Muslimedianews.com ~ A. Latar belakang
Mengingat salah satu tokoh filsuf awal, Plato mendudukan filsafat/pengetahuan di tempat yang paling mulia karena ia beranggapan hanya filsafat/pengetahuanlah yang sanggup membimbing dan menuntun manusia. Menuju pengenalan yang benar akan segala sesuatu yang ada dengan dan dalam keberadaannya masing-masing. Oleh karena itu pengetahuan layak ditempatkan di tempat yang utama. Bila pengetahuan di tempat yang utama dan paling mulia, maka wajarlah apabila pengetahuan itu menjadi sumber kekuasaan. Karena itu Plato mengatakan bahwa pengetahuan adalah kekuasaan.
Mengingat salah satu tokoh filsuf awal, Plato mendudukan filsafat/pengetahuan di tempat yang paling mulia karena ia beranggapan hanya filsafat/pengetahuanlah yang sanggup membimbing dan menuntun manusia. Menuju pengenalan yang benar akan segala sesuatu yang ada dengan dan dalam keberadaannya masing-masing. Oleh karena itu pengetahuan layak ditempatkan di tempat yang utama. Bila pengetahuan di tempat yang utama dan paling mulia, maka wajarlah apabila pengetahuan itu menjadi sumber kekuasaan. Karena itu Plato mengatakan bahwa pengetahuan adalah kekuasaan.
Demikian pula dengan sejarah bangsa terdiri dari pengetahuan yang berserakan dipelbagai tempat, narasumber, tulisan dan sumber sejarah lain. Terlepas dari itu berbagai versi akan muncul, kesan yang selama ini muncul bahwa peran ulama-santri dalam mengawal kemerdekaan Indonesia tidak begitu tampak di permukaan. Adagium pemerintah yang berkuasalah yang memiliki sejarah, tampaknya masih berlaku.
Sebelum beranjak jauh menikmati sajian buku ini, kita harus menyatukan persepsi atas adanya korelasi antara ulama, santri dan jihad. Jihad yang dimaksud di sini adalah pengertian yang diajukan oleh Mircea Eliade bahwa jihad merupakan kewajiban perang melawan musuh, dan bersifat defensif. Jihad yang dikaitkan dengan aspek keagamaan yaitu hukum agama lebih cenderung merupakan tindakan untuk membela atau menegakkan ajaran agama, bukan melakukan ofensif terhadap bidang diluar itu. Sedangkan terma ulama yang dimaksud adalah sama dengan penyebutan kyai, ajengan, abuya dan syekh. Yang perlu digarisbawahi adalah ulama memiliki kemampuan penguasaan ilmu dan bakat kepemimpinan, mencerminkan kemampuan batin dan lahir. Ulama bukan hanya sebagai tempat rujukan bagi nasehat dan petunjuk, tetapi juga bisa mengaktifkan kemampuaannya dengan memegang kepemimpinan dan memberikan instruksi dalam bentuk fatwa, termasuk di dalamnya fatwa tentang jihad. (halaman 11)
Secara tidak langsung NU menjadi simpul pengikat perjuangan Ulama-Santri, dimulai dengan Taswirul Afkar-Islam Study Club-Nahdlatul Wathan-Syubbanul Wathan-Komite Hejaz-kemudian lahir Nahdlatul Ulama. Bahkan KH. Wahab mengarang Syair Cinta Tanah Air (Hubbul Wathan) pada tahun 1934, syair ini dibacakan setiap hari sebelum masuk kelas di pesantren Tambak Beras Jombang. (halaman 143) Yang menarik bahwa terdapat lirik yang menyatakan //Indonesia bilady// (Indonesia negeriku). Bahwa kita tahu Indonesia belum merdeka namun, nama itu sudah dikenal sebelum kemerdekaan resmi dikumandangkan.
Laskar Hizbullah yang menjadi “bumper” perjuangan kemerdekaan banyak yang tidak masuk dalam berbagai divisi kemiliteran di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebagian pula yang melebur dalam TNI. Akhirnya, para kyai dan santri ini kembali ke pesantren dan mendidik masyarakat. Diantara pesantren yang menjadi pusat benteng pejuang dalam perang kemerdekaan. Yaitu, pesantren Lirboyo, Al-Hikmah Kediri, Sidogiri Pasuruan, Al-Muayyad Surakarta, Al-Hikmah Brebes, Gambiran dan Pulosari Lumajang (halaman 382).
Saifuddin Zuhri dalam bukunya (An Authorized Memoirs KH. Saifuddin Zuhri Berangkat dari Pesantren) juga menceritakan bahwa pesantren kehidupannya begitu sederhana, bersahaja, sebagai tempat belajar, mengaji dan pendidikan Islam. Pesantren juga mengamanatkan untuk mempraktikkan Islam melalui sistem jama’ah (organisasi). Pengalaman pesantren inilah yang menjadikan seseorang terbuka alam pemikirannya.
Walaupun peranan pesantren, ulama dan santri pada masa awal kemerdekaan dalam buku ini dijelasakan begitu jelas. Namun, kita belum bisa melacak secara gamblang dalam sejarah nasional kita, apalagi menemukan dalam buku ajar sejarah di sekolah hingga perguruan tinggi. Zainul Milal Bizawie mengajak kita untuk memahami buku ini sebagai bentuk kritik epistemologis terhadap penulisan penulisan sejarah nasional selama ini.
Kita juga tidak bisa melepaskan perjuangan Pangeran Diponegoro sebagai salah satu pionir penentang kolonial. Perang Jawa yang berlangsung selama 5 tahun menjadi tonggak terbentuknya jaringan Ulama nusantara baik lokal dan internasional. Hal ini juga dipengaruhi oleh perjuangan sisa pasukan Diponegoro, diantaranya Kyai Abdus Salam Jombang, Kyai Umar Semarang, Kyai Abdur Rauf Magelang, Kyai Yusuf Purwakarta, Kyai Muta’ad Cirebon, Kyai Hasan Basyari Tegalsari Ponorogo dengan muridnya Kyai Abdul Manan Pacitan.
Bila mengatakan bahwa hadratusy syaikh (tuan guru besar) KH. Hasyim Asyari sebagai pencetus resolusi Jihad benar adanya. Perlu diingat bahwa genealogi pemikiran ini bersambung pada pada Pangeran Diponegoro (1785–1855) hingga Al-Palimbani (Abd Al-Shamad/1704-1785) yang telah menulis kitab Jihad.
Dari gambaran di atas, Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Jawa Tengah memiliki kewajiban untuk mendengungkan karya Zainul Milal Bizawie ini kepada khalayak umum. Terutama akademisi kampus yang memiliki semangat kritis untuk mendobrak kemapanan yang ada, sehingga sejarah nasional kita tidak hanya didominasi oleh satu arah saja.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari bedah buku ini adalah:
1. Untuk memberikan wawasan kepada akademisi tentang problematika kesejarahan yang ada di Indonesia.
2. Untuk mendiskusikan tentang permasalahan ulama, santri dan pesantren akan peran mereka di awal kemerdekaan bangsa.
3. Untuk menggali berbagai nilai-nilai perjuangan laskar santri yang telah memperjuangkan hidup, keluarga, harta demi tumpah darah tanah air tercinta.
C. Bentuk kegiatan
Kegiatan ini berupa bedah buku “Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949)” karya Zainul Milal Bizawie.
D. Waktu dan tempat
Kegiatan bedah buku ini akan diselenggarakan pada:
Hari &Tanggal : Selasa, 08 April 2014
Waktu : 8:00 s/d 13:00
Tempat : Auditorium I lantai II kampus I Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang
E. PembandingPembanding dalam bedah buku ini adalah:
1. Prof. Mudjahirin Thohir (Antropolog UNDIP)
2. Abdul Ghaffar Rozin, M.Ed (Ketua PW Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) NU Jawa Tengah)
Hadir pula Zainul Milal Bizawie penulis buku.
F. Peserta
Peserta dari bedah buku ini adalah:
1. Mahasiswa perguruan tinggi di lingkungan kota Semarang.
2. Ketua Pengurus Cabang RMI se eks karesidenan Semarang.
3. Pengasuh beberapa pondok Pesantren di sekitar kota Semarang.
4. Tokoh Masyarakat.
5. Lain-lain yang terkait dengan Pesantren dan RMI dan LPM Edukasi
Panitia Seminar Dialog Ulama dan Umara
G. Penyelenggara
Bedah buku ini terselenggara atas kerjasama pengurus wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah dengan Lembaga Pers Mahasiswa Edukasi fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.
Tertanda
Panitia.
https://www.facebook.com/events/1468484380036031/?ref=3&ref_newsfeed_story_type=regular

No comments
Post a Comment