BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

OPINION

Opinion
Showing posts with label Jihad Zone. Show all posts
Showing posts with label Jihad Zone. Show all posts

Sunday, December 22, 2019

Waspadai Gerakan Anti Aswaja NU Ditengah Tebaran Fitnah di Sosial Media

Muslimedianews.com ~ Beberapa hari belakangan kita disuguhkan potongan video yang kalau dibuka, sang penceramah menyatakan yang intinya Nabi Muhammad itu waktu kecil biasa saja, tidak ada cahaya yang memancar seperti yang banyak digambarkan, dan juga “rembes”.

Padahal, jika disimak keseluruhan videonya malah menggambarkan kecintaan beliau dan ajakan untuk mencintai Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dan Gusti Allah menyembunyikan kebesaran dan kehebatan Kanjeng Nabi dengan cara yang secara dhohir tidak pernah terduga oleh semua orang pada masanya.

Jika tidak ada tangan usil memotong videonya dan dibumbui narasi kebencian, kemudian dipaksaviralkan maka tentu akan tenang saja situasinya. Sayangnya, banyak yang terprovokasi lalu ikut mengeroyok KH Ahmad Muwafiq. Sehingga beliau memberi klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf atas pilihan diksi yang beliau pakai untuk menggambarkan Kanjeng Nabi.

Ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Padahal sudah menjadi rahasia umum, bahwa apapun celahnya, akan dipakai untuk menjelek-jelekkan para Ulama NU, supaya umat menjauhi Ulamanya. Itu poin penting yang wajib ditangkap.

Para Ulama NU terkenal sangat hebat dalam menjelaskan perkara yang sangat sulit dan rumit dimensinya menjadi sebuah kalimat perkalimat yang sederhana dan mudah dicerna oleh umat. Di sinilah celah akan banyak terbuka. Keberhasilan mereka “menemukan” celah Guru Mulia Kita pastinya akan dibesar-besarkan dan akan digunakan terus untuk membidik para penceramah dari Kyai dan Nyai di NU.

Waspadalah. Masih banyak Ulama berhaluan NU yang belum terbidik. Namun “kemenangan” semu dan “kemampuan” mengobarkan protes dari beberapa kalangan Ulama setelah disodori potongan video jahil ini akan berulang kembali.

KH Ahmad Muwafiq adalah ahli sejarah yang membuka kembali ingatan kita sebagai kaum Muslimin akan kisah masa lalu yang sudah mulai jarang kita dengar dalam bahasa sederhana. Sedangkan sebagian dari para pembenci itu adalah orang yang hendak menghapuskan jejak Rosulullah dengan berbagai macam cara. Sehingga sangat dibutuhkan sebuah pembunuhan karakter.

Kemarin KH Said Aqil Siroj, hari ini KH Ahmad Muwafiq, setelah itu bisa jadi guru mulia kita entah siapa lagi berikutnya.

Saatnya merapatkan barisan kembali, bergandengan tangan lagi, dan saling mendoakan. Mereka tidak akan berhenti berupaya memadamkan cahaya Gusti Allah dengan cara apapun. Namun, itu hanya akan semakin membuat NU sebagai cahaya Gusti Allah di muka bumi ini semakin terang memancar.

Oleh: Shuniyya Ruhama, Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri Kendal.

Monday, November 11, 2019

Harlah Ke-2 AIS Banten: Media Sosial Ladang Jihad Santri di Era Milenial


Arus Informasi Santri (AIS) Banten mengadakan peringatan Hari Lahir (Harlah) dan Kopi Darat Wilayah (Kopdarwil) di Pesantren Nur Antika Tiga Raksa Tangerang, Minggu (10/11). Ada 300 santri perwakilan dari berbagai pesantren yang hadir dalam acara ini. 

Ketua Pelaksana Harlah dan Kopdarwil AIS Banten Fahmi mengatakan, acara ini merupakan ajang pertemuan antara admin akun resmi pesantren dan pergerakan NU yang tergabung ke dalam AIS Banten untuk menebarkan kebaikan di media sosial.

“Juga meng-counter konten yang menjadi  pemecah bela bangsa,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Daerah AIS Banten Ferdiansyah Irawan mengatakan, jihad seorang santri dulu dan sekarang tentu berbeda. Dulu santri berjuang secara fisik melawan dan mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Dulu juga KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan  Fatwa Resolusi Jihad sehingga meletus perang di Surabaya.

“Tentunya jihad di era sekarang kita artikan santri sebagai intelektual Islam harus bergerak menunjukkan peran agar bisa mengimbangi ujaran-ujaran provokatif yang banyak bertebaran di media sosial, sosial media tidak boleh hanya diisi oleh orang-orang alay tapi santri juga harus mengisi sosial media dengan pesan-pesan kedamaian dan ke aswajaan” jelasnya.

Menurutnya, saat ini banyak sekali konten dakwah di media sosial yang tidak ramah dan tidak sejuk. Oleh karenanya, ini yang diharus dilawan dengan konten-konten dakwah yang menyejukkan. 

“Terlebih lagi santri harus berperan aktif dalam kemajuan bangsa Indonesia,” tambahnya.

Ferdiansyah menjelaskan, salah satu misi AIS adalah mendigitalisasikan dakwah Islam Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah. Sebagaimana diketahui, AIS merupakan kumpulan santri NU dari berbagai admin pesantren. Oleh karenanya, ia mendorong agar mereka mensyiarkan dakwah di media sosial dengan sentuhan ala kaum sarungan dan Islam rahmatan lil alamin.

“Kedepannya saya  berharap, para santri di Banten terlibat aktif, dapat berkontribusi positif, dan menebarkan paham-paham Islam Ahlusuunah wal Jama’ah An-Nadhliyah,” tandasnya.

Senada dengan itu KH. Encep subandi pengasuh Ma'had Nur Antika sangat mengapresiasi kegiatan Kopdarwil 2, ia berpesan santri harus menjadi penyebar informasi yang bijak. Ungkapnya.

Meskpun Indonesia mayoritas penduduknya muslim terbesar di indonesia, yang dikenal dengan penduduk yang toleran, dan multikultural. Tapi faktanya bibit intolerasi, bibit kebencian masih ada, maka dari itu dengan adanya AIS kami berharap ais bisa mewarna sosial media dengan konten konten yang ramah. Ujar KH. Rd. Yusuf Al Mubarok (Ketua Jatman Kab. Serang)

Ketua PWNU Prov. Banten, KH. Bunyamin mengatakan, santri harus bisa meneruskan perjuangan para pahlawan dulu yang telah berjuang memerdekakan bangsa Indonesia, dan santri harus mampu menjadi perekat bangsa serta menguasai dunia digital sebagai dakwah untuk menebarkan kasih sayang, dan menebarkan paham ahlusunah wal jamaah khususnya di Banten. Ujarnya.

Acara kopdarwil AIS Banten yang ke-2 ini juga dihadiri oleh para ulama banten, ada KH. Bunyamin (Ketua PWNU Banten), KH. Encep (Ketua PCNU Kab. Tangerang) dan KH. Rd Yusuf Al Mubarok (Ketua Jatman Kab. Serang.

Monday, May 20, 2019

Kelainan Jiwa Kelompok Khawarij Jaman Dahulu dan Khawarij Sekarang

Muslimedianews.com ~ Imam Ibnu Hazm menyematkan gelar al-Khariji kepada setiap orang yang serupa dengan orang-orang yang memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib dan mengikuti keyakinan mereka. Ciri-ciri khawarij antara lain menolak wewenang manusia untuk membuat hukum (tahkim) dan menyatakan keluar dari pemimpin yang dzalim. (al-Fashlu fil Milal wa Ahwa' wan Nihal [2/113]). Khawarij bersifat melawan terhadap pemilik otoritas yang sah. Perlawanan yang lahir dari sifat tamak, kekikiran jiwa dan kesempitan hati mereka.

Sejak zaman Nabi Saw watak memberontak terhadap pemegang otoritas agama dan politik kaum Khawarij ini sudah tampak. Bayangkan betapa kurang ajarnya Dzul Khuwaisirah ketika protes atas pembagian harta emas yang dikirim Ali bin Abi Thalib dari Yaman yang dilakukan Rasulullah Saw. Protes Dzul Khuwaishirah menyinggung perasaan Nabi Saw. Secara tidak langsung dia menuduh Nabi Saw berbuat dzalim. Saking tidak beradabnya dia menyuruh Rasulullah Muhammad Saw bertaqwa kepada Allah, "Wahai Rasulullah bertaqwalah engkau kepada Allah.”

Mendengar hal itu, Nabi Saw bersabda: "Celaka engkau! Bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertaqwa kepada Allah?!" (HR. Bukhari [2/232], Muslim [2/740]).

Jiwa kaum khawarij adalah melawan dan memberontak pemilik otoritas agama dan politik yang lahir dari ketidakpuasaan terhadap kebijakan penguasa yang mereka anggap dzalim dan menyimpang akibat sifat tamak, iri dan dengki atas harta dan kekuasaan yang dimiliki orang lain.

Kelainan jiwa inilah sebenarnya akar dari kekritisan Khawarij kepada penguasa yang menutupi akal dan hati mereka sehingga sulit ditembus oleh cahaya ilmu. Penyakit yang diidap kalangan elit khawarij. Adapun kalangan awam mereka, terbawa arus karena kejahilan akan ilmu dan tersihir oleh propaganda pemimpin mereka. Terbukti ada sekitar dua ribu dari mereka kembali ke dalam Islam setelah dialog ilmiah dengan Ibnu Abbas ra (Khashaish 'Amiril Mu'minin Ali bin Abi Thalib, an-Nasa'i, tahqiq: Ahmad al-Balusyi, hal. 200, sanadnya hasan).

Gerakan khawarij merupakan ekspresi ketidakpuasan terhadap penguasa khususnya soal kebijakan. Kala Nabi Saw masih hidup, soal pembagian emas yang mereka ributkan. Di zaman Ali bin Abi Thalib, ijtihad politik Khalifah Ali ra. untuk bertahkim dengan Mu'awiyah yang mereka permasalahkan. Baik kebijakan Nabi saw maupun ijtihad politik Ali keduanya absah secara ilmiah syar'iyah.

Dengan kata lain, kaum khawarij tidak memiliki dasar syar'iyah untuk memberontak. Jadi sikap antipati mereka murni bentuk ketidakpuasan politik.

Menyadari hal itu, kaum elit di kalangan khawarij menggiatkan politik pencitraan dan propaganda untuk mendapat dukungan, simpati dan loyalitas mengikut mereka. Mereka membentuk citra sebagai ahlul haq yang zuhud, wara, ahli ibadah dan cinta akhirat.

Politik pencitraan kaum khawarij telah disebutkan Nabi Saw ketika Rasulullah saw melarang Umar bin Khaththab memenggal kepala Dzul al-Khuwaishirah. Nabi Saw berkata kepada Umar: Biarkanlah, sesungguhnya dia memiliki teman-teman (pengikut) dimana salah seorang dari kalian memandang rendah shalatnya jika dibandingkan shalat mereka. Juga shaumnya jika dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca al-Quran tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka..." (HR. Muslim [2/743-744]).

Terhadap lawan politiknya, kaum Khawarij menggencarkan propaganda hitam, memberi label negatif, pembunuhan karakter dan jiwa. Tidak kurang keponakan sekaligus menantu Nabi Saw yang dijamin masuk surga, dilabel kafir. Label yang sama disematkan kepada Muawiyah sahabat yang pernah jadi juru tulis Nabi saw.

Mereka menggencarkan propaganda hitam, memberi label negatif, pembunuhan karakter dan jiwa. Tidak kurang keponakan sekaligus menantu Nabi Saw yang dijamin masuk surga, dilabel kafir. Ali bin Abi Thalib bersikap bijaksana kepada mereka. Ali mengambil inisiatif berkorespodensi mengajak mereka kembali bersama barisan kaum muslimin.

Sebenarnya belum ada kata sepakat pada pertemuan tahkim antara Abu Musa al-Asy'ari (perwakilan pihak Ali) dengan Amru bin 'Ash (wakil Muawiyah), sebab itu Ali menulis surat kepada kaum khawarij: "Sesungguhnya delegasi dari kedua belah pihak tidak berhasil mencapai kesepakatan, maka kembalilah kalian dan bergabunglah dengan kami untuk memerangi penduduk Syam."

Kaum Khawarij mengabaikan isi surat itu dan mengatakan: "Kami tidak mau bergabung dengan anda sampai engkau mengaku telah kafir dan bertaubat." (Ansabul Asyraf [2/63] dengan sanad dhaif dalam Fikrul Khawarij wasy Syi'ah fi Mizanil Ahlis Sunnah wal Jama'ah karya DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi). Sepertinya kaum Khawarij menyimpan motif lain di balik penolakannya terhadap ijtihad politik Ali. Tudingan bahwa Ali telah melakukan dosa besar karena menerima tahkim dibuat-buat untuk menjustifikasi gerakan mereka.

Dari perjalanan gerakan Khawarij old kita dapat mengambil pelajaran untuk menilai gerakan Khawarij jaman now. Isi sama, beda kemasan saja. Sama seperti Khawarij old, Khawarij jaman old merupakan kelainan jiwa ketidakpuasaan atas kebijakan penguasa karena mengidap penyakit tamak, kikir jiwa dan sempit hati [dutaislam.com/pin].

Bandung, 21 Desember 2017
Oleh : Ayik Heriansyah*
*Ketua LTNNU Kota Bandung, Pengurus LD PWNU Jabar.

Saturday, May 18, 2019

Jogja Jadi Tempat Latihan Terduga Teroris ISIS

Muslimedianews.com ~ Komplotan teroris jaringan ISIS yang beraksi di Malaysia diketahui pernah berlatih di Jogja dan berencana menyerang gereja di wilayah tersebut.

Polisi Diraja Malaysia menahan tiga tersangka teroris ISIS yang diyakini merencanakan serangan besar-besaran dan pembunuhan di Lembah Klang. Satu dari ketiga teroris itu adalah warga negara Indonesia.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir Bernama, Inspektur Jenderal Polisi Diraja Malaysia Abdul Hamid Bador mengatakan, para tersangka ditahan di Kedah dan Selangor secara terpisah sejak hari Selasa (14/5/2019).

Dua dari tiga teroris itu adalah warga Malaysia bernama Muhammad Syazani Mahzan dan Muhamad Nuurul Amin Azizan. Keduanya berusia 27 tahun dan ditangkap di Kuala Muda, Kedah, setelah polisi bekerja sama dengan keluarga mereka.

Sementara satu WNI yang ditangkap adalah Nuruddin Alele alias Fatir Tir (34). Dia ditangkap di Banting, Selangor, berdasarkan informasi dari publik. Ketiga orang itu, diklaim polisi berencana membunuh orang-orang terkenal yang mereka tuduh tidak mendukung Islam.

Kelompok ini juga ingin menyerang tempat-tempat ibadah Kristen, Hindu dan Budha serta pusat-pusat hiburan di Lembah Klang, Malaysia.

Dalam pernyataannya, kepala polisi mengatakan dua orang Malaysia dalam penangkapan terakhir ini sebelumnya telah menjalani pelatihan di Yogyakarta, Indonesia, pada tahun 2018.

“Di Yogyakarta, mereka belajar bagaimana membuat bom dengan triacetone triperoxide. Kedua tersangka ditemukan telah melakukan survei di beberapa gereja di Yogyakarta dengan tujuan melancarkan serangan," kata  Abdul Hamid Bador.

Muhammad Syazani, yang sehari-sehari berdagang burger, juga diduga merencanakan serangan bom bunuh diri di rumah-rumah ibadah non-Muslim di Malaysia, kata Abdul Hamid.

Sementara Fatir Tir, kata dia, terpapar ideologi ISIS saat menghabiskan lima tahun penjara di Surabaya.

Sumber : Suara.com via Harian Jogja

Friday, May 17, 2019

Waspadai Ada Bisnis Penggulingan “Rezim”

Muslimedianews.com ~ Mengamati perkembangan politik dalam negeri akhir-akhir ini, sebagai pengamat Timteng, saya langsung melihat persamaan polanya dengan apa yang terjadi di Timteng. Mengapa bisa sama? Ya karena memang para inisiator Arab Spring ‘berguru’ pada konsultan yang sama. Google saja nama NED atau Srdja Popovic. Keduanya adalah proxy dari kekuatan adidaya ekonomi dunia. Saya juga pernah cerita tentang hal ini di buku saya Prahara Suriah, bisa didonlot gratis. [1] 

Revolusi Tunisia dipicu oleh tewasnya Bouazizi (membakar diri). Sebelum Bouazizi, sudah ada beberapa pemuda frustasi yang bunuh diri, tapi 17 Desember 2010 (hari kematian Bouazizi) adalah momen di mana para inisiator demo dengan kekuatan penuh memanfaatkan kematiannya dengan memainkan isu yang memang ‘relate’ (terhubung) dengan keresahan masyarakat umum (misal, kesulitan ekonomi, korupsi elit, dll) sehingga massa bisa didorong untuk turun ke jalan secara besar-besaran. Akhirnya, Presiden Ben Ali tumbang.

Di Mesir, ketika aksi-aksi protes mulai terjadi di awal Februari 2011 (dengan isu kesulitan ekonomi), tiba-tiba saja beberapa orang berkuda dan ber-unta menerobos kerumunan, terjadi kerusuhan, dan  yang dituduh pelakunya tentu saja rezim Mubarak. Aksi-aksi demo semakin tereskalasi, semakin banyak korban berjatuhan, massa semakin marah, demo semakin besar, dan akhirnya, Mubarak tumbang. 

Di Suriah, muncul aksi demo di Daraa (Maret 2011), sebuah kota kecil di dekat perbatasan Yordania. Kisah yang disebar melalui medsos&media mainstream: ada anak muda yang tewas disiksa polisi karena membuat grafiti. Dalam aksi demo itu, ada sniper yang menembak, jatuh korban, baik di pihak massa maupun aparat keamanan. 

Versi media mainstream: “Demo di Daraa memicu aksi protes di berbagai kota lainnya dan dihadapi dengan kekerasan oleh rezim Assad. Dan karena itulah rakyat pun angkat senjata untuk membalas.” Tentu saja awalnya, media mainstream (CNN, BBC, Aljazeera dkk) tidak menyebutkan bahwa yang angkat senjata sebenarnya adalah milisi-milisi Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir, dan Al Qaida (tahun 2013, ISIS dideklarasikan).

Menurut Irjen Pol. Drs. Suntana, M.Si. (Wakabaintelkam Polri) yang pernah ke Suriah, di awal-awal masa demo itu banyak sekali polisi Suriah yang tewas karena mereka dilarang untuk melawan, akibatnya malah mereka yang diserang massa atau sniper. [beliau cerita di acara Bedah Buku Prahara Suriah di PP Muhammadiyah, 18 Jan 2019]

Cerita Irjen Suntana persis seperti yang pernah saya tulis di berbagai artikel dan di buku Prahara Suriah (2013) berdasarkan penelusuran berbagai berita non-mainstream. Awalnya pemerintah Suriah memang terlalu kalem, demo-demo dibiarkan, polisi dilarang menembak, bahkan tahanan politik (IM, HTI, Al Qaida) dibebaskan demi ‘mengambil hati’ para demonstran. Bukannya melunak, mereka semakin garang, dan perang Suriah pun berlangsung hingga 8 tahun. 

Sampai saat ini, para teroris (atau “mujahidin”, menurut mereka sendiri) masih bercokol di Idlib, sisa-sisa ISIS masih ada di beberapa lokasi.

Benang merah aksi demo di Timteng dan Indonesia (dalam kasus pilpres) ada 4:
1. Isu ekonomi dipakai untuk membangkitkan kemarahan massa.
2. Isu orang yang “tewas dibunuh rezim” diblow-up besar-besaran melalu medsos.
3. Ada negara adidaya yang berperan di balik layar [2], istilah di Indonesia: ada ‘bohir’-nya.
4. Pelaku demo baik di Tunisia, Mesir, maupun Suriah, banyak orang IM dan HT (di Suriah, mereka bahkan angkat senjata). 

Baik IM maupun HT punya cabang di Indonesia, dan seperti bisa Anda perhatikan, merekalah yang sangat militan menyebarluaskan isu kesulitan ekonomi (=Indonesia dijajah China) dan isu “orang dibunuh rezim” (petugas KPPS yang gugur dalam menjalankan tugas). Bahkan akhir-akhir ini mereka menyebarluaskan narasi yang sangat berbahaya: emak-emak disuruh menimbun bahan pangan dan menarik uang di bank.

Mengapa sangat bahaya? Bila rakyat berhasil dibuat panik, terjadi rush, bank-bank tumbang, sembako mahal dan langka, mereka akan mudah diprovokasi untuk turun ke jalan. Di saat yang sama, sel-sel tidur sudah siap meledakkan bom di mana-mana. Apa yang akan terjadi selanjutnya? 

Syekh Al Buthy sebelum beliau gugur syahid (dibom oleh “jihadis”, tak lama setelah Yusuf Qardhawi, ulama IM, memberikan fatwa di Aljazeera, bahwa wajib membunuh siapa saja yang bekerja sama dengan pemerintah Suriah), menasehati para demonstran Suriah:

“Wahai umat, jangan sekali-kali membuka pintu kemudian kalian memasuki sebuah lorong yang tidak kalian ketahui kemana akhirnya; jangan pernah membuka pintu menuju kehancuran; dimana satu langkah kalian ayunkan akan diikuti oleh langkah lain yang makin membuat kalian terpuruk.” [3]

Yang beliau maksudkan, segera terbukti kebenarannya. Para demonstran Suriah, mengira sedang berjuang tapi akhirnya membuka pintu kepada para ‘penunggang’ dan negeri mereka pun dilanda perang bertahun-tahun.

Dalam ceramahnya yang lain, beliau berkata, “Ketika pintu fitnah dibuka, hanya orang pintar yang tahu ketika awal pintu itu dibuka, sedangkan orang bodoh baru mengetahuinya setelah semua hancur.”

Mari jadi orang pintar, mulai bergerak, nasehati kalangan terdekat untuk jangan coba-coba membuka pintu yang akan membawa kita pada kehancuran. Di grup-grup WA dan medsos, lawan narasi mereka. Ingatlah, negeri ini ibarat kapal, jika tenggelam, semua penumpangnya akan ikut tenggelam.

Via Liputan Islam

----
[1] https://dinasulaeman.wordpress.com/2019/01/01/pdf-prahara-suriah/
[2] https://www.youtube.com/watch?v=lpXbA6yZY-8
[3] https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/362515347587349/

Monday, July 16, 2018

Panik, Felix Siauw Sebut Islam Nusantara Pendukung Kaum Nabi Luth

Muslimedianews.com ~ Dalam tulisan yang lain telah dipaparkan akan tanda-tanda stres pengasong khilafah, salah satunya kepanikan menghadapi gencarnya syiar Islam Nusantara, sebuah tipologi strategi dakwah yang diusung oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia. 


Tanda-tanda kepanikan itu juga dapat kita jumpai dari twit Felix lainnya. Felix Siauw kembali menabuh genderang perlawanan. Kini ia menyerang gagasan Islam Nusantara. Tetapi tafsir Felix penuh syahwat kemarahan. Tak intelek dan seenaknya sendiri melempar tuduhan.

Tafsir Felix atas Islam Nusantara diposting di akun Facebooknya, Ahad (15/07/2018) malam. Judulnya “Tentang Islam Nusantara". Ia menuduh Islam Nusantara ditujukan untuk menajamkan perbedaan.

“Kita juga tak menafikkan, Islam pun punya ekspresi Nusantara, yang tak ditemukan di tempat lain seperti songkok, halal bi halal, lebaran anak yatim, atau ekspresi lainnya. Tapi ide "Islam Nusantara" bukan ekspresi Islam di Nusantara, ide ini ditujukan justru untuk menajamkan perbedaan. Seolah punya definisi sendiri yang berbeda dengan yang lain,” tulis Felix.

Felix juga menuding Islam Nusantara bagian dari narasi yang diusung oleh rezim Joko Widodo. Islam Nusantara menurut Felix tak punya maksud baik. Islam Nusantara disebutnya bagian dari de-islamisasi. Ngawur kan?

“Sejatinya ide "Islam Nusantara" ini adalah bagian dari narasi deradikalisasi yang diusung rezim, yang sebenarnya adalah de-Islamisasi. Dan ini tentu bukan maksud yang baik,” katanya.

Selian itu, Felix juga menyamakan Islam Nusantara dengan Islam liberal. Islam Nusantara dianggapnya hanya berganti nama saja dari Islam liberal yang dicirikan sebagai pro rezim dan penghina ulama. Pengusung Islam Nusantara disebut ramah pada penjajah dan kasar kepada Umat Islam.

“Jadi bisa kita katakan, tak ada bedanya ide Islam Liberal dengan Islam Nusantara, hanya berganti nama saja, pemainnya sama, sutradaranya sama, efeknya juga sama. Pro penista agama, penghina ulama, semua berlindung di balik ide "Islam Nusantara", yakni yang ramah pada penjajah, tapi sangat kasar pada sesama penganut Muslim,” katanya.

Yang lebih parah, pengusung Islam Nusantara oleh Felix dituduh hanya mengatur Islam berdasarkan nafsu.

“Intinya, mereka ingin mengatur Islam sekehendak nafsu mereka, mereka ingin agar Islam itu mengikut pada syahwat mereka. Untuk melegitimasinya, itulah ide Islam Nusantara,” tulis Felix.

Berikut tulisan lengkap Felix Siauw tentang Islam Nusantara :

Sate Buntel, Sate Klathak, Nasi Liwet, Nasi Gudeg, Nasi Gandul, Pindang Tulang, Nasi Padang, semua Kuliner Nusantara, sebab ia khas Nusantara
Kita juga tak menafikkan, Islam pun punya ekspresi Nusantara, yang tak ditemukan di tempat lain seperti songkok, halal bi halal, lebaran anak yatim, atau ekspresi lainnya
Tapi ide "Islam Nusantara" bukan ekspresi Islam di Nusantara, ide ini ditujukan justru untuk menajamkan perbedaan. Seolah punya definisi sendiri yang berbeda dengan yang lain
Lebih parah lagi, Islam Nusantara ini dijadikan alat untuk menjelek-jelekkan yang mereka tuduh sebagai Islam Arab yang dianggap tak ramah, penuh peperangan, dan intoleransi
Sejatinya ide "Islam Nusantara" ini adalah bagian dari narasi deradikalisasi yang diusung rezim, yang sebenarnya adalah de-Islamisasi. Dan ini tentu bukan maksud yang baik
Jadi siapapun yang dianggap anti pada penguasa saat ini, disebut "Islam Radikal", sementara yang pro penguasa dan pro penista agama, dilabeli "Islam Nusantara", begitu
Kalau kita lebih jeli, perhatikan dulu yang mengusung "Islam Liberal", setelah tak laku dengan ide itu, maka sekarang semuanya jadi pengasong ide Islam Nusantara
Jadi bisa kita katakan, tak ada bedanya ide Islam Liberal dengan Islam Nusantara, hanya berganti nama saja, pemainnya sama, sutradaranya sama, efeknya juga sama
Pro penista agama, penghina ulama, semua berlindung di balik ide "Islam Nusantara", yakni yang ramah pada penjajah, tapi sangat kasar pada sesama penganut Muslim
Intinya, mereka ingin mengatur Islam sekehendak nafsu mereka, mereka ingin agar Islam itu mengikut pada syahwat mereka. Untuk melegitimasinya, itulah ide Islam Nusantara
Siapa pendukungnya? Ya yang itu-itu saja. Yang kemarin liberal, yang kemarin anti Aksi Bela Islam, yang pro-kaum-nabi-luth, yang pro penista agama, yang 2019 ingin berkuasa lagi
Andai itu hanya ekspresi Islam di Nusantara, saya sepakat. Tapi bila dijadikan ide "Islam Nusantara" ini justru untuk merasa lebih hebat dari Islam yang Rasul bawa, saya menolak tegas
Pahami saja, pembahasan yang tidak intelek dan hanya penuh hujatan [islampers.com]

Sumber : Dutaislam.com/IslamPress/Muslimedianews

Sunday, July 15, 2018

Kelompok Sepemikiran Wahabi Fokus Melemahkan NU

Muslimedianews.com ~ Narasi Kelompok Konservatif yang Dipengaruhi oleh Wahabisme

Hasil pengamatan saya dengan ahli narasi, psikolog dan sosiolog serta ahli strategi media sosial menyimpulkan bahwa narasi kelompok konservatif dipengaruhi oleh Wahabisme, yaitu:
 
1. Islam itu hanya satu, tidak ada Islam Nusantara, Islam Moderat, Islam Indonesia, dan lain sebagainya.

2. Islam yang satu itu Islam yang murni. Islam yang bersandar pada Al-Quran dan Hadits. Itu Islam yang seperti kami praktekkan.

3. Kalau praktekmu bukan Islam yang murni, dan pakai bid'ah, yang ikut tradisi-tradisi lokal maka kamu pasti Islam liberal.

4. Kalau kamu Islam liberal, kamu pasti antek Amerika. Amerika dikuasai Yahudi dan Nasrani. Dan kamu pasti tahu ayatNya orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho sampai menghancurkan Islam.

5. Jadi kalau kamu tidak ikut Islam murni, kamu menghancurkan Islam.

6. Dan itu artinya, kamu harus ikut kami.

Apa artinya menjadi orang Islam Indonesia? Kita punya PR besar untuk membangun narasi kita, dengan model yang lebih komprehensif.

Ed Husain dalam bukunya The Islamist, mengisahkan 3 hal proses dalam JI dan Hizbut Tahrir Inggris, setelah dirangkul dan direkrut oleh kawan sekolahnya:

1. Dignity as a Moslem
Dibangun sedemkian rupa kebanggaan menjadi seorang muslim yang modern, maju, tapi spiritual dan semangat membangun kejayaan Islam.

2. A clear imagined society
Dicekoki gambaran masyarakat sempurna yang diperjuangkan kelompok Islamis ini, yaitu masyarakat yang kaffah, 100% sistem Islami sesuai syariah, dan non muslim tunduk kepadanya.

3. Specific Role to Play
Ed dan setiap kader diberi tugas mulia untuk memperjuangkan Islam di lingkungan masing-masing. Dulu Ed mati-matian berjuang agar di sekolahnya ada musholla.

Dari seorang kawan mantan HTI dan PKS, saya dapat cerita soal futuh. Ini doktrin agar setiap kader memperjuangkan kemajuan Islam di tempat dia berkiprah. Jadi kalau dia diterima di sebuah perusahaan, tugasnya adalah melakukan asesmen, membangun musholla bila belum ada, atau menguasasi musholla yang sudah ada atau perkumpulan orang muslim, lalu memperjuangkan kepentingan kelp Islam di perusahaan itu.

Makanya jangan heran, bila penyebaran kelompok ini sangat masif. Lha setiap kadernya dididik untuk mengejar futuh dan melakukan penguasaan lapangan.

Nah kalau kita perhatikan, sejak kita all-out utk NKRI beberapa tahun terakhir ini, kebanggaan jadi warga NU menguat drastis. Apalagi jadi Banser.

Itu karena prosesnya secara tidak sengaja menjawab poin 1: dignity (martabat dan jatidiri).

Jadi kalau sekarang mau memperkuat narasi, kata para ahli strategi narasi ini kita harus perkuat:

1. Kebangaan kita jadi orang Islam Indonesia, dengan Islam Nusantaranya

2. Gambaran kehidupan masyarakat Islam yang kita banggakan selama ini dan kita cita-citakan di bumi Nusantara ini: Islam Ramah, masa depan Islam dunia, karena damai dan lentur, serta kuat dalam nilai-nilai dasar Islam seperti keadilan, ukhuwah, maslahah.

3. Apa tugas seorang muslim Nusantara di lingkungan masing-masing. Ini bagian yang selama ini kita belum terlalu kuat. Makanya dakwahnya belum terasa ke mainstream.public.

Kelompok sebelah itu sebetulnya bukan nggak paham atau nggak sejalan dengan Islam Nusantara. Mereka fokus untuk melemahkan pengaruh NU. Itu saja. Makanya semua ruang akan dipakai untuk memasukkan NU ke Narasi Islam Murni itu. 

Oleh; Oleh Alissa Wahid
[via dutaislam.com/gg]

Wednesday, July 11, 2018

Paham Radikal Menular dari Kampus ke Masjid Pemerintah

Muslimedianews.com ~ Riset P3M menunjukkan 41 dari 100 masjid di lingkungan pemerintahan di wilayah Jakarta telah disusupi kelompok yang cenderung radikal. Penelitian ini mengkaji isi khotbah  Jum'at selama empat pekan dari September hingga Oktober tahun ini. 

Topik yang disampaikan natara lain ujaran kebencian, bersikap negatif terhadap agama lain dan menerima sistem Khilafah.

NU menilai bahwa temuan penelitian ini menyingkap potensi bahaya radikalisme di instansi pemerintah. 

Sementara Muhammadiyah mengatakan bahwa temuan P3M mengkonfirmasi hasil penelitian lembaganya. "Tapi pemerintah tak merespons".

 

Parah! Akun PKS Menganggap Bego yang Menjadikan 2 Tokoh Ini Sebagai Ulama

Muslimedianews.com ~ "BEGO DIPELIHARA! Orang macam Gus Mus dan Quraish Shihab anda jadikan Ulama'  Sungguh keblinger anda ini! Gus Mus dan Quraish Shihab itu kelakuannya sama seperti Kakek Sugiono"

Demikian ditulis oleh akun twitter Suara Keadilan PKS @SuaraKeadilanID menanggapi twit Rais Syuriyah PCINU Australia Prof. Nadirsyah Hosen yang mempost video tanya jawab KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Prof. Quraish Shihab (Habib Quraish). 9/7

"Gus Mus bertanya, Prof. Quraish Shihab menjawab. Sekitar 10 menit video ini menjelaskan banyak hal tentang dakwah. Luar biasa", tulis Gus Nadir memberikan keterangan video yang dibagikan dari Youtube tersebut.

Twit itu mendapatkan tanggapan positif dari para pengguna Twitter, namun tidak dengan akun orang PKS, justru menganggap bodoh orang yang menjadikan kedua ulama besar tersebut sebagai ulama. Dengan kata lain, Gus Mus dan Prof. Quraish Shihab yang notabene merupakan ulama besar Indonesia dianggap tidak layak oleh akun tersebut.

Para netizen justru berpandangan bahwa kedua ulama besar tersebut merupakan ulama yang mampu memberikan kesejukan pada hati yang kering dan menghilangkan dahaga orang yang sedang haus ketentaraman jiwa.

"Yg cari ulama silahkan merapat....dijamin kalian menemukan kesejukan hati....kalo kalian dpti orng yg mengaku ulama tpi kalian tdk menemukan kedamaian maka bisa jadi klian tdk bersama ulama melainkn syaiton.....", tulis akun AndiHabibi.

"Padahal ngk punya AC, dengerin beliau-beliau ini terarasa uadem. semoga semakin banyak seperti beliau-beliau.", akun ShinataPutra.

"Duh denger suaranya aja udah adem, damai dihati, sama seperti dakwah jenengan Gus @na_dirs yang selalu dengan ilmu dan hikmah, jadi jiwa kita yang disentuh.", tulis ArifKaranggresik.

"Sejuk dan menyejukkan,smga panjang umur utk gus mus dan habib", tulis Erry_ajah

"Ksimpulannya Dakwah ituHarus dgn Ilmu dan hati yg mmbawa kedamaian,bukan hanya skedar mngajak gelak tàwa dan dsukai banyak orang tanpa meningkatkan pengetahuan dan kesadaran orang..terima kasih gus share videonya", tulis Muzziarto.

Masih banyak orang-orang yang berpikiran positif yang memiliki pandangan yang berbeda dengan orang Suara Keadilan PKS ID diatas.

Suara Keadilan PKS ID bukannya menyuarakan keadilan tetapi menyuarakan merendahkan ulama besar Indonesia. 

Respon negatif akun Suara Keadilan PKS ID

Suara Keadilan PKS ID



Sunday, July 01, 2018

Hati-Hati Memondokkan Anak, Daftar Pondok Pesantren Wahhabi

Muslimedianews.com ~ Ingin memiliki anak yang shalih dan shalihah, memiliki pengetahuan agama Islam yang baik, dan sukses dunia maupun akhirat merupakan dambaan setiap orang tua. Salah satu bentuk ikhtiar yang dilakukan oleh orang tua untuk mencapai hal itu adalah mengajarkan putra-putri mereka pendidikan agama Islam atau menempatkan putra-putri mereka disebuah lembaga pendidikan seperti Pondok Pesantren. 

Tentunya, para orang tua mengharapkan putra-putrinya memiliki ilmu agama yang mumpuni, karena bagi orang tua, putra-putri mereka adalah aset bagi saat masih didunia maupun kelak ketika mereka meninggal dunia. Tidak hanya mumpuni ilmu agama, tetapi memiliki akhlak yang baik, prilaku yang terpuji, memiliki sikap yang ramah, tutur kata yang halus, membuat tentram setiap yang memandangnya.

Para orang tua juga pasti menginginkan ketika kelak mereka meninggal dunia, mereka tetap mendapatkan curahan do'a dan tambahan pahala bagi mereka sehingga mendapatkan keringanan siksa, bahkan mendapatkan kenikmatan di alam barzah sampai kelak di akhirat.

Namun, bagaimana bila semua itu tidak terwujud?. Justru yang terjadi memiliki anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, menyakiti hati orang tuanya. Alih-alih berimu dan berakhlak, malah kedua orang tuanya disesat-sesatkan, dibid'ah-bid'ahkan amalan mereka. Kejadian yang lebih parah dari itu, orang tuanya dikafirkan (dianggap murtad) karena melakukan amaliyah yang biasa dilakukan oleh umat Islam. Tidak hanya berhenti sampai disitu, anak yang mereka dambakan justru garang, terlibat dalam jaringan terorisme, memiliki benar-benih radikal, mengkufurkan pemerintah dan lain sebagainya. Betapa kecewanya orang tua jika yang terjadi berbanding terbalik dengan yang diharapkan. 
Oleh karena itu, penting bagi orang tua agar berhati-hati memasukkan anak ke lembaga pendidikan, termasuk memasukkan anak Pondok Pesantren. Sebab, akhir-akhir ini justru bermunculan pondok pesantren yang mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan umat Islam di Indonesia. 

Para orang tua harus tahu bahwa cukup banyak saat ini alumni pesantren yang setelah pulang hanya fasih berbahasa “akhie.. ukhti.. ana.. antum,” tapi anehnya mereka mudah berkata syirik dan bahkan mengkafirkan saudara kita. Orang tuanya sendiri pun disyirikkan. Naudzubillahi mindzalik!

Mereka kerap kali bergaya paling kritis dan berpenampilan paling aduhai Islaminya. Saking kritisnya, mereka berani melawan arus dan kebiasaan adat masyarakat. Dan tidak jarang menuduh aduhai umat Islam yang berpaham Sunni sekaligus Sufi.
Tawassul, Ziarah Kubur, Tahlilan, memperingati Maulid, Istighosah berjamaah yang merupakan kebiasaan rutin dilakukan oleh masyarakat Indonesia khususnya owarga Nahdliyin mereka sering tuduh syirik, bahkan tidak sungkan pula mengafirkannnya.
Apa anak Anda yang sejatinya ingin dipesantrenkan dan ingin menjadi sholeh mendapatkan ajaran yang penuh caci maki dan paling aduhai bener sendiri? Jika tidak, maka, silakan share daftar pesantren wahabi di Indonesia ini, agar anda terhindar daripaham yang menanamkan benih kebencian dan agar orang lain juga terhindar dariya. 
Di bawah ini adalah daftar pondok pesantren, ma’had, yayasan pendidikan yang dikelola orang-orang berpaham bukan Ahlussunnah wal Jama'ah-Sufiyah (Aswaja) alias orang-orang salafi wahhbai. Untuk menarik minat peserta didik, mereka biasanya mengiming-imingi beasiswa khusus, gratis biaya pembelajaran selama beberapa tahun, atau tawaran lainnya.
Peserta yang kena jaring razia mereka, akan didoktrin sesuai pemahaman mereka yang suka membid'ahkan, menyesatkan bahkan mengafirkan. Berikut hasil penelitian santri Nahdliyin terhadap mereka. Pesantren wahabi yang beredar di Indonesia:

  • Ma’had Imam Bukhori – Solo
  • Ma’had Al-Ukhuwah – Sukoharjo
  • Ma’had Ibnu Abbas – Sragen
  • Ponpes Islam Al-Irsyad – Semarang
  • Ma’had Al-Furqon – Gresik
  • Ma’had Ali bin Abi Thalib – Surabaya
  • Sekolah Dirosah Islamiyah – Sumbersari
  • Ma’had Al-Qudwah – Kediri
  • Ma’had Abu Huroiroh – Mataram
  • Ma’had Al-Furqon – Pekanbaru
  • Ponpes Salman Al-Farisi – Kediri
  • Ma’had Imam Syafi’i – Banyuwangi
  • Ma’had Minhajul Sunnah – Bogor
  • Yatim Ibnu Taimiyah – Bogor
  • Ma’had Hidayatunnajah – Bekasi
  • Ma’had Ibnu Hajar – Jakarta Timur
  • Ma’had Ibnu Qayyim Al Jauziyah – Balikpapan
  • Ma'had Imam Syafi'i Manggar - Balikpapan
  • Ma’had Ummahatul Mu’minin – Jakarta Pusat
  • Ma’had Riyadusholihin – Pandeglang
  • Ma’had Al-Ma’tuq – Sukabumi
  • Ma’had Rahmatika Al-Atsary – Subang
  • Ma’had Assunah – Cirebon
  • Pnpes Annajiyah – Bandung
  • Ma’had Assunnah – Tasikmalaya
  • Ma’had Ali Imam Syafi’i – Cilacap
  • Islamic Center Ibnu bin Baz – Bantul
  • Ma’had Jamilurrohman – Bantul
  • Ma’had Madinatul Qur’an – bogor
  • Pondok Al Umm – Malang
  • Pondok Pesantren Imam Syafi’i – Aceh
  • Pondok Pesantren Ibnu Katsir – Jember
  • Sekolah Tinggi Dirasah Islamiyah Imam Syafi’i – Jember
  • Arrahmah – Semanding, Malang

Jika Anda tidak percaya, silakan cek langsung, apa kurikulum yang diajarkan? Aqidahnya ikut imam siapa? Fiqih nya bermadhab apa? Apakah mereka setuju dengan konsep tasawwuf nya Imam Ghazali atau Imam Junaidi? Apakah pesantren mereka mempraktekkan ziarah ke makam auliya, terutama tiap Jumat sebagaimana pesantren Aswaja lainnya?

Apakah mereka juga mempercayai karomah wali Allah yang telah wafat? Ataukah pesantren mereka suka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw tiap tahun? Masihkah ustadz mereka bertawasul sebelum berdoa?
Jika tidak, dapat dipastikan mereka adalah kelompok wahabi “yang suka mensyirikkan bahkan mengkafirkan amaliah Ahlussunnah wal Jamaah (Nahdlatul Ulama). Jangan tergiur dengan metode atau sistem pendidikan dan tawaran beasiswanya sebelum Anda cek manhaj ta’lim nya sesuai Aswaja atau tidak.
Masih banyak pondok pesantren yang jauh lebih berkualitas daripada yang tersebut di atas, dan sesuai dengan ajaran Sunni-sufi Ahlusunnah Wal Jamaah (Nadlatul Ulama), paham yang selama ini makin paling dibenci oleh kalangan mereka.
Carilah daftar pesantren/ma ‘had/yayasan pendidikan selain mereka dengan banyak program unggulan. baik dalam bentuk Program Pesantren Modern Terpadu ataupun Ma’had dengan Program Hafiz “Menghafal Al-quran”. Ada juga ponpes Aswaja yang memiliki Program Qiroah sab’ah dan bersanad hingga Rasulullah.
Banyak pula pesantren yang mengajarkan takhasus salafiyah “Murni Mengkaji Kitab Kuning” hingga ke jenjang Ma’had Aly Setara S1 yang sudah diakui oleh menteri agama. Konsultasi ke pihak terkait bila diperlukan jika Anda kebingungan mencarikan pesantren untuk anak-anak Anda. (IslamNusantara/DutaIslam/Edit:MMN-Ibnu Manshur)

TULIS PESANTREN WAHHABI YANG ANDA KETAHUI KOLOM KOMENTAR

Kenapa Anggota (eks) Kelompok Terlarang HTI Tetap Golput ?

Muslimedianews.com ~ Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah kelompok Islam yang ingin membuat kegaduhan di Indonesia kemudian mengambil alih kekuasaan dan menegakkan khilafah yang menjadi impian dan cita-cita dari kelompok mereka. HTI telah dibubarkan oleh pemerintah Indonesia sekaligus menjadi ormas terlarang karena tujuan politik mereka mengganti NKRI menjadi Khilafah. 
Orang-orang HTI berkeyakinan bahwa sistem negara di Indonesia adalah sistem kufur. Demokrasi dalam pandangan mereka lawan daripada Islam, sehingga dalam benak mereka tertanam keyakinan "Demokrasi versus Islam". Demokrasi tidak dimaknai sebagai salah satu pilihan bentuk negara, sehingga dianggap sebuah sistem kufur. Hal ini berbeda dengan ormas Islam lain yang telah final memutuskan bahwa Indonesia adalah negara sah dan berdaulat sesuai dengan syariat Islam. 
Menurut HTI, semua hal yang berkaitan dengan negara sistem kufur adalah haram diikuti. Tentu saja, pandangan mereka sangatlah absurd, bahkan terlalu munafik, sebab mereka sendiri hidup di Indonesia, melakukan berbagai hal untuk hidup dengan mengikuti sistem yang berlaku di Indonesia, mulai dari penggunaan mata uang, transaksi, bekerja untuk makan, mengurus administrasi pendidikan dan lain sebagainya. Namun, disisi lain mereka menolak untuk ikut berkontribusi, salah satunya dalam pemilihan umum (Pemilu).
Orang-orang HT maupun eks HTI saat ini tetap bersikukuh dengan kejahilan mereka. Mereka tetap golput, baik saat HTI masih eksis maupun telah dibubarkan saat ini. 
Dalam forum-forum diskusi, Ismail Yusanto karena memberikan jawaban yang cukup politis dengan mengatakan "HTI tidak pernah menganjurkan golput", tetapi faktanya syabab-syabab mereka memilih golput sesuai dengan keyakinan yang memang ditanamkan dalam benak orang-orang HT.
Pemikiran orang Hizbut Tahrir hanya berkisar antara berikut ini :
- Ikut terlibat memilih pemimpin / pemilu hukumnya boleh
- Tapi kalau memilih pemimpin untuk menegakkan sistem Indonesia, maka hukumnya haram.
- Alasannya pemimpin yang dipilih tidak berhukum dengan hukum Allah, 
- Jadi ikut pemilu (Pilkada, Pileg maupun Pilres) adalah haram
- Ikut pemilu berarti berdosa dengan dosa Investasi selama 5 tahun.
Semua alasan HTI itu hanya karena tidak menegakkan Khilafah sesuai dengan keinginan mereka. Jadi, bagi mereka, Khilafah adalah sesuatu yang tidak boleh ditawar kembali. Sehingga siapapun calon pemimpinnya, bahkan muslim yang shalih sekali pun tidak akan mereka pilih. 
Bagi umat Islam, tidak perlu berharap kepada suara orang Hizbut Tahrir, karena Golput telah menjadi keyakinan mereka dalam bernegera di Indonesia ini. Konsekuensi bagi mereka, seharusnya tidak boleh ada pelayanan terhadap mereka, apalagi sampai mendapat gaji dari negara (menjadi PNS), atau mendapat kesempatan mengajar di universitas negeri seperti beberapa orang HT yang ada sebelumnya. Berbeda bila Golput dengan alasan yang lain tanpa mengkufurkan sistem negara Indonesia.
Berikut ini adalah tulisan dari orang HT yang mengakui bahwa mereka GOLPUT. 
***
*KENAPA BINAAN HIZBUT TAHRIR TETAP MEMILIH UNTUK GOLPUT?*

Simak penjelasan yg ditulis oleh _Syarifuddin Chan_ berikut ini:

Semenjak pembubaran HTI, apalagi kini menjelang pilkada di beberapa daerah, sering ditemui ujaran berbunyi :
"Udah deh, HTI jangan lagi golput."
"Makanya, ikut milih, jangan golput."
Ringan sekali ucapan itu keluarnya. Seakan tidak ikut memilihnya HTI hanya karena faktor untung rugi, maslahat mudharat, suka atau tidak.
Saudaraku, HTI itu dari awal sudah membiasakan diri untuk terikat dengan hukum syara'. Artinya, setiap hendak melakukan satu perbuatan, perlu terlebih dahulu dipelajari, dikaji bagaimana Syariat Islam memandang perbuatan itu.

Dalam konteks pemilihan, sebagi teknis dalam menentukan pemimpin, HTI tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam. Makanya jika nanti Khilafah tegak, seorang Khalifah itu ditentukan lewat cara pemilihan.

Hanya saja, hukum asal mubahnya/bolehnya memilih ini, bisa berubah jadi haram, ketika pemilihan itu untuk memilih pemimpin yang tidak akan berhukum dengan hukum Allah. Karena ini sama saja ikut berpartisipasi melanggengkan hukum lain yang diterapkn pemimpin itu.

Disini akan muncul konsekwensi dosa investasi jika tercatat sebagai pihak yang karenanya (dia ikut memilih) seorang pemimpin, akan mendapat dosa pada setiap kebijakan atau undang-undang yang dibuat si pemimpin, karena kebijakannya dan UU nya itu bukan kebijakan yang bersandar pada al-Qur'an dan as-Sunnah.

Jadi saudaraku, perkara ikut memilih dalam sistem kufur ini, tidak sesederhana itu. Kamipun ingin sekali memilih. Tapi janganlah karena ikut memilih itu, kami akhirnya menerima dosa investasi selama 5 tahun ke depan akibat kebijakan si pemimpin yang tidak diambil berdasar al-Qur'an dan as-Sunnah.

Bukankah pada surah al-Maidah 44,45, dan 47 Allah SWT sangat mengecam siapa saja yang tidak mau berhukum dengan hukum yang berasal dari-Nya ????
Orang yang begini diancam akan dimasukkan Allah SWT ke dalam golongan orang kafir, dzalim dan fasik menurut nash ayat di atas. Jadi ini bukan masalah ringan, setidaknya begitulah bagi kami.

Jika anda merasa masalah ini masalah ringan, masalah khilafiyah, itu urusan anda dengan Allah SWT. Please, jangan seret kami mengikuti persepsi anda yang menurut nash ayat di atas sudah sangat jelas, tidak diragukan, adalah perbuatan salah menurut Allah SWT.

Perkara, HTI dibubarkan gara-gara itu, perkara akan naiknya pemimpin tidak islami gara-gara itu, menurut kami persoalannya bukan terletak paada ikut tidaknya kami nyoblos. Perkaranya terletak pada tidak maunya umat Islam untuk menegakkan syarih dan Khilafah. Karena jika syariah dan Khilafah tegak, maka selamanya kita tidak perlu khawtir akan kemungkinan naiknya pemimpin yang tidak islami. Namun jika sistem Demokrasi kufur ini yang terus dipertahankan, okelah, saat ini bisa naik pemimpin islami. Tapi 5 tahun ke depan, ancaman naiknya pemimpin tidak islami akan tetap muncul. Karena sistem ini memang memperbolehkan siapa saja untuk jadi pemimpin.

Jadi mau sampai habis suara anda mengajak kami untuk ikut memilih, insyaAllah tidak akan ngefek. Karena takut kami kepada ancaman Allah melebihi takut kami pada apapun selainnya. Bukankah seruan bagi kita umat Islam, ittaqullah ... ??
 sumber facebook orang (eks) HTI https://web.facebook.com/aida.nurdin.37/posts/2241316279226893
 
***

Tuesday, June 12, 2018

Penghina Ansor NU di Pandeglang Berakhir dengan Materai #KamiTidakDiam

Muslimedianews ~ Proses tabayun yang di lakukan oleh Ansor Banser Kab. Pandeglang di Polres Pandeglang terhadap seseorang yg menghina @nahdlatululama di medsos...  #KitaTidakDiam @GPAnsor_Satu @noeruzzaman @AfifFuadS @GunRomli @Adung65A @qitmr @cakimiNOW @HandiKusnandi





Hinaan sebelumnya

Thursday, November 17, 2016

Teroris Jadikan Islam sebagai Dalih dalam Beraksi

Muslimedianews.com ~ Meski tak sepenuhnya benar, aksi teror di berbagai belahan dunia mayoritas dikaitkan dengan Islam. Dari sini kaum Muslimin perlu introspeksi dalam rangka memperbaiki kekurangan yang menyebabkan stigma itu muncul.

Menurut Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, orang boleh saja menganggap bahwa terorisme merupakan ciptaan dunia Barat untuk mendeskriditkan Islam, kendati pandangan demikian bisa benar bisa salah.

“Namun harus diakui di internal Islam sendiri sebenarnya ada masalah. Mereka (para teroris) adalah orang-orang Islam dan terang-terangan mengatasnamakan, menggunakan dalih Islam untuk melancarkan aksinya,” tuturnya di Jakarta, Jumat kemarin.

Ia mencontohkan, saat umat Islam di berbagai penjuru dunia berusaha meyakinkan kekeliruan stigma bahwa Islam mengajarkan terorisme, Al Qaida justru secara tegas mengklaim bahwa berbagai tindakan teror yang memakan korban jiwa itu adalah bagian dari aksinya. Hal ini menunjukkan bahwa di tubuh umat Islam sendiri bersarang masalah yang harus diatasi.

Ia juga menyinggung soal Donald Trump yang terpilih sebagai presiden baru Amerika Serikat. Menurutnya, tokoh yang dikenal memiliki sinisme kuat terhadap Islam ini berpotensi memperburuk posisi umat Islam dalam pergaulan politik internasional bila Trump gagal menciptakan platform yang menjamin perdamaian.

Dalam hal ini, PBNU mengharapkan pemerintah Indonesia melakukan diplomasi aktif dalam turut mewarnai wajah Islam di dunia. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, pemerintah Indonesia memiliki daya tawar tinggi untuk memerankan posisi tersebut.

“Indonesia harus tampil dengan penuh percaya diri melalui legitimasi sebagai pemerintahan dengan bangsa Muslim terbesar di dunia,” kata mantan juru bicara kepresidenan pada era pemerintahan Gus Dur ini. (Mahbib)


via nu.or.id

Monday, November 14, 2016

10 Negara Yang Teroris Banyak Bercokol Didalamnya

Muslimedianews.com ~ Indeks Terorisme Global merunut daftar negara-negara yang paling sering menjadi korban serangan teror. Kebanyakan berada di Arab, Asia Selatan dan Afrika.

1. Irak
Sebanyak 3370 serangan teror terjadi di Irak selama tahun 2014. Hampir 10.000 orang tewas dan 15.000 lainnya luka-luka. Serangan teror terbesar dilancarkan Islamic State saat menyerbu penjara di Badush, 10 Juni tahun lalu. Mereka membebaskan tawanan Sunni dan membunuh 670 narapidana Syiah.

2. Afghanistan
Sedikitnya 4500 korban jiwa dan 4700 luka-luka tercatat akibat 1591 serangan teror yang terjadi di Afghanistan tahun lalu. Setahun setelah pencabutan pasukan perdamaian internasional, hindukush masih berada di bawah bayang-bayang Taliban. Kelompok teror itu berulangkali dilaporkan melancarkan serangan kilat di provinsi Kundus yang memakan korban jiwa dari warga sipil.

3. Nigeria
Boko Haram tidak perlu banyak melancarkan serangan teror buat menghasilkan sebanyak mungkin korban. Dari 662 serangan, kelompok teror pimpinan Abu Bakar Shekau itu membunuh 7512 orang dan melukai 22.000 lainnya. Boko Haram pun menurut studi Vision of Humanity lebih getol membidik warga sipil dengan 77% korbannya berasal dari kelompok non militer tak bersenjata.

4. Pakistan
Sebanyak 1821 insiden beraroma teror tercatat terjadi di Pakistan selama 2014. Geliat teror di negara bermayoritas mulsim itu menelan sedikitnya 1760 korban jiwa dan melukai 2836 lain. Ada banyak kelompok teror yang beroperasi di Pakistan. Tapi kelompok Tehrik-i-Taliban (TTP) adalah yang paling ganas. Desember 2014 silam mereka menyerbu sebuah sekolah di Peshawar dan membunuh 132 murid sekolah.

5. Suriah
Tidak mudah membedakan korban serangan teror dengan korban perang di negeri yang remuk oleh konflik seperti Suriah. Menurut Vision of Humanity, 2014 silam Suriah mencatat 1698 korban jiwa dari 232 insiden berbau teror. Islamic State adalah kelompok teror terbesar dengan jumlah korban jiwa 615 orang. Sementara Front Al Nusra berada di tempat kedua dengan 461 korban jiwa.

6. India
India seakan berada di luar radar teroris sejak serangan mematikan di Mumbai 2008 silam. Tapi nyatanya Vision of Humanity mencatat 763 insiden yang menelan 416 korban jiwa selama 2014. Terorisme di India kebanyakan digalang oleh kelompok Komunis, Islamis atau separatis. Serangan terbesar tahun lalu dilancarkan oleh kelompok Maoist yang menyerang iring-iringan polisi dan membunuh 22 aparat keamanan

7. Yaman
Sebanyak 512 serangan teror menewaskan sekitar 654 orang selama 2014 di Yaman. Kelompok Al-Qaida dan pemberontak Houthi adalah dua kekuatan terbesar. Al-Qaida adalah satu-satunya kelompok di Yaman yang menggunakan taktik bom bunuh diri. Yang terparah adalah ketika kelompok tersebut menyerang perayaan tahun baru di wilayah yang dikuasai Houthi dan membunuh 50 warga sipil.

8. Somalia
Tahun lalu Somalia mencatat tahun paling berdarah dalam perang melawan terorisme: sebanyak 800 korban jiwa dari 469 insiden. Laskar Al-Shabbab adalah kelompok terbesar yang merongrong keamanan di negeri tanduk Afrika itu. Berkekuatan sebanyak 9000 gerilayawan, Al-Shabbab yang berafiliasi dengan Al-Qaida itu sering mengandalkan serangan bom untuk menyebar teror.

9. Libya
Libya mencatat lonjakan tajam sebesar 225% tahun 2014 dalam jumlah korban serangan teror. Tercatat negeri di utara Afrika itu mengalami 554 serangan yang menelan 429 korban jiwa. Ada banyak kelompok teror yang beroperasi di Libya, salah satunya adalah Islamic State.

10. Thailand
Sebanyak 366 insiden berbau teror terjadi selama 2014 di Thailand dan menelan 156 korban jiwa. Gejolak terutama terjadi di wilayah selatan, di mana kelompok minoritas muslim Melayu berperang melawan pasukan pemerintah. Sekitar 60% serangan teror di Thailand berupa ledakan bom.


 sumber dw dot com

Kenali Strategi dan Taktik ISIS untuk Syrianisasi Indonesia, 6 Cara Mencegahnya

Muslimedianews.com ~ Kamis (20/10/2016) pagi, seorang terguga teroris yang bersal dari Anshor Daulah Indonesia (ADI/simpatisan ISIS) menyerang Kapolsek Tangerang dan dua anggotanya di Pos Polisi Yupentek, Cikokol, yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Tangerang. Penyerangan itu dapat menjadi potret masa depan situasi di Indonesia seandainya ISIS berhasil menjadikan Indonesia sebagai Syria jilid II.

Sebelum semuanya terlambat, semua upaya syrianisasiIndonesia yang sedang dilakukan oleh para simpatisan ISIS harus dihentikan.

KENALI STRATEGI DAN TAKTIK  
Mengenali stategi dan taktik apra simpatisan ISIS untuk mengubah Indonesia menjadi medan konflik seperti Syria merupakan langkah awal dalam menanggulangi bahaya ISIS dan para simpatisan-nya.

Strategi besar pada simpatisan ISIS dalam protek syrianisasi Indonesia meliputi propaganda kebencian (hete speech), seruan melakukan kekekerasan (hate crime), dakwah takfiri (pengkafiran), penciptaan teror sosial dan penggulingan pemerintah.

Propaganda yang dimotori ISIS ini bersifat masif, baik melalui perterjemahan buku-buku, majalah-majalah ISIS seperti Dabiq, bahkan media-media sosial, termasuk grou-group teleggram dan WA untuk menjangkau target yang lebih luas sekaligus menghindari pantauan dan pelacakan arapat kepolisan.

Buku berjudul Ayaturrahman fi Jihadis Suriah, adalah salah satu diantara sekian banyak propaganda yang sangat menguntungkan bagi para pembela ISIS di indonesia.

Selain itu dakwah takfiri tersebut bertjuan untuk merekrut anggota2 baru dan menyiapakan umat Islam Indonesia agar menerima paham takfiri ISIS.

Melalui kajian-kajian di masjid dan diskusi-dikusi online dalam grup-group telegram sepert group Pembela Tauhid (GPT), Group Khilafah Islamiyah (KI) dan group Mudik bareng, para simpatisan ISIS mengajak masyarakat untuk turut mendukung ISIS sekaligus mengkafirkan siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka.

Karena itulah, saya tidak heran mengapa selama ini isis mengkafirkan tokoh-tokoh Islam moderat dari kalangan semisal NU, Muhammadiyah, atau MUI. Jangankan ormas-ormas tersebut, tokoh=tokoh dari ormas-ormas yang selama ini dilabeli sebagai kelompok radikal semacam FPI, Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), dan jemaah Islamiyah pun mereka kafirkan. Bagi para simpatisan ISIS, terutama yang berasal dari jamaah Amaniyyun (para pengikut paham takfiri Aman Abdurrahman), siapapun yang tidak sepaham dengan kelompok mereka masuk golongan kafir.

Sambil terus menyebarkan ajaran takfiri, para simpatisan ISIS berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan teror sosial di Indonesia. Mereka percaya dapat beroperasi dengan baik di Indonesia hanya kalau dalam keadaan kacau dan konflik sosial merajalela.

Skenario lain ISIS adalah memainkan sistimen keagamaan untuk mengadu domba antar pemeluk agama dan antar pengikut aliran keagamaan di Indonesia. Di Syria, skenario ISIS itu berhasil.


Di negara itu, ISIS membenturkan umat Islam dengan umat agama lain, kaum Sunni dengan kaum Syiah dan kelompok takfiri dengan kelompok salafi jihadi.

Di Indonesia, simpatisan ISIS memprovokasi dan menunggangi kelompok-kelompok masyarakat yang anti-Bhineka Tunggal Ika untuk membuat kekacauan sosial. Jika Indonesia berhasil dibuah chaos dengan balutan sentimen agama, mereka berhasil lebih mudah mengganti pemerintahan Indonesia yang sah dengan tiga strategi perangyang diadobsi dari ISIS di Timur Tengah, yaitu perang konvensional, perang gerilya dan serangan teror.

Nah, saat berhasil menguasai Indnesia, ISIS akan memusnahkan anak bangsa yang selama ini tidak sejalan dengannya.

SEGERA BERTINDAK
Untuk mencegah ISIS mengubah Indonesia yang damai menjadi Syria kedua yang berdarah-darah, pemerinah perlu mengambil langkah2 tegas berikut:

1. pemerintah perlu mengindentifikasi dai-dai simpatisan ISIS di Indonesia yang aktif menyebarkan paham takfiri.

2. pemerintah perlu memonitor dai-dai tersebut dan segala melakukan tindakan hukum ketika ceramah-ceramah mereka berisi anjuran untuk melakukai atau menghilangkan nyawa orang lain dan mengangung-agungnykan aksi-aksi terorisme yang dilakukan oleh ISIS.

3. melalui kerja sama dengan DKM-DKM, pemerintah perlu segera menurut kajian-kajian takfiri/terkait ISIS yang selama ini selenggarakan di masjid-masjid.

4. pemerintah perlu mengambil langkah hukum yang tegas terhadap kelompok-kelompok anti-Bhineka Tunggal Ika yang selama ini ditunggangi agenda ISIS ketika mereka telah terbukti melakukan pelanggaran hukum.

5. para tokoh ormas Islam perlu berfikir secara cerdasa dalam menjalankan aktifitas dakwah masing-masing. Jangan sampai kegiatand akwah mereka (tabligh akbar dan kaderisasi) tanpa disadari justru ikut serta menciptakan kondisi sosial yang diharapkan oleh ISIS.

Sebaiknya isu-isu keagamaan yang sensitif seperti isu-isu Ahmadiyah, Syiah, aliran kepercayaan, non-musliim, dan sejenisnya didakwahkan dalam konteks Bhineka Tunggal Ika.

Apabila isu-isu itu dipolitisasi dengan menggunakan kacamata Timur Tengah, kekacauan sosial karena sentimen keagamaan sangat berpotensi untuk muncul di wilayah-wilayah Indnesia.

6. pemerintah harus segara melokalisasi setiap kerusuhan sosial yang terjadi, apapun latar belakangnya, dan memperoses secara hukum setiap pihak yang terlibat tindak pidana yang terkait dengan kerusuhan tersebut tanpa pandang bulu.

Tulisan : KH. Said Aqil Siraj
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama




Saturday, January 23, 2016

Hukum Membunuh dalam Islam


Jakarta, Muslimedianews ~ Pada dasarnya tidak ada satupun agama di dunia ini yang menghalalkan pembunuhan, sebab tujuan agama adalah untuk perdamaian, menyebarkan kasih sayang, dan mengatur tatanan sosial agar lebih baik. Begitu pula dengan doktrin agama Islam, sejak awal penurunannya sudah ditegaskan bahwa Islam mengemban visi kerahmatan (QS: al-Anbiya’: 107). Sehingga hampir tidak ditemukan pembenaran kejahatan dalam ajaran Islam. Dengan demikian, bila ada sekelompok orang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan Islam, ketahuilah bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat bertentangan dengan filosofi Islam itu sendiri.

Dalam al-Qur’an dikatakan, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS: Al-Maidah: 32).Ayat ini adalah salah satu contoh kecaman Islam atas setiap pembunuhan yang dilakukan dengan semena-mena. 

Membunuh satu orang manusia ditamsilkan dengan membunuh semua manusia. Karena setiap manusia pasti memiliki keluarga, keturunan, dan ia merupakan anggota dari masyarakat. Membunuh satu orang, secara tidak langsung akan menyakiti keluarga, keturunan, dan masyarakat yang hidup di sekelilingnya. Maka dari itu, Islam menggolongkan pembunuhan sebagai dosa besar kedua setelah syirik (HR: al-Bukhari dan Muslim). Kelak pelaku pembunuhan akan mendapatkan balasan berupa neraka jahannam (QS: al-Nisa’: 93). 

Aturan ini tentu tidak hanya dikhususkan untuk umat Islam saja dan bukan berati non-muslim dihalalkan darahnya,karena misi kerahmatan yang dibawa Islam tidak hanya untuk orang Islam semata, tetapi untuk seluruh semesta. Dalam hadis riwayat al-Bukhari disebutkan, man qatala dzimmiyan lam yarih ra‘ihah al-jannah, orang yang membunuh seorang dzimmi (non-muslim yang berada dalam perjanjian keamanan), maka ia tidak akan mencium aroma surga.  Hadis ini ialah salah satu landasan larangan membunuh non-muslim dalam Islam.

Pembunuhan yang Diperbolehkan

Dalam kondisi terntentu, pembunuhan tetap diperbolehkan dengan beberapa syarat dan aturan. Ada dua kondisi yang dibolehkan untuk menghilangkan nyawa manusia: membunuh ketika perperangan dan membunuh ketika menghukum. Membunuh dalam kedua kondisi ini diperbolehkan selama tidak berlebih-lebihan (QS: Al-Baqarah: 190). Konflik yang berimbas pada perperangan tentu membunuh antara satu sama lainnya tidak terelakkan. 

Perperangan yang dimaksud di sini ialah perperangan yang terjadi dalam rangka mempertahankan agama, negara, dan harga diri. Perang bisa dilakukan ketika keberadan satu komunitas diancam oleh komunitas lain dan tidak menemukan cara lain  untuk mengatasinya kecuali dengan berperang. Selama masih bisa diselesaikan dengan cara lain, maka perang tidak boleh dilakukan. Oleh sebab itu, jika merujuk kepada sejarah Islam, perang adalah solusi terakhir dan biasanya terjadi ketika umat Islam sudah diserang dan dikhianati terlebih dahulu oleh musuh. 

Namun perlu digarisbawahi, membunuh diperbolehkan ketika kedua belah pihak sudah sepakat untuk berperang. Bila salah satunya sudah mengalah, maka menyerang lawan tidak boleh dilakukan. Dan perlu diketahui pula, yang diperbolehkan untuk dibunuh hanyalah pasukan perang saja. Sementara anak, istri, dan keluarganya yang tidak ikut berperang tidak boleh dibunuh. 

Andaikan terjadi perperangan antara orang Islam dengan non-muslim, maka non-muslim yang dibunuh hanyalah yang ikut serta dalam perperangan saja, sedangkan yang tidak ikut berperang diharamkan untuk dibunuh. Ibnu al-‘Arabi dalam Ahkam al-Qur’an mengatakan, “Janganlah membunuh kecuali terhadap orang yang telah memerangimu. Orang yang diperbolehkan untuk dibunuh dalam perperangan ialah laki-laki dewasa saja, sementara perempuan, anak-anak, dan para pendeta tidak diperbolehkan untuk membunuhnya.”

Kemudian, pembunuhan boleh dilakukan ketika menghukum pelaku kriminal. Maksudnya, membunuh dalam rangka menghukum. Hal ini tentu hanya berlaku bagi negara yang menerapkan hukuman mati. Dalam Islam,  hukum mati boleh dilakukan ketika pelaku telah membunuh orang lain, melakukan pemberontakan, dan melakukan kejahatan yang menganggu kenyaman hidup orang banyak. Hukuman mati boleh dilakukan ketika di sebuah negara sepakat untuk menerapkannya dan orang yang diperbolehkan untuk melakukannya hanyalah pejabat yang sudah ditunjuk oleh hakim ataupun presiden.

 Jika seorang melakukan pembunuhan misalnya, hukuman tersebut bisa diterapkan bila keluarga korban menuntut untuk membalasnya dengan bentuk hukuman yang setimpal (nyawa dibayar nyawa). Akan tetapi, hukuman qishash  terbatalkan bila pelaku mendapatkan ampunan dan maaf dari keluarga korban. Begitu pula dengan pelaku makar dan perusak hidup orang banyak, mereka baru bisa dihukum mati bila hakim dan pembuat kebijakan negara memutuskan hukuman mati untuk mereka. Wallahu a’lam 




Oleh: Hengky Ferdiansyah adalah Peneliti Hadis di El-Bukhori Institute. Alumni Pondok Pesantren ilmu hadis Darus-Sunnah, Ciputat.