulallah dari Mekah ke Yathrib kiraan...











