Muslimedianews.com, Subang ~ Seorang Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Subang sukses terpilih menjadi anggota DPRD Subang untuk periode 2014-2019 setelah sempat menjadi sorotan media massa karena profesinya sebagai seorang penambal ban. Namun siapa sangka, caleg yang bernama Raska tersebut yang sebelumnya dianggap sebagai caleg yang nekat ternyata merupakan orang yang mampu dan memiliki banyak harta.
Raska yang berlamat di Desa Sindangsari Kecamatan Cikaum itu mencalonkan diri dari partai PKS dapil Subang tujuh yang meliputi Kecamatan Cikaum, Purwadadi, Tambakdahan, Binong.
Sebelum dilaksanakannya pileg, beberapa media massa baik cetak, elektronik, online sempat diundang oleh salah satu media swasta tanah air sebagai nara sumber dalam sebuah acara talkshow bahwa Raska hanya seorang tukang tambal ban. Namun pada kenyataannya Raska adalah orang kaya.
Sayangnya, ketika hendak dikonfirmasi, pria yang akrab disapa Eko tersebut tidak sedang berada di kediamannya. Yang ada hanyalah istri, kerabat dan anak-anaknya.
Raska yang sempat menjadi sorotan publik tersebut memiliki tiga anak laki-laki. Selain memiliki bengkel besar, ia pun memiliki sejumlah usaha yang dikelola oleh keluarganya. Bahkan, saat ini ia sedang menyekolahkan anak pertamanya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Bandung.
“Memang suami saya dulunya tukang tambal ban, namun seiring berjalannya waktu kami sekarang mempunyai bengkel dan usaha lainnya, serta memiliki beberapa karyawan,” jelas istri Raska, Een Nurhasanah,Minggu (27/4)
Ia membantah jika profesi asli suaminya merupakan seorang tambal ban. “Kecuali kalau karyawan sedang tidak ada, bapak suka menggantikannya,” katanya.
Saat disinggung modal yang dikeluarkan untuk menjadi seorang caleg, Een enggan menyebut besaran jumlah uang yang sudah dihabiskan untuk keperluan operasional menjadi caleg.
Ia mengaku untuk menjadi caleg tersebut suaminya tidak memiliki modal apa-apa. “Kalau soal itu saya tidak tahu apa-apa, karena itu urusan suami. Saya hanya ikut mendukung semua pekerjaan suami,” jelasnya.
Sementara, salah seorang kerabat raska, Supardi (71) mengaku jika saat ini Raska yang berhasil menjadi anggota dewan itu, sering tidak ada di rumahnya. Dirinya pun baru mengetahui dari pemberitaan di media massa yang menyebutkan bahwa sodaranya itu seorang tukang tambal ban, padahal bukan.
“Bukan tukang tambal ban, melainkan dia bosnya para tukang tambal ban. Selain punya bengkel dia juga punya Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Islam Ali bin Abu Thalib yang berada di dekat rumahnya,” tuturnya.
Supardi yang merupakan seorang veteran perang kemerdekaan tersebut memperkirakan Raska sudah menghabiskan ratusan juta rupiah saat bertarung memperebutkan kursi DPRD Subang. “Untuk menjadi seorang Kepala Desa saja, di sini bisa menghabiskan Rp500 juta. Apalagi ini pertarungan memperebutkan kursi dewan, pasti lebih besar dari itu,” pungkasnya
Sumber: inilah.com via Mosleminfo.com
Raska yang berlamat di Desa Sindangsari Kecamatan Cikaum itu mencalonkan diri dari partai PKS dapil Subang tujuh yang meliputi Kecamatan Cikaum, Purwadadi, Tambakdahan, Binong.
Sebelum dilaksanakannya pileg, beberapa media massa baik cetak, elektronik, online sempat diundang oleh salah satu media swasta tanah air sebagai nara sumber dalam sebuah acara talkshow bahwa Raska hanya seorang tukang tambal ban. Namun pada kenyataannya Raska adalah orang kaya.
Raska yang sempat menjadi sorotan publik tersebut memiliki tiga anak laki-laki. Selain memiliki bengkel besar, ia pun memiliki sejumlah usaha yang dikelola oleh keluarganya. Bahkan, saat ini ia sedang menyekolahkan anak pertamanya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Bandung.
“Memang suami saya dulunya tukang tambal ban, namun seiring berjalannya waktu kami sekarang mempunyai bengkel dan usaha lainnya, serta memiliki beberapa karyawan,” jelas istri Raska, Een Nurhasanah,Minggu (27/4)
Ia membantah jika profesi asli suaminya merupakan seorang tambal ban. “Kecuali kalau karyawan sedang tidak ada, bapak suka menggantikannya,” katanya.
Saat disinggung modal yang dikeluarkan untuk menjadi seorang caleg, Een enggan menyebut besaran jumlah uang yang sudah dihabiskan untuk keperluan operasional menjadi caleg.
Ia mengaku untuk menjadi caleg tersebut suaminya tidak memiliki modal apa-apa. “Kalau soal itu saya tidak tahu apa-apa, karena itu urusan suami. Saya hanya ikut mendukung semua pekerjaan suami,” jelasnya.
Sementara, salah seorang kerabat raska, Supardi (71) mengaku jika saat ini Raska yang berhasil menjadi anggota dewan itu, sering tidak ada di rumahnya. Dirinya pun baru mengetahui dari pemberitaan di media massa yang menyebutkan bahwa sodaranya itu seorang tukang tambal ban, padahal bukan.
“Bukan tukang tambal ban, melainkan dia bosnya para tukang tambal ban. Selain punya bengkel dia juga punya Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Islam Ali bin Abu Thalib yang berada di dekat rumahnya,” tuturnya.
Supardi yang merupakan seorang veteran perang kemerdekaan tersebut memperkirakan Raska sudah menghabiskan ratusan juta rupiah saat bertarung memperebutkan kursi DPRD Subang. “Untuk menjadi seorang Kepala Desa saja, di sini bisa menghabiskan Rp500 juta. Apalagi ini pertarungan memperebutkan kursi dewan, pasti lebih besar dari itu,” pungkasnya
Sumber: inilah.com via Mosleminfo.com

Kalau saya baca dari artikel ini kesimpulannya :
ReplyDelete- Raska dulu seoarang penambal ban
- sekarang bisnisnya sudah sukses, punya beberapa usaha
- bisnis tambal ban masih jalan dengan karyawan, kalau karyawan tidak ada tambal ban masih dilakukan Raska sendiri.(jadi raska memang masih penambal ban)
- besar biaya pemilu raska hanya asumsi dari orang luar.
isi beritanya cukup netral, sayangnya judulnya sangat tendensius dengan kata "MENGAKU Tukang Tambal Ban" tidak mencerminkan akhak orang beragama Al-Islam.
Besar harapan saya media ini bisa menjadi *media pemersatu* umat. Memiliki kualitas pemberitaan seperti ahli hadits. Sungguh NU gudangnya ilmuawan.
1. Sering-seringlah tabayyun, menjalin komunikasi positif
2. Berfikirlah positif, berprasangka yang baik, husnudhon lah.
3. Tidak adanya komunikasi yang baik sehingga informasi yang masuk bisa tidak valid, ditambah berprasangka negatif, akan membawa keburukan.
Bagaimana kita *memaknai* sesuatu itu mempengaruhi emosi kita,
*emosi* kita menentukan keputusan kita,
*keputusan* kita menentukan tindakan kita,
*tindakan* menentukan hasil (dengan ijin Allah).
silahkan baca disini :
ReplyDeletehttp://regional.kompas.com/read/2014/04/24/1044323/Caleg.PKS.Tukang.Tambal.Ban.Jadi.Wakil.Rakyat
ini yg raska bilang sendiri :
Sebagai tukang tambal ban, Raska mengaku mendapat penghasilan rata-rata Rp 50.000 per hari.
Oleh karenanya, Raska tidak menggunakan modal dengan uang berlimpah
untuk maju sebagai wakil rakyat. "Enggak ada modal. Ya modal saya itu
pas-pasan," tuturnya.
mengaku miskin...sungguh tdk takut benar2 dimiskinkan oleh Allah SWT!
ReplyDeleteSatunya mungkin ngibul, Satunya lagi resek
ReplyDeletebenar tidaknya Wallohu'alam
ReplyDelete........
ReplyDeletehati hati dg perkataanmu.....:-)
sekali lagi, bagaimana kita memaknai sesuatu, akan menghasilkan sesuai yang kita fikirkan. kalau kita berfikir negatif, jeleklah si raska, kalau kita berfikir positif akan hasil bedanya.
ReplyDeletedalam ilmu tafsir hadits misalnya, kalau ada dua dalil yang terlihat berbeda, tentu akan berusaha dikompromikan, misalnya masalah Isbal (celana cingkrang/tidak cingkrang), kalau hanya pakai satu hadits, maka akan banyak berdosa orang-orang di dunia ini yang celananya tidak cingkrang. tetapi kalau disertakan hadits bahwa yang dosa itu karena sombong, maka cerita nya jadi lain. Termasuk Imam Hanafi dan Ibn Taimiyyah, justru membolehkan celana melewati mata kaki, selama tidak untuk sombong.
kembali ke raska,
- usahanya maju
- mengaku penghasilan kecil (50rb hari)
inipun sebenarnya bisa kita kompromikan kalau kita mau berprasangka baik kepada orang lain.
- bisa jadi usahanya adalah patungan dengan orang lain, sehingga tidak bisa sembarangan menggunakan uang usaha untuk kebutuhan pribadi, ini sudah lumrah di dunia usaha
- bisa jadi usaha bisnis raska masih menanggung hutang bank, yang harus diangsur setiap bulannya secara ketat.
- orang berbisnis itu harus ketat dalam mengelola keuangan, perlu dibedakan keuntungan usaha dangan gaji sendiri. harus lebih ketat lagi kalau usahnya adalah usaha patungan, apalagi kalau masih menanggung hutang bank.
ini bukan pembelaan, karena kita sama-sama tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan raska. hanya dengan informasi yang ada, kita belum bisa tahu yang sebenarnya.
yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha menyimpulkan. nah cara menyimpulkannya ity yang berbeda hasilnya kalau yang satu mengedepankan husnudhon dan yang satu su'udhon.
saya malah justru berbarap besar, media ini mewarisi sifat kyai-kyai NU yang welas asih, arif dan bijak sana. tidak sembarangan menyalahkan dan menyerang orang lain seperti media sebelah.
saya justru berharap media ini menjadi pemersatu ummat, amin.
dari PKS ya, memang sudah menjadi tradisi ngibulin orang, bwahahaha
ReplyDeletemaaf Mas Opik, ketika diskusi saya berusaha mencari solusi bukan pembenaran dan saling menyalahkan.
ReplyDeletekarena itu diskusi yang saling menyalahkan dan mencari pembenaran masing-masing, saya tidak mau menanggapi.
selanjutnya komentar model sampeyan nggak akan saya tanggapi lagi. Biarlah sampeyan yang mempertanggung-jawabkan perkataan sampeyan di hadapan Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi.
PKS tea...
ReplyDeleteKok ngrumangsaku..media iki podo ae karo arrahmah..podo2 tukang adu domba
ReplyDeleteoalah............
ReplyDeletetidak peduli .....raska tukang tambal.atau bos ya .se x pun.yg penting dia bisa engga jadi wakil kami/ rakyat yg mwmilih dia
ReplyDeleteAlhamdulillaah, saya suka yg Hamba Allah yang cermat dan mencintai persatuan dan persaudaraan ummat.
ReplyDeleteyg dimaksud pas2an itu punya beberapa karyawan dan usaha lain?? kalo seperti itu dianggap pas2an, lalu yg ga punya satu karyawan dan satu bengekl disebut melarat kah?
ReplyDeleteudah jelas2 berbohong demi mendapatkan simpati kok masi aja dibela membabi buta dgn argumen ga masuk akal pake bilang kita sam2 ga tau, lah itu ada sumbernya jelas dari istrinya sendiri, gimana bangsa kita mau maju kalo penipu aja dibela mati2an....
sampeyan kemungkinan bukan pengusaha, sehingga belum dong maksud saya
ReplyDeletesudah saya katakan beda antara keuntungan bisnis dengan gaji pribadi.
1. apakah sampeyan tahu, bisnis raska inii bisnis sendiri atau dimodali orang lain?
2. apakah sampeyan tahu, bisnis raska menanggung hutang bank atau tidak?
3. anda tahu berapa gaji pribadi yang ditetapkan raska untuk dirinya sendiri? entah itu keputusan sendiri maupun keputusan bersama dengan mitra bisnisnya (kalau ada)
kalau sampeyan belum tahu, itu artinya sampeyan hanya tahu kulitnya saja. dan *bersu'udhon* hanya dengan info kulit tersebut