BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

OPINION

Opinion
Showing posts with label Khazanah. Show all posts
Showing posts with label Khazanah. Show all posts

Sunday, November 24, 2019

Perihal Penolakan Rencana Tabligh di Masjid Jogokariyan



Oleh: KH. Imam Jazuli. Lc., MA Tak dipungkiri, banyak prestasi yang sudah ditorehkan oleh Masjid Jogokariyan. Selain terkenal dengan Kampung Ramadhannya, sebagai solusi ekonomi masyarakat yang ada di sekitar, agar keberedaan masjid dan pasar bisa bersinergi. Masjid ini juga terkenal dengan keberadaan Islamic Center-nya, dengan kegiatan pelayanan jamaah. Ada 28 divisi yang bekerja. Diantaranya biro klinik, biro kaut, dan komite aksi untuk umat. Karena itu, tak mengherakankan jika Masjid ini pernah meraih penghargaan dari gerakan indonesia beradab (GIB) mewakili institusi sosial dengan pengaruh kepemimpinan dan kaderisasi sosial. Terlepas dari banyaknya prestasi itu, ingatan publik belum sepenuhnya lupa, terkait kontroversi ditolaknya acara bertajuk Muslim United Kedua di Masjid Gedhe Kauman, Oktober lalu. Surat bernomor 0336/KH.PP/Suro.IX/WAWU.1953.2019 yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Panitraputra GKR Condrokirono ini berisi tegas penolakan permohonan Kagungan Dalem Masjid Gedhe Karaton atau Masjid Gede Kauman dan Alun-alun Utara untuk acara Muslim United. Kemudian sejumlah Ta'mir Masjid Jogokariyan turut membela. Diantara isi pembelaannya itu adalah, "Masjid milik Allah, sudah sewajarnya digunakan untuk kepentingan umat Islam." Selain itu, pihak takmir masjid Jogokariyan menilai, acara bertajuk Muslim United merupakan acara tabligh/pengajian biasa dan tak seharusnya mendapatkan penolakan darimanapun. Buntut dari penolakan ini, sebagaimana kita mafhum, acara Muslim United kemudian dipindahkan ke Masjid Jogokariyan. Perpindahan tempat acara yang digelar Forum Ukhuwah Islamiyyah (FUI) Yogyakarta ini disambut gembira oleh pengurus Masjid Jogokariyan dan para jamaahnya. Karena alasan itulah, rasanya ada yang ganjil dan sulit dipercaya saat sahabat saya, DR. KH. Aguk Irawan Mn, Lc., memposting cuitan di FB, bahwa dirinya tertolak dari rencana mengisi tabligh akbar yang diselenggarakan di Masjid yang banyak prestasi itu. "Katanya masjid itu milik Allah, ternyata untuk orang kecil seperti saya, mereka menolak. Apa saya terindikasi liberal ya?,” tulis Ustadz Aguk yang tersebar di berbagai media sosial (20/11/2019). Status cuitan di facebook Ustadz Aguk ini menanggapi sebuah pesan dari panitia tabligh akbar 2019 yang menegaskan: “Assalamu’alaikum Wr. Wb. setelah proses yang cukup alot untuk bisa meyakinkan masjid Jogokaryan ternyata kami gagal dan dengan ini kami panitia mohon maaf untuk Pak Kiai Aguk Irawan tidak jadi (batal) sebagai salah satu pembicara di acara tabligh akbar 2019 (kami sangat kecewa atas hal ini), semoga di lain waktu dan di lain tempat kita bisa bekerjasama. Terimakasih.” Tidak ada keterangan lebih sebab apa dan kenapa Ustadz/Kiai Aguk ditolak di Masjid itu. Menurut keterangan Ustadz Aguk, ketika ia dimohon panitia untuk mengisi acara di Masjid itu, sebagai santri, terlebih dulu ia harus sowan sesepuh NU untuk memohon pertimbangan. Begitu ia memutuskan bersedia sebulan yang lalu, dengan pertimbangan pentingnya ukhuwah lintas kelompok umat Islam. Juga, mengingat secara historis, dahulu tahun 1970-an dan 1980-an para Ustadz dan Kiai NU sudah terbiasa mengisi pengajian di Masjid itu, diantaranya adalah KH. Malik Madani, KH. Henry Sutopo, KH. Muhadi Zainuddin, KH. Adnan Asyhari, Ustadz Saifuddin Zuhri, Ustadz Muhamamd Ikhsan dan lain sebagainya, maka sudah selayaknya kader NU perlu merajut kembali tali silaturahmi dengan siapapun, termasuk Ta'mir Masjid Jogokariyan yang belakangan ini terkesan beda jalur perjuangan dengan NU. Sementara menurut Ta'mir Masjid Jogokariyan, dalam hal ini diwakili Ustadz Syubban Rizal N melalui klarifikasinya di berbagai media sosial (21/11/201). Tertolaknya Ustadz Aguk, karena dalam rencana satu forum panitia menjadualkan, diantaranya dengan Ustadz Sukino sebagai narasumber. Ta'mir merasa keberatan jika latar belakang Aguk yang NU bersanding dengan tokoh, bahkan pendiri MTA (Majelis Tafsir al-Qur'an). Dikhawatirkan masing-masing membawa jamaah dan bisa "mengusik" ukhuwah Islamiah. Upaya antisipasi dan pencegahan pada hal-hal yang berpotensi memecah belah umat memang patut diapresiasi, tetapi mempertemukan orang yang beda paham (aliran) dalam satu forum untuk dialog (jika memang demikian), saya kira ini langkah maju untuk solusi persaudaraan dan peradaban. Dari statemen Ustadz Syubban Rizal ini bisa ditarik kesimpulan, bahwa salah satu alasan kuat kenapa Ustadz Aguk tertolak, tidak lain karena latar belakangnya sebagai aktifis NU. Memang tidak dipungkuri, Ustadz Aguk adalah NU tulen, dia memulai sebagai pengurus NU ketika masih remaja, dan aktif di IPNU/IPPNU anak ranting di kampungnya. Kelak ketika hijrah ke Cairo-Mesir (1997/1998), ia tercatat sebagai ketua bidang organisasi PCINU Cairo. Kemudian sepulangnya ke tanah air (2002), ia juga menjadi pengurus struktural NU, mulai di PP-LKKNU Pusat, Lesbumi PWNU DIY, hingga di LT-PBNU. Selain itu, Ustadz Aguk juga tidak hanya 'berkiprah' di struktrual NU, tetapi juga banyak terlibat di kultural, terutama di LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) pada awal tahun 2000-an. Tercatat, ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ikhtilaf LKiS dan Pemimpin Redaksi Jurnal Kebudayaan Kinanah, yang awak redaksinya terdiri antara aktifis NU Mesir dan aktifis NU Yogyakkarta (IAIN Sunan Kalijaga). Dari pergaulan di LKiS inilah, saat itu dia sangat produktif menulis di sejumlah media masa. Selain artikel islam-progresif, tentu saja sastra. Namun, boleh jadi sebagian Ta'mir Masjid Jogokariyan "meragukan" kapasitas Ustadz Aguk sebagai pendakwah, mengingat tajuk acara itu adalah Tabligh Akbar 2019. Sementara nama Ustadz Aguk barangkali belum pernah mereka dengar sebagai pengisi tabligh atau mubaligh (penceramah), sebagaimana penceramah kondang yang sering mereka hadirkan, diantaranya Ustadz Sugi Nur (Gus Nur), tak terkecuali juga Ustadz Abdul Shomad, karib Ustadz Aguk itu sendiri. Bahkan di suatu pengajiannya, Ustadz Kondang ini pernah mengapresasi Ustadz Aguk, katanya; "dia hebat, penanya tajam, cerita suka duka Haji dari Embarkasi Terusan Suez itu dia rekam dalam memorinya, dia tumpahkan dalam untaian kalimat membuat pembaca terombang ambing dalam Wadi Nile dan Assalam di pelukan Laut Merah. Allah memberkahimu Tuan Aguk Irawan." Komenter ini lau diliput oleh TribunPekanbaru, Sabtu (25/08/2018). Selain sebagai penerjemah dan penulis yang produktif, Ustadz Aguk juga mendirikan Pesantren Kreatif Baitul Kilmah dan mengasuhnya. Beberapa nama penerjemah dan penulis produktif lahir dari pesantren sederhana ini, diantaranya Imam Nawawi, Muhammad Muhibuddin, A. Zainuddin, Wildan Nurrohmadlon, Moh. Irfan, Ahmad Rozi, John Afifi, Ja’far Musadad, Ali Adhim, Fuad Bawazir, Ahmad Sobirin, Abdul Aziz dan lain sebagainya. Ada ratusan judul buku yang sudah ditulis atau diterjemahkan oleh anak didiknya, kemudian terbit dan dibaca masyarakat. Selain mereka menulis atau menerjemah secara individu, ada juga karya santri berjamaah. Beberapa karya terjemahan berjilid karya pesantren ini yang perlu disebut diantaranya adalah, Kitab Karamatul Auliya’ karya Syaikh Yusuf bin Ismail Nabhani, 4 jilid. Kitab Tafsir al-Jilani, karya Syaikh Abdul al-Qadir Jaelani, 5 jilid. Kitab Hadits Shahih al-Lu’lu’ wa al-Marjan, karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, 4 jilid. Sementara untuk buku diantaranya; Ensiklopedia Pengetahuan al-Qur’an dan al-Hadist (Asbabul Nuzul dan Asbabul Wurud), 7 Jilid. Ensiklopedia Pengetahuan Sains Islami, 9 jilid dan Ensiklopedia Ulama Nusantara, 9 jilid. Buku-buku ini biasanya menjadi koleksi Masjid-Masjid, Mushalla dan perpustakaan. Semua buku tersebut bisa didapatkan melalui distributor buku Kamil Pustaka, Jakarta. Yang menarik, hasil dari penjualan karya mereka dikelola bersama untuk pembangunan dan pengembangan pesantren Baitul Kilmah di Pajangan Bantul. Karena itu tak berlebihan, media menyebut Ustadz Aguk sebagai pejuang literasi dari Pesantren. Biografi, ratusan karya dan prestasinya terekam oleh wikipedia. Tetapi masjid Jogokariyan yang punya banyak prestasi itu telah menolaknya. (wallahu'lam bishawab). *Penulis adalah alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2010-2015.

Wednesday, May 22, 2019

Belajar Mencintai Negeri Dari Rasulullah

Muslimedianews.com ~ Yatsrib yang berikutnya menjadi nama Madinatu Rasulillah, awalnya bukan kota ideal untuk hijrah. Sebab disana penuh wabah penyakit, sebagaimana tergambar dalam hadis berikut:

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﻗﺎﻟﺖ: ﻟﻤﺎ ﻗﺪﻡ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻭﻋﻚ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ، ﻭﺑﻼﻝ، ﻓﻜﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺇﺫا ﺃﺧﺬﺗﻪ اﻟﺤﻤﻰ ﻳﻘﻮﻝ:
Aisyah berkata: ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal sakit. Jika panas Abu Bakar kambuh maka beliau bersyair:

ﻛﻞ اﻣﺮﺉ ﻣﺼﺒﺢ ﻓﻲ ﺃﻫﻠﻪ ... ﻭاﻟﻤﻮﺕ ﺃﺩﻧﻰ ﻣﻦ ﺷﺮاﻙ ﻧﻌﻠﻪ
Semua orang berharap bisa bertemu dengan keluarga di pagi hari. Dan kematian terasa lebih dekat antara kaki dan alas kaki

ﻭﻛﺎﻥ ﺑﻼﻝ ﺇﺫا ﺃﻗﻠﻊ ﻋﻨﻪ اﻟﺤﻤﻰ ﻳﺮﻓﻊ ﻋﻘﻴﺮﺗﻪ ﻳﻘﻮﻝ:
Jika Bilal telah sembuh dari penyakitnya, ia bersuara dengan kencang:

ﺃﻻ ﻟﻴﺖ ﺷﻌﺮﻱ ﻫﻞ ﺃﺑﻴﺘﻦ ﻟﻴﻠﺔ ... ﺑﻮاﺩ ﻭﺣﻮﻟﻲ ﺇﺫﺧﺮ ﻭﺟﻠﻴﻞ
Apakah aku bisa merasakan lagi bermalam di sebuah lembah (Makkah), di kanan-kiri ku ada tumbuhan idzkhir dan Jalil

ﻭﻫﻞ ﺃﺭﺩﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻣﻴﺎﻩ ﻣﺠﻨﺔ ... ﻭﻫﻞ ﻳﺒﺪﻭﻥ ﻟﻲ ﺷﺎﻣﺔ ﻭﻃﻔﻴﻞ،
Apakah suatu saat aku masih bisa sampai ke sumber air Majinnah (di Makkah). Masihkah aku akan berjumpa dengan Syamah dan Thufail?

ﻗﺎﻝ: اﻟﻠﻬﻢ اﻟﻌﻦ ﺷﻴﺒﺔ ﺑﻦ ﺭﺑﻴﻌﺔ، ﻭﻋﺘﺒﺔ ﺑﻦ ﺭﺑﻴﻌﺔ، ﻭﺃﻣﻴﺔ ﺑﻦ ﺧﻠﻒ ﻛﻤﺎ ﺃﺧﺮﺟﻮﻧﺎ ﻣﻦ ﺃﺭﺿﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺽ اﻟﻮﺑﺎء،
Bilal berdoa: Ya Allah, laknat lah Syaibah, Utbah bin Rabiah dan Umayyah bin Khalaf. Sebagaimana mereka mengusir kami dari negeri kami (Makkah) ke tanah yang penuh penyakit (Yatsrib/Madinah)

ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «اﻟﻠﻬﻢ ﺣﺒﺐ ﺇﻟﻴﻨﺎ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻛﺤﺒﻨﺎ ﻣﻜﺔ ﺃﻭ ﺃﺷﺪ، اﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺻﺎﻋﻨﺎ ﻭﻓﻲ ﻣﺪﻧﺎ، ﻭﺻﺤﺤﻬﺎ ﻟﻨﺎ، ﻭاﻧﻘﻞ ﺣﻤﺎﻫﺎ ﺇﻟﻰ اﻟﺠﺤﻔﺔ»، ﻗﺎﻟﺖ: ﻭﻗﺪﻣﻨﺎ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻭﻫﻲ ﺃﻭﺑﺄ ﺃﺭﺽ اﻟﻠﻪ
Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam berdoa: "Ya Allah Jadikan kami mencintai Madinah, seperti cinta kami kepada Makkah. Atau lebihkan cinta pada Madinah. Ya Allah berkahilah timbangan dan ukuran kami. Sehatkan lah Madinah untuk kami. Pindahkan lah wabah penyakit ini ke kota Juhfah." Kata Aisyah: Madinah adalah bumi Allah yang paling banyak wabah penyakitnya (HR Bukhari)

Dari hadis ini menunjukkan bahwa Nabi dimana pun beliau hidup, selalu cinta pada negeri beliau, apakah saat di Makkah atau di Madinah.

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center PWNU Jatim

Sunday, May 19, 2019

Tafsir ayat Syukur: Bersyukur Kunci Kesuksesan

Muslimedianews.com ~ Surat Ibrahim ayat 7:

‎وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, "Sesungguh­nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Bangsa Yahudi adalah kaum yang paling banyak mendapat nikmat dari Allah namun mereka jugalah kaum yang paling tidak pandai bersyukur. Ayat di atas turun dalam konteks dialog antara Nabi Musa dan bangsa Yahudi. Allah menceritakan tentang Nabi Musa ketika ia mengingatkan kaumnya kepada hari-hari Allah yang mereka alami dan nikmat-nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada mereka. Yaitu ketika Allah menyelamatkan mereka dari cengkeraman Fir'aun dan para pengikutnya, serta dari siksaan dan penghinaan yang mereka alami. Fir'aun menyembelih anak laki-laki mereka yang dijumpainya, dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka, lalu Allah menyelamatkan mereka dari semuanya itu. Hal tersebut merupakan nikmat yang paling besar. Tetapi sayang, bangsa Yahudi melupakan semua nikmat yang Allah berikan. Mereka menjadi bangsa yang kufur nikmat.

Maka Allah ingatkan Nabi Muhammad dan umat beliau untuk pandai-pandai bersyukur. Jangan meniru kesalahan bangsa Yahudi. Inilah konteks surat Ibrahim ayat 7 di atas.

Ibn Katsir dalam kitab Tafsirnya menyodorkan kisah nyata sebagai implementasi ayat di atas:

‎وَفِي الْمُسْنَدِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِهِ سَائِلٌ فَأَعْطَاهُ تَمْرَةً، فَتَسَخَّطها وَلَمْ يَقْبَلْهَا، ثُمَّ مَرَّ بِهِ آخَرُ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا، فَقَبِلَهَا وَقَالَ: تَمْرَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَمَرَ لَهُ بِأَرْبَعِينَ دِرْهَمًا، أَوْ كَمَا قَالَ
"diriwayatkan oleh Imam Ahmad al-Musnad ada seorang pengemis yang diberi sebutir kurma oleh Nabi, namun pengemis tersebut menolak karena merasa pemberian itu hanya sebutir biji kurma. Datang pengemis lain, Nabi berikan sebutir biji kurma. Terdengar ucapan terima kasih dan rasa syukur mendapat pemberian dari Nabi meski hanya sebutir kurma. Mendengar rasa syukur pengemis kedua ini, maka Nabi tambahkan 40 dirham untuknya."

Orang yang bersyukur adalah orang yang tahu berterima kasih. Bukan sekedar banyak atau sedikitnya rejeki yang kita peroleh, tapi renungkan sejenak: yang memberi kita rejeki itu adalah Sang Maha Agung. Ini saja sudah pantas membuat kita bersyukur karena sedikit atau banyak kita masih diperhatikan dan diberi rejeki oleh Allah swt. Alhamdulillah

1. Orang yang bersyukur akan jauh lebih produktif.

Kenapa?

Karena mereka tahu memanfaatkan resources dan peluang yang ada. Orang yang selalu mengeluh akan menghabiskan waktunya menyesali diri. Berlama-lama dalam nestapa membuat kita tidak siap menangkap peluang berikutnya. Orang yang bersyukur akan memanfaatkan apa yang dimiliki saat ini, sekecil apapun itu, sebagai bekal untuk terus maju.

2. Orang yang bersyukur itu lebih bahagia dan optimis.

Sementara orang yang pesimis akan sibuk meratapi kegagalan dan nyinyir akan kesuksesan orang lain, orang yang pandai bersyukur emosinya akan lebih stabil, sigap mencari solusi, melokalisir persoalan bukan melebarkannya kemana-mana, dan taktis mengatur strategi. Dengan segala keterbatasannya, orang yang bersyukur akan membuat skala prioritas.

Siapapun tidak akan suka dengan orang yang selalu mengeluh, dan kalau dia punya problem seolah hanya dia satu-satunya di dunia orang yang punya masalah, dan semua orang harus memperhatikan masalahnya. Orang seperti ini tidak akan produktif berkarya, dan tidak akan bertambah nikmat dari Allah. Ayat di atas itu sangat nyata dan membumi.

Dalam bahasa Arab, kata "syukur" berarti membuka dan menampakkan, dan lawan katanya adalah "kufur" yang bermakna menutup dan menyembunyikan. Ini artinya hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan cara menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendakinya oleh pemberinya, juga dengan cara menyebut-nyebut pemberinya dengan baik.

Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa setiap nikmat yang dianugerahkan Allah itu semua menuntut perenungan untuk apa ia dianugerahkanNya. Lalu menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Dengan demikian, orang yang kufur terhadap nikmat Allah bukan saja tidak mengakui berbagai kenikmatan yang Allah beirkan tapi cenderung untuk menutupi dan menyembunyikannya. Itulah sebabnya Allah menegaskan,

‎وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit di antara hamba-hambaKu yang bersyukur" (QS Saba:13)

dan di ayat lain Allah berfirman,

‎ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur" (QS Yusuf:38). Naudzubillahi min dzalik.

3. Bersyukur itu manfaatnya akan kembali kepada kita.

Al-Qur’an sudah memberi sinyal yang teramat jelas:

‎وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Dalam Hadits Qudsi diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari (Sahih Muslim, Hadits No 2577)

‎«يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا،
Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalangan umat manusia dan jin semuanya memiliki kalbu seperti kalbu seseorang di antara kalian yang paling bertakwa, tiadalah hal tersebut menambahkan sesuatu dalam kerajaan-Ku barang sedikit pun

‎يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا،
Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalangan umat manusia dan jin semuanya memiliki kalbu seperti kalbu seseorang di antara kalian yang paling durhaka, hal tersebut tidaklah mengurangi sesuatu pun dalam kerajaan-Ku barang sedikit pun.

‎ يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَسَأَلُونِي،فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ المِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْر»
Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalangan umat manusia dan jin semuanya berdiri di suatu lapangan, kemudian mereka meminta kepada-Ku, lalu Aku memberi kepada setiap orang apa yang dimintanya, tiadalah hal itu mengurangi kerajaan-Ku barang sedikit pun, melainkan sebagaimana berkurangnya laut bila dimasukkan sebuah jarum ke dalamnya.

Perbendaharaan Allah amat luas. Bersyukur pada pemberianNya itu tidak akan menambah sesuatupun di sisiNya, tapi justru akan menambah rahmatNya untuk kita. Kita yang membutuhkan syukur, bukan Allah Swt.

Allah berfirman dalam QS al-Baqarah: 152

‎فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Ingatlah kepadaKu, niscaya Aku ingat kepadamu, bersyukurlah kepadaKu, dan jangan kufur (dari nikmatKu).”

Ayat ini begitu padat-bergizi menggabungkan tiga konsep sekaligus: dzikir, syukur dan kufur. Mengingat Allah (berdzikir) akan membawa kita kepada rasa syukur, sebaliknya orang yang lalai dari mengingat Allah, dimana setiap punya masalah dia menjadi kufur nikmat. Dia jadi lupa akan berbagai nikmat yang sudah Allah berikan sebelumnya.

Konsep syukur yang begitu dahsyat di atas, sayangnya begitu tiba ditengah-tengah kita menjadi dipalingkan maknanya. “Syukurin loe!” walhasil kata “syukur” berubah menjadi negatif, seolah bersyukur itu sama dengan mengejek kegagalan orang lain. Kita seolah mensyukuri kegagalan orang lain. Mungkin ini sebabnya kita sulit menjadi bangsa yang maju karena kita keliru menerapkan makna syukur.

Kita diperintah oleh Tuhan untuk menyebarkan nikmat yang kita peroleh sebagai tanda syukur (QS. al-Duha: 11). Dengan menyebarkannya, maka kita telah berbagi kebahagiaan dan energi positif ini akan menular kepada orang lain.

Tahadduts bin ni'mah ini berbeda dengan ujub, kesombongan diri atau sekadar pamer, karena niat dan tujuannya berbeda sama sekali. Apalagi, bersyukur itu tidak harus menunggu nikmat yang ‘ruaarr biasa’ (seperti kalau kita mau pamer atau menyombongkan diri). Apa yang kita raih, sekecil apapun, patut disyukuri, dan diceritakan (dengan penuh rasa syukur).

Do not underestimate what you already have (Jangan meremehkan apa yang anda miliki). Dalam bahasa agama, alhamdulillah 'ala kulli hal (Puji Tuhan dalam segala kondisi)

Tapi, alih-alih menebar energi positif, mengapa kita jutsru sering mendapati reaksi negatif dari mereka yang menerima berita baik tentang kita? Inilah penyakit kronis SMS (Senang Melihat orang lain Susah dan Susah Melihat orang lain Senang) yang harus kita lawan. Mau diartikulasikan sedemikian rupa dan mau ditutupi dengan kata-kata bersayap sekalipun, orang lain bisa merasakan kok, bagaimana reaksi negatif yang kita lontarkan.

Jadi, apa jalan keluarnya? Sederhana saja. Rasul mengingatkan, "Perumpamaan kalian dalam hal kasih sayang itu bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan, maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam" (HR Muslim). Mafhum mukhalafahnya ialah kalau ada anggota tubuh yang senang, maka sekujur tubuh juga seharusnya senang!

Karena itu, saran saya, kalau ada kawan yang dapat kenikmatan atau dapat rezeki, maka kita pun sebaiknya segera ikut bersujud syukur. Cara praktis ini bukan saja akan memadamkan penyakit hati, seperti iri hati dan dengki terhadap rezeki orang lain, tapi juga menebarkan energi positif.

“Ente yang dapat rezeki, ane bakalan ikut sujud syukur berterima kasih pada Tuhan yang telah memberi ente kenikmatan tersebut. Ente bertahadduts bin ni'mah, ane bersujud syukur. Sekarang, rasakan ademnya hati kita semua. Subhanallah!”

Imam al-Ghazali juga memgingatkan kita semua bahwa cara bersyukur kepada Allah itu lewat hati, dengan lisan dan dengan amal perbuatan. Mari kita memaafkan kesalahan hari kemarin, bersyukur pada apa yang diraih hari ini, dan berdoa untuk masa depan yang lebih baik. Itulah cara menitipi hidup menujuNya.

Tabik,
Nadirsyah Hosen

Tuesday, May 14, 2019

Maksud Istilah Aqwal, Awjuh, Thuruq, Adzhar, Masyhur, Ashhab, Madzhab dan Lainnya Didalam Madzhab Syafi'i

Muslimedianews.com ~ Istilah-istilah yang perlu diketahui adalah sebagai berikut – sebagaimana penulis olah dari kitab Al-Mu’tamad fi Fiqh Al-Syafi’i karya Syaikh Muhammad Az-Zuhaili,

الأقوال
Pertama adalah al-Aqwaal, yang secara bahasa berarti perkataan-perkataan. Istilah ini digunakan untuk perkataan-perkataan Imam Al-Syafi’i Rahimahullah. Perkataan-perkataan ini ada yang tergolong qadim (pendapat beliau sebelum berpindah ke Mesir) dan ada yang jadid (pendapat sesudah berpindah ke Mesir). Pendapat tersebut, ada yang diucapkan dalam waktu yang sama, ada yang tidak. Ada juga perkataan yang beliau kuatkan (tarjih) dan ada yang tidak.

الأوجُه
Al-awjuh adalah terminologi yang dipakai untuk pendapat para pengikut (ashhab) imam Syafi’i. Mereka menisbahkan pendapatnya kepada mazhab Syafi’i, menghasilkan suatu kesimpulan hukum berdasarkan kaidah-kaidah ushuliyah yang ditetapkan dalam mazhab Syafi’i.

الطرق
at-Thuruq adalah perbedaan pendapat para pengikut Imam Syafi’i dalam memaparkan mazhab Syafi’i. Misalnya yang satu mengatakan dalam suatu persoalan ada dua pendapat atau dua wajh, sedangkan yang lain mengatakan hanya satu pendapat/qawl atau satu wajh saja.

الأظهر
al-Azhhar adalah pendapat yang kuat dari dua atau lebih pendapat-pendapat imam Syafi’i. Pendapat yang kuat ini disebut azhhar (arti: lebih zahir, lebih sesuai kepada dalil) ketika masing-masing qaul tersebut berlandaskan kepada dalil yang kuat. Maka yang lebih kuat diantara qaul tersebut disebut azhar, sedangkan lawannya adalah dha’if (lemah) yang marjuh (tidak kuat). Biasanya, untuk menyebut pendapat yang tidak kuat ini menggunakan redaksi wa fi qaul (dan dalam satu pendapat).

المشهور
Baca Juga :  Asmaul Husna Sebagai Kunci Berkomunikasi Hamba dengan Allah
al-Masyhur adalah pendapat yang kuat dari dua atau lebih pendapat imam Syafi’i yang bertentangan, tetapi sisi pertentangannya sebenarnya lemah. Negasi dari masyhur adalah pendapat yang lemah dan marjuh, yang menggunakan bahasa “wa fi qaul”.

الأصحاب
Al-Ashhaab adalah para pengikut mazhab Imam Syafi’i yang memiliki suatu pandangan hukum, yang menisbahkan dirinya kepada pendapat Imam Syafi’i, mengeluarkan rumusan hukum fikih berdasarkan sumber-sumber mazhab Syafi’i dan kaidah-kaidahnya, dan terkadang berijtihad dalam beberapa persoalan tanpa berlandaskan kaidah ushul mazhab Syafi’i.

الأصح
al-Ashohhu adalah hukum fikih yang terkuat dalam mazhab Syafi’i di antara pendapat para pengikut sekaligus pakar mazhab Syafi’i yang berbeda-beda. Istilah ashohhu ini ada manakala perbedaan antar pendapat pengikut mazhab Syafi’i ini sama-sama kuat dan masing-masing berdasarkan dalil yang kuat dan zhahir. Negasi dari ashohhu disebut dengan istilah “wa muqaabiluhu kadza”; “wa al-tsaani kadza”.

الصحيح
as-Shohiih adalah pendapat yang kuat diantara pendapat para Imam Mazhab Syafi’i, ketika pendapat yang lain atau lawannya sangat lemah. Negasinya adalah “wa fi wajhin kadza”.

النص
al-Nashh adalah pendapat imam Syafi’i yang dituliskan dalam kitab-kitab imam Syafi’i.

المذهب
al-Madzhab adalah pendapat yang kuat ketika terdapat perbedaan pendapat ashhaab dalam memaparkan mazhab Syafi’i, dimana mereka menyebutkan dua jalur atau lebih.

التخريج (al-takhrij)
at-Takhrij adalah istilah yang dipakai ketika imam Syafi’i menjawab dua persoalan yang hampir sama, dengan dua hukum yang berbeda, sementara tidak jelas perbedaan antara keduanya. Kemudian para ashhaab menukil jawaban dari masing-masing persoalan, yang menghasilkan dua pendapat; manshuush dan mukharraj. Pendapat yang manshush dalam persoalan yang pertama, berarti pendapat mukharraj dalam persoalan yang kedua. Begitu juga sebaliknya, pendapat yang manshush dalam persoalan yang kedua, berarti pendapat mukharraj dalam persoalan yang pertama. Namun menurut yang ashohh, pendapat mukharraj tidak dapat dinisbahkan kepada imam Syafi’i, karena bisa saja persoalan tersebut ditinjau kembali, lalu ditemukanlah perbedaan keduanya.

الجديد
Baca Juga :  Ulasan tentang Macam-Macam Maksiat pada Musafir
al-Jadiid adalah pendapat fikih yang dikatakan imam Syafi’i di Mesir, baik dalam karyanya atau dalam memberikan fatwa. Qaul jadid ini diriwayatkan oleh: Al-Buwaithi, Al-Muzanni, Al-Rabi’ Al-Murado, Harmalah, dll. Sedangkan kitab-kitabnya adalah: al-Umm, al-Imla’, Mukhtashar al-Buwaithi, dan Mukhtashar al-Muzani.

القديم
al-Qadiim adalah qaul yang dikatakan imam Syafi’i di Iraq, baik dalam karyanya maupun dalam berfatwa. Orang-orang yang masyhur dalam meriwayatkan qaul qadim imam Syafi’i ini adalah: Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Za’farani, Al-Kurabisi, dan Abu Tsaur. Imam Syafi’i banyak melakukan revisi terhadap qaul qadim-nya.

Setiap permasalahan memiliki dua qaul imam Syafi’i; qadim dan jadid. Qaul jadid adalah yang shahih, kuat (rajih) dan yang dipegangi dan diamalkan, karena qaul qadim adalah qaul yang sudah direvisi. Namun dalam hal ini, ada sekelompok ulama yang mengecualikan sekitar 20 persoalan, yang mana menurut mereka, yang dipakai sebagai pegangan dalam 20 persoalan tersebut adalah qaul qadim.

Tidak semua qaul jadid bertentangan dengan qaul qadim, dan tidak semua qaul qadim dilakukan revisi terhadapnya. Ada qaul jadid yang bertentangan dengan qaul qadim dan ada juga yang bersesuaian.

صيغة التضعيف
Shiighoh at-Tadl’iif adalah term-term yang menunjukkan lemahnya suatu qaul atau wajh, misalnya,

قيل كذا، في وجه كذا، في قول كذا، روي
qiila kadza, fii wajhin kadza, fii qawlin kadza, ruwiya.

Thursday, May 09, 2019

Kaidah tentang Tergantung pada Niatnya dan Kesalahan Penerapan

Muslimedianews.com ~ Nabi Muhammad pernah bersabda: 

إنما الآعمال بالنيات
"Keabsahan suatu perbuatan [ibadah], tergantung pada niatnya"

Hadis ini adalah salah satu pondasi dalam ibadah. Setiap ibadah dimaksudkan agar pelakunya mendapatkan pahala. Namun, untuk tujuan itu harus ada niat yang benar barulah ibadah tersebut sah dan diperhitungkan. Tanpa niat yang benar, suatu ibadah dianggap tidak sah. Tidak sah berarti secara hukun dianggap tak pernah terjadi, meskipun secara riil dilaksanakan.

Niat berfungsi membedakan antara ibadah dan kebiasaan. Tanpa niat, suatu perbuatan ibadah hanya akan menjadi sebuah kebiasaan saja sehingga tak bernilai pahala. Shalat tanpa niat hanya akan seperti gerakan senam. Puasa tanpa niat hanya akan seperti sekedar tak makan. Zakat tanpa niat hanya akan seperti hadiah biasa. Haji tanpa niat hanya akan menjadi jalan-jalan. Mandi junub, mandi haidl, mandi nifas, atau mandi sunnah jumat tanpa niat hanya akan menjadi mandi biasa. Demikian bisa dikiaskan sendiri.

Yang disebut niat dalam perspektif Imam Syafi'i adalah menyengaja melakukan suatu perbuatan BERSAMAAN saat perbuatan itu dilakukan. Ini adalah definisi niat paling canggih yang berasal dari Imam berdarah Quraisy ini. Bila misalnya seseorang berencana mau shalat tarawih nanti malam, maka rencana itu bukanlah niat melainkan قصد saja. Bila nanti sudah selesai shalat Isya' dan bersiap-siap di masjid untuk melakukan tarawih, ini pun belum disebut niat melainkan عزم saja. Baik قصد atau عزم barulah sekedar rencana dalam hati yang belum benar-benar diwujudkan. Tetapi bila saat takbiratul ihram dalam rangka tarawih ada besitan dalam hati bahwa ia melakukan shalat sunnah tarawih, maka itulah yang disebut نية. Puasa adalah pengecualian sebab tak mungkin memaksa orang untuk berniat persis di detik saat fajar subuh tiba.

Namun tak semua hal butuh niat. Kadang ada sesuatu yang nilai pentingnya bukan pada proses namun pada hasil akhirnya. Misalnya, suci tidaknya suatu benda dari najis yang menempel padanya. Dalam hal ini yang penting najisnya hilang dengan dialiri air, maka statusnya sudah suci. Entah yang menyiram berniat menyucikan atau tidak, atau bahkan karena kehujanan atau jatuh ke sungai, selama benda najisnya hilang maka statusnya tetap sah berubah menjadi suci kembali.

Agar cakupannya lebih umum, hadis di atas dikembangkan menjadi kaidah:

الأمور بمقاصدها
"Berbagai hal dipertimbangkan motifnya"

Kaidah ini tidak hanya soal ibadah, tapi juga soal interaksi sesama manusia secara umum. Bila misalnya ada orang menggali lubang lalu ada yang mati terjatuh di sana, maka hakim akan menyelidiki apa motif orang tersebut membuat lubang itu dan hasilnya akan berkonsekuensi pada keputusan hakim nantinya. Dan bisa dikiaskan untuk hal-hal lain.

Kaidah tentang niat ini banyak disalahpahami orang awam. Banyak orang awam yang mengartikan kaidah ini sebagai "apa pun yang penting niatnya". Ini salah besar sebab seolah aturan main dalam syariat seolah diabaikan asal niatnya mereka anggap baik. Misalnya:

  • Menganggap baik pacaran yang melibatkan berduaan, bersentuhan, dan seterusnya dengan alasan niatnya mau dinikahi.
  • Menganggap baik pinjaman berbunga pada orang miskin dengan alasan mau membantu kesulitan mereka

Dua contoh di atas adalah tindakan haram, yang pertama karena pendahuluan zina dan yang kedua adalah riba. Seluruh hal haram takkan berubah menjadi halal hanya karena "niat" belaka.

Demikian juga seluruh hal yang syarat rukunnya tidak tercukupi takkan berubah menjadi sah hanya karena "niat" belaka. Beberapa orang awam mengelak ketika diberitahu bahwa shalatnya, puasanya dan ibadahnya lain-lain tidak sah secara fikih dengan alasan "yang penting sudah niat, Allah pasti tahu". Ini salah besar bahkan menyesatkan.

Oleh : Abdul Wahab Ahmad

Friday, April 26, 2019

Sejarah Aksara Arab Pegon di Indonesia

Muslimedianews.com ~ DNA budaya yang paling utama adalah bahasa, oleh karena itu salah satu kerugian utama kolonialisme kata Syed Naquib adalah hilangnya hubungan pedagogi antara Al Qur'an dengan bahasa setempat. Dan sepertinya benteng terakhir pertahanan kebudayaan ini ada pesantren-pesantren salafiyah yang umumnya berpayung di Nahdhatul Ulama. Padahal dulu, huruf arab Jawi/pegon pernah menjadi satu-satunya huruf yang dipakai di bidang politik, pendidikan dan perdagangan di kepulauan Nusantara ini.

Muslim Tanpa Arab Pegon
Proses perpindahan massal keagamaan di Indonesia dari Hindu Buddha kepada Islam mengakibatkan Islamisasi pada bahasa lokal di nusantara, khususnya bahasa Melayu. “Bahasa Melayu telah mengalami suatu perubahan besar, selain sebagian besar perbendaharaan katanya diperkaya dengan sejumlah kata-kata dari bahasa Arab dan Persia, ia menjadi bahasa pengantar utama untuk menyampaikan Islam ke seluruh Kepulauan Melayu (Al Attas, 2011 : 216). Kata-kata serapan dari bahasa Arab yang digunakan dalam bahasa Melayu berkisar 15 – 20 persen. Tidak terhenti pada Islamisasi bahasa, pada tahun 1600, huruf Arab Jawi/ Pegon merupakan satu-satunya huruf yang digunakan untuk menulis dalam bahasa Melayu (Johns, 2009 : 49 - 51). Bahasa Melayu yang sudah di Islamisasi dan huruf Arab pegon, menjadi bahasa dagang, diplomasi, dakwah dan administrasi kenegaraan di hampir semua kerajaan / kesultanan yang ada di nusantara.Satu-satunya wilayah yang belum memakai huruf arab pegon adalah wilayah Jawa / kesultanan Mataram.

Jawa, di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo, melakukan Islamisasi besar-besaran. Tahun Jawa diselaraskan dengan tahun Hijriah. Sultan Agung juga mengawali tahap pemantapan Keislaman melalui pendidikan Islam massal kepada masyarakat. Di setiap kampung diadakan tempat untuk belajar membaca Al Qur’an, tata cara beribadah dan tentang ajaran dasar Islam seperti rukun iman dan rukun Islam. Saat itu, apabila ada anak berusia 7 tahun belum bisa membaca al Qur’an,ia akan malu bergaul dengan teman-temannya. Para guru agama ini diberi gelar Kyahi Anom oleh pihak kraton. Di tingkat kadipaten didirikan pesantren yang dipimpin oleh Kyahi Sepuh. Saat itu juga dilakukan penerjemahan kitab-kitab besar berbahasa Arab dalam kajian yang bersistem bandongan (halaqah). Kitab-kitab itu meliputi kitab Fiqih, Tafsir, Hadits, Ilmu Kalam dan Tasawuf. Juga Nahwu, Sharaf dan Falaq. Sistem kalender juga disesuaikan dengan sistem Islam( Yunus, 1996 : 223-225).

Sayangnya, rintisan yang dilakukan oleh Sultan Agung ini tidak dilanjutkan oleh pewarisnya, yakni Amangkurat I yang lebih memilih dekat dengan VOC dan berhadapan dengan kaum santri di bawah pimpinan Trunojoyo. Ketergantungan militer pada VOC menyebabkan, penerusnya, yakni Amangkurat II tidak mempunyai pilihan kecuali memberikan sebagian pesisir kepada VOC. Hal ini membuat komunikasi dengan pusat-pusat Studi Islam di Asia Selatan dan Timur Tengah menjadi sulit (Woodward, 2008 : hal. 16-17), Islamisasi budaya dan bahasa di Kasultanan Mataram pun terhenti. Sehingga Mataram menjadi satu-satunya wilayah di kepulauan Nusantara yang belum pernah menjadikan huruf arab pegon sebagai huruf resmi dalam pemerintahan dan perdagangan, meskipun tetap ada kelompok masyarakat yang menggunakannya, yakni pesantren.

Arab Pegon Hilang
Kalau kita menyempatkan diri mengunjungi pesantren-pesantren salafiyah yang biasanya berpayung di bawah Nahdhatul Ulama (NU), yang masih setia melakukan pengkajian kitab dengan sistem terjemah antar baris dengan menggunakan huruf Arab Pegon. Kita akan temukan bahwa penerjemahannya bukan sekedar penerjeman kata per kata, akan tetapi juga disesuaikan dengantata bahasa Arabnya. Sehingga kesalahan dalam pemaknaan dapat diminimalisir. Sebab menerjemahkan bukan sekedar mengartikan, tapi seperti kata A.H. Johns, translation adalah proses mengungkapkan makna suatu ajaran, buku atau puisi ke dalam bahasa lain (Johns, 2009 : 49). Kesamaan huruf tentu lebih memudahkan proses asimilasi, adapsi dan adopsi konsep-konsep Islam ke dalam bahasa lokal.

Oleh karena itu, kekhawatiran Al attas bahwa Romanisasi huruf akan berakhibat pada kebingungan dan kesalahan dalam memahami Islam bukan tidak beralasan. Sebab Romanisasi bahasa yang semula berhuruf Arab menjadi latin, secara berangsur-angsur terjadi pemisahan hubungan leksikal dan konseptual antara umat Islam dengan Sumber Islam. (Al attas, 2011 : 156-157). Proses latinisasi ini akan menceraikan hubungan pedagogi antara kitab Suci Al Qur’an dengan bahasa setempat. Sehingga terjadilah proses deislamisasi, dimana terjadi penyerapan konsep-konsep asing ke dalam fikiran umat Islam, yang kemudian menetap dan mempengaruhi pemikiran serta penalaran mereka (Al-attas, 2011 : 57).

Dampaknya dapat kita lihat skarang, dimana umat Islam tidak lagi bisa membedakan antara“munafiq” dan “hipokrit.” Munafiq tidak sekedar beda antara hati dengan perbuatan seperti arti hipokrit, sebab munafik mempunyai arti baku, yakni lahirnya beriman padahal hatinya memusuhi Islam. Konsep masyarakat majemuk yang berasal dari kata jamak, berarti keanekragaman kini tergantikan dengan istilah pluralisme yang masih menimbulkan kontroversi dalam pemaknaannya. Bahkan kalau kita lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga, yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka, penulisan beberapa istilah baku agama Islam sudah meninggalkan kedisplinan dalam transliterasinya. Sebagai contoh, Al Qur’an ditulis Kuran (hal. 616), ibadah sholat ditulis Salat (hal. 983). Hal ini merupakan kesalahan fatal, sebab sebagai agama wahyu, Islam sangat disiplin menjaga kemurnian istilah kunci agamanya, baik dalam pelafalan maupun pemaknaannya.

Masih banyak contoh-contoh lain tentang kerancuan pemahaman umat akan Islam akibat proses de Islamisasi bahasa ini. Bahkan beberapa pihak mensinyalir proses radikalisasi umat Islam juga terkait dengan kesalahan penerjemahan teks Al Qur’an. Sehingga basis-basis pesantren salafiyah yang masih setia dengan penerjemahan berbasis huruf arab pegon terbentengi dari paham ini. Jadi, bisakah kita menyederhanakan permasalahan dengan menyebut bahwa “perilaku”lebih fasih dari “bahasa”. Sedangkan perilaku sendiri adalah buah dari pemahaman, dan pemahaman sangat dipengaruhi oleh bahasa sebagai medium pemaknaannya. Dalam kata lain, bahasa, pemahaman dan perilaku adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, apalagi dalam agama Islam, agama wahyu yang sangat disiplin dalam menjaga kemurnian konsep-konsep baku keagamaannya. Wallahu a’lam bishshawab.


Oleh : Arif Wibowo

Keterangan :
Tulisan ini dimuat di rubrik gagasan Solopos, Jumat Kliwon 18 Oktober 2013, merupakan tanggapan atas Artikel “Islam Huruf Latin dan Perilaku” oleh Muhammad Fauzi Sukri, Rubrik Gagasan Solopos, 13 September 2013. Saya edit ulang supaya tidak terlalu panjang.

Daftar Pustaka
Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta : Gema Insani Press, 2005).

A.H. Johns, Penerjemahan Bahasa Arab ke dalam Bahasa Melayu, Sebuah Renungan, dalam Henri Chambert-Loir et.al, Sadur, Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia, (Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2009).

Denys Lombard, Nusa Jawa : Silang Budaya, Buku I, Batas-Batas Pembaratan (cet. IV), (Jakarta : Gramedia,2008)

Mahmud Yunus, Prof, Dr. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Hidakarya Agung,1996)

Syed Naquib Al Attas, Islam danSekularisme (cet II), (Bandung : Institut Pemikiran Islam dan PembangunanInsan / PIMPIN, 2011).

Mark Woodward, Islam Jawa, Kesalehan Normatif vs Kebatinan, (Yogyakarta : LKIS, 2008)

Tiga Makam Manusia Terbaik

Muslimedianews.com ~ 3 Makam Manusia Terbaik

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺃﻧﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖ: «ﺭﺃﻳﺖ ﻛﺄﻥ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﻤﺎﺭ ﺳﻘﻄﻦ ﻓﻲ ﺣﺠﺮﺗﻲ، ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ: ﺇﻥ ﺻﺪﻗﺖ ﺭﺅﻳﺎﻙ ﺩﻓﻦ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻚ ﺧﻴﺮ ﺃﻫﻞ اﻷﺭﺽ ﺛﻼﺛﺔ. ﻓﻠﻤﺎ ﻣﺎﺕ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ: ﺧﻴﺮ ﺃﻗﻤﺎﺭﻙ ﻳﺎ ﻋﺎﺋﺸﺔ. ﻭﺩﻓﻦ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻬﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ، ﻭﻋﻤﺮ».
Aisyah berkata: "Saya bermimpi seolah ada 3 rembulan jatuh di dalam kamar saya. Ayah saya berkata bahwa jika mimpimu benar maka akan ada 3 orang terbaik yang akan dimakamkan di kamarmu". Ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam wafat, Abu Bakar berkata: "Ini adalah rembulan terbaikmu, Aisyah". Lalu dimakamkan Abu Bakar dan Umar di kamar tersebut"

ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﺭﺟﺎﻝ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ.

HR Thabrani dalam Al-Kabir dan para perawinya adalah perawi hadis sahih

Tempat Pemakaman Nabi shalallahu alaihi wasallam

ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ: ﻋﻦ ﺃﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ: " ﻣﺎ ﻗﺒﺾ ﻧﺒﻰ ﺇﻻ ﺩﻓﻦ ﺣﻴﺚ ﻗﺒﺾ ". ﺟﻪ (ﻓﺘﺢ اﻟﺒﺎﺭﻱ 529/1)
Hadis Ibnu Abbas dari Abu Bakar secara Marfu': Tidaklah wafat seorang Nabi kecuali ia dimakamkan ditempat beliau wafat (HR Ibnu Majah. Menurut Al Hafidz Ibnu Hajar hadis ini memiliki riwayat pendukung dalam kitab Dalail An-Nubuwah Al-Baihaqi, Fathul Bari 1/529)

Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam wafat di kamar Sayidah Aisyah.

Pemakaman Sayidina Abu Bakar

عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَ عُرْوَةَ وَالْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ يَقُولانِ: أَوْصَى أَبُو بَكْرٍ عَائِشَةَ أَنْ يُدْفَنَ إِلَى جَنْبِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، فَلَمَّا تُوُفِّيَ حُفِرَ لَهُ، وَجُعِلَ رَأْسُهُ عِنْدَ كَتِفَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Dari Umar bin Abdullah bahwa ia mendengar Urwah dan Qasim bin Muhammad, keduanya berkata bahwa Abu Bakar berwasiat kepada Aisyah agar dimakamkan di sebelah Nabi shalallahu alaihi wasallam. Ketika Abu Bakar wafat maka digali makam untuknya. Dan posisi kepala Abu Bakar di dekat kedua pundak Nabi shalallahu alaihi wasallam" (HR Thabari 3/422)

Pemakaman Sayidina Umar

عن عمر بن الخطاب أنه أمر ابنه عبد الله وهو في فراش موته بعدما طُعِن :
Umar bin Khattab memerintah putranya, Abdullah, di pembaringan tempat ia wafat setelah ditusuk:

انْطَلِقْ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَقُلْ : يَقْرَأُ عَلَيْكِ عُمَرُ السَّلَامَ ، وَلَا تَقُلْ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ ؛ فَإِنِّي لَسْتُ الْيَوْمَ لِلْمُؤْمِنِينَ أَمِيرًا ، وَقُلْ يَسْتَأْذِنُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَنْ يُدْفَنَ مَعَ صَاحِبَيْهِ ، فَسَلَّمَ وَاسْتَأْذَنَ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهَا فَوَجَدَهَا قَاعِدَةً تَبْكِي، فَقَالَ : يَقْرَأُ عَلَيْكِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ السَّلَامَ ، وَيَسْتَأْذِنُ أَنْ يُدْفَنَ مَعَ صَاحِبَيْهِ ، فَقَالَتْ : كُنْتُ أُرِيدُهُ لِنَفْسِي ، وَلَأُوثِرَنَّ بِهِ الْيَوْمَ عَلَى نَفْسِي .
"Pergilah kepada Aisyah, ibunda umat Islam. Sampaikan salam dari Umar, jangan katakan dari pemimpinnya umat Islam, sebab hari ini aku bukan pemimpin umat Islam, untuk dimakamkan bersama kedua sahabatku. Abdullah bin Umar kemudian mengucapkan salam dan minta izin, ternyata Aisyah sedang menangis. Abdullah menyampaikan salam dari Umar bin Khattab agar dimakamkan di dekat kedua sahabatnya. Aisyah berkata: "Aku ingin itu adalah tempat aku dikubur. Tapi kali ini aku akan mengalah" (HR Bukhari)

Mengapa Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar Memilih Tempat Di Dekat Nabi?

ﻓﺼﻞ: ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ اﻟﺪﻓﻦ ﻓﻲ اﻟﻤﻘﺒﺮﺓ اﻟﺘﻲ ﻳﻜﺜﺮ ﻓﻴﻬﺎ اﻟﺼﺎﻟﺤﻮﻥ ﻭاﻟﺸﻬﺪاء؛ ﻟﺘﻨﺎﻟﻪ ﺑﺮﻛﺘﻬﻢ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻓﻲ اﻟﺒﻘﺎﻉ اﻟﺸﺮﻳﻔﺔ.
Fasal: "Dianjurkan untuk mengubur di pemakaman yang banyak orang-orang saleh dan syuhada, agar dapat berkah mereka. Demikian halnya tempat-tempat yang mulia" (Syekh Ibnu Qudamah, Al-Mughni 2/380)

Ust. Ma'ruf Khozin

Bahaya Lebih Besar Bila Islam Dijadikan Sekedar Kendaraan Politik

Muslimedianews.com ~ Cuplikan maqolah Ro'is akbar NU hadrotusy-syekh KH. Hasyim asy'ari pada pidato pembukaan muktamar ke 17 di Madiun 5 rojab 1366 H / 24 mei 1947 M

"Ketiga : kita tinjau titik balance ini dari segi politik, kita dapat menemukan dalam segi ini bahwa peranan umat islam sangat sedikit sekali.

Jiwa keagamaan dalam dunia politik di indonesia ini sangat lemah, bahkan dapat dikatakan mati pada akhir-akhir ini.

Meskipun demikian, masih ada juga bahaya yang lebih besar, ialah dengan di catutnya nama "islam" oleh sebagian manusia sebagai kendaraan yang ditungganginya untuk bisa sampai kepada apa yang mereka maksud serta ijtihadkan, baik berupa kebaikan dari segi pilitik maupun keuntungan pribadi atas nama politik".





Kalau Hadits Itu Shahih Itu Madzhabku

Muslimedianews.com ~ "Kalau hadits itu shoheh maka itu madzhabku".  Ucapan ini adalah ucapan imam madzhab yang maknanya luar biasa, menunjukkan tawadhu'para imam dalam kehidupannya, tetapi sayang seribu sayang ucapan ini adalah yang sering dibuat hujjah buat membenarkan pendapatnya dan menyalahkan pendapat imam tanpa sadar kadar dirinya.

Terkadang membenturkan pendapat imam dengan mengatakan ikut Qur'an sunnah ataukah ikut imam? Padahal para imam adalah naashirussunnah yang menolong tersebarnya sunnah, buka penentang sunnah.

Dan mengikuti pendapat para imam dalam memahami Qur'an Sunnah lebih utama dan lebih baik daripada mengikuti pemahaman kita sendiri dalam memahami keduanya..

Untuk itu perlu ana berikan contoh penerapan ucapan imam ini yang dilakukan oleh imam itu sendiri atau bahkan murid2nya

Contohnya

1. Dalam masalah wakaf, Abu Hanifah menyatakan bahwa tidak ada asal dari wakaf, karena wakaf itu adalah wasiat dan itu tergantung atas keputusan hakim. Beliau berpendapat bolehnya diambil harta wakaf dan dijual lagi. Karena hukum wakaf menurut beliau adalah boleh bukan wajib sehingga dikembalikan ke tangan pemiliknya adalah boleh.

2. Begitupun masalah hitungan sho' menurut imam abu Hanifah satu sho' itu 4 mud, yang satu mud : 2 rithl, sehingga menurut beliau jumlah 4 mud : 8 rithl. Menurut imam Syafi'i, Malik dan Ahmad 1 mud : 1 sepertiga rithl.

Penerapan Ucapan Kalau Hadits Shoheh
Suatu waktu Abu Yusuf dan Ar-rosyid memanggil Syafi'i ke Madinah, yang mana pada waktu itu imam Malik masih hidup, Abu Yusuf ingin berbicara dengan Syafi'i dihadapan imam Malik dan Ar-rosyid dalam beberapa permasalahan salah satunya adalah permasalahan diatas.

Maka Imam Syafi'i minta dipanggilkan anak2 dari keturunan Habasyah dan keturunan Abu Sa'id al-khudryi, dan keturunan muadzin nabi, maka imam Syafi'i mengatakan bagaimana kalian mendapatkan Adzan dan iqomah di zaman kalian? Mereka menjawab adzan masing2 dua kali dengan cara at-tarji' (mengucapkan syahadat dua kali dengan suara rendah kemudian syahadat lagi dua kali dengan suara yang keras), adapun iqomah maka sekali2 saja (imam abu Hanifah berpendapat iqomah sama seperti adzan). Demikian kami mendapatkan bapak2 dan kakek2 kami melakukannya, maka mari kembali ke zaman para nabi.

Kemudian dalam masalah sho' maka imam Syafi'i minta dihadirkan dihadapannya anak dari keturunan Muhajirin yang mewarisi dua buah sho', maka ditanyakan dari mana kalian mendapatkan ini? Mereka menjawab dari bapak kami dan kakek2 kami dari zaman nabi, dan ternyata timbangannya sama seperti hitungan Syafi'i

Kemudian masalah selanjutnya masalah wakaf
Mereka keluar ke Padang pasir bersama Harun Ar-Rasyid, maka Syafi'i berkata kepadanya beliau, milik siapakah ini? Maka dijawab ini wakaf dari abu bakar Ash-Shiddiq untuk oramg2 faqir, ini wakaf dari al-faruq (Umar), ini wakaf dari dzi Nuraini (Utsman), ini wakaf dari al-murthadho (Ali), ini wakaf dari fulan dan fulan dst. Maka wajib bagi kita ikut sunnah nabi, yang demikian kami dapatkan dari zaman sahabat sampai zaman kita ini.

Maka imam Syafi'i bertanya kepada Ar-rosyid, wahai Amirul mukminin diantara keduanya mana yang paling dekat ke-sunnah nabi? Maka Abu Yusuf mengikuti pendapat Syafi'i dalam perkara ini.

Maka orang2 pun bertanya, kenapa engkau mengikuti pendapat temanmu ini (Syafi'i)? Kalau seandainya Syafi'i mengetahui pendapatku benar (lebih mendekati sunnah) maka sahabatku ini pun akan mengikuti pendapatku.

Dinukil dari kitab tafdhil madzhab Syafi'i a'la saairil madzahib milik imam haromain abul ma'ali Al-juwaini rohimahullah

Demikianlah cara penerapan ucapan ini harus benar2 dipahami oleh imam2 Mujtahid yang mengerti ucapan imam mereka, karena hakikatnya yang diajak bicara oleh para imam dengan ucapan "kalau hadits iti shoheh maka itulah madzhabku" adalah murid2nya yang derajatnya sudah sampe ke derajat Mujtahid, bahkan gak sedikit yang sampe ke derajat mujtahid mutlak. Sedangkan anda? Jadi mujtahid juz'i saja sudah harusnya sujud syukur...

Dan sejatinya madzahib sekarang telah di tutup dengan masa tahrir, dan Mujtahid2 madzahib telah sepakat kalau itulah Pendapat mu'tamad madzhabnya, dan gak selayaknya seseorang mengacak2 madzhab sampe ia mencapai derajat muharrir madzhab, kalo belum maka mereka masih belum layak ngomong2 urusan itu.

Karenanya dalam Muqoddimah majmu milik Nawawi disebutkan oleh beliau Syarat menerapkan ucapan imam adalah membaca seluruh kitab madzhab dari awal sampai akhir, memahami maknanya dan memahami seluruh riwayatnya, setelah itu anda akan mengetahui sebab2 hadits itu gak dipakai itu apa? apakah dianggap mansukh? Atau dianggap hadits mutlak yang butuh di taqyid atau apa? Dst

Sangatlah di sayangkan datang setelah itu di zaman kita ini, yang sekolah baru lulus kuliah, madzhabnya gak jelas, ushulnya masih belum jelas berdiri diatas madzhab apa, terus bilang yang shoheh itu ini, imam madzhab berkata demikian dan demikian itu lemah

Ana harap kedepannya asatidzah gak bermudah2an dalam berkata tentang ucapan diatas, minimal beradablah sebagai imam qoffal (lupa qoffal kabir ato yg shoghir) yang mana ketika mau meninggal, maka ada yang tanya suatu pertanyaan, maka beliau berkata kamu mau ikut ijtihadku ataukah ijtihad Syafi'i?

Anda menolak taqlid, tapi sejatinya anda mengajak taqlid ke pendapat anda....

Semoga Allah merahmati ulama2 kaum muslimin.

Penulis : Aboud Basyarahil

Wednesday, April 24, 2019

Orang Nusantara Masuk Islam Sejak Masa Khalifah Umar

Muslimedianews.com ~ Saat sedang membuka Tarikh Thabari di bab yang menjelaskan efek Perang Jamal di Madinah saya menemukan keterangan begini:

“Di antara kejadian di masjid itu adalah: Muhammad bin Thalhah—ia ahli ibadah—kebetulan hendak salat di dekat tempat Utsman bin Hunaif berdiri. Sebagian orang Zuthth dan Sayabijah khawatir Muhammad bin Thalhah datang untuk maksud lain..dst”

Zuthth adalah “gipsi”-nya India. Maka perhatian saya tertuju kepada kata “Sayabijah”. Biasanya, kata-kata aneh begini menyimpan misteri (sama seperti saya pernah membaca ttg kelompok pedagang dari Suku Bahro’ bertamu ke Nabi saw, barangkali lain waktu saja Bahro’ ini saya ulas). Apalagi kata Sayabijah ini belum pernah saya temui di kitab tarikh sebelumnya.

***
Dalam Lisanul Arab, Ibn Manzhur berkata bahwa kata Sayabijah juga terkadang disebut dengan Sababijah (السبابجة). Kedua kata ini adalah bentuk plural dari kata Sabiji (سبيجي) dan kata Sabaj (السابج). Menurut penjelasan Ibn Manzhur, beberapa penyair Arab kuno sudah mengenal orang Sababija ini. Bahkan penyair Ibn Mufarragh dari Kabilah Himyar dalam syairnya menyebut Sababija sebagai jagoan. Ibn Duraid menyebut bahwa Sababija ini berasal dari Hind dan bekerja sebagai buruh kapal. Lebih lanjut, Al-Baladzuri menjelaskan bahwa Sababijah dulu tinggal di pesisir Arab dan Persia sejak sebelum Islam.

Pertanyaannya: dari manakah sebenarnya Kaum Sababijah ini?

Ketika membaca ulasan Ibn Manzhur bahwa bentuk tunggal dari Sababijah adalah Sabaj, saya langsung menduga bahwa Sababijah ini adalah orang yang dua abad berikutnya dikenal oleh orang Arab sebagai Zabaj. Zabaj sendiri adalah sebutan orang Arab untuk Jawa atau setidaknya pesisir timur Sumatra. Jadi Sabaj adalah satu dialek yang mendahului penyebutan Zabaj.

Dugaan saya ternyata terbukti. Sejarawan ttg Asia Tenggara terkemuka, Gabriel Ferrand, menulis dalam Encyclopaedia of Islam volume empat bahwa Sababija/Sabaj adalah nama awal bagi Zabaj (baca: Zabag dan Sabag). Jadi Sababija ini adalah orang Nusantara yang sudah bermigrasi ke Timur Dekat (Arab dan sekitarnya).

Zabaj sendiri menurut Prof. Gerini dalam Research of Ptolemy’s Geography berasal dari bahasa Sanskrit untuk pulau Jawa: Chavakha > Javaka > Jabaj > Zabaj. Huruf K dalam Javaka berubah menjadi huruf J dalam Zabaj karena sama seperti kata ”jati” yg dalam bahasa Sanskrit disebut shaka dan menjadi saj dalam Bahasa Arab.

Fakta bahwa Zabaj ini adalah Nusantara bisa kita lihat, misalnya, dalam Masalik wal Mamalik (Jalur dan Kerajaan) karya Ibn Khurdadzbih ketika menjelaskan kepulauan yang terletak setelah Serandib (Ceylon) yg menengahi India dan Cina:

“Di sini ada daerah Zabaj yang dikuasai oleh Maharaja (المهراج). Di kerajaan ini juga ada pulau yang disebut Burthail yang sepanjang malam selalu terdengar suara gendang. Para pelaut menduga ada Dajjal di situ.”

Gerini berpendapat bahwa Pulau Burthail yang ramai dengan suara berisik di dekat Zabaj adalah daerah Riau. Riau, ujar Gerini, berasal dari kata riuh yang berarti ramai atau berisik. Deskripsi Riau ini sangat sesuai dengan keterangan Ibn Khurdadzbih ttg Burthail. Idrisi menambahkan bahwa Zabaj (Ranaj) ini dekat dengan sebuah gunung. Gunung ini dalam buku lain disebut terletak di Salahat dan dekat dengan Pulau Jabah. Kata Salahat ini diidentifikasi oleh para ahli sebagai selat, mungkin Selat Sumatera dan gunung itu barangkali Gunung Krakatau.

Tentang Sababija, Baladzuri menjelaskan begini dalam Futuhul Buldan (Pembebasan Daerah-daerah):

“Kaum Sababijah, Zuthth, dan Andagar ini dulu termasuk tawanan dan pasukan Persia. Orang Persia menganggap mereka berasal dari Sind. Ketika mereka mendengar Kaum Oswari masuk Islam, Sababija dan Zuthth mengikuti jejak Oswari dan mendatangi Abu Musa. Oleh Abu Musa mereka ditempatkan di Basrah.”

Kejadian ini kira-kira terjadi di zaman Sayyidina Umar RA. Di Basrah mereka bekerja sebagai penjaga gerbang (jalawiza) dan sipir penjara. Sekitar tahun 50 Hijriyah, masih menurut Baladzuri, oleh Khalifah Muawiyah beberapa orang Zuthth dan Sababijah ini kemudian dipindah ke Antakya, Turki.

***

Maka Sababijah dalam kitab-kitab tarikh yang disebut telah masuk Islam sejak zaman Umar dan menjadi penjaga Baitul Mal di masa Khalifah Ali ini adalah orang Nusantara. Ferrand mengatakan bahwa fakta ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat penduduk Nusantara adalah buruh kapal yang tangguh di masa itu. Bahkan beberapa di antaranya sudah mengkoloni Madagaskar sebagaimana ditulis oleh Qazwini.

Sababijah yang juga difungsikan sebagai pengusir bajak laut di masa itu mengingatkan saya pada sumber China yang menyebut adanya Kun-lun Slave atau Devil Slave, sebagaimana termaktub dalam anotasi Prof. Hirth di bukunya, Chau Ju-Kua: His Work on The Chinese and Arab Trade. Kun-lun adalah sebutan orang China untuk wilayah kepulauan Melayu. Kun-lun Slave ini dideskripsikan sebagai budak kulit hitam yang “jika berenang mereka membuka mata.” Mirip dengan Sababijah di Basrah, Kun-lun Slave atau budak dari kepulauan Melayu di China selain ditugaskan di laut juga ditugaskan sebagai penjaga gerbang. Sejarawan menyebut budak Kun-lun ini berasal dari Borneo. Ini semakin mengingatkan kita tentang orang Kalimantan yang ada di Madagaskar.

Baladzuri sendiri menjelaskan bahwa tempat tinggal Sababijah saat itu di Thuf yang di masa kini dikenal sebagai Bahrain dan Oman. Memang kedua daerah ini di zaman dulu terkenal dengan intensitas perdagangannya yang tinggi. Abul Faraj Ibn Jakfar dalam bukunya menyebutkan bahwa Sababija sudah ditemui di Iran sejak sebelum Islam. “Setelah Anusyirwan bin Qabadz (Raja Kekaisaran Persia) memakmurkan tiga kota besar,” tulis Ibn Jakfar. “Ia menempatkan orang Sababija untuk menjaganya.”

Maka bisa disimpulkan bahwa sebagian orang Nusantara telah masuk Islam sejak zaman khulafa’ rasyidun di tangan Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari. Wallahu a’lam.

Penulis : Kholili Kholil

Berkas file :




Monday, October 29, 2018

Sikap Bela Negara dalam Khazanah Politik Islam Aswaja

Muslimedianews.com ~ Sebagian orang kerap gagal paham dan sulit menerima pandangan nasionalisme atau sikap bela negara yang dipegang oleh warga NU secara umum, terutama tampak praksis oleh GP Ansor-Banser, Pagar Nusa, dan para dai serta kiai NU.

Bagaimana dapat diterima akal ketika NU dan semua badan otonomnya begitu gigih menyuarakan nasionalisme dan mengampanyekan hubungan sosial-politik tanpa unsur SARA?

Bagaimana rasionalisasi sikap kebangsaan NU sebagai salah satu elemen bangsa yang berada di barisan paling depan untuk pasang badan membela NKRI? Apa kaitan NU berikut badan otonomnya sebagai ormas keagamaan dan nasionalisme?

Sikap kebangsaan NU ini bukan cuma-cuma. NU berikut segenap nahdliyin mesti membayar ongkos sosial yang cukup mahal, mulai dari cacian, tuduhan, bahkan ancaman. NU kerap berhadapan dengan sejumlah orang yang belum memahami logika NU sebagai ormas keagamaan.

Sebenarnya logika dan sikap kebangsaan NU sederhana. Logika  dan nasionalisme NU tidak beranjak dari pemikiran sosial-politik-keagamaan yang dipegang oleh salafus saleh Ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan logika dan sikap nasionalisme NU merupakan turunan dari pemikiran para ulama Ahlussunnah wal Jamaah dalam memandang relasi agama dan negara.

Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah menganggap kehidupan duniawi tidak dapat dipisahkan dari praktik beragama Islam. Kehidupan duniawi yang profan merupakan satu kesatuan dengan kehidupan agama yang sakral.

Kehidupan duniawi merupakan syarat mutlak bagi praktik beragama yang sakral. Kehidupan duniawi merupakan penunjang atas praktik kehidupan beragama sebagai sarana kebahagiaan akhirat. Oleh karena itu, kehidupan duniawi ini harus diperhatikan secara sungguh-sungguh. Hanya saja duniawi di sini bukan duniawi yang dipahami kelompok sufisme.

فنقول: البرهان عليه أن نظام الدين لا يحصل إلا بنظام الدنيا، ونظام الدنيا لا يحصل إلا بإمام مطاع، فهاتان مقدمتان ففي أيهما النزاع؟ فإن قيل لم قلتم إن نظام الدين لا يحصل إلا بنظام الدنيا، بل لا يحصل إلا بخراب الدنيا، فإن الدين والدنيا ضدان والاشتغال بعمارة أحدهما خراب الآخر

Artinya, “Kami mengatakan bahwa argumentasi atas pandangan itu adalah bahwa tatanan agama tidak akan tercapai kecuali dengan adanya tatanan dunia. Tatanan dunia tidak akan tercapai kecuali dengan adanya pemerintah yang dipatuhi. Demikian kedua premis tersebut. Lalu di mana kontradiksinya? Jika ditanya bahwa tatanan agama tidak akan tercapai kecuali dengan adanya tatanan dunia, tetapi yang terjadi justru keruntuhan dunia karena agama dan dunia adalah dua kutub yang bertentangan. Sibuk memakmurkan salah satunya berarti meruntuhkan yang lain,” (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Iqtishad fil I‘tiqad, Beirut, Darul Fikr, 1997 M/1417 H, halaman 167).

Mengapa muncul kesalahpahaman atas sikap NU tersebut? Kegagalpahaman sebagian orang terhadap sikap kebangsaan NU dapat dimaklumi karena mereka hanya memandang turunan atau terjemahan atas pemikiran para ulama Aswaja tersebut dalam realitas sosial-politiknya mengharuskan NU untuk berdiri terdepan menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.

Salah paham terhadap sikap NU dapat dibilang terjadi karena ketidaksanggupan mereka dalam melakukan abstraksi atas praksis sosial-politik NU yang sangat partikular seperti hubungan dengan non-Muslim dan hubungan dengan tradisi lokal.

Ketidakmampuan dalam melakukan abstraksi atas yang partikular membuat mereka tidak menemukan prinsip-prinsip dasar pemikiran keislaman yang melandasi sikap kebangsaan NU.

Bagi NU, negara dan bangsa sebagai sebuah realitas sosial-politik bersifat sangat duniawi dalam pengertian khazanah politik, bukan dalam pengertian khazanah sufisme. Negara dan bangsa merupakan struktur riil yang mengatur kemaslahatan kehidupan duniawi, dalam arti kebutuhan manusia selagi hidup perihal jaminan keamanan, kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, layanan publik, kebebasan beragama, dan hajat hidup lainnya.

Negara dan bangsa merupakan sebuah realitas duniawi yang harus dijaga dan dipelihara dalam rangka mendukung kehidupan praktik beragama yang bermuara pada kebahagiaan akhirat. Bagi NU, negara merupakan struktur atau lembaga yang mewakili kehidupan duniawi. Bagi NU, negara merupakan wali bagi publik. Tentu saja sikap bela negara yang dipegang NU bukan juga harus dipahami sebagai legitimasi kekuasan politik tanpa catatan kritis terhadap pemerintah. Tetapi sekali lagi, kata duniawi di sini tidak dalam pengertian yang dipahami kelompok sufisme, tetapi dalam pengertian hajat hidup manusia dalam pelbagai sisi kehidupan.

قلنا: هذا كلام من لا يفهم ما نريده بالدنيا الآن، فإنه لفظ مشترك قد يطلق على فضول التنعم والتلذذ والزيادة على الحاجة والضرورة، وقد يطلق على جميع ما هو محتاج إليه قبل الموت. وأحدهما ضد الدين والآخر شرطه، وهكذا يغلط من لا يميز بين معاني الألفاظ المشتركة

Artinya, “Kami mengatakan bahwa ini merupakan ucapan orang yang tidak memahami konsep dunia yang kami maksud dalam pembicaraan sekarang ini. Dunia adalah kata polisemi (musytarak) yang kadang diucapkan untuk mewakili pengertian kelebihan nimat, kelezatan, dan surplus atas kebutuhan sekunder dan primer. Dunia kadang dipahami sebagai seluruh kebutuhan seseorang selama hidupnya. Dunia dalam arti pertama jelas lawan agama, sementara dalam arti kedua menjadi syarat tegaknya agama. Di sinilah orang yang tidak membedakan pengertian kata yang polisemi menjadi keliru paham,” (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Iqtishad fil I‘tiqad, Beirut, Darul Fikr, 1997 M/1417 H, halaman 167-168).

Dasar pemikiran ini yang kemudian melahirkan ijtihad-ijtihad politik kebangsaan NU dari waktu ke waktu. Yang paling belakangan kita menemukan konsep As-Siyasah Al-Aliyah As-Syamiyah, politik tingkat tinggi, yang disampaikan sebagai pidato pembukaan Rapat Pleno PBNU di Wonosobo pada 2013 oleh Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh.

NU tidak lagi memandang sempit duniawi yang perlu diperjuangkan sebagai kekuasaan dalam pengertian politik praktis. NU memandang duniawi secara substantif yang menjadi syarat kehidupan agama/ukhrawi sebagai lapangan untuk memperjuangkan nilai kebangsaan, kerakyatan, dan akhlak dalam sosial-politik di tengah masyarakat yang kompleks.

Di tengah perjuangan politik tingkat tinggi NU yang lebih substantif sebagai sebuah ijtihad politik, sekelompok umat Islam masih memahami politik dalam pengertian sempit, yaitu kekuasaan yang sering kali kemudian dibajak oleh elit-elitnya dan kemudian menjadi kontraproduktif yang semakin menjauh dari tujuan semula.

Kalau NU sudah berpolitik tingkat tinggi dalam pengertian mendorong terciptanya negara yang berkeadilan dalam rangka menjamin kebutuhan duniawi semua warganya demi kelancaran pengamalan agama Islam, sekelompok umat Islam ini masih memburu kekuasaan dalam arti formal sekali pun dengan tipu daya, kekerasan, senjata, tanpa akhlak, cara-cara desktruktif, dan perkosaan terhadap nilai-nilai Islam itu sendiri dengan dalih negara Islam dan lain sebagainya hanya untuk kejayaan semu entah kejayaan apa dan siapa. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

via nu.or.id

Adakah Manusia Purba? Lebih Dahulu Mana Manusia Purba dan Nabi Adam ?

Muslimedianews.com ~ Pakar tafsir Prof Quraish Shihab menjelaskan, Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan tentang kejadian manusia, tapi juga menceritakan makhluk lain sebelum terciptanya Nabi Adam as. Namun demikian, tidak ada penjelasan detil tentang makhluk apa yang ada sebelum Adam.

“Boleh jadi makhluk lain itu manusia purba,” kata Prof Quraish dalam sebuah video yang diunggah akun Najwa Shihab di YouTube, Senin (22/10).

Prof Quraish menuturkan, Al-Qur’an menceritakan bahwa penciptaan Nabi Adam melalui beberapa tahap; diciptakan dari tanah, ada proses, dan dihembuskan ruh ke dalamnya hingga ia menjadi manusia. Namun Al-Qur’an hanya menjelaskan tentang manusia yang diciptakan dari tanah dan ditiupkan ruh, tidak menceritakan tentang proses yang terjadi di tengah-tengahnya. 

“Kalau bisa saya beri gambaran begini, kita punya alfabet A hingga Z. Saya sebut mulanya A, akhirannya Z. Ada ndak antara A dan Z? Banyak. Al-Qur’an hanya menceritakan A dari tanah dan menceritakan Z dihembuskan ruh,” jelas penulis kitab Tafsir Al-Misbah ini.

“Jadi boleh jadi ada proses di sini (antara diciptakan dari tanah dan dihembuskan ruh). Al-Qur’an tidak menjelaskan ini,” tambahnya.

Bagi Prof Quraish, proses antara ‘diciptakan dari tanah’ dan ‘dihembuskan ruh’ adalah bagian dari ilmu dan Islam tidak membahas tentang hal itu. Kalau seandainya ada yang menganggap benar Teori Darwin ‘manusia berasal dari kera’, maka Prof Quraish berharap hal itu tidak disangkut pautkan dengan Islam. Mengapa? Karena hal itu adalah bidang ilmu dan Al-Qur’an memang tidak menceritakannya. 

“Itu bidang ilmu. Kalau ilmu bisa membuktikannya, maka dia tidak bertentangan dengan Al-Qur’an karena Al-Qur’an hanya berkata ‘dari tanah’dan akhirnya ditiupkan ruh,” katanya.

“Jadi tolak lah dia atas nama ilmu atau terima atas nama ilmu. Jangan libatkan Islam Al-Qur’an di sini,” tegasnya.

Ia menambahkan, ada banyak ulama Islam yang percaya dan membenarkan bahwa ada proses dari kejadian manusia. Salah satunya Ibnu Khaldun. Menurut Prof Quraish, Ibnu Khaldun berpandangan bahwa ada proses dari kejadian manusia hingga mencapai ‘alamul qiradah (alam kera). 

“Tapi dia tidak atas namakan Al-Qur’an. Dia atas namakan penelitian,” ucapnya.

“Kita tidak wajar menolak Teori Darwin atas nama Al-Qur’an, tapi silahkan tolak atas nama ilmu pengetahuan. Jangan juga menerimanya atas nama Al-Qur’an, silahkan terima atas dasar ilmu pengetahuan,” tutupnya. (Muchlishon)


via nu.or.id