BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

OPINION

Opinion
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Monday, February 03, 2020

Obituari Gus Sholah: Kembali Ke Pesantren



Oleh: Amin Mudzakir
Saya tidak berkesempatan berkenalan secara langsung dengan Gus Sholah, tetapi satu hal selalu menarik perhatian saya lebih dari hal yang lainnya: mengapa beliau kembali ke pesantren? Sebagai seorang yang telah malang melintang di dunia profesional, juga politik, di Jakarta, keputusan untuk mempimpin Tebuireng pasti merupakan sesuatu yang besar. Lepas dari kenyataan bahwa beliau adalah putra KH Wahid Hasyim, yang berarti adalah cucu KH Hasyim Asyari, keputusan Gus Sholah untuk kembali ke pesantren adalah sebuah inspirasi bagi saya.
Bagaimanapun, saya bisa memahami dilema yang dihadapi oleh Gus Sholah. Besar dan tumbuh di Jakarta, lalu kuliah arsitektur di ITB, Gus Sholah pasti terpapar oleh pikiran modern yang melihat pesantren, awalnya, sebagai sesuatu yang berasal dari masa lalu. Sejujurnya saya pernah meyakini pikiran ini. Sewaktu SMA, saya pikir masa kini dan masa depan adalah sekolah umum, universitas umum, ilmu-ilmu umum. Pokoknya masa kini dan masa depan bukan agama, kampus agama, apalagi pesantren. Tentu saja pesantren tetap penting, tetapi ia hanya dipahami sebagai benteng moral, tidak lebih tidak kurang.
Perkiraan saya terkonfirmasi oleh catatan Binhad Nurrohmat. Menurutnya, Gus Sholah pernah bilang bahwa "Sebelum di Tebuireng saya mengira pesantren adalah masa silam. Setelah berkecimpung di Tebuireng, saya paham ternyata pesantren adalah masa depan". Pernyataan ini pas betul dengan apa yang selama ini saya rasakan. Kita tahu sejak 2006 Gus Sholah memimpin Tebuireng, sebuah pesantren terpenting di negeri ini.
Pernyataan Gus Sholah mengenai pesantren sesungguhnya merupakan refleksi dari zaman yang berubah. Hingga akhir tahun 1980-an, seluruh teori sosial meramalkan dunia akan semakin modern. Tidak hanya modern, dunia juga akan semakin sekuler. Modernisasi dan sekularisasi dianggap seiring sejalan. Di dunia yang modern dan sekuler, pesantren terlihat pinggiran. Sebagai pembaca teori sosial yang terlalu dini, hingga awal tahun 2000-an sewaktu kuliah di UGM saya cukup percaya teori ini.
Akan tetapi, dunia berjalan menuju arah yang berbeda dengan ramalan teori sosial tersebut. Sejak akhir abad ke-20, dunia semakin religius. Antusiasme pada keimanan justru melonjak tajam di tengah masyarakat modern. Modernisasi dan sekularisasi tidak selalu seiring sejalan. Pada situasi inilah, saya kira, posisi pesantren berubah. Alih-alih pinggiran, secara perlahan tetapi pasti pesantren bergerak menjadi pusat perhatian. Ketika masyarakat modern khawatir dengan kemerosotan moral, pesantren adalah alternatif pilihan kemana para orang tua mengirim anaknya untuk belajar.
Dalam perkembangannya, ternyata pesantren lebih dari sekadar benteng moral. Adaptasi yang baik dari sejumlah pengurusnya membuat pesantren menjadi sangat kompetitif. Lulusannya mampu bersaing di pasaran kerja yang keras. Selain itu, sudah lama pesantren melahirkan para pemikir yang cemerlang. Terlebih lagi setelah demokrasi pasca-Soeharto berjalan, pesantren adalah juga pusat kegiatan politik. Sekarang siapa yang tidak berkunjung ke pesantren ketika mau maju dalam pilkada atau pilpres. Semuanya berbondong-bondong menunjukkan sikap seolah-olah mereka bagian dari pesantren.
Tentu saja Gus Sholah lebih dari itu. Berdasarkan informasi sejumlah rekan, beliau merombak sistem manajemen pesantren di Tebuireng menjadi lebih baik. Ini sangat menggembirakan karena, menurut saya, aspek manajerial ini masih merupakan problematik pesantren yang paling besar.
Setelah ini saya sangat ingin melihat gus-gus yang lain kembali ke pesantren. Tidak harus dalam pengertian fisik, tetapi bisa dalam bentuk yang lain. Sebab Gus Sholah benar, pesantren adalah masa depan. Melalui pesantren lah gagasan kemajuan masyarakat bisa diimplementasikan.
Selamat jalan, Gus Sholah. Keputusan panjenengan untuk kembali ke pesantren adalah sebuah inspirasi bagi saya. Panjenengan husnul khatimah. Insya Allah. Alfatihah ...

Monday, December 23, 2019

KH Husein Muhammad: Gus Dur Rela Menanggung Luka


Oleh: KH Husein Muhammad
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bukan hanya dikagumi dan dirindukan banyak orang. Ia juga dibenci, dicaci-maki, disumpahserapahi dan direndahkan sebagian orang. Bahkan ada seorang yang dianggap tokoh oleh pengikutnya begitu benci kepada Gus Dur, sampai mencaci keberadaan tubuhnya: "Gus Dur itu si buta. Dia buta mata dan buta hatinya".
Tetapi caci maki, sumpah serapah dan kutukan-kutukan para pembenci Gus Dur, tak membuatnya menjadi rendah, tak menjadi kecil dan tak pula membuatnya terkucil. Itu tak menggentarkan hatinya. Malahan gempuran-gempuran terhadapnya seperti itu justru semakin mengukuhkan kebesarannya, meneguhkan perjuangannya dan semakin mengalirkan simpati masyarakat kepadanya. Gus Dur menanggung semuanya dengan diam.
Sebaliknya mereka dan dia yang mencacimaki Gus Dur, satu persatu dicaci-maki dan direndahkan publik. Mereka menghilang tanpa harga dan tanpa muka. Ucapan, nasehat dan ceramah mereka tak lagi berharga. Begitu hina dinanya mereka.
Gus Dur tetap terus menapaki jalan lurus yang ditempuhnya menuju cita-citanya: Keadilan bagi semua dan persaudaraan atas dasar kemanusiaan. Gus Dur adalah orang besar yang namanya akan dicatat sejarah peradaban sebagai pejuang kemanusiaan. Bahkan begitu wafat Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa.
Kita sudah membaca sejarah umat manusia dan sejarah orang-orang besar. Orang-orang besar selalu mengandung dualitas yang paradoks: dikagumi dan dicemooh dalam waktu yang sama. Ka’ab al-Ahbar, seorang ahli tafsir berbagai kitab suci, bilang:
مَاكَانَ رَجُلٌ حَكِيْمٌ فِى قَوْمِهِ قَطُّ اِلَّا بَغَوْا عَلَيْهِ وَحَسَدُوهُ
“Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah komunitas kecuali selalu saja ada orang-orang/kelompok yang mencaci-maki dan mendengki dia.”
Jalal al-Din al-Suyuthi, ulama besar, seorang ensiklopedis dengan ratusan karya tulisnya, mengatakan hal yang sama, tetapi dengan redaksi bahasa yang sedikit berbeda:
مَاكَانَ كَبِيْرٌ فِى عَصْرٍ قَطُّ اِلَّا كَانَ لَهُ عَدُوٌّ مِنْ السَّفَلَةِ. إِذِ الْاَشْرَافُ لَمْ تَزَلْ تُبْتَلَى بِا لْاَطْرَافِ فَكَانَ لِآدَمَ إِبْلِيس , وَكَانَ لِنُوحٍ حَام وَغَيْرُه وَكَانَ لِدَاوُدَ جَالُوت وَاَضْرَابُه وَكَانَ لِسُلَيْمَان صَخَر وَكَانَ لِعِيْسَى بُخْتَنْصِر وَكَانَ لِاِبْرَاهِيم النَمْرُود وَكَانَ لِمُوسَى فِرْعَون وَهَكَذَا اِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَهُ ابو جَهَل
“Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang bodoh. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang pinggiran. Dulu Nabi Adam dilawan Iblis, Nabi Nuh lawan Ham dan lainnya, Nabi Daud musuh Jalut dan pasukannya, Nabi Sulaiman lawan Sakhr, Nabi Isa lawan Bukhtanshir, Nabi Ibrahim lawan Namrud, Nabi Musa lawan Firaun, dan seterusnya sampai Nabi Muhammad SAW. Beliau dilawan Abu Jahal.”
Para tokoh bijak-bestari (Hukama) dalam sejarahnya, memang, bukan hanya disumpah-serapah dan dibenci, tetapi juga dikafirkan, dibid’ahkan, dizindiq-kan (dituduh atheis). Dan ingin dilenyapkan oleh mereka yang tak matang secara intelektual dan spiritual, atau oleh mereka yang pikirannya tergantung pada bentuk-bentuk kredo formal dan teks-teks literal keagamaan atau oleh fanatisme pada kebenaran diri sendiri dan buta pada kebenaran yang lain.

23.12.19

Friday, December 06, 2019

KH Hanif Muslih Demak: Nabi Muhammad Waktu Kecil Pernah Sakit Mata (Rembes)



KH. HANIF MUSLIH, Pengasuh PP. Futuhiyyah Mranggen Demak
Urun rembug, mudah-mudahan bisa menyadarkan kita, apakah Gus Muwafiq salah dalam kata-katanya yang menyebutkan Nabi Muhammad kecil pernah REMBES, atau sakit mata beliau. Di antara temen kita ada yang membully sedemikian rupa, sepertinya dia telah menjatuhkan martabat Nabi, menghina Nabi, dan ada yang menggolongkannya boleh dibunuh Wal-Iyadhu Billah. Antum telah banyak menyadarkan banyak orang untuk kembali ngaji kitab-kitab klasik, Terima kasih Gus Muwafiq yang telah banyak ditinggalkan banyak orang pinter.
Berikut kutipan nash-nash kitab yang menjelaskan bahwa, Nabi Muhammad kecil ketika umur 7 tahun, beliau sempat sakit mata yang sangat amat “Romadun Syadidun”, yang dimaknai oleh Gus Muwafiq dengan REMBES. Simak baik-baik berikut ini (ma’af tidak saya terjemah) :
ومنها ما ذكره ابن الجوزي من أنه صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم أصابه رمد شديد سنة سبع من مولده فعولج في مكة فلم يفد العلاج فقيل لعبد المطلب إن في ناحية عكاظ راهبًا يعالج الأعين فركب إليه فناداه وديره مغلق فلم يجبه فتزلزل ديره حتى خاف أن يسقط عليه فخرج مبادرًا فقال يا عبد المطلب إن هذا الغلام نبي هذه الأمة ولو لم أخرج إليك لخرب على ديري فارجع به واحفظه لا يقتله بعض أهل الكتاب فعالجه وأعطاه ما يعالج به. وفي رواية أنّ الراهب
أخرج صحيفة وجعل ينظر إليها وإلى رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم ثم قال هو والله خاتم النبيين ثم قال يا عبد المطلب هذا رمد قال نعم قال إن دواءه معه خذ من ريقه وضعه على عينيه فأخذ عبد المطلب من ريقه صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم ووضعه على عينيه فبرئ لوقته.
ثم قال الراهب يا عبد المطلب وتالله هذا الذي أقسم على الله به فأبرئ المرضى وأشفي الأعين من الرمد.
[الكتاب: المنهل العذب المورود شرح سنن الإمام أبي داود – المؤلف: محمود محمد خطاب السبكي/ 9: 98-99]
• وفي السنة السابعة من مولده صلى الله عليه وسلم استقل بكفالته جده عبد المطلب وفيها اصابه صلى الله عليه وسلم رمد شديد وفيها استسقى عبد المطلب وهو صلى الله عليه وسلم معه بسبب رؤيا دقيقة وفيها خرج عبد المطلب لتهنئة سيف بن ذي يزن الحميري بالملك [الكتاب : السيرة الحلبية في سيرة الأمين المأمون – المؤلف : علي بن برهان الدين الحلبي/ 3 : 487]
• الباب الرابع فيما حصل له في سنة سبع من مولده
• قال الحافظ أبو الفرج ابن الجوزي في (الوفا) في سنة سبع من مولده صلى الله عليه وسلم أصابه رمد شديد فعولج بمكة فلم يغن فقيل لعبد المطلب: إن في ناحية عكاظ راهبا يعالج الأعين فركب إليه فناداه وديره مغلق فلم يجبه فتزلزل ديره حتى كاد أن يسقط عليه فخرج مبادرا فقال: يا عبد المطلب إن هذا الغلام نبي هذه الأمة ولو لم أخرج إليك لخر علي ديرى فارجع به
واحفظه لا يقتله بعض أهل الكتاب. ثم عالجه وأعطاه ما يعالج به. وألقي له المحبة في قلوب قومه وكل من يراه.
عكاظ: بضم العين وآخره ظاء مشالة معجمة: مكان بقرب عرفات.
[الكتاب : سبل الهدى والرشاد، في سيرة خير العباد، وذكر فضائله وأعلام نبوته وأفعاله وأحواله في المبدأ والمعاد – المؤلف : محمد بن يوسف الصالحي الشامي / 2:134]
وكذا في سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي لعبد الملك بن حسين بن عبد الملك العصامي المك

Sunday, November 24, 2019

Karena Kalah Semua Jadi Salah



Generasi kalah, maka semuanya jadi salah. Perkara mubah jadi haram. Masalah muamalah jadi aqidah. Beda fiqh jadi dikafirkan. Ribut perkara siyasah, padahal ujungnya cuma jadi siasat. Sudah miskin tradisi dan rendah literasi, tambah lagi mental orang kalah dalam hal budaya, ekonomi dan politik.
Cadar yang menutup tubuhmu itu gak seberapa. Yang parah itu kalau sampai menutupi dirimu dari pandangan dan perspektif yang berbeda seolah dirimu lebih baik dan lebih benar, dan selain dirimu dan kelompokmu keliru.
Jidat hitam itu gak perlu dipersoalkan. Yang gawat itu kalau pikiran dan hatimu hitam melihat prilaku keagamaan saudaramu yang berbeda dan kau tuding bid’ah-gak nyunnah, atau kafir-sesat.
Celana cingkrangmu gak masalah. Yang masalah itu kalau kau menganggap ukuran celana itu sebagai kriteria masuk surga atau neraka, padahal kesombongam dirimu itu yang menutup pintu surga.
Alunan musik kau haramkan, padahal suara piring kosong dan isak tangis kelaparan tetanggamu tak kau hiraukan.
Khilafah masa lalu kau anggap solusi. Padahal generasi lalu yang lebih shalih dari dirimu saja banyak melanggar syariat demi kekuasaan, sementara kamu membedakan khalifah dengan khilafah saja gak bisa.
Mereka yang tak menutup auratnya kau caci-maki, padahal Qur’an hanya memintamu untuk menundukkan pandangan, bukan mencaci mereka. Ketika kau menundukkan pandangan, bukan saja kau tak melihat aurat mereka yang terbuka tapi juga kau menghormati pilihan mereka dengan rendah hati. Urusi pandanganmu, bukan malah melotot mengurusi tubuh mereka.
Catur boleh saja kau haramkan karena khawatir melalaikanmu dari mengingatNya. Tapi lebih parah lagi kalau kau mengingatNya dengan cara menuduh orang lain lalai dariNya.
Tiup lilin saat ulang tahun kau haramkan. Tapi yang lebih berat lagi jika engkau setiap saat meniup-niup kebencian dan menebar berita hoaks untuk memaki-maki pemimpinmu.
Suara takbirmu menggelegar. Entah kau sedang membesarkan namaNya atau kau tengah meneriakkan semua perasaanmu sebagai generasi kalah dalam peradaban dunia saat ini?
Jadilah pemenang. Jangan jadi pecundang. Perbaiki kualitas generasi mendatang lewat institusionalisasi perintah pertamaNya: Iqra’. Belajarlah dan terus belajar, agar kita semua tahu bahwa lewat ilmu lah kita akan meraih kemenangan. Insya Allah!
Tabik,
Nadirsyah Hosen - Rois Syuriyah PCINU Australia

Perihal Penolakan Rencana Tabligh di Masjid Jogokariyan



Oleh: KH. Imam Jazuli. Lc., MA Tak dipungkiri, banyak prestasi yang sudah ditorehkan oleh Masjid Jogokariyan. Selain terkenal dengan Kampung Ramadhannya, sebagai solusi ekonomi masyarakat yang ada di sekitar, agar keberedaan masjid dan pasar bisa bersinergi. Masjid ini juga terkenal dengan keberadaan Islamic Center-nya, dengan kegiatan pelayanan jamaah. Ada 28 divisi yang bekerja. Diantaranya biro klinik, biro kaut, dan komite aksi untuk umat. Karena itu, tak mengherakankan jika Masjid ini pernah meraih penghargaan dari gerakan indonesia beradab (GIB) mewakili institusi sosial dengan pengaruh kepemimpinan dan kaderisasi sosial. Terlepas dari banyaknya prestasi itu, ingatan publik belum sepenuhnya lupa, terkait kontroversi ditolaknya acara bertajuk Muslim United Kedua di Masjid Gedhe Kauman, Oktober lalu. Surat bernomor 0336/KH.PP/Suro.IX/WAWU.1953.2019 yang ditandatangani oleh Penghageng Kawedanan Hageng Panitraputra GKR Condrokirono ini berisi tegas penolakan permohonan Kagungan Dalem Masjid Gedhe Karaton atau Masjid Gede Kauman dan Alun-alun Utara untuk acara Muslim United. Kemudian sejumlah Ta'mir Masjid Jogokariyan turut membela. Diantara isi pembelaannya itu adalah, "Masjid milik Allah, sudah sewajarnya digunakan untuk kepentingan umat Islam." Selain itu, pihak takmir masjid Jogokariyan menilai, acara bertajuk Muslim United merupakan acara tabligh/pengajian biasa dan tak seharusnya mendapatkan penolakan darimanapun. Buntut dari penolakan ini, sebagaimana kita mafhum, acara Muslim United kemudian dipindahkan ke Masjid Jogokariyan. Perpindahan tempat acara yang digelar Forum Ukhuwah Islamiyyah (FUI) Yogyakarta ini disambut gembira oleh pengurus Masjid Jogokariyan dan para jamaahnya. Karena alasan itulah, rasanya ada yang ganjil dan sulit dipercaya saat sahabat saya, DR. KH. Aguk Irawan Mn, Lc., memposting cuitan di FB, bahwa dirinya tertolak dari rencana mengisi tabligh akbar yang diselenggarakan di Masjid yang banyak prestasi itu. "Katanya masjid itu milik Allah, ternyata untuk orang kecil seperti saya, mereka menolak. Apa saya terindikasi liberal ya?,” tulis Ustadz Aguk yang tersebar di berbagai media sosial (20/11/2019). Status cuitan di facebook Ustadz Aguk ini menanggapi sebuah pesan dari panitia tabligh akbar 2019 yang menegaskan: “Assalamu’alaikum Wr. Wb. setelah proses yang cukup alot untuk bisa meyakinkan masjid Jogokaryan ternyata kami gagal dan dengan ini kami panitia mohon maaf untuk Pak Kiai Aguk Irawan tidak jadi (batal) sebagai salah satu pembicara di acara tabligh akbar 2019 (kami sangat kecewa atas hal ini), semoga di lain waktu dan di lain tempat kita bisa bekerjasama. Terimakasih.” Tidak ada keterangan lebih sebab apa dan kenapa Ustadz/Kiai Aguk ditolak di Masjid itu. Menurut keterangan Ustadz Aguk, ketika ia dimohon panitia untuk mengisi acara di Masjid itu, sebagai santri, terlebih dulu ia harus sowan sesepuh NU untuk memohon pertimbangan. Begitu ia memutuskan bersedia sebulan yang lalu, dengan pertimbangan pentingnya ukhuwah lintas kelompok umat Islam. Juga, mengingat secara historis, dahulu tahun 1970-an dan 1980-an para Ustadz dan Kiai NU sudah terbiasa mengisi pengajian di Masjid itu, diantaranya adalah KH. Malik Madani, KH. Henry Sutopo, KH. Muhadi Zainuddin, KH. Adnan Asyhari, Ustadz Saifuddin Zuhri, Ustadz Muhamamd Ikhsan dan lain sebagainya, maka sudah selayaknya kader NU perlu merajut kembali tali silaturahmi dengan siapapun, termasuk Ta'mir Masjid Jogokariyan yang belakangan ini terkesan beda jalur perjuangan dengan NU. Sementara menurut Ta'mir Masjid Jogokariyan, dalam hal ini diwakili Ustadz Syubban Rizal N melalui klarifikasinya di berbagai media sosial (21/11/201). Tertolaknya Ustadz Aguk, karena dalam rencana satu forum panitia menjadualkan, diantaranya dengan Ustadz Sukino sebagai narasumber. Ta'mir merasa keberatan jika latar belakang Aguk yang NU bersanding dengan tokoh, bahkan pendiri MTA (Majelis Tafsir al-Qur'an). Dikhawatirkan masing-masing membawa jamaah dan bisa "mengusik" ukhuwah Islamiah. Upaya antisipasi dan pencegahan pada hal-hal yang berpotensi memecah belah umat memang patut diapresiasi, tetapi mempertemukan orang yang beda paham (aliran) dalam satu forum untuk dialog (jika memang demikian), saya kira ini langkah maju untuk solusi persaudaraan dan peradaban. Dari statemen Ustadz Syubban Rizal ini bisa ditarik kesimpulan, bahwa salah satu alasan kuat kenapa Ustadz Aguk tertolak, tidak lain karena latar belakangnya sebagai aktifis NU. Memang tidak dipungkuri, Ustadz Aguk adalah NU tulen, dia memulai sebagai pengurus NU ketika masih remaja, dan aktif di IPNU/IPPNU anak ranting di kampungnya. Kelak ketika hijrah ke Cairo-Mesir (1997/1998), ia tercatat sebagai ketua bidang organisasi PCINU Cairo. Kemudian sepulangnya ke tanah air (2002), ia juga menjadi pengurus struktural NU, mulai di PP-LKKNU Pusat, Lesbumi PWNU DIY, hingga di LT-PBNU. Selain itu, Ustadz Aguk juga tidak hanya 'berkiprah' di struktrual NU, tetapi juga banyak terlibat di kultural, terutama di LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) pada awal tahun 2000-an. Tercatat, ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ikhtilaf LKiS dan Pemimpin Redaksi Jurnal Kebudayaan Kinanah, yang awak redaksinya terdiri antara aktifis NU Mesir dan aktifis NU Yogyakkarta (IAIN Sunan Kalijaga). Dari pergaulan di LKiS inilah, saat itu dia sangat produktif menulis di sejumlah media masa. Selain artikel islam-progresif, tentu saja sastra. Namun, boleh jadi sebagian Ta'mir Masjid Jogokariyan "meragukan" kapasitas Ustadz Aguk sebagai pendakwah, mengingat tajuk acara itu adalah Tabligh Akbar 2019. Sementara nama Ustadz Aguk barangkali belum pernah mereka dengar sebagai pengisi tabligh atau mubaligh (penceramah), sebagaimana penceramah kondang yang sering mereka hadirkan, diantaranya Ustadz Sugi Nur (Gus Nur), tak terkecuali juga Ustadz Abdul Shomad, karib Ustadz Aguk itu sendiri. Bahkan di suatu pengajiannya, Ustadz Kondang ini pernah mengapresasi Ustadz Aguk, katanya; "dia hebat, penanya tajam, cerita suka duka Haji dari Embarkasi Terusan Suez itu dia rekam dalam memorinya, dia tumpahkan dalam untaian kalimat membuat pembaca terombang ambing dalam Wadi Nile dan Assalam di pelukan Laut Merah. Allah memberkahimu Tuan Aguk Irawan." Komenter ini lau diliput oleh TribunPekanbaru, Sabtu (25/08/2018). Selain sebagai penerjemah dan penulis yang produktif, Ustadz Aguk juga mendirikan Pesantren Kreatif Baitul Kilmah dan mengasuhnya. Beberapa nama penerjemah dan penulis produktif lahir dari pesantren sederhana ini, diantaranya Imam Nawawi, Muhammad Muhibuddin, A. Zainuddin, Wildan Nurrohmadlon, Moh. Irfan, Ahmad Rozi, John Afifi, Ja’far Musadad, Ali Adhim, Fuad Bawazir, Ahmad Sobirin, Abdul Aziz dan lain sebagainya. Ada ratusan judul buku yang sudah ditulis atau diterjemahkan oleh anak didiknya, kemudian terbit dan dibaca masyarakat. Selain mereka menulis atau menerjemah secara individu, ada juga karya santri berjamaah. Beberapa karya terjemahan berjilid karya pesantren ini yang perlu disebut diantaranya adalah, Kitab Karamatul Auliya’ karya Syaikh Yusuf bin Ismail Nabhani, 4 jilid. Kitab Tafsir al-Jilani, karya Syaikh Abdul al-Qadir Jaelani, 5 jilid. Kitab Hadits Shahih al-Lu’lu’ wa al-Marjan, karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, 4 jilid. Sementara untuk buku diantaranya; Ensiklopedia Pengetahuan al-Qur’an dan al-Hadist (Asbabul Nuzul dan Asbabul Wurud), 7 Jilid. Ensiklopedia Pengetahuan Sains Islami, 9 jilid dan Ensiklopedia Ulama Nusantara, 9 jilid. Buku-buku ini biasanya menjadi koleksi Masjid-Masjid, Mushalla dan perpustakaan. Semua buku tersebut bisa didapatkan melalui distributor buku Kamil Pustaka, Jakarta. Yang menarik, hasil dari penjualan karya mereka dikelola bersama untuk pembangunan dan pengembangan pesantren Baitul Kilmah di Pajangan Bantul. Karena itu tak berlebihan, media menyebut Ustadz Aguk sebagai pejuang literasi dari Pesantren. Biografi, ratusan karya dan prestasinya terekam oleh wikipedia. Tetapi masjid Jogokariyan yang punya banyak prestasi itu telah menolaknya. (wallahu'lam bishawab). *Penulis adalah alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2010-2015.

Friday, November 22, 2019

Lirboyo dan Upaya Kontra Radikalisme Menteri Agama



Oleh: Ahmad Muntaha AM

Propaganda dalil harus dihadapi dengan dalil, ayat dengan ayat, hadits dengan hadits, ideologi dengan ideologi. Demikian bila kita menghendaki radikalisme di Indonesia semakin tereduksi secara optimal. 

Dalam konteks itulah Lirboyo terus berupaya melakukan kontra radikalisme yang sudah menggurita di Indonesia. 

Melalui buku Fikih Kebangsaan Jilid 1 dan 2, Kritik Ideologi Radikal, Nasionalis Religius, dan buku-buku lainnya, Lirboyo secara konsisten dan masif terus melakukan ikhtiarnya. 

Secara lebih khusus, beberapa santri telah ditunjuk untuk ikut memperbaiki kurikulum pendidikan di lingkungan kementerian agama agar terbebaskan dari unsur-unsur radikalisme yang terlegalkan oleh negara.

Hari ini, Menteri Agama Bapak Fachrul Razi silaturahim dan shilatul harakah (menyambung gerakan) kontra radikalisme dengan keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo. Tentu dengan Fikih Kebangsaan Jilid 1 dan 2 sebagai buah tangan istimewa yang dihadiahkan langsung oleh Pengasuh Pesantren, KH Anwar Mashur, kepada Bapak Menteri Agama.

Selamat membaca dalil-dalil kontra radikalisme ala santri Lirboyo, Pak Menteri. Semoga makin menguatkan, memantapkan dan mengokohkan sinergi perlawanan kita terhadap radikalisme yang terus memapar generasi negeri ini.

Thursday, November 14, 2019

Mewaspadai Radikalsime NU Garis Lurus (Neo Khawarij)

Oleh : KH. Imam Jazuli, Lc., M.A
Menjelang Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015, muncul fenomena radikal jenis lain. Yakni, kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai NU Garis Lurus, yang secara radikal memusuhi seluruh kelompok yang berbeda dari dirinya. Kelompok ini digawangi oleh Ustad. Luthfi Bashori (Malang), Ustad Yahya al-Bahjah (Cirebon), dan Ustad Idrus Ramli (Jember).
Dengan gaya radikal, NU Garis Lurus menjelma gerakan neo-khawarij, yang menuduh sesat siapa saja yang menyimpang dari tafsir keagamaan versi dirinya, termasuk Gus Dur, M. Quraish Shihab, dan Kiai Said Aqil Siradj. Tokoh-tokoh NU Moderat ini tidak lepas dari cercaan mereka. Mencerca tokoh NU moderat sama persis dengan saat mencerca kelompok Jaringan Islam Liberal (Ulil Abshar Abdalla, dkk.).
Radikalisme neo-khawarij ini membuat jamaah Nahdliyyin terkocar-kacir. Bahkan, keberhasilan NU Garis Lurus menggalang jamaah sendiri terlihat jelas saat Pilpres 2019 tempo hari. Golongan kecil ini mendukung pasangan Prabowo-Sandi di kala mayoritas warga Nahdliyyin mendukung Jokowi-Amin. Visi awal NU Garis Lurus memang untuk menentang golongan mayoritas.
Dalam rangka menyerang NU Moderat, NU Garis Lurus mengangkat isu-isu lama, seperti permusuhan terhadap Syi’ah dan Ahmadiyah. Ironisnya, NU Garis Lurus terperdaya oleh kaum Wahhabi yang mentahrif atau mengubah teks kitab ar-Risalah karya Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Mbah Hasyim tidak memusuhi kelompok Syi’ah secara umum, tetapi khusus Syi’ah Rafidhah, yakni mereka yang memusuhi para sahabat Nabi.
Di Indonesia, kelompok Syi’ah Rafidhah itu tidak ada. Tetapi, karena terjebak oleh versi Wahhabi, NU Garis Lurus menyamakan seluruh Syi’ah tanpa mampu membedakannya dengan Rafidhah. Dari sinilah potensi destruktif aliran NU Garis Lurus terlihat nyata. Sehingga ia tak ubahnya dengan golongan radikalis Islam lainnya.
Watak destruktif dari aliran NU Garis Lurus ini sangat kentara. Dalam setiap dakwahnya, tuduhan kelompok di luar dirinya telah menyimpang, sesat, “tidak-lurus”, sangat mudah dijumpai. Bukan saja golongan Syi’ah, Ahmadiyah, bahkan tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Quraish Shihab, dan Kiai Said Aqil Siradj pun tidak lepas dari tuduhan telah berbuat menyimpang. Pemaknaan terhadap konsep Akidah Ahlus Sunah wal Jamaah dan teks-teks kitab karangan Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari ditafsiri sesuai perspektif kelompoknya.
Kehadiran NU Garis Lurus tidak lepas dari peran yang ingin dimainkannya, yakni anti-tesa terhadap aliran liberal yang digagas oleh anak-anak muda NU. Namun begitu, gerakannya yang terlalu ekstrim kanan membuat persoalan kebangsaan dan keagamaan semakin rumit. NU Garis Lurus hadir hanya untuk meramaikan persoalan dialektika internal NU dengan jalur dakwah puritanisasi.
Puritanisme adalah gerakan paham keagamaan yang memperjuangkan keaslian. Akhir abad 16 di Inggris, kaum puritan ingin memurnikan ajaran Katolik Roma dari ajaran-ajaran yang dianggap bukan dari Katolik. Di Timur Tengah terjadi pada abad ke-18, ketika aliran Wahhabisme dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Wahhabisme ingin membersihkan Islam dari ajaran-ajaran yang dianggap bukan dari Islam.
Dengan menyerang tokoh-tokoh besar NU seperti Gus Dur, Quraish Shihab, Said Aqil Siradj, NU Garis Lurus mengusung paham puritanisme. Terminologi “Garis Lurus” digunakan untuk ajaran puritanisme mereka. Yakni, mengebiri aspek-aspek keagamaan dan pemikiran di tubuh NU, yang menurut mereka tidak sejalan dengan ajaran Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari.
Pengebirian ini pula tidak lepas dari konteks sosial-politik pada jamannya. Yaitu, kelompok NU Garis Lurus ini mengalami kekalahan telak pada Muktamar NU ke-33 tersebut. Idrus Ramli dan kawan-kawan hanya mendapatkan suara yang sedikit dan tidak masuk ke dalam kepengurusan struktural PBNU. Satu-satunya jalan adalah berbeda dengan NU Moderat melalui propaganda keagamaan, yang disebutnya Garis Lurus. Sehingga dalam perjalanannya, NU Garis Lurus akan terus menyerang PBNU baik dalam aspek keorganisasian maupun non-organisasi.
Siapa pun mau menyerang PBNU, sejatinya sudah difasilitasi, yakni dengan adanya media intelektual seperti tradisi Bahtsul Masail. Di sana semua urusan agama (fikih, akhlak, dan Aqidah) dapat dibicarakan secara akademik. Namun, NU Garis Lurus lebih sering su’ul adab (tidak beretika) dan mengabaikan diskusi terbuka di panggung Bahtsul Masail. Padahal, inilah kesempatan mereka duduk bersama dengan seluruh entitas kelompok dan aliran pemikiran yang ada dalam tubuh NU sendiri.
Jika NU Garis Lurus memang memperjuangkan kebenaran dan ilmu pengetahuan, bukan kekecewaan karena tidak mendapat kekuasaan dan struktur jabatan, semestinya menghindari tuduhan-tuduhan sepihak yang menyudutkan NU Moderat. Bahtsul Masail jangan ditinggalkan, supaya jamaah Nahdliyyin tidak jadi korban.
Jangan sampai menuruti hawa nafsu kekuasaan lalu tega hati melakukan penyelewengan dan penyempitan atas ajaran komprehensif-holistik dari Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Lembaga Bahtsul Masail adalah jalur formal yang bisa ditempuh jika NG Garis Lurus ingin ‘meluruskan’ apa yang mereka anggap ‘bengkok’ dalam tubuh NU.
Pada tanggal 9 Februari 1940 bertepatan dengan Muktamar NU ke-15 di Surabaya, Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari mengatakan: “wahai para ulama yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perkara furu’, di mana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala,” (Hasyim Asy’ari, al-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wa al-‘Aqarib wa al-Ikhwan, hal. 33).
Fanatisme yang diusung NU Garis Lurus tidak saja memecah belah warga Nahdliyyin tetapi mengajari umat muslim untuk su’uzh zhon (berburuk sangka) atas NU. Hanya karena ada beda tafsir atas ajaran Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, NU Garis Lurus memisahkan diri dari jamaah.
Padahal, Hadratus Syeikh sendiri mengutip hadits Nabi saw yang berbunyi: “sungguh Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam kesesatan. Tangan Allah ada di atas jamaah. Barang siapa yang menyingkir, dia menyingkir ke neraka (inallaha ya yajma’u ummati ala dhalaltin, wa yadullahi alal jama’ah, man syadzdza syadzdza ilan nari).” (HR. At-Turmudzi).
Riwayat lain menambahkan, “apabila terjadi perbedaan, maka berpihaklah pada mayoritas, yang berpegang pada kebenaran dan pengikut kebenaran (fa idza waqa’al ikhtilafu, fa ‘alaika bis sawadil a’zhami, ma’al haqqi wa ahlihi),” (HR. Ibnu Majah).
Dalam menafsiri hadits-hadits tersebut, Hadratus Syeikh mengatakan: “kita wajib mendorong saudara-saudara kita yang awam untuk menjaga persaudaraan, menjaga tali silaturahmi, berbuat baik pada tetangga, sanak famili, dan teman-teman; mencintai orang-orang lemah dan rakyat kecil, mencegah terjadinya saling memusuhi, saling hasut, pecah belah dalam beragama,” (Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlus Sunnah, hal. 14).
Karena NU Garis Lurus mengabaikan panggung Bahtsul Masail, mereka menyatakan diri penjaga ajaran murni Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Namun, dalam realitasnya malah mengkhianati ajaran-ajaran Hasyim Asy’ari sendiri. Yakni, memecah belah umat dan keluar dari jamaah NU dengan menciptakan kelompok kecilnya sendiri.
Penulis adalah alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2010-2015.
sumber: tribunnews.com

Tuesday, April 30, 2019

Politik Itu Bukan Agama!



Oleh Nurul H. Maarif*)
Politik itu bukan agama. Itu jelas! Herannya, dan ironisnya, sering kali kita lebih militan membela politik, ketimbang membela agama itu sendiri. Kita juga kerap kali lebih “baperan” tatkala bergesekan kepentingan atau dukungan politik. Pikiran, tenaga dan waktu kita tersedot habis-habisan untuk urusan politik, tapi bukan untuk urusan agama.
Lihat saja kecenderungan kita, baik sebelum maupun sesudah Pemilu (Pilpres dan Pileg) serentak, Rabu, 17 April 2019 lalu. Situasi sebelum Pemilu begitu hiruk-pikuk. Dudi (dunia digital) atau Dumes (dunia media sosial), begitu panas membara. Saling hujat, saling hina, saling caci, saling maki, saling tuding, saling menjatuhkan, saling menyalahkan, terus-terusan mewarnai dunia maya itu. Fragmentasi terjadi antara dua kubu pasang calon; 01 dan 02. Di dunia nyata pun kiranya tak jauh berbeda.
Hingga beberapa hari usai hajatan demokrasi terbesar di dunia itu, faktanya suasana kebatinan mereka belum benar-benar move on dan tidak serta-merta mendingin. Masih saja muncul saling curiga satu dengan lainnya. Juga masih saling praduga antar sesama. Hujatan, cacian, makian, dll, rupanya tidak hilang seiring usainya pencoblosan, terutama di dunia media sosial. Lebih buruk lagi, jika suasana ini dikipasi atau dikompori oleh (mereka yang dinilai sebagai) tokoh agama atau tokoh masyarakat.
Ujung-ujungnya, untuk membela kepentingan politik, kita tak sungkan dan tak canggung menyeret-nyeret terma agama. Pendukung si Anu “kafir”, “fasik”, tak pakai akal, atau cap buruk lainnya. Bahkan beberapa diantaranya hingga tega menerakakan saudara muslimnya sendiri, hanya karena pilihan yang tak sama. Surga, lalu, dikapling-kapling oleh pendukung calon tertentu dan “haram” untuk pendukung calon yang lain. Alasan keagamaan untuk membenarkan pilihan politik pun dianggap absah.
Ayat-ayat dan Hadis-hadis juga ramai bertebaran. Dipolitisasi untuk menguatkan kepentingan politik tertentu. Tak peduli, apakah penerapannya sesuai konteks atau justru menyalahinya. Asalkan sesuai selera, doktrin agama itu dipakainya tanpa perasaan berdosa. Padahal semestinya, kita hati-hati menerapkan ayat atau Hadis. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa menafsirkan al-Quran dengan rayunya, maka bersiap-siaplah menempati tempat di neraka.” (HR. al-Tirmidzi). Ray identik dengan kepentingan hawa nafsu atau selera yang pragmatis.
Karenanya, semestinya kita (umat Islam) ingat betul, bahwa politik itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan tema besar agama. Dan, ia semata wasilah (perantara) mencapai kemaslahatan bersama. Dalam sejarahnya, berdasarkan Hadis-hadis yang valid, diantaranya riwayat Ahmad bin Hanbal, Rasulullah Saw diutus li utammima shalih al-akhlaq (untuk kebaikan moralitas), bukan untuk merebut kekuasaan. Hakikat bitsah beliau bukan untuk menegakkan politik.
Keluhuran akhlak tentu saja jauh di atas kepentingan politik. Akhlak haruslah menjadi pengontrol politik. Para politisi, jika ingin mulia dunia akhirat, berjalanlah di atas rel akhlak. Jangan sampai, untuk meraih simpati atau dukungan supaya meraih kemenangan, akhlak lalu dilabrak dan diabaikan begitu saja. Nilai agama lalu dicampakkan seakan tiada guna dan makna. Ketika menjadi penguasa, juga jadilah penguasa yang senantiasa berjalan di atas rel akhlak, sehingga kebijakannya berorientasi untuk kemaslahatan rakyat.
Pun kita para pendukung/simpatisan, jika ingin luhur dunia akhirat, dukunglah jagoan kita dengan landasan akhlak mulia. Akhlak akan melahirkan peradaban yang madani (cosmopolitan) dan penuh penghargaan pada keragaman. Sikapi perbedaan dengan keluhuran. Di situlah, agama memainkan perannya. Berpolitiknya dengan landasan agama, bukan beragama dengan landas politik.
Hati-hati
Dalam beberapa penelitian, termasuk yang dilakukan oleh Prof. Harun Nasution (Mantan Rektor IAIN Syahid Jakarta), disebutkan bahwa sengketa teologi berawal dari sengketa politik. Perpecahan umat Islam sejak zaman Abu Bakar al-Shiddiq dan memuncak pada masa Khalifah Keempat, Ali bin Abi Thalib, itu dilatari persoalan kekuasaan atau politik. Kala itu, sikap Ali yang menyetujui tahkim atau arbitrase dengan Muawiyah, direspon beragam oleh kaum muslim.
Sebagian keluar dari barisan Ali. Mereka lalu disebut Khawarij, yang memiliki karakter garang dan keras. Sebagian abstain alias tidak berpihak pada siapapun. Mereka inilah Murjiah, yang menyerahkan segala urusan pada Allah Swt. Mereka kelompok yang cenderung adem-ayem. Juga ada sebagian yang setia pada Ali dan sebagiannya cenderung fanatik berlebihan. Mereka inilah kelompok Syiah.
Dari persoalan politik kekuasaan itu, yang terjadi sejak zaman Abu Bakar, diantara efek buruknya adalah terbunuhnya Umar bin al-Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, termasuk juga Umar bin Abdul Aziz. Mereka pemimpin terbaik yang dimiliki umat Islam. Ketakwaan dan keadilannya tidak diragukan. Namun berhadapan dengan kepentingan politik, nyatanya mereka tak berdaya. Berbagai persoalan politik setelahnya lalu berkembang liar.
Inilah ruginya jika akhlak tidak menjadi darah yang mengiringi hiruk-pikuk politik kekuasaan. Seyogyanya, kita mampu menjadikan sejarah suram ini sebagai pengalaman mahal, sehingga kita mampu menjalankan kehidupan sosial kemasyarakatan penuh keluhuran. Pelajaran telah dihamparkan. Hanya bijak bestari yang mampu mengambil mutiara-mutiara itu.
Pertanyaannya kini: pelajaran apa yang semestinya kita petik dari fakta sejarah kelam umat Islam dan hajatan demokrasi 2019 yang baru saja usai diselenggarakan?
Pertama, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara besar, yang diperjuangkan oleh semua kalangan. Ia berdiri di atas keragaman suku, agama, ras dan golongan. Tak heran, semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi mantra sakti di Negeri Zamrud Katulistiwa ini. Ini juga menunjukkan, keragaman di negeri ini adalah fitrah yang tak mungkin dipungkiri. Menjaga keragaman dengan penuh keriangan, akan menjadikan negeri ini kian besar dan penuh martabat.
Kehendak menafikan keragaman akan menghancurkan kebesaran dan martabatnya.
Sebab itu, demokrasi yang menyimbolkan kebersamaan dalam keragaman, tidak semestinya menjadi alasan menafikan fitrah keragaman. Biarkan perbedaan berkembang alamiah. Biarkan perbedaan berlangsung penuh keindahan, bak aneka bunga di taman surga. Senyuman tetap dikedepankan, kendati pilihan dan kepentingan berbeda. Situasi inilah yang beberapa hari terakhir ini terasa senyap.
Kedua, kita harus berhati-hati menyangkut urusan politik ini. Tak sedikit contoh, betapa politik bisa menggerus dan memberangus kehidupan bersama yang terajut indah nan damai. Juga tak kurang contoh nyata, betapa politik menjadi momok menakutkan persatuan bangsa. Lebih-lebih politik identitas. Ia cenderung menafikan perbedaan sebagai sunnatullah yang tak terabaikan. Karena itu, kita patut waspada pada penumpung gelap demokrasi, yang berkepentingan mengganggu ukhuwwah wathaniyyah, ukhuwwah basyariyyah dan ukhuwwah insaniyyah bangsa ini.
Persaudaraan yang telah terjalin di kalangan bangsa ini, dibeli dengan harga yang sangat mahal, sehingga dunia menghormati kita. Betapa naifnya, hanya karena perbedaan pilihan politik, kita rela mengorbankan nilai-nilai persaudaraan. Bukankah Islam mengajarkan pada umatnya untuk bersatu dan tidak saling berbecah-belah? (Qs. Ali Imran: 103).
Ketiga, peran stake holder bangsa ini untuk menjaga persaudaraan warganya menjadi lebih urgen. Aparat pemerintah berkewajiban mengayomi mereka dengan kebijakannya. Para tokoh agama berkewajiban menenteramkan jiwa mereka melalui tausiah keagamaannya. Aparat keamanan bertugas menjaga keamanan mereka melalui mandatnya. Dan semua, memiliki tugas menjaga persatuan dan persaudaraan bangsa ini sesuai tupoksi dan porsinya masing-masing.
Selain itu, baik umara (penguasa) maupun ulama (tokoh agama) haruslah senantiasa berkoordinasi dalam segala hal yang terkait kemaslahatan umat. Umara bertugas mengelola kesejahteraan fisik. Ulama bertugas mengelola ketenangan batin dan menjaga moralitas. Berjalan sendiri-sendiri akan menjadikan bangsa ini tidak punya arah dan hanya menunggu waktu kerusakannya. Dalam Hadis Nabi (yang kualitasnya diperselisihkan), dikatakan bahwa dua golongan inilah yang menentukan masa depan umat: jika keduanya baik, umat baik dan jika keduanya rusak, umat rusak.
Untuk itu, mari kita move on bersama menuju kehidupan sosial-politik yang lebih bermartabat. Tempatkan urusan politik di bawah agama, karena agama nilainya lebih tinggi dibanding politik. Dan 01 + 02 = 03, yang bermakna Sila Ketiga “Persatuan Indonesia”.[]
*) Penulis adalah Pengelola Ponpes Qothrotul Falah dan Ketua Komisi Dakwah & Komunikasi MUI Kab. Lebak

Monday, April 08, 2019

Prabowo 'Dikudeta' PKS dalam Kampanye Akbar di GBK?



Kampanye akbar capres 02 di Gelora Bung Karno berakhir sudah. Ada analisa menarik, menyebut acara kampanye paslon 02 di GBK minggu pagi, sejatinya adalah acara PKS, jadi Gerindra gak perlu bangga.

Prabowo sudah masuk dalam jebakan batmen-nya PKS karena PKS yang identik dengan HTI akan coba menggaungkan kembali “Khilafah“, lihat saja acara kampanye yang tidak normal dan ekslusif dengan bungkusan agama “subuh putih“.
 
Ustad - ustad yang tampil menguasai panggung mereka, ada: Bachtiar Nasir, Sobri Lubis, Neno Warisman, Sohibul Iman, Mardani Ali Sera, Tengku Zulkarnain, Al Khatat dan lain-lain.
Yang membuat semakin lucu, di acara tersebut juga diputar video orasi Riziq Syihab dari Mekkah. Mayoritas panggung mereka, dikuasai orang - orang yg sangat bernafsu untuk ganti system. Dimana orang Gerindra?

Mereka tanpa sadar sudah dikudeta oleh PKS dan HTI. Pantas saja kalau SBY yang masih berada di Singapura meradang minta pimpinan partai Demokrat untuk protes ke Prabowo. 

Tapi semua sudah terlambat, rundown acara sudah fix dan Prabowo tidak bisa berbuat apa apa. Massa militan PKS minggu dini hari sudah tumpah ruah ke GBK hingga pukul tujuh. Lalu lintas sekitar GBK macet. Kesempatan ini rupanya tidak disia-siakan oleh PKS untuk benar benar unjuk gigi.

Nah, langkah SBY yg meminta pimpinan Demokrat melayangkan protes bukan tidak ada maksud, karena SBY sebenarnya sudah tau bahwa JKW akan memenangkan pilpres 17 April mendatang. Jadi langkah SBY tidak lain ingin ancang ancang lompat pagar dengan kaki yg lain.

Jumlah massa yang  hadir diperkirakan berjumlah 50 ribu orang yang mayoritas dimobilisasi oleh PKS masih belum sebanding dengan banyaknya TPS. Karena ada bocoran hasil survey yang cukup sahih yang belum di publikasikan, bahwa 01 akan dapat 56% dan 02 akan dapat 38%.

Jadi, buat kalian yang sayang dan cinta dengan NKRI mari gunakan hak pilih dan suara kit, jangan golput. Karena golput akan memberikan ruang kepada kaum radikal untuk mengganti Pancasila.

Saturday, April 06, 2019

Literasi Muslim Digital: Dosa Jariah Digital


Oleh: A. Khoirul Anam
Biasanya kita mengenal istilah “jariyah” ini berkaitan dengan amal perbuatan yang pahalanya tidak akan pernah terputus, bahkan sampai seseorang Muslim meninggal dunia. Pahalanya terus mengalir. Ada tiga perkara yakni sedekah jariyah atau wakaf, ilmu pengetahuan yang terus bermanfaat dan anak-anak shalih yang terus mendoakan.
Namun kali ini berurusan dengan dosa. Dosa digital. Yaitu amal perbuatan di dunia maya yang selalu mengalirkan dosa, bahkan setelah domain atau akun yang kita pakai untuk menyebar dosa itu sudah tidak aktif.
Sekarang kita sudah sering diperingatkan dengan “jejak digital”, atau rekam jejak kita di dunia maya. Memori dunia maya akan menampung perilaku kita selama menggunakan internet atau media sosial: Kita pernah kemana, dengan siapa, melakukan apa, bicara apa, mendukung atau memuji siapa atau sebaliknya mencaci-maki siapa, dan seterusnya. Semuanya terekam dengan baik. Jejak digital saat ini menjadi bahan pertimbangan dalam rekrutmen karyawan, partener bisnis, atau mungkin jodoh.
Namun kali ini berurusan dengan dosa, yakni postingan-postingan yang diarang oleh agama. Misalnya: fitnah, kebohongan, adu domba, celaan, hujatan, atau istilah yang sangat populer di dunia digital: hoax.
Meskipun suatu saat kita menghapus konten yang telah diupload, tapi fasilitas pencarian di internet sangat canggih untuk memunculkan kembali postingan kita, bahkan yang diupload dengan fasilitas messeging system yang mestinya bersifat privat. Semuanya bisa dimunculkan lagi. Apalagi jika postingan kita sudah disreenshot atau dicapture secara manual, atau telah didaur-ulang dan disebarkan oleh banyak orang dan entah kemana saja.
Seperti sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir, kira-kira dosa jariyah juga demikian adanya. Bayangkan ketika kita membuat satu kebohongan, kemudian kebohongan itu tersebar ke banyak penjuru dan berulang-ulang dari tahun ke tahun entah sampai kapan! Bayangkan ketika kita memproduksi atau menyebar hoax, lalu hoax itu dishare dan direproduksi dan dishare lagi sampai seakan-akan menjadi sebuah kebenaran, maka maka kita telah menipu sekian banyak orang.
Dalam terminologi taubat, jika kesalahan yang kita lakukan berkaitan dengan orang lain, maka selain menghentikan perbuatan salah dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan, lalu meminta ampun kepada Allah, ada syarat satu lagi, yaitu meminta maaf atau menyelesaikan urusan dengan orang-orang yang berkaitan dengan kesalahan kita. Namun, bayangkan, ketika satu hoax kita sebar kemudian hoax itu disebar ke banyak orang, bagaimana kita bisa menghentikan persebaran hoax itu, juga bagaimana cara kita meminta maaf kepada pihak-pihak yang sakit hati di banyak tempat entah dimana karena hoax yang kita produksi atau kita sebar. Kalau urusan dosa dengan manusia ini belum kelar, bagaimana kita bisa meminta ampun kepada Allah? Bagaimana kita bertaubat? Rumit bukan?
Tentu saja Malaikat Atid, atau sang pencatat amal buruk manusia, punya mekanisme pencatatan dosa di era digital seperti sekarang ini. Maka sebaiknya kita pikir-pikir dulu sebelum menyebar dosa dengan jari-jari kita. Puasa di era digital ini adalah menahan diri kita, jari-jari kita untuk tidak berbuat dosa digital itu.

Wednesday, March 27, 2019

Awas! Ada Ideologi Transnasional HTI Mendompleng Pilpres 2019




"Saya tidak khawatir dengan yang namanya FPI. Saya jauh lebih khawatir dengan ideologi transnasional yang sedang berkembang di negeri ini.."

Begitu ungkapan salah seorang pentolan aparat Kepolisian saat bertemu dengan almarhum KH Hasyim Muzadi. Pada waktu itu tahun 2003, dan pihak aparat masih belum paham apa yang disebut ideologi transnasional itu.

Semakin lama akhirnya selubung terbuka, ada kelompok yang jauh lebih berbahaya dari sekadar ormas preman yang selalu bikin ricuh suasana, yaitu organisasi yang mempunyai agenda besar untuk mewujudkan negara Islam dengan cara menghancurkan negara. 

Organisasi ini dipenuhi kaum intelektual, menguasai jaringan dunia pendidikan dan melahirkan kader-kader militan yang ditempatkan di berbagai elemen pemerintahan. 

Organisasi ini bernama Hizbut Thahrir Indonesia atau HTI.

HTI ini canggih. Ibarat virus, mereka virus yang berkembang sesuai masa. Ketika berada pada masa teknologi, mereka beradaptasi dan memanfaatkannya sebagai senjata. Mereka paham pepatah yang mengatakan bahwa "siapa yang menguasai informasi, dia akan menguasai dunia". 

Dan dari gerakan senyap tanpa banyak yang orang sadari, ideologi HTI membius banyak orang melalui baju agama, dengan memanfaatkan media online dan sosial, memanfaatkan jaringan televisi dan artis-artis dalam konsep hijrah untuk menarik kader muda.

Pada puncaknya, mereka yang terkena virus ini, akan menganggap bahwa "negara Islam" versi HTI adalah sebuah tingkat keyakinan tertinggi dalam ibadah kepada Tuhan, sehingga orang tidak bisa menolak dan rela menyumbangkan darah dan harta mereka demi tegaknya cita-cita negara khilafah.

Inilah alarm dari almarhum KH Hasyim Muzadi kepada aparat Indonesia yang baru disadari beberapa tahun kemudian.

Sesudah peristiwa Arab Spring yang memecah Timur Tengah, barulah kewaspadaan terhadap gerakan ideologis ini berjalan. Aparat kepolisian dan Nahdlatul Ulama membuat perencanaan khusus bagaimana bisa memotong leher ular ini ditengah jalan.

Kesempatan terbaik ada di pemerintahan Jokowi. Rekam jejak Jokowi sebagai pemimpin yang moderat dan tidak memberi ruang bagi kelompok fundamental berkembang, menjadi catatan bagus untuk memulai gerakan membasmi ular berbisa bernama HTI ini.

Dan puncaknya pada Mei 2017, Wiranto mengumumkan pembubaran HTI, sebuah langkah berani karena ini berarti membangunkan sang ular yang selama ini mengira dirinya sudah menguasai medan. Langkah berani pemerintah ini tentu atas dukungan dan masukan Nahdlatul Ulama yang sudah sejak lama memantau gerakan ideologi transnasional yang berbahaya ini.

Perjalanan NU mulai mengetahui, mencium keberadaan sampai membubarkan virus HTI itu adalah perjalanan panjang dengan segala resiko ditangan. Bahkan Banser NU menyediakan diri menjadi bemper di depan untuk melindungi satu wilayah terinfeksi virus yang lebih besar.

Itulah kenapa akhir-akhir ini NU banyak dihujat dan difitnah. Karena ketika HTI besar kembali, NU lah yang pertama kali akan mereka hancurkan dengan segala cara.

Dari rekam jejak ini, kita bisa mengetahui kemana arah politik Nahdlatul Ulama.

NU memang sudah tidak berpolitik praktis sejak munas tahun 1983 di Situbondo Jawa Timur. NU lebih mengedepankan politik tingkat tinggi (siyasah ‘aliyah samiyah) atau politik kebangsaan dan politik kerakyatan.

Bagi NU mengawal agenda menjaga kebangsaan dan negara ini adalah dengan menghadang wujudnya kembali HTI dalam bentuk berbeda dengan menunggangi partai politik. Itulah kenapa NU merapat ke Jokowi, bukan karena mereka berpolitik, tetapi mengawal agenda besar mereka menjaga NKRI.

Jadi saya agak heran ketika ada orang yang mengaku warga NU bicara bahwa dia tidak memilih Jokowi. Dia sungguh tidak paham, bahwa dimana HTI berada, NU akan berdiri menghadangnya.

Mari kita dukung Nahdlatul Ulama. Karena Pilpres 2019 ini bukan tentang siapa Presidennya, tetapi perang ideologi antara NKRI dan mereka yang ingin menjadikan negeri khilafah.

Anda ada dibarisan mana ?

Seruput kopinya.. ☕

(Denny Siregar)

Saturday, March 23, 2019

Siapa Oknum Pembuat Hoax Jawaban Soal Ujian yang dibuat Kemenag?


oleh A. Khoirul Anam
Akal sehat sangat sulit menerima alasan penggantian nama KH Hasyim Asy'ari dg KH Ahmad Dahlan dlm soal ujian sebagai sebuah kesalahan teknis. Resolusi jihad dan KH Hasyim Asy'ari tdk bisa dipisahkan. Dalam peringatan Hari Santri Nasional hal ini disebut berulang-ulang.
Akal sehat memastikan bahwa penggantian itu adalah kesengajaan. Pertanyaannya, mengapa ada yg sengaja membuat hoaks dlm dunia pendidikan dengan "membenturkan" dua ulama besar dan tokoh pergerakan nasional tersebut?
Sang pelaku pastinya orang internal Kementerian Agama atau dlm jaringannya yang tidak suka dengan NU atau keramaian peringatan hari santri. Dia juga mungkin tidak suka dengan Jokowi yg menetapkan tanggal 22 Oktober atau tanggal dikeluarkannya Resolusi Jihad melawan tentara sekutu sebagsi tanggal peringatan hari santri.
Perlu dicatat, pada tahun 1945 itu KH Hasyim Asy'ari bukan hanya pemimpin NU tetapi juga pemimpin besar umat Islam yang memimpin JIHAD melawan Sekutu yg ingin merebut kemerdekaan.
Perjuangan umat Islam dlm mewujudkan kemerdekaan itu sebelumnya tdk tertulis dalam buku-buku sejarah konvensional. Bahkan dalam buku Sejarah Nasional Indonesia 6 jilid tebal yg diterbitkan Orde Baru itu kata "Resolusi Jihad" tidak ditemukan. Alhamdulillah sejarah sudah diluruskan.
Perlu dicatat pula, sejarah perjuangan umat Islam dlm mewujudkan kemerdekaan itu perlu diterangkan kepada anak2 sekolah pada saat ada sekelompok "pemberontak" yg menyebut Indonesia sbg negara kafir atau thogut. Bahwa Indonesia ini bukan main-main, tapi didirikan dg JIHAD dan darah syuhada shg generasi penerus harus mempertahankan keutuhannya.
Permintaan maaf atas nama institusi atas kesalahan itu sudah dilayangkan. Tapi mengusut siapa oknum yg menyelipkan hoax dalam soal ujian itu adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan, dan tak harus melibatkan kepolisian bukan?

Monday, March 18, 2019

Kiai Maruf Sangat Mengejutkan, Sandiaga Jadi Terlihat Kuno



Oleh: Alifurrahman.

Mengejutkan, mungkin itu yang bisa saya simpulkan dari debat Cawapres kali ini. di luar ekspektasi saya, dan mungkin di luar perkiraan banyak orang. Begitu tenang, begitu jelas, dan sangat-sangat tepat, terukur dan mudah dipahami. Tidak ada pertanyaan yang tak mampu dijawab dengan baik, pemilihan katanya pun begitu variatif. Sementara sebaliknya, Sandiaga tetap begitu, sebut nama orang yang entah ada atau tidak, kemudian jualan Oke Oce. Tak ada kebaruan, tak ada solusi.

Kiai Maruf begitu fasih menjelaskan KIP Kuliah, Kartu Sembako Murah dan Kartu Pra Kerja. Dan yang cukup membuat saya merinding, ketika beliau dengan percaya diri mengatakan “la takhof wa la tahzan, anak-anakku jangan takut bermimpi, negara hadir untuk memenuhi seluruh kebutuhan kalian.”

Saya terkejut ketika Kiai Maruf bisa dengan tenang menjelaskan permasalahan stunting. Bahwa penanganannya harus dilakukan sejak anak dalam kandungan, bukan setelah lahir, apalagi setelah usia 2 tahun. Dari sisi kedokteran dan fiqh bisa beliau jelaskan, bertemu di satu solusi yang sama. Ini bukan saja sekedar membuat kita yakin bahwa Kiai paham betul cara menangani stunting di Indonesia, tapi juga menyadarkan kita bahwa teori kedokteran dan syariah bisa sejalan.

Poin ini sangat penting, karena selama ini di kalangan muslim fanatik, beberapa ada yang meragukan ilmu kedokteran. Sekali lagi, Kiai berhasil menyadarkan kita semua, bahwa ilmu kedokteran dan fiqh pada dasarnya sama dan tidak saling bertentangan.

Begitupun ketika menjelaskan soal infrastruktur, Kiai Maruf dengan sangat yakin membahas pembangunan palapa ring. Dunia usaha dan dunia industri, opera house, infrastruktur langit, decacorn, cyber university dan basic capital and maximize utility. Semua adalah istilah-istilah modern dan kekinian, yang berhasil disampaikan secara detail.

Bahkan soal birokrasi, tentang instrumen pemantau anggaran dari pusat ke daerah, Kiai Maruf Amin bisa menjelaskan dengan baik. Dengan Neraca Pendidikan Daerah serta Data Pokok Pendidikan.

Dan bagian yang paling menarik, sangat telak, adalah saat Sandiaga dengan percaya dirinya mengeluarkan KTP, untuk menggantikan kartu-kartu sakti yang ditawarkan oleh Jokowi Amin. Jawaban Kiai benar-benar di luar perkiraan, jauh lebih modern melampaui ide Sandi.

“KTP belum ready digunakan. Karenanya kita pakai kartu per sektor supaya lebih mudah. Kalau masyarakat sudah siap, pakai handphone saja nantinya,” jawab Kiai Maruf santai.

Jawaban ini kalau diibaratkan main bola, seperti aksi tendangan jarak jauh yang langsung menghujam tanpa ampun ke gawang lawan. Sangat fantastis. Haha

Bahasan-bahasan tersebut pada akhirnya membuat kita sadar, bahwa Kiai Maruf bukanlah Kiai kolot, kaku, ketinggalan jaman ataupun tak paham teknologi. Justru, di usianya yang sudah tidak muda, Kiai Maruf malah jauh lebih paham soal teknologi dibanding Sandiaga.

Kiai sangat menguasai permasalahan hingga teknis dan solusi yang akan ditawarkan. Begitu detail. Bahkan mampu menggambarkan visi Indonesia maju 10 tahun ke depan.

Waaaaw….!

Saya sebagai yang jauh lebih muda dari Kiai, bahkan sempat meragukan kapasitasnya dalam dunia digital dan berpikir beliau ini hanya tau soal agama, saat menuliskan ini saya merasa sangat-sangat malu.

Kiai yang tampil dengan surbannya itu, terlihat begitu luar biasa dan visioner. Berpikir jauh ke depan. Memahami segala hal permasalahan yang ada di Indonesia, baik masalah ibu-ibu hingga anak muda. Sementara Sandi yang tampil dengan jas mewahnya, terlihat jauh lebih muda, tapi nyatanya tak paham apa-apa.

Saya pikir, malam ini akhirnya kita paham kenapa Presiden Jokowi memilih Kiai Maruf Amin sebagai wakilnya hingga 2024. Bukan sekedar mengamankan suara NU, bukan sebatas menjadi tameng serangan kelompok radikal. Tapi lebih dari itu, Maruf Amin memang sangat pantas untuk menjadi Wapres. Lagi-lagi, saya malu sekali karena dulu sangat menolak Kiai Maruf sebagai pendamping Jokowi. hahaha

Terakhir, inilah saatnya Indonesia memiliki dua pemimpin terbaik yang lahir dari rahim rakyat biasa. Bukan konglomrat, maju bukan karena punya logistik dan kardus. Jokowi dan Kiai Maruf adalah dua orang yang benar-benar memiliki kapasitas dan mau untuk bekerja, membawa negara ini ke arah yang lebih maju. Begitulah.

Saturday, March 02, 2019

Dr Mahmud Syaltout: Menghadapi Era Pembelahan Politik Identitas


Bahtsul Masail PBNU itu gak ada hubungannya ama Pilpres apalagi dukung salah satu Capres. Mau Lik Joko menang atau kalah. Ndhak ngurus. Republik dan nilai kebangsaan harus lebih utama.
Aku kebetulan langganan jurnal Foreign Affairs ini, dan baru habis baca artikel-artikelnya di edisi terbaru.
Dalam salah satu artikel, yang ditulis oleh Robert Sapolsky, Professor of Biology, Neurosurgery, and Neurology and Neurological Sciences at Stanford University and the author of Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst, berjudul “This Is Your Brain on Nationalism: The Biology of Us and Them”, hari ini kita menghadapi era pembelahan yang edan-edanan sebagai negara-bangsa, yang kalau ditinjau secara biologi, behaviour itu “wajar”.
Namun demikian, pembelahan karena politik identitas ini, sudah pada tahap sangat gelap, hitam, pekat.
Pembelahan ini sudah dibarengi dengan kebencian, seperti pelabelan pendukung Paklik Jokowi dengan “Cebong” vs pendukung Pak Prabowo dengan “Kampret”, yang mirip dengan pelabelan Yahudi dengan “hama” di Perang Dunia II di Eropa, orang Tutsi sebagai “kecoa” saat perang Rwanda, atau muslim dengan “teroris” saat “Global War on Terrorism” gencar-gencarnya dipromosikan oleh Amerika dan kawan-kawannya.
Kembali ke Indonesia...
Pembelahan dengan label politik identitas itu gak melulu dan khas sebagai kartu yang dimainkan hanya salah satu pasangan Capres-Cawapres, dan timsesnya serta para buzzersnya. Tapi semua!
Ya, semua!
Biar lebih jelas, bisa lihat postinganku di https://www.facebook.com/1978324239104104/posts/2339767589626432?sfns=mo, di mana aku memonitor kacau dan ruwetnya politik Indonesia di sosial media, dan bagaimana politik identitas dimainkan sudah pada tahap njelehi! Jancukan!
Label “kafir” terhadap Non Muslim dalam konteks ini pun juga dipakai oleh kedua belah pihak untuk melabeli pihak lawannya, tapi tidak pada kawannya. Pembelahan antara “us” vs “them”, atau “kita” vs “mereka” - sudah sampai pada tahap pisuhable!
Contoh, saat ada pendukung Lik Joko yang kebetulan non muslim dukung Lik Joko, maka label “kafir” itu gampang banget disematkan. Bahkan dengan narasi over generalisir simplistis “Jokowi didukung kaum kafir”. Dan begitu sebaliknya, saat Pak Prabowo ikut merayakan kegembiraan perayaan Natal bersama keluarga besar beliau, buru-buru fansboyes Lik Joko atau buzzer komentar kurang lebih begini “Itu yang kafir sebelah sana, kok sini yang dianggap kafir.”
Belum lagi hashtag #PrabowoJumatanDimana yang selalu muncul dan jadi Trending Topic di tiap hari jumat, meskipun pasca ada “serang balik” dengan adanya selebaran jumatan bareng Pak Prabowo di salah satu masjid yang jadi polemik dan viral, hashtag tersebut turun signifikan.
Belum lagi misalnya, pelabelan terhadap orang-orang dekat paslon yang kebetulan non-muslim dengan “kafir” yang sak karepe dhewe. Semisal, Pak Luhut (yang setahuku beliau sendiri sebenarnya santai-santai saja dengan labelling itu) atau Pak Harry Tanoe yang datang ke suatu pesantren, atau majelis, langsung saja dipertanyakan “Ini orang kafir kok datang pengajian sih? Kok datang ke pesantren sih?” dan seterusnya, dan begitu juga sebaliknya, saat Rocky Gerung yang mbuh ra jelas agamanya apa, atheis atau bukan, aku ra urus, datang ke pesantren, ke salah satu majelis, juga dikomentari kurang lebih senada “Itu Rocky khan kafir, kok malah disuruh ngisi ceramah?”, begitu juga terhadap Pak Hashim Djojohadikusumo adik Pak Prabowo, juga dapat label yang kurang lebih sama, dan seterusnya.
Dan debat ini ra uwis-uwis...
NU, menurutku dalam bahtsul kemarin, cukup berani, bahkan sangat berani, untuk menyuarakan hal ini.
Buatku, sebagai dosen, pengkaji, peneliti geopolitik dan hubungan internasional, harus mengakui bahwa para Kyaiku, salah satunya yang kukenal baik Romo Kyai Prof Muhammad Machasin, yang hadir dan berembug lalu memutuskan yang kalau disederhanakan dengan himbauan “please stop panggilan kafir!” terhadap saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air - ini sudah masuk dalam tahap “Prescriptive Analytics” - yang melebihi semua artikel di Foreign Affairs edisi terbaru ini yang mentok di “Diagnostic Analytics” dan “Predictive Analytics”.
Tahap “Prescriptive Analytics” merupakan maqam tertinggi dalam analisis atau kajian, di sini sudah ada value dan keberpihakan, karena di sini sudah menjawab pertanyaan “Apa yang seharusnya terjadi?” atau “Apa yang seharusnya kita lakukan?” - yang tentu saja ini melampaui “Apa yang mungkin terjadi?” dalam maqam “Predictive Analytics” apalagi “Mengapa hal ini terjadi?” dalam maqam “Diagnostic Analytics”.
Karena analisis ini sudah mengandung keberpihakan, wajar tidak bisa memuaskan semua orang. Dan, memang, NU bukan alat pemuas. Paham?
Pandangan sumir terhadap keputusan Bahtsul Masail NU ini, aku pantau kok justru malah kenceng disuarakan oleh salah satu kubu paslon, sebut saja, kubu Pak Prabowo, dan kemudian dengan gegabah melabeli NU = Jokowi. Buatku ini agak aneh dan paradoksal sekaligus over simplistis, mengapa? NU itu lebih besar daripada Jokowi maupun pendukung Lik Joko. Pesantren Bata-Bata yang menerima dengan terbuka Pak Prabowo, ya masih Pesantren NU, kultur NU, dan tidak sedikit pula pesantren NU lainnya, termasuk Kyai dan santrinya yang mendukung Pak Prabowo. Plus lagi, di keluarga dekat Pak Prabowo sendiri ada juga yang non-muslim khan?

Friday, February 22, 2019

A. Khairul Anam: Tadarus dan Khataman Al-Quran dengan WA Group



#LiterasiMuslimDigital
*KHATAMAN AL-QUR’AN DENGAN WAG*
Tidak hanya digunakan untuk saling berdialog dan share konten, Whats App Group (WAG) ternyata bisa dipakai untuk bikin program yang religius. Misalnya program khataman Al-Qur’an rutin mingguan. Peserta khataman bisa berasal dari tempat yang berbeda-beda, bahkan di luar negeri yang terhubung dengan WAG. Mengandalkan kumpul ngaji bareng keluarga belum tentu bisa setahun sekali lebaran, tetapi dengan cara ini ‘kumpul-kumpul’ bisa dilakukan kapan saja.
Misalnya, ada grup IKKAD atau Ikatan Keluarga KH Abdul Djabbar. Grup ini beranggotakan sekitar 240 orang yang merupakan keluarga keturunan KH Abdul Djabbar, Gresik. Para anggota Grup ini tersebar di banyak tempat, tidak hanya di Gresik Jawa Timur, tapi juga di Jawa Tengah, Jakarta, bahkan sampai ke luar negeri.
Nah program khataman Al-Qur’an ini dikemas dengan tajuk *REQUEST KHOTMIL QUR’AN* lalu dishare dan dengan nomor juz 1-30. Mereka yang ingin ikut khataman bisa memilih sendiri juz yang akan dibaca di mana saja, dari tempat masing-masing. Sifatnya tidak mengikat. Satu orang juga bisa pilih membaca beberapa juz atau satu juz saja, sesuai dengan kemapuan maing-masing. Siapa pilih juz berapa, asal belum diisi yang lain. Satu juz bisa diselesaikan kapan saja. Orang yang baca Al-Qur’annya cepat atau sudah setengah hafal sebenarnya bisa mengkhatamkan satu juz dalam waktu seperempat jam atau setengah jam saja.
Program khataman Al-Qur’an 30 juz grup IKKAD ini dijalankan seminggu sekali. Menariknya, beberapa anggota grup cukup antusias. Bahkan *REQUEST KHOTMIL QUR’AN* untuk dua minggu berikutnya sudah dishare di grup dan sudah ada nama-nama peserta yang menyatakan siap membaca.
Nah doa khataman Al-Qur’an dibaca seminggu sekali setiap hari Kamis atau malam Jum’at. Para peserta ikut mengaminkan dari tempat tinggal masing-masing.
Ini hanya salah satu contoh Whats App Group tidak hanya dipakai untuk berkomunikasi tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk menjalankan amalan-amalan atau keutamaan atau fadhilah ajaran agama Islam secara kolektif, meskipun pesertanya berasal dari tempat yang berjauhan.
Salah satu hadits tentang keutamaan menghatamkan Al-Qur’an diriwatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW: _“Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab: “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu yang membaca Al Quran dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.”_ (HR. Tirmidzi)
Fasilitas komunikasi Whats App Grup ternyata cukup membantu mengunggah komitmen religiusitas. Kadang-kadang semangat kita menjalankan amal ibadah itu muncul karena dorongan orang lain. Dan dengan mengetikkan nama sebagai calon peserta khotmil qur’an, di WAG itu sekaligus semacam janji bahwa masing-masing yang menuliskan namanya akan membaca juz sesuai pilihannya.
Tidak hanya grup IKKAD, kira-kira banyak juga grup keluarga yang lain, atau grup komplek perumahan, atau grup alumni sekolah atau grup komunitas-komunitas lain melakukan aktivitas religius seperti itu. Share dong!