Muslimedianews.com ~ Sebagaimana telah diketahui bahwa kader-kader NU tersebar diberbagai partai politik. Hal itu tentunya ada plus minus-nya bagi Jam'iyyah Nahdlatul Ulama maupun warga Nahdliyyin. Tidak dipungkiri, kader NU pun ada yang menyeberang ke PKS (Partai Keadilan Sejahtera).
Terkait dengan hal ini, salah satu penulis produktif tentang ke-NU-an, Ahmad Baso dalam akun jejaring sosial facebooknya sebagai berikut :
Ada yg nanya, mengapa kader NU di PKS dipermasalahkan; sementara kader NU yg di Golkar atau di PDIP tidak diributkan?
Jawab saya, kader NU di PKS membawa "pemurtadan" akidah ke NU, meng-wahabisasi Aswaja.. Kalau di Golkar atau di Demokrat pemurtadan apa yg dilakonin kader NU?
Belum pernah saya dengar ada kader NU yg di PKS melakukan de-Wahabisasi atau Aswajanisasi PKS... Saya baru setuju kader NU masuk ke PKS kalau bikin "Wahabisasi gaya baru"..
Apa itu mas? tanya kawan itu lagi
Ya, meng-Kiai Wahab Chasbullah-kan PKS ...#bikin partai itu dari jajaran elitnya hingga ke bawah diruwat lagi sampai "bersih dan penuh cinta" pada NKRI dan Aswaja!!!!
Ahmad Baso
Penulis buku "NU Studies, Pesantren Studies, dll"
Diskusi via facebook https://www.facebook.com/ahmad.baso.1/posts/10202707206774659
Penulis buku "NU Studies, Pesantren Studies, dll"
Diskusi via facebook https://www.facebook.com/ahmad.baso.1/posts/10202707206774659
http://www.pkspiyungan.org/2014/03/penjelasan-dewan-syariah-pks-seputar.html
ReplyDeleteSya hargai jawaban kang Ahmad Baso di atas...
ReplyDeleteKalau boleh sy ibaratkan jawaban kang Baso di atas seperti: Ada 2 kyai di suatu daerah. Salah satu santri kyai A keluar dan ternyata bergabung dg kyai B. Maka sakit hatilah kyai A dan mengatakan, "Lebih baik gak nyantri daripada nyantri di kyai B."
Maka disinilah kedewasaan kita dalam keberagamaan. Kyai yang mukhlis insya Allah akan ikhlas walau santrinya keluar selama santri itu tetap menuntut ilmu walau dg kyai lainnya...
wallahu a'lam
Seng penting lak ngiyai ajarkan tentang ketaukhitan jur ajarane ahlussunnah nahdiyah, yen urusan politik seng penting iso jogo NKRI....
ReplyDeletetradisi itu memang benar kang, tetapi itu biasanya terjadi pada kyai2 yg sudah sepuh dan mumpuni... kyai yg mukhlis memang biasanya menyarankan santriny yg agak 'kinclong' utk berguru ke kyai lain (biasanya gurunya atau temannya tp jaraknya jauh)...
ReplyDeleteNamun kang enha jgn menutup mata jg, ada kyai yg gak mau santrinya pindah ke kyai lain, karena kebetulan sedang ada 'persaingan' dan mgkn dlm 1 wilayah....
Begitu jg, analogi sy di atas atas jawaban kang Baso, itu sy yakin ada unsur 'persaingan' krn kebetulan dlm 1 wilayah jg....hehe