BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

OPINION

Opinion
Showing posts with label Islamia. Show all posts
Showing posts with label Islamia. Show all posts

Thursday, May 02, 2019

Penerimaan Santri Baru di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan Madura

Muslimedianews.com ~Pondok Pesantren merupakan lembaga satu satunya yang mampu mendidik anak bangsa menjadi insan berkarakter (berakhlakul Karimah) dan bermartabat.

Pondok Pesantren Syaichona Cholil Moh. Cholil Bangkalan Madura dapat menjadi pilihan untuk mendidik putra-putri menjadi generasi yang memiliki pengetahuan agama komprehensif. 

Pendaftaran dibuka mulai tanggal 18 Juni 2019. Tempat pendaftaran di Aula Lantai II Pondok Pesantren Syaichona Cholil Moh. Cholil Jl. KH. Moh Kholil II/6 Demangan Barat, Bangkalan Madura Jawa Timur. 

Jenjang Pendidikan :

1. Madrasah I'dadiyah (metode Al-Miftah Lil-Ulum) untuk Putra, dan Metode Amtsilati untuk Putri. 

2. PDF Wustha / Setara SMP (Putra)
3. PDF Ulya / Setara SMA (Putra)
4. Mts Al-Ma'arif (Putri)
5. SMA Al-Ma'arif (Putra/Putri)
6. Wajar Dikdas Ula dan Wustho
7. Menyelenggarakan Paket C
8. STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan


Thursday, September 27, 2018

Benarkah Ulama Paling Dibenci dan Panah Fitnah Itu Perkataan Imam Syafi'i ?

Muslimedianews.com ~ Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.

Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.

Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:

‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق
Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?”

Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.

Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:

Versi pertama;

Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”

Versi kedua:

Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.

Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?”

Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.

Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.

Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.

Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.

Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.

Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.

Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.

Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.

Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i.

Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i 🙏

Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.

Saturday, September 22, 2018

Ketua PWNU Jawa Timur Mewajiban Mengambil Mantu NU Bagi Pengurus

Muslimedianews.com ~ Ini kabar baik bagi para kader NU yang masih jomblo. Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar mewajibkan pengurus NU mengambil mantu orang NU. "Pengurus NU yang menikahkan anaknya dengan orang wahabi akan saya pecat," ucapnya disambut tawa hadirin. Kala pelantikan PWNU Jatim di PP Mambaul Maarif Denanyar, Jombang, Selasa (18/9/2018).

Kiai Marzuki menuturkan, NU didirikan KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Chasbullah untuk membentengi umat dari paham Wahabi yang rusak dan merusak.

Inilah khittah NU yang utama. Membentengi dari Wahabi.

Karena itu ditiap kabupaten, NU harus punya sekolah unggulan dan favorit. Di setiap jenjang. SD, SMP, SMA.

 Sekolah untuk anak-anak dengan IP diatas 140. Sekolah yang tiap bulannya minimal bayar Rp 500rb. Untuk mewadahi orang-orang kaya baru. Yang ingin anaknya memperoleh pendidikan terbaik. Tanpa melihat biaya.

 "Selama ini, mereka ditampung oleh sekolah-sekolah wahabi."

Untuk ini, LP Maarif Jatim siap mendampingi yayasan yang ingin sekolah dibawah naungannya dipermak menjadi unggulan. Baik manajemennya maupun SDM nya.

Agar sejak kecil anak terdidik aswaja. Sehingga ketika besar jadi apapun tetap aswaja.

Dalam memilih pemimpin, jika ada calon yang didukung Wahabi, warga NU tidak boleh diam. "Harus bicara. Harus kampanye. Agar tidak memilih yang didukung Wahabi. Inilah khittah yang utama."

Selama lima tahun kedepan, semua cabang harus punya RS NU. Agar saat sakit hingga wafat akidah aswaja an nahdliyah tidak lepas.

Kedepan, turba PWNU ke cabang akan menyapa umat. Pagi sampai siang salawatan dan pengajian umum. Di alun-alun. Baru setelah Duhur pertemuan khusus para pengurus.

Semoga Allah menganugerahkan taufik, hidayah, maunah dan kesehatan kagem poro kiai sehingga semua hal diatas saget terlaksana.

Group KBA Aswaja

Monday, September 17, 2018

Ayo Bantu Vote Nominator Santri of The Year 2018 Favorit Kamu !

Muslimedinews.com ~ Santri of The Year 2018 ini dimaksudkan untuk menemukan dan menampilkan tokoh/figur pria dan wanita yang telah memberikan sumbangsih prestasi mereka dalam bentuk gagasan inovatif dan sekaligus kerja dan karya juga prestasi bagi pembangunan bangsa dan negara tercinta ini.  

Mereka dinilai mampu membangkitkan motivasi dan dapat memberikan suri tauladan bagi generasi muda serta masyarakat umum untuk lebih giat membangun bangsa dan negaranya.

Program ini telah berlangsung sejak dua tahun sebelumnya, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2018. Diselenggarakan oleh Islam Nusantara Center (INC) yang acara puncaknya akan digelar pada Ahad, 28 Oktober 2018.

Ada beberapa kategori, diantaranya :

1. Nominator Pesantren Salaf Inspiratif
- Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang
- Pesantren Gentur Warung Kondang Cianjur
- Pesantren al Anwar Sarang Rembang

2. Nominator Pesantren Modern Inspiratif
- Pesantren Darun Najah Jakarta Selatan
- Pesantren Al Amin Prenduan Sumenep
- Pesantren Amanatul Ummah Sidoarjo

3. Nominator Pesantren Enterpreneur
- Pesantren Kaliopak (Yogyakarta)
- Pesantren Al Mawaddah (Kudus)
- Pesantren Mukmin Mandiri (Sidoarjo)

4. Nominator Pesantren Takhassus
- Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogya (Tahfidz al-Qur’an )
- Pesantren Daarussunnah Jakarta (Hadis)
- Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo (Fiqh)

5. Nominator Santri Inspiratif Bidang Dakwah
- Dr. KH. Imam Mawardi (Surabaya)
- Ust. Solmed - Sholeh Mahmud (Jakarta)
- KH Fathurrahman (Banyumas)

6. Nominator Santri Inspiratif Bidang Pendidikan
- Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si (Rektor UIN Bandung)
- Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag (UIN Malang)
- Prof. Dr. Muhibbin, M.Ag (UIN Semarang)

7. Nominator Santri Inspiratif Bidang Wirausaha/ entrepreneur
- Dahlan Iskan (Pemilik Jawa Pos Group)
- Muhammad Aminul Wahib (Pendiri, Uno Ice Cream-Alumni UIN Malang)
- Amridzal Jundi (pendiri, AksaMedia - surabaya)

8. Nominator Santri Inspiratif Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintahan Propinsi
- H. Sahbirin Noor, S.Sos., M.H (Guberbur Kalimantan Selatan)
- Dr. H. Nurdin Basirun, S.Sos, M.Si (Guberbur Kepulaun Riau)
- H. Ali Mazi, S.H (Gubernur Sulawesi Tenggara)

9. Nominator Santri Inspiratif Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintahan Kabupaten/ Walikota
- Abdullah Azwar Anas, S.Pd, S.S, M.Si (Bupati Banyuwangi)
- H. Abdul Hafidz (Bupati Rembang)
- H. Asip Kholbihi, SH., M.Si (Bupati Pekalongan)

10. Nominator Santri Inspiratif Bidang Seni & Budaya
- Khoirunnisa ‘Nissa’ Sabyan (Jakarta)
- Veryal Eisha Aqila ‘Veve’ Zulfikar (Sidoarjo)
- Syarla Martiza (Jombang)

Netizen juga bisa merekomendakan tokoh yang akan menjadi PAHLAWAN SANTRI, SANTRI MENGABDI SEPANJANG HAYAT, dan MAHASANTRI BHAKTI NEGERI tahun 2018, usulkan melalui akun-akun medsos resmi INC-Islam Nusantara Center.



Website : https://jaringansantri.com/ini-nominator-santri-of-the-year-2018-vote-sekarang/

Friday, July 27, 2018

Merebut Tafsir: Islam Nusantara dan Bahasa Arab


Oleh Lies Marcoes Alumnus Medical Anthropology University of Amsterdam
Tulisan saya tentang Islam Nusantara dan Mamah Dedeh mendapat respon luar biasa. Umumnya menyatakan suka dan dianggap sebagai penjelasan yang mencerahkan, sebagian mempertanyakan karena bagi mereka Islam ya Islam hanya satu, sementara yang lain menasihati agar saya mingkem. Para komentator yang kurang setuju dengan tulisan itu menyimpulkan bahwa tulisan itu telah mendikotomikan Islam pribumi/lokal dengan Islam Arab dan karenanya yang satu Islam sepuhan yang lain Islam asli.
Suami saya, Ismed Natsir adalah orang yang memperkenalkan luasnya pengaruh Arab dalam bahasa dan susastra Indonesia. Ia kerap berkisah tentang Amak Baljun pemain teater dengan watak yang memukau, atau Ali Audah dalam karya terjemahan, atau Pak Kasim Mansur tetangganya di Grogol yang sangat cakap membacakan puisi dengan suara khas "tenggorokan Arab" demikian Ismed menggunakan istilah.
Ismed juga menunjukkan bagaimana bahasa Arab memberi pengaruh kepada bahasa Indonesia. Dia mengatakan andai semua unsur bahasa Arab dicabut dari bahasa Indonesia maka hampir pasti bahasa Indonesia akan lumpuh bahkan mati. Kami pun mendaftar ratusan kata yang asal usulnya berasal dari bahasa Arab/ Istilah dalam agama Islam dan telah menjadi bahasa Indonesia. Sungguh heran dan takjub saat menyadari banyaknya kata yang sebegitu rupa telah diserap kedalam bahasa Nusantara hingga tak terasa lagi bahwa asal usulnya berasal dari bahasa Arab. Sebut saja misalnya kata khatulistiwa, iklan, sehat, jasmani, rohani, dunia, akhirat, awal akhir, takjub,jumlah, huruf, kalimat, hakim, imam, kawin, nikah, talak, rujuk, wali, pondok, mesjid, kitab, yatim, akbar, amal, saleh, kafir, fakir, miskin, maut, kafan, hayat, rela (ridha) ihlas, amanat, kaklum, nafsu, hadir, alfa, hadirat, syukur, dan seterusnya. Jumlahnya niscaya ribuan.

Kata-kata Arab seperti itu secara pasti telah diserap menjadi bahasa Melayu atau Nusantara dan memiliki kesatuan makna yang difahami bersama oleh seluruh penduduk negeri ini. Sudah sangat pasti kata-kata itu telah masuk dan dipakai selama berabada-abad bersama tumbuhnya bangsa Indonesia di Nusantara.

Siapapun tak dapat menyangkal hal itu merupakan sumbangan atau pengaruh Arab ke dalam kebudayaan Indonesia. Sebagai sumbangan, kata-kata Arab ini telah menjadi bahasa yang diterima oleh seluruh bangsa Indonesia apapun latar belakang suku dan agamanya. Ia berfungsi sebagai pemersatu bangsa dengan beragam suku dan agama. Karenanya kata-kata Arab, sebagaimana kata-kata yang berasal dari Sangsakerta, Portugis, Cina, Melayu ikut membentuk bangsa ini menjadi bangsa dengan janji Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa. Bahasa Arab menjadi salah satu elemen pemersatu bangsa ini dan menjadikannya inklusif.

Sumbangan (orang atau keturunan) Arab dalam dunia sastra, seni yang berfungsi pemersatu juga sangat banyak. Kalau Anda pernah ikut Pramuka Anda pasti tahu himne Pramuka yang ditulis seorang komposer lagu berdarah keturunan Arab H. Mutahar. Sebagai seorang yang pernah menjadi anggota Pramuka sampai "pangkat" Pandega, saya selalu tergetar oleh hymne itu. Salah satu penggalannya adalah" Agar jaya Indonesia, Indonesa, tanah airku, aku jadi pandumu". Terlebih dengan lagu "Syukur" yang juga salah satu karya H Mutahar " ...Tanah Air Pusaka, Indonesia Merdeka, syukur aku sembahkan ke hadiratmu Tuhan".

Saya bertanya-tanya mengapa Husein Mutahar menggunakan kata Tuhan dan bukan Allah, padahal suku katanya sama, jadi sama-sama bisa dipakai. Saya merasa ia sedang memilih kata yang inklusif yang berlaku bagi seluruh rakyat di negeri ini.

Namun belakangan ini penggunaan bahasa Arab yang juga menguat dalam komunikasi tulis dan verbal saya merasakan fungsinya berbeda betul dengan kata-kata Arab yang telah diterima menjadi bahasa Nusantara. Panggilan saudara saudari diganti menjadi akhi ukhti, Ikhwan akhwat, atau kata-kata lain terutama yang digunakan dalam komunikasi politik seperti tabayun, ghibah, hijrah, jihad atau dalam pergaulan seperti ta'aruf dan istilah lainnya.

Berbeda dari sumbangan bahasa Arab di masa lampau terutama di era pembentukan republik ini yang berfungsi sebagai pemersatu yang inklusif, saya merasa kata-kata Arab kekinian yang dipakai kelompok tertentu saat ini justru digunakan sebagai pembeda atau penanda eksklusifitas. Kata-kata dari bahasa Arab itu mengandung ideologi yang pembedakan satu dengan yang lain, kamu berbeda dari kami, kami berbeda dengan mereka. Dan pembeda itu digunakan sebagai identitas keagamaan.

Islam Nusantara bagi saya niscaya bukanlah Islam serupa itu. Sebab Islam Nusantara justru menawarkan inklusifitas bukan eksklusifitas!.

Monday, July 16, 2018

Cara Pesan Majalah Ar-Risalah NU

Muslimedianews.com ~ Majalah Risalah NU merupakan salah satu media cetak dari Nahdlatul Ulama (NU). Masalah tersebut membahasa masalah-masalah aktual yang ada di masyarakat. 

Bagaimana cara melakukan pemesanan Majalah Ar-Risalah NU? Saat ini, silahkan hubungai Kontak Pemesanan Sdr. Aan di : 0856 4833 3577 (Telp/WA). Pembayaran Majalah NU dilakukan via  Bank BRI No Rekening: 0335-01-001234-300

Salah satu pembahasan dalam Majalah Ar-Risalah NU Edisi 84:

BENDERA NU DI PILKADA 2018
Risalah NU edisi 84 tahun 2018 membahas masalah suara warga NU di pilkada tahun 2018. Meskipun, secara jamiyyah NU tak ikut Pilkada dan tak ada urusan dengan Pilkada. NU tak punya urusan dengan gubernur. Tak punya urusan dengan bupati. Dan bahkan tak punya urusan dengan DPR dan Presiden dalam Pilpres dan Pemilu Legislatif 2019 mendatang. Tapi, warga NU mempunyai hak suara dan memilih pemimpin yang terbaik, trus?....
Sejak Muktamar NU ke 27 di Situbondo yang mendeklarasikan ‘Kembali ke Khitah 1926’ NU tak mau lagi disibukkan dengan politik praktis. Bagi warga NU yang berpolitik silahkan jalan dan bebas pilih partainya namun dilarang membawa bendera NU. Bendera NU yang berwarna hijau bergambar bumi dikelilingi bintang sembilan itu terlalu besar jika harus disejajaran dengan jabatan duniawi.
Lalu, potret Pilkada serempak tahun 2018 ini juga membuktikan banyaknya kader NU yang bertarung di arena itu. Pilkada 2018 telah mencatatkan sejumlah kader NU dalam kontestasi itu. Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah diduduki kader NU. Ridwan Kamil dan Uu Ruhzanul Ulum adalah duet kader NU. Ridwan adalah cucu ulama NU Jawa Barat. Uu adalah cucu KH Choir Affandi dari Manonjaya, Tasikmalaya.
Jawa Tengah juga mencatat hal yang sama. Dua calon yang muncul keduanya dari keluarga NU. Ganjar Pranowo adalah cucu menantu ulama NU KH Hisyam Karim yang pernah menjabat Rois Syuriah PCNU Purbalingga selama tiga periode 1973-1983. Wakilnya, Taj Yasin adalah putera ulama kharismatik Jawa tengah KH Maimoen Zubeir. Sangannya, Sudiman Said juga masih memiliki percikan darah NU. Sedangkan Ida Fauziyah adalah mantan Ketua PP Fatayat NU.
Yang disayangkan memang Jawa Timur yang terjadi perang bintang NU. Saifulloh Yusuf adalah salah satu ketua PBNU yang sudah 10 tahun menjadi wakil gubernur mendampingi H. Soekarwo. Kali ini Saifulloh didampingi Puti Guntur Soekaroputeri. Bertempur tiga kali antara Soekarwo-Saifulloh dengan Khofifah, akhirnya pada laga ketiga Khofifah memenangkan pertempuran itu. Khofifah didampingi kader muda NU Emil Dardak.
Selain masalah pilkada 2018, tim redaksi dalam laporan khususnya menyuguhkan tentang komitmen NU dalam mendukung kedaulatan negara Palestina untuk merdeka selamanya, hal itu tertuang dalam hasil muktamar dan Pleno PBNU. Meskipun sempat diwarnai gegeran di masyarakat bawah atas kedatangan Katib Aam Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) ke Israel dalam rangka pembicara seminar Internasional, namun tidak menjadi masalah karena Gus Yahya atas nama pribadi bukan delegasi PBNU.
Sedangkan dalam rubrik Tausiyah, kami menyuguhkan cerita tentang legenda sejarah di tanah para nabi yakni butir gandum maulid Nabi yang mengisahkan tentang Gubernur Tikrit, kota di utara Bagdad saat ia bergumul bersama keluarganya dan saat memimpin kota Tikrit. Sementara pada rubrik lainnya, kami menyajikan materi tentang ke aswajaan dan ke NU an lainnya. Selamat membaca dan jangan lupa beli yak?...

Elrabassa


Tuesday, July 10, 2018

Puluhan Ribu Jamaah Hadiri Halal Bihalal NU Curug bersama Habib Lutfi


MWC NU dan Banser Curug Kabupaten Tangerang gelar Tabligh Akbar dalam rangka Halal Bihalal tahun 1439 Hijriyah Senin, 9 Juli 2018 bertempat di Komplek Pondok Pesantren Miftahul Khaer Desa Sukabakti Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang.
Puluhan ribu jamaah dan Nahdiyyin hadir memenuhi pelataran dan lapangan halaman masjid Pesantren Miftahul Khaer.
Maulana abah Habib Lutfi bin Yahya dalam ceramahnya menceritakan tentang sejarah kerajaan yang berada di nusantara beberapa ratus tahun lalu. Kerajaan tersebut hancur bukan karena musuh dari luar kerajaannya tetapi karna di obok-obok danj dirusak dari dalam kerajaan mereka sendiri. Ditebarkanlah fitnah dan bibit-bibt kebencian pada pemerintahan kerajaan, diadu domba para sesama dan semua itu sangat mencerminkan keadaan negara kita saat ini, dimana kita sedang ditaburi benih-benih kebencian dihati kita oleh orang-orang yg berdalih cinta tanah air namun sejatinya mereka ingin menghancurkannya karena bila kita cinta pada negara, maka kita tak akan mencari-cari aibnya, aib negara kita, aib pemerintahan kita yang saat ini sedang memimpin negara kita.
Ditebarkanlah bibit rasa saling curiga dan merasa paling benar, ditebarkanlah benih-benih kebencian pada para ulama. Intinya orang yang memang ilmunya baik tak akan merasa lebih baik dan tak akan membongkar aib orang lain.
Bangsa yang berjaya adalah bangsa yang anak mudanya masih mau terus belajar, masih mau mendengarkan, masih mau membaca dan berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.dan sekitarnya, jangan berhenti tuk terus belajar dan jangan pernah merasa cukup dan puas pada ilmu yg kita dapat, bukankah dianjurkan menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahat kita?
Tanda-tanda seseorang ilmunya barokah adalah semakin tinggi ilmunya semakin bijak ucapanya, semakin tawadhu sikapnya dan semakin dekat pada Tuhannya dan semakin melihat kekurangan pada dirinya hingga tak sempat lagi melihat kekurangan dan mnyebarkan aib orang lain. 
(Khairunnisya Najiha Najiha)





Rahasia Kalimat ‘Insya Allah’: Kisah Ajaib al-Muhaddits Sayyid Abdullah al-Ghumari

Muslimedianews.com ~ Sayyid Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari adalah sosok ulama yang karismatik. Tidak ada seorang pun yang meragukan kapasitas keilmuan beliau. Meskipun beliau lebih dikenal sebagai pakar hadits dan fikih, namun sejatinya beliau menguasai banyak ilmu. Oleh karenanya beliau sering disebut sebagai “al Muhaddits al Faqih al Mutafannin” (ahli hadits, ahli fikih, dan ahli berbagai cabang ilmu lainnya). Beliau lahir dan tumbuh di Maroko. Darah nubuwwah mengalir dalam tubuh beliau, karena nasab beliau bersambung ke Rasulullah saw. dari jalur Imam Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Beliau lahir pada akhir bulan Jumadil Akhir tahun 1328 H di Thanjah Maroko.

Di zaman beliau, para ulama Maroko tidak terlalu perhatian dengan ilmu tajwid. Oleh karena itu, ayah beliau Imam Muhammad ash-Shiddiq, menyuruh beliau merantau ke Mesir untuk belajar ilmu tajwid kepada para ulamanya. Karena Mesir merupakan negeri yang melahirkan banyak qari’ yang kapabel. Akhirnya pada tahun 1349 H, beliau pergi merantau ke Mesir dengan naik kapal Jepang yang bertolak dari Inggris menuju Alexandria Mesir. Beliau pergi ke Mesir bersama saudara beliau yang tertua, Zamzami, dan Haji Ahmad Abdus Salam asy-Syarqi. Sebelum berangkat ke pelabuhan, beliau berpamitan dulu kepada ayah beliau. Ayah beliau membacakan wirid tarekat syadziliyah terlebih dahulu kepada beliau dan berpesan agar senantiasa istiqamah selama perjalanan dan kelak selama tinggal di Mesir.

Di dalam kapal yang beliau tumpangi, tidak ada orang muslim melainkan beliau dan rombongan. Kondisi ombak laut sangat tenang dan cuaca cerah, padahal saat itu musim dingin. Zamzami yang pergi bersama beliau tersebut tidak pernah belajar ilmu agama sedikit pun. Akhirnya beliau pun mengajarinya ilmu nahwu dengan memakai panduan kitab “al Ajurumiyah”. Proses belajar-mengajar tersebut dilakukan setiap ba’da shalat Ashar di tempat terbuka bagian atas kapal. Hal ini berlangsung selama delapan hari, tanpa ada hal-hal yang membuat khawatir. Pada hari ke delapan itu, nahkoda kapal memberitahu para penumpang bahwa kapal akan sampai di pelabuhan Alexandria besok Subuh. Di hari itu, sebagaimana biasa, beliau dan Zamzami melakukan aktivitas belajar-mengajar ilmu nahwu setelah shalat Ashar. Di hari tersebut mereka sudah sampai bab “Dzaraf Zaman” (keterangan waktu). Dalam penjelasannya, beliau memberikan sebuah contoh dzaraf zaman dengan kalimat: “Nashilu ila Iskandariyyah Ghadan” (Kita akan sampai Alexandria besok). Mendengar kalimat tersebut, saudara tertua beliau berkata: “Katakanlah Insya Allah!”. Beliau menjawab: “Mengapa harus aku ucapkan itu, padahal waktu sampainya kapal telah ditentukan?. Juga bangunan-bangunan kota Alexandria sudah tampak di depan mata kita?”.

Setelah shalat Maghrib dan Isya, Sayyid Abdullah dan rombongan tidur sebagaimana biasanya. Pada jam 12 malam, atau lebih sedikit, gelombang ombak laut datang dengan sangat besar sekali. Nahkoda kapal mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat ombak sebesar itu sejak 35 tahun yang lalu. Karena ombak begitu sangat besar, hingga seluruh bagian kapal pun terguyur oleh air laut. Seluruh wadah yang ada di dalam kapal terbolak-balik dan sebagian pecah. Bahkan seluruh penumpang tidak bisa mengendalikan diri mereka masing-masing akibat goncangan ombak yang menerpa kapal. Beliau dan rombongan semakin ketakutan, lantaran nahkoda memberitahukan bahwa kapal yang berada di depan kapal yang beliau tumpangi telah mengirim sinyal permintaan bantuan ke Alexandria, namun sebelum bantuan datang kapal tersebut telah tenggelam.

Mendengar penjelasan dari nahkoda tersebut, Sayyid Abdullah dan rombongan semakin yakin bahwa kapal yang mereka tumpangi tinggal menunggu giliran untuk tenggelam. Merekapun sudah sangat pesimis selamat dari maut saat itu. Setiap kali ombak mengguyur mereka, mereka mengira bahwa ombak tersebut akan menenggelamkan mereka saat itu juga. Kondisi mencekam tersebut berlangsung selama tujuh jam. Akhirnya Allah pun mengasihi mereka. Sedikit demi sedikit ombak meredah. Mereka sampai ke pelabuhan Alexandria di waktu Dzuhur. Lantas beliau dan rombongan mengucapkan tahmid (alhamdulillah) karena terbebas dari maut. Dan beliau sadar bahwa siksa tersebut lantaran beliau meninggalkan ucapan “Insya Allah” dalam perkataan beliau sebelumnya.

Kita sering meremehkan untuk sekedar mengucapkan “Insya Allah” dalam berbagai hal, padahal itu sangat penting. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu sekali-kali mengatakan atas sesuatu: “Sungguh aku akan melakukan hal itu besok”, kecuali jika Allah mengendaki”. (al Kahfi: 23-24). Ayat ini turun, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Ishak dalam sirahnya, dari Ibnu Abbas: “Bahwa orang-orang Yahudi menyuruh kaum Quraisy untuk bertanya kepada Nabi saw. mengenai Ashabul Kahfi, ruh, dan Dzul Qarnain. Lantas kaum Quraisy menanyakan hal itu kepada beliau, dan beliau bersabda: “Aku akan menjawabnya besok”. Beliau bersabda demikian tanpa mengucapkan “Insya Allah”. Akhirnya wahyu pun tidak turun selama lima belas hari. Kemudian Jibril datang dengan membawa ayat dalam surat al Kahfi di atas. (Disarikan dari buku Sabilu at Taufiq fi Tarjamah Abdullah bin Shiddiq al Ghumari, karya Sayyid Abdullah sendiri/ M. Hidayatulloh).

sumber mosleminfo

Monday, July 09, 2018

Kalangan Islam Politik Pembenci Islam Nusantara dan Perbedaan


Kebencian terhadap Islam Nusantara bukan kebencian terhadap konsep Islam Nusantara itu sendiri, melainkan kebencian terhadap NU. Kebencian ini sudah sedemikian mendalam, tersimpan dalam rivalitas gerakan-gerakan Islam di Indonesia sejak lama. Dalam berbagai literatur yang saya baca, kebencian terhadap NU, lebih tepatnya kyai-kyai NU, telah muncul sejak NU berpisah dari Masyumi, lalu mendirikan partai politik sendiri, pada awal tahun 1950-an.
Pembenci NU adalah kalangan Islam politik yang terobsesi dengan integrasi agama dan negara. Sebagian mereka ingin mendirikan negara Islam, sebagian lagi setuju dengan Pancasila versi Piagam Jakarta. Namun yang lebih penting bagi mereka adalah kesatuan umat. Bagi mereka, umat Islam harus bersatu, termasuk dalam politik.
Ide mengenai kesatuan umat dalam politik ini sangat berbahaya. Mereka yang meyakini kebenaran ide ini tidak segan untuk menghina, bahkan mengkafirkan, saudaranya yang berbeda pilihan dalam pemilu dan/atau pilkada. Mereka menganggap politik sama dengan agama.
NU mempunyai pandangan yang berbeda. Agama dan politik memang tidak bisa dipisahkan, tetapi bisa dibedakan. Memilih walikota, gubernur, dan presiden adalah urusan politik, bukan urusan agama, meski sadar bahwa pertimbangan agama sangat mempengaruhi keputusan untuk memilih siapa di antara calon-calon yang ada. Bagi NU, politik adalah masalah fikih yang pluralistik, bukan akidah yang monolitik. Dengan kata lain, politik adalah masalah membuat keputusan bagi kebaikan bersama di antara sesama manusia, tidak perlu dikait-kaitkan secara langsung dengan ide mengenai keesaan Tuhan.
Oleh karena itu, pembenci Islam Nusantara yang cukup pasti juga pembenci NU adalah pembenci perbedaan. Kesadaran mereka dipenuhi oleh pikiran monistik, kesatuan, keseragaman. Mungkin saja pikiran tersebut relevan jika diterapkan di wilayah domestik, tetapi cukup pasti hal itu akan menimbulkan masalah besar jika coba dipraktikkan di wilayah publik. Hari-hari ini kita merasakan masalah besar tersebut menampakkan dirinya dalam wujud hinaan dan cacian di media sosial, termasuk oleh mereka yang disebut sebagai ulama, yang semakin telanjang.
*Amin Mudzakir - Peneliti LIPI

Monday, July 02, 2018

Foto Santri Terunik : Cium Tangan Kiai sambil Selfie

Muslimedianews.com ~ Cium tangan kiai merupakan sesuatu kesunnahan yang telah menjadi tradisi dikalangan santri. Para santri kerap kali berebut untuk bisa menjabat dan mencium tangan seorang Kiai. Bagi bagi, sebagaimana diajarkan didalam kitab-kitab kuning bahwa mencium tangan orang shalih hukumnya adalah sunnah. 

Cium tangan adalah menempelkan hidup kepada tangan orang yang dicium tangannya. Ini merupakan hal lumrah. Namun, beberapa pihak hendak mengubah tradisi ini. Mereka beranggapan cium tangan bukan sunnah, bahkan bisa syirik. Pimikiran sempit semacam ini berasal dari kalangan orang-orang yang kurang wawasan agamanya. Namun karena tradisi ini sudah mendarah daging bagi bangsa Indonesia, sehingga tidak bisa dihindari, kemudian mereka mengalihkan cium tangan dengan hidung diganti sekedar menempelkan tangan orang yang dijabat ke pipi atau ke dahi.

Bagi seorang santri, bisa mencium tangan seorang Kiai merupakan suatu kebanggaan. Mereka mengharapkan keberkahan dari hal itu. Namun kemajuan teknologi dan perkembangan sosial masyarakat, nampaknya juga mempengaruhi prilaku santri. 

Dizaman sekarang, semua hal ingin diabadikan, hingga makan pun sering kali diabadikan dalam bentuk foto. Bila dahulu orang berkunjung silaturahim ke kediaman Kiai untuk meminta do'a, nasehat dan lain sebagainya. Lain halnya dimasa sekarang, foto bersama Kiai yang dikunjungi juga menjadi semacam hal yang wajib, rasanya tidak lengkap bila terlewatkan.

Fenomena itu memunculkan hal unik tersendiri, salah satunya foto seorang Santri yang mencium tangan seorang Kiai namun sambil memegang HP dengan posisi selfie (berfoto sendiri). Hal itu menarik perhatian orang-orang yang berada disekitarnya sehingga momen tersebut turut diabadikan.

Kiai yang dicium tangannya adalah KH. Ahmad Muwaffiq, atau biasanya disapa Gus Muwaffiq, yang akhir-akhir ini banyak keliling Nusantara untuk menjelaskan keislaman dan keindonesiaan. Kiai tersebut memiliki pengetahuan sejarah Islam Indonesia yang sangat luas.

Ibnu Manshur

Sunday, July 01, 2018

"Media Islam Jihad" Kuasai Mesin Pencarian Google versi Duta Islam

Muslimedianews.com ~ Media Islam jihad ternyata menduduki kata kunci pertama di halaman pertama Google saat mengetik keyword "media islam", "situs islam" maupun "website islam". Situs islam terpopuler ditempati oleh berita-berita Islam terupdate dari 10 media yang terindikasi berbasis salafi-wahabi.

Dalam setahun pantauan Dutaislam.com (2017-2018), setidaknya ada 12 situs Islam terpopuler yang menduduki halaman pertama Google hingga saat editorial ini dibuat tim redaksi pada 10 Sabtu, Maret 2018 pagi. Mereka ini bergantian sebagai yang dianggap Google mewakili suara Islam.

Berikut ini adalah situs Islam terbesar dan terpopuler yang nongkrong di halaman pertama Google dengan Alexa rank yang dibuat redaksi Dutaislam.com:

https://www.eramuslim.com/ (624)
https://www.hidayatullah.com/ (940)
https://muslim.or.id/ (721)
https://rumaysho.com/ (642)
https://www.nahimunkar.org/ (2779)
https://www.voa-islam.com/ (1.166)
https://www.arrahmah.com/ (2784)
https://www.dakwatuna.com/ (1620)
http://www.panjimas.com/ (3521)
https://www.islampos.com/ (1096)
http://www.portal-islam.id/ (475)
https://www.kiblat.net/ (1297)

Anehnya, NU Online pun sama sekali tidak muncul di Google untuk tiga kata kunci di atas, dimana portal-portal Islam yang diblokir pemerintah pada awal tahun 2017 lalu itu mengusasi medan pencarian.

Ya, di antara 12 daftar domain website di atas, ada empat situs yang pernah masuk dalam daftar situs yang diblokir pemerintah pasca aksi 212 akhir 2016 lalu.

Situs yang diblokir Kominfo pada tahun 2017 itu dianggap terlibat provokasi media berbau SARA dengan balutan sentiman kebencian atas nama agama. Keempatnya adalah situs voa-islam.com, nahimunkar.org, kiblat.net, dan islampos.com.

Situs-situs yang populer untuk kata kunci website Islam dianggap Kominfo pernah terlibat fitnah, provokasi SARA dan penghinaan simbol negara, meski akhirnya dibuka kembali dengan syarat yang tidak dipublikasikan.

Google menunjukkan, ketika orang mengetik kata kunci "media islam", "situs islam" dan "website islam", kata kunci teratas dan dicari netizen (populer), bukanlah "situs islam terbaik" atau "media islam ramah", tapi "media islam jihad", menyusul kemudian kata kunci "berita islam terupdate", "suara islam", dan "berita islam internasional".

"Voa-islam" justru menjadi kata kunci di Google walau ia sebetulnya adalah nama domain website. Setelah itu, muncul lagi kata kunci "islam media online", "media islam news", "situs islam terbesar", "situs islam terpoler", "situs berita islam populer", "kumpulan situs islam", "web islam sesat", dan "suara islam net". Berikut daftar kata kuncinya:

media islam jihad
berita islam terupdate
situs islam terpopuler
situs islam terbesar
situs berita islam populer
voa islam punya siapa
voa islam
suara islam
suara islam net
berita islam internasional
kumpulan situs islam
islam media online
media islam news
media islam dan pelecehan kristen
web islam sesat

Kata kunci paling atas dari Google itu, saling bergantian menempati urutan untuk tiga kata kunci "situs islam", "media islam" dan "website islam". Namun, yang teratas dan tidak tergantikan adalah kata kunci "media islam jihad". Kata kunci itu ampuh sebagai bidikan tak terkalahkan.

 Apakah ini menunjukkan bahwa banyaknya orang mencari pengetahuan tentang jihad di situs-situs islam itu mengindikasikan kalau para jihadis mengandalkan internet sebagai media utama pembelajaran ideologi mereka? Baca soal situs di atas di: Kumpulan Situs Islam Radikal dan Hoax yang Dihimpun Tim Cyber.

Redaksi Dutaislam.com tidak mengkaji lebih dalam. Yang ditemukan di Google, website islam moderat yang berafiliasi secara ideologis dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan mengampanyekan aswaja NKRI, hanya muncul ketika mengetik kata kunci "media islam". Dua situs tersebut adalah muslimedianews.com (MMN) dan arrahmah.co.id (bedakan dengan arrahmah.com yang penuh SARA).

Dua situs aswaja tersebut pun, muncul di Google karena memposting data "Top 20 Website Islam Rujukan Terbaik dan Terpercaya 2015". Dan, sayangnya lagi, daftar website islam rujukan yang pertama kali diposting MMN pada 8 Februari 2015 lalu.

Dutaislam.com pun memilih cek atas daftar kumpulan situs islam susunan MMN yang murni media, bukan kliping pemikiran tokoh.

Berikut ini adalah daftar website rujukan ala MMN beserta ranking Alexa nya dan terakhir update:

  • http://www.nu.or.id/ (679)
  • http://www.elhodaa.net/ (No Data)
  • http://www.sarkub.com/ (7.999) | 3 Februari 2018
  • http://www.piss-ktb.com/ (7.025)
  • https://cyberdakwah.com/(21.742)
  • http://www.moslemforall.com/ (45.776) | 3 Maret 2018
  • http://www.madinatuliman.com/ (26.354) | Mati
  • http://www.sufinews.com/ (70.716) | 16 Januari 2018
  • http://www.mosleminfo.com/ (Mati)
  • https://islam-institute.com/ (26.646) | 10 Maret 2018
  • https://www.arrahmah.co.id/ (21.841)
  • http://www.santrinews.com/ (54.865)
  • http://www.aswajanu.com/ (70.607)
  • http://www.muslimedianews.com/ (3.092)
  • http://www.suara-muslim.com/ (No Data) | 11 Juni 2017
  • http://www.aswj-rg.com/ (56.410) | 13 Juli 2016
  • http://santri.net/ (14.561) | 22 Februari 2018

Dari top website Islam di atas, hanya NU Online yang terpantau rutin melakukan posting harian. NU Online lah yang dianggap redaksi Dutaislam.com paling bisa bersaing dengan 12 situs Islam terpopuler karena rank Alexa nya paling tinggi, yakni 679.

Di bawah NU Online ada muslim.or.id (721). Situs resmi NU yang digawangi CEO Savic Ali itu hampir mengejar rank Alexa rumaysho.com (642) dan eramuslim.com (624), tapi masih selisih lumayan banyak dengan website milik eks pkspiyungan, yaitu portal-islam.id (475), yang sekarang juga sudah menjadi kata kunci tersendiri di pencarian Google.

Nasib website Islam top yang disusun MMN memprihatinkan. Rank Alex nya rata-rata dapat nilai lebih dari 4 digit (puluhan ribu). Bahkan ada yang tidak mendapatkan rank Alexa (elhooda.net dan suara-muslim.com). Dua situs lagi malah mati, yakni mosleminfo.com dan madinatuliman.com.

Ada yang masih hidup domainnya, tapi dua tahun tidak update, sehingga rank Alexa nya terjun payung ke angka 56.410, yakni: aswj-rg.com. Ini belum rank Alexa untuk engine khusus agregasi situs media NU www.aswajanu.com, yang juga dapat dua rank paling buntut di antara daftar website Islam top versi MMN. Peringkatnya 70.607. Duh.

Dari hasil riset, redaksi Dutaislam.com menemukan kelemahan situs-situs Islam top versi MMN yang tidak bisa bersaing di halaman pertama Google untuk kata kunci "situs islam", "media islam", "website islam". itu ada di tiga hal:

  • Tidak ada yang rutin update posting harian. 
  • Sejak dari deskripsi website, tidak mencantumkan sebagai situs islam. 
  • Kurang rajin memproduksi konten orisinil yang menarget kata kunci terpopler di Google soal keislaman dan berita Islam terupdate.

Temuan redaksi juga menyebutkan, voa-islam.com menempati urutan pertama halaman utama Google untuk keyword "media islam" karena deskripsi domain websitenya tertulis begini:

"Web Site berita Islam Indonesia, berita jihad dan berita dunia Islam. Dilengkapi artikel keislaman, konsultasi agama, kristologi, counter liberalisme, intelligent leaks, ruang khusus Muslimah dan Remaja". 

Hidayatullah.com juga demikian. Situs tersebut membuat deskripsi begini: "Situs Berita Dunia Islam. Politik, Ekonomi Islam, Syariat Islam, Dunia Islam, Majalah Hidayatullah".

Hampir sama, islampos.com juga menggunakan keyword kata kunci paling dicari, yakni: "Berita Islam, Informasi Seputar Dunia Islam, Tuntunan Agama Islam, Belajar Islam , Media Islam Generasi Baru."

Kiblat.net tidak jauh beda. Ia membidik kata kunci di deskripnya yang muncul di Google begini: "Situs Berita Aktual Dunia Islam, Artikel Pilihan Tentang Jihad, Aqidah, Fiqh dan Wawasan Keislaman."

Suara-islam.com yang sudah menjadi kata kunci Google ternyata membidik kata kunci ini: "suara islam online, media islam online, situs media islam, media islam indonesia, SI Online, portal berita Islam, website berita islam, situs berita islam, politik islam, ekonomi islam, produk halal, wisata syariah, khilafah, nkri bersyariah, FUI, FPI."

Website muslim.or.id bisa nangkring di Google juga karena kata kunci ini: "Web pesantren online yang menyajikan artikel islami sesuai dengan pemahaman salafus shalih, dalam bidang aqidah, fikih, manhaj, akhlak, tazkiyatun nufus, sejarah islam, fatwa ulama.". 

Kerja membuat deskripsi sejak dari deskripsi domain website inilah yang sepertinya luput dari media islam Aswaja, meskipun kinerja faktor lain juga sangat berpengaruh.

Tahun ini, NU Online menuduki urutan pertama untuk kata kunci khas dicari santri NU, yakni: "maulid nabi", "islam nusantara" (masih bertarung dengan hidayatullah.com), "dalil tahlilan", tapi untuk kata kunci "ziarah kubur", NU Online harus bertarung dengan muslim.or.id yang berhasil di halaman urutan pertama.

Kata kunci "ayat-ayat bid'ah" masih dipegang muslim.or.id juga dengan judulnya "Larangan Terhadap Bid'ah dalam Al-Qur'an". Disusul almanhaj.or.id dengan artikel "Penjelasan Tentang Keharusan Menjauhi Ahli Bid'ah".


Untuk kata kunci "jihad islam", tidak ada website aswaja yang muncul mengimbangi republika.co.id, kiblat.net, hidayatullah.com dan voa-islam.com. NU Online absen dari arena halaman utama Google.

Kata kunci lain, bisa dibandingkan sendiri. Redaksi Dutaislam.com menyimpulkan, NU Online masih berjalan sendiri dalam ribuan kata kunci dengan puluhan website "media islam jihad" itu.

Dutaislam.com hanya melengkapi di lapak lain, yakni counter tanding melawan isu miring kepada NU, kiai, dan NKRI. Sejak tayang November 2015, kini rank Alexa Dutaislam.com baru di urutan 5.088, masih jauh untuk bersaing. [dutaislam.com.com/ab]

Wednesday, June 27, 2018

Macam-Macam Redaksi Shalawat di Umat Islam

Muslimedianews.com ~ Shalawat secara bahasa bermakna do'a menggunakan lafal "Shalla / Shalli", paling pendek "Allahumma Shalli ala Muhammad (اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ  )". Redaksi shalawat ada yang warid (diriwayatkan didalam hadits) yang redaksinya berasal dari Nabi Muhammad SAW, ada yang berasal dari sahabat, ulama salaf maupun dari ulama yang lainnya. Semuanya dinamakan shalawat karena menggunakan kata  "Shalla / Shalli".
SHALAWAT FATIH 
وهي عن الشيخ محمد شمس ابن أبي الحسن البكري:
Shalawat ini diriwayatkan dari Syaikh Muhammad Syams Ibn Abil Hasan Al-Bakri 
 اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا ُأَغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ.
SHALAWAT NURUD-DZATI
صلاة النور الذاتي، وهي عن الشيخ أبي الحسن الشاذلي:
Shalawat ini diriwayatkan dari Syaikh Abul Hasan Asy-Syadili :
 اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النُّورِ الذَّاتِي وَالسِّرِّ السَّارِي فِي سَائِرِ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ
SHALAWAT MUNJIYAT
الصلاة المنجية: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ وَتْطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ
SHALAWAT NURUL QIYAMAH 
صلاة نور القيامة:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بَحْرِ أَنْوَارِكَ وَمَعْدِنِ أَسْرَارِكَ وَلِسَانِ حُجَّتِكَ وَعَرُوسِ مَمْلَكَتِكَ وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ وَطِرَازِ مُلْكِكَ وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ وَطَرِيقِ شَرِيعَتِكَ الْمُتَلَذِّذِ بِتَوْحِيدِكَ إِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُودِ وَالسَّبَبِ فِي كُلِّ مَوْجُودٍ عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ الْمُتَقَدِّمِ مِنْ نُورِ ضِيَائِكَ صَلاَةً تَدُومُ بِدَوَامِكَ وَتَبْقَى بِبَقَائِكَ لاَ مُنْتَهَى لَهَا دُونَ عِلْمِكَ صَلاَةً تُرِضِيكَ وَتُرْضِيهِ وَتَرْضَى بِهَا عَنَّا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
SHALAWAT TAFRIJIYAH / SHALAWAT MUNJIYAT
الصلاة التفريجية أو الصلاة النارية:
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَماً تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍالذي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بنور وَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُومٍ لَكَ يا الله يا حي ياقيوم.
SHALAWAT KAMALIYAH 
الصلاة الكمالية وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ وَبَارِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ عَدَدَ كَمَالِ الله وَكَمَا يَلِيقُ بِكَمَالِهِ.
SHALAWAT RAUFUR RAHIM
صلاة الرؤوف الرحيم وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الرَّؤُوفِ الرَّحِيمِ ذِي الْخُلُقِ الْعَظِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَزْوَاجِهِ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ عَدَدَ كُلِّ حَادِثٍ وَقَدِيمٍ.
SHALAWAT AS-SA'ADAH 
 صلاة السعادة وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ الله صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ الله.
SHALAWAT ULUL 'AZMI 
صلاة أولي العزم وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآدَمَ وَنُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى وَمَا بَيْنَهُمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ صَلَوَاتُ الله وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ.
SHALAWAT AL-IN'AM
صلاة الإنعام وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ عَدَدَ إِنْعَامِ الله وَأِفْضَالِهِ.
SHALAWAT ALIYYUL QADR
صلاة العالي القدروهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الْحَبِيبِ الْعَالِي الْقَدْرِ الْعَظِيمِ الْجَاهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
SHALAWAT AHMAD AL-BADAWI 1 / SIRRUL ASRAR
صلاة أحمد البدوي وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُورِ الأَنْوَارِ. وَسِرِّ الأَسِرَارِ. وَتِرْيَاقِ الأَغْيَارِ. وَمِفْتَاحِ بَابِ الْنَسَارِ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُخْتَارِ. وَآلِهِ الأَطْهَارِ. وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ. عَدَد نِعَمِ الله وَأِفْضَالِهِ.
SHALAWAT AHMAD AL-BADAWI 2
صلاة أحمد البدوي أيضا وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدُنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ شَجَرَةِ الأَصْلِ النُّورَانِيَّةِ وَلَمْعَةِ الْقَبْضَةِ الرَّحْمَانِيَّةِ وَأَفْضَلِ الْخَلِيقَةِ الإِنْسَانِيَّةِ وَأَشْرِفِ الصُّورَةِ الْجِسْمَانِيَّةِ وَمَعْدِنِ الأَسْرَارِ الرَّبَّانِيَّةِ وَخَزَائِنِ الْعُلُومِ الإِصْطِفَائِيَّةِ صَاحِبِ الْقَبْضَةِ الأَصْلِيَّةِ وَالْبَهْجَةِ السَّنِيَّةِ وَالرُّتْبَةِ الْعَلِيَّةِ مَنِ انْدَرَجِتِ النَّبِيُّون تَحْتَ لِوَائِهِ فَهُمْ مِنْهُ وَإِلَيْهِ وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلِيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ مَا خَلَقْتَ وَرَزَقْتَ وَأَمَتَّ وَأَحْيَيْتَ إِلَى يَوْمِ تَبْعَثُ مَنْ أَفْنَيْتَ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً كَثِيراً وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِينَ.
SHALAWAT AHMAD AL BADAWI 3
صلاة الإمام أحمد البدوي أيضا وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُورِ الأَنْوَارِ. وَسِرِّ الأَسِرَارِ. وَتِرْيَاقِ الأَغْيَارِ. وَمِفْتَاحِ بَابِ الْنَسَارِ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُخْتَارِ. وَآلِهِ الأَطْهَارِ. وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ. عَدَد نِعَمِ الله وَأِفْضَالِهِ.
صلاة الشافعي: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ بِعَدَدٍ مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا أَمَرْتَ بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا تُحِبُّ أَنْ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا تَنْبَغِي الصَّلاَةُ عَلَيْهِ.
SHALAWAT AL-KURKHI 
صلاة الكرخي وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ مِلْءَ الدُّنْيَا وَمِلْءَ الآخِرَةِ وَارْحَمْ مُحَمَّداً وَآلَ مُحَمَّدٍ مِلْءَ الدُّنْيَا وَمِلْءَ الآخِرَةِ وَاجْزِ مُحَمَّداً وَآلَ مُحَمَّدٍ مِلْءَ الدُّنْيَا وَمِلْءَ الآخِرَةِ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ مِلْءَ الدُّنْيَا وَمِلْءَ الآخِرَةِ.
SHALAWAT ABDUL QADIR AL-JAILANI 
صلاة عبد القادر الجيلاني وهي :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ السَّابِقِ لِلْخَلْقِ نُورُهُ وَرَحْمَةٌ لِلْعَالَمِينَ ظُهُورُهُ عَدَدَ مَنْ مَضَى مِنْ خَلْقِكَ وَمَنْ بَقِيَ وَمَنْ سَعِدَ مِنْهُمْ وَمَنْ شَقِيَ صَلاَةً تَسْتَغْرِقُ الْعَدَّ وَتُحِيطُ بِالْحَدِّ صَلاَةً لاَ غَايَةَ لَهَا وَلاَ مُنْتَهَى وَلاَ انْقِضَاءَ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِكَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً مِثْلَ ذِلِكَ.
SHALAWAT SYAIKH IBRAHIM 
صلاة الشيخ إبراهيم المتبولي وهي :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِكَ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِمْ وَصَحْبِهِمْ أَجْمَعِينَ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي مَا مَضَى وَتَحْفَظَنِي فِيمَا بَقِيَ.
صلاة الشيخ أحمد بن إدريس: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِنُورِ وَجْهِ الله الْعَظِيمِ الَّذِي مَلأَ أَرْكَانَ عَرْشِ الله الْعَظِيمِ وَقَامَتْ بِهِ عَوَالِمُ الله الْعَظِيمِ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ ذِي الْقَدْرِ الْعَظِيمِ وَعَلَى آلِ نَبِيِّ الله الْعَظِيمِ بِقَدْرِ ذَاتِ الله الْعَظِيمِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَد مَا فِي عِلْمِ الله الْعَظِيمِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ الله الْعَظِيمِ تَعْظِيماً لِحَقِّكَ يَا مَوْلاَنَا يَا مُحَمَّدُ يَا ذَا الْخُلُقِ الْعَظِيمِ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَاجْمَعْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ كَمَا جَمَعْتَ بَيْنَ الرُّوحِ وَالنَّفْسِ ظَاهِراً وَبَاطِناً يَقَظَةً وَمَنَاماً وَاجْعَلْهُ يَا رَبِّ رُوحاً لِذَاتِي مِنْ جَمِيعِ الْوُجُوهِ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الآخِرَةِ يَا عَظِيمُ.
SHALAWAT ALFIYAH NURANIYAH
 الصلاة الألفية النورانية لسيدي العارف بالله محمد أبو خليل وهي :
اللهم صلى وسلم وبارك على سيدنا محمد عدد حروف القرآن حرفا حرف وعدد كل حرف ألفا ألفا وعدد صفوف الملائكة صفا صفا وعدد كل صف ألفا ألفا وعدد الرمال ذرة ذرة وعدد كل ذرة ألف ألف مرة عدد ما أحاط به علمك وجرى به قلمك ونفذ به حكمك في برك وبحرك وسائر خلقك عدد ما أحاط به علمك القديم من الواجب والجائز والمستحيل وغيرها من صلوات أخري 


Sumber shbabmisr com

Monday, June 25, 2018

Bacaan Do'a Istighotsah Beserta Artinya (Lengkap)

Muslimedianews.com ~ Istighotsah merupakan amaliyah yang sering dilaksanakan oleh umat Islam di Indonesia, khususnya ketika ada hajat besar. Istighotsah pada dasarnya adalah salah satu cara / bentuk didalam berdo'a kepada Allah SWT. Secara bahasa bermakna meminta pertolongan, yaitu meminta pertolongan kepada Allah atas apa yang menjadi kebutuhannya. Berikut ini adalah doa-doa yang dibaca dalam istighotsah, sebagaimana dalam buku “Panduan Praktis Istighotsah” oleh Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU):
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
الفَاتِحَة x1
(Surat Al-Fatihah)
أسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ x3 
Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x3 
Tiada daya untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pemeliharaan Allah dan tiada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah
أللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ x3 
Ya Allah. Limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada junjungan kami Nabi Muhammad berserta keluarganya
لَا إلهَ إلَّا أنْتَ سُبْحَانَكَ إنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ x40 
Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sungguh aku termasuk orang-orang yang telah berbuat dzalim
يَا اَللهُ يَا قَدِيْمُ x33 
Wahai Allah, wahai Dzat yang ada tanpa permualaan
يَا سَمِيْعُ يَا بَصِيْرُ x33
Wahai Allah, wahai Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat
يَا مُبْدِعُ يَا خَالِقُ x33 
Wahai Dzat yang mewujudkan sesuatu dari tidak ada, wahai Dzat Yang Maha Pencipta
يَا حَفِيْظُ يَا نَصِيْرُ يَا وَكِيْلُ ياَ اللهُ x33
Wahai Dzat yang memelihara dari keburukan dan kebinasaan, wahai Dzat Yang Maha Menolong, wahai Dzat yang menjamin rizki para hamba dan mengetahui kesulitan-kesulitan hamba, ya Allah
يا حي يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أسْتَغِيْثُ x33 
Wahai Dzat Yang Hidup, yang terus menerus mengurus makhluknya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan-MU
يَا لَطِيْفُ x41
Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
أسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إنَّهُ كَانَ غَفَّارًا x33
Aku mohon ampung kepada Allah Yang Maha Agung, sunggu Allah Dzat Yang Maha Pengampun
أللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِي أدْرِكْنِي  يَا اَللهُ x3
Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, sungguh telah habis daya dan upayaku maka tolonglah kami, Ya Allah Ya Allah Ya Allah
أللّهُمَّ صَلِّي صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ x1
Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau
يَا بَدِيْعُ x41
Wahai Dzat yang menciptakan makhluk tanpa ada contoh sebelumnya
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ x33
Cukup bagi kami Allah, dan Dia sebaik-baik penolong
يس x1
(Surat Yasiin)
اللهُ أكْبَرُ يَا رَبَّنَا وَإلَهَنَا وَسَيِّدَنَا أنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ x3
Allah maha besar maha mulia, Wahai Tuhan kami, sesembahan kami, tuan kami, Engkau-lah penolong kami, menangkan kami atas orang­orang kafir
حَصَّنْتُكُمْ بِالْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ أبَدًا وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ السُّوْءَ بِألْفِ ألْفِ ألْفِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x3 
Aku mohonkan pemeliharaan untuk kalian kepada Dzat yang maha hidup dan terus menerus mengatur hamba-Nya yang tidak pernah mati selamanya, dan aku tolak dan hindarkan dari kalian segala keburukan dengan sejuta bacaan “La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim”
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أنْعَمَ عَلَيْنَا وَهَدَانَا عَلَى دَيْنِ الإسْلَامِ x3
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat dan petunjuk kepada agama Islam
بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إلَّا اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x1
Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali la. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang menyingkirkan keburukan kecuali la. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada kenikmatan melainkan dari Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tiada daya untuk berbuat kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah dan tiada kekuatan untuk menghindar dari perbuatan maksiat kecuali dengan perlindungan Allah yang maha Mulia dan maha agung
سَألْتُكَ يَا غَفَّارُ عَفْوًا وَتَوْبَةً وَبِالْقَهْرِ يَا قَهَّارُ خُذْ مَنْ تَحَيَّلَا x3
Ya Allah, aku memohon ampunan dan taubat yang diterima kepada-Mu Ya Allah yang maha pengampun, dan dengan kekuatan dan kekuasaan-Mu Wahai Dzat yang maha mengalahkan, tundukkan dan hukumlah orang yang melakukan tipu muslihat dan ingin mencelakai kami
يَا جَبَّارُ يَا قَهَّارُ يَا ذَا الْبَطْشِ الشَّدِيْدِ خُذْ حَقَّنَا وَحَقَّ الْمُسْلِمِيْنَ مِمَّنْ ظَلَمَنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ وَتَعَدَّى عَلَيْنَا وَعَلَى الْمُسْلِمِيْنَ x3 
Wahai Dzat yang maha mengalahkan, maha menundukkan, Dzat yang keras azab-Nya, ambilkan hak-hak kami dan hak-hak umat Islam dari orang-orang yang menzhalimi kami dan menzhalimi umat Islam, yang telah menganiaya kami dan menganiaya umat Islam
الفَاتِحَة x1 
(Surat Al-Fatihah)
التَّهْلِيْل
(Bacaan tahlil lengkap...)

Sumber nu.or.id
Foto Ilustrasi : Ratusan Jama'ah NU di Mimika Ikuti Istighosah Kubro

Thursday, April 27, 2017

Mengapa Dulu Menulis Dengan Tinta Merah Dilarang ?

Muslimedianews.com ~ Menulis dengan pena berwarna merah ada kesan tersendiri bagi seorang siswa. Dahulu pun, orang tua maupun guru mencegah seorang anak atau murid yang sedang belajar untuk menulis dengan tinta merah. Sebenarnya bagaimana hukum menulis dengan tinta merah ?

Pelarangan yang dilakukan orang-orang tua kita dulu pada dasarnya juga seperti yang diajarkan didalam kitab (buku) tatakrama didalam menuntut ilmu, salah satunya seperti kitab Ta'lim al-Muta'llim Thariq Ath-Ta'allim karangan Imam Az-Zarnuji. Didalam kitab ini terdapat anjuran agar tidak menggunakan tinta merah, bahkan sesuatu yang serba merah.

وينبغى أن لا يكون فى الكتابة شيئ من الحمرة، فإنه من صنيع الفلاسفة لا صنيع السلف، ومن مشايخنا كرهوا استعمال المركب الأحمر.
"Selayaknya (sepatutnya) seorang penuntut ilmu tidak menggunakan tinta merah didalam menulis, karena hal itu termasuk dari kebiasaan (perbuatan) orang filosof, bukan perbuatan dari para salaf (ilmuan terdahulu). Dan diantara guru kami ada yang memakruhkan (tidak menyukai) menggunakan kendaraan berwarna merah".


Dari penjelasan Imam Az-Zarnuji diatas, pada dasarnya tidak ada hukum larangan baik makruh apalagi haram didalam menggunakan tinta merah didalam menulis, hanya saja sebaiknya hindari dengan alasan bahwa hal tersebut termasuk kebiasaan kalangan filosof. 

Dari hal itu kita tahu bahwa salah satu alasan orang-orang tua kita dahulu melarang menggunakan tinta merah, mungkin saja dari kitab adab menuntut ilmu seperti Ta'lim al-Muta'allim tersebut.

Didalam majalah Al-Misykat Edisi 45, Maret 2008 pun dijelaskan bahwa dalam kitab Ta’lim Muta’alim karya Syaikh Zarnujiy hanya menerangkan adabnya/ etika bahwa yanbaghi (seyogyanya/ sebaiknya) tulisan kitab tidak ada yang berwarna merah. Karena merah -penulisan dengan warna merah- itu model kaum filsuf bukan model kaum salaf. Jadi hukumnya tidak sampai haram bahkan makruhpun tidak. [1]

Terkait penggunana pakaian warna merah, ada banyak perbincangan diantara ulama, karena ada riwayat seperti berikut:

الحمرة من زينة الشيطان والشيطان يحب الحمرة
"Merah termasuk dari perhiasan setan dan setan suka warna merah" (Mushannaf Abdurrazaq)


Sementara ada pula hadits seperti berikut:

 عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرْبُوعًا، وَقَدْ رَأَيْتُهُ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْهُ
Dari Al-Barraa’ (bin ‘Aazib), ia berkata : “Nabi Saw aalah seorang yang berperawakan sedang. Dan aku pernah melihat beliau mengenakan pakaian berwarna merah (hullah hamraa’). Aku tidak pernah melihat seseorang pun yang lebih baik daripada beliau” (HR. Al-Bukhari)

Oleh karena itu, didalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari [2] ada banyak pendapat mengenai pakaian warna merah. Misalnya ada yang membolehkan secara mutlak. Semua pakaian warna merah diperbolehkan. Ada yang melarang secara mutlak, semua pakaian warna merah tidak boleh dipakai. Ada yang memakruhkan pakaian yang dipenuhi warna merah tanpa ada warna yang lain. Ada yang memakruhkan pakaian warna merah kalau dimaksudkan atau ditujukan untuk perhiasan dan mencari popularitas (mencari perhatian dari masyarakat). Dan banyak pendapat lainnya.

Dari aspek yang lain, yang berlaku di masyarakat, tulisan dengan tinta warna merah kadang dihindari karena merah berarti berani. Sehingga murid yang disarankan tidak menggunakan warna merah agar tidak dianggap memiliki sikap berani (konotasi tidak baik) kepada gurunya.

Dalam keterangan lain, [3] tulisan bertinta merah sering dihindari penggunaannya karena cenderung mengungkapkan kemarahan.Apalagi untuk tulisan yang bersifat formal,menulis dengan warna ini berkesan tidak sopan bila diberikan kepada orang yang lebih tua atau orang yang lebih tinggi jabatannya. Merah juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang buruk, seperti yang tercantum pada raport sekolah. Dahulu,nilai jelek pada raport ditandai dengan menggunakan tinta warna merah.Namun,aturan ini sudah dihapus agar tidak memunculkan kesan negatif atau kegagalan pada siswa secara psikologis. Namun tinta merah masih digunakan untuk tujuan tertentu. Misalnya memberi nilai pada pekerjaan siswa di sekolah. Untuk hal ini, guru masih menggunakan tinta merah untuk lebih menonjolkan nilai yang mampu diraih siswa dalam proses belajar. Dengan warna ini, nilai lebih mudah terlihat diantara tulisan hitam.


Penulis : Ibnu L' Rabassa

[1] https://misykat.wordpress.com/tanya-jawab-al-quran/
[2] http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=10684&idto=10685&bk_no=52&ID=3270
[3] https://www.kaskus.co.id/thread/560aabc0dc06bd7c3b8b456e/mengapa-kita-dilarang-menggunakan-pulpen-merah/